Bab 6

1409 Words
--- Dua hari setelah diagnosa awal, Rafael duduk sendirian di ruang konsultasi dokter spesialis imunologi RS Jakarta Private Care. Di hadapannya duduk dua orang dokter senior, wajah mereka serius dan hati-hati dalam menyampaikan kabar buruk. “Penyakitnya tergolong langka dan sudah memasuki stadium lanjut,” ujar Dr. Ardiansyah. “Sistem kekebalan tubuh Lia menyerang organ vitalnya sendiri. Untuk saat ini, yang paling terpengaruh adalah jantung dan paru. Ia sering mengalami sesak, nyeri d**a, dan cepat lelah.” Rafael menatap lurus ke depan. Tubuhnya tegak, tapi rahangnya mengeras. “Lalu solusinya?” “Kami sudah mulai terapi imunomodulator untuk menekan sistem imunnya. Tapi itu hanya memperlambat. Untuk menyelamatkan nyawanya, kami butuh transplantasi jantung dan paru dalam waktu dekat.” “Tunggu, dua-duanya sekaligus?” Rafael menyipitkan mata. “Seberapa sering operasi seperti itu berhasil?” Dr. Ardiansyah menarik napas dalam. “Di Indonesia, sangat jarang. Tapi ada beberapa pusat medis di luar negeri—Jerman, Korea Selatan, dan Swiss—yang memiliki fasilitas canggih dan tingkat keberhasilan tinggi. Masalahnya adalah…” “Biaya.” “Bisa mencapai lebih dari dua belas miliar rupiah. Itu belum termasuk biaya transportasi medis, pengurusan visa, dan masa pemulihan jangka panjang.” Rafael menunduk sejenak. Tak lebih dari lima detik kemudian, ia berdiri. “Siapkan semua dokumennya. Paspor, rujukan medis, laporan diagnosa. Saya urus semuanya malam ini juga. Lia akan dibawa ke rumah sakit terbaik di dunia. Dan dia akan sembuh.” Dr. Ardiansyah terpana. “Pak… maaf, tapi Anda yakin bisa menyiapkan semuanya secepat itu?” “Saya pernah membangun jaringan perdagangan narkoba lintas negara dalam waktu dua minggu. Saya yakin saya bisa menyelamatkan satu nyawa dalam satu minggu.” --- Sementara itu, di ruang rawat, Lia duduk termenung menatap ke luar jendela. Selang infus masih tertanam di lengannya. Napasnya berat, tapi wajahnya tenang. Ia tahu Rafael ada di luar sana, bergerak cepat seperti biasanya. Tapi di dalam dirinya, ada ketakutan yang perlahan menggerogoti harapan. Apa ia layak diselamatkan? Apa ia pantas menerima pengorbanan sebesar itu dari pria yang sudah mencoba begitu keras berubah? Bu Ina duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. “Kau harus percaya bahwa kau pantas dicintai, Nak,” bisik Bu Ina lembut. Lia menoleh. Matanya berkaca-kaca. “Aku hanya takut, Bu. Kalau aku sembuh… aku akan tarik dia lebih dalam ke hidupku. Tapi kalau aku mati… dia akan hancur.” “Cinta memang seperti itu. Tak pernah mudah. Tapi menolak cinta hanya karena takut menyakiti—itu bukan perlindungan, itu pelarian.” --- Di malam yang sama, Rafael berdiri di gudang tua miliknya yang dulu jadi pusat distribusi narkoba. Kini gudang itu kosong, hanya tinggal jejak kelam. Tapi malam ini, Rafael kembali ke sana bukan untuk berdagang, melainkan untuk menjual semua peninggalan masa lalu. Di hadapannya, seorang kolektor barang ilegal dan mantan pengusaha gelap: Pak Gun. “Aku butuh uang cepat,” kata Rafael. “Ini semua—mobil-mobil antikku, jam tangan langka, aset crypto, properti atas nama samaran—aku lepas semuanya. Setengah harga. Tapi sekarang.” Pak Gun mengernyit. “Apa kamu gila? Asetmu bisa lebih dari 200 miliar.” “Aku hanya butuh 15 miliar. Sisanya, anggap saja… penebusan dosaku.” Pak Gun terkesiap. Tapi ia tahu Rafael tidak sedang main-main. Maka ia langsung menghubungi tiga orang kepercayaannya. Malam itu juga, uang yang dibutuhkan Rafael mengalir ke rekening rumah sakit. --- Keesokan harinya, pesawat jet pribadi mendarat di Bandara Halim. Lia dipindahkan dengan pengawasan medis khusus menuju pesawat, diiringi tangis anak-anak panti dan pelukan panjang dari Bu Ina. Di kursi penumpang, Lia menatap Rafael dengan pandangan yang campur aduk: cinta, takut, rasa bersalah, kagum. “Kau benar-benar gila,” bisiknya. Rafael menggenggam tangannya. “Gila karena cinta. Dan kali ini, aku ingin gila sampai kau sembuh.” Pesawat pun lepas landas, membawa mereka menuju sebuah rumah sakit di Zurich, Swiss. Harapan masih kecil, tapi tekad Rafael… sebesar semesta. --- Namun saat pesawat itu meninggalkan Jakarta, di lorong gelap sebuah klub malam di Kemang, seorang pria berjaket kulit duduk sambil menyeruput kopi hitam. Ia membuka ponselnya, melihat berita terbaru soal Rafael Adinata. “Kau pikir kau bisa lepas semudah itu?” gumamnya dingin. “Jendra sudah tumbang. Tapi aku belum.” Nama pria itu: Arman, mantan anak buah Jendra yang selama ini menghilang setelah baku tembak terakhir. Kini ia punya satu tujuan: membalas dendam. Dan untuk itu, ia tahu kelemahan Rafael bukan lagi kekuasaan… tapi wanita bernama Lia. ------ Rumah Sakit Internasional Zurich, Swiss. Tiga hari setelah kedatangan mereka, salju mulai turun perlahan, melapisi jalanan kota dengan warna putih suci. Dari jendela lantai lima, Lia menatap guguran salju itu dengan perasaan campur aduk. Wajahnya tampak lelah, kulitnya makin pucat, tapi ada sinar lembut di matanya. Untuk pertama kalinya, ia berada di negeri yang sama sekali asing—namun justru terasa damai. Rafael masuk pelan, membawa setangkai bunga lili putih. “Katanya ini bunga favoritmu,” ucapnya sambil duduk di samping ranjang. Lia tersenyum. “Dari mana kamu tahu?” “Aku tahu banyak tentangmu. Lebih dari yang seharusnya.” Lia menggenggam tangannya. “Dan aku… baru tahu siapa kamu sesungguhnya.” “Aku juga belum sepenuhnya tahu siapa aku yang sebenarnya, Lia. Tapi aku yakin satu hal—aku hanya ingin menjadi versi terbaik dari diriku… saat bersamamu.” Hening. Mereka saling menatap. Bukan dalam hasrat, bukan dalam obsesi. Tapi dalam pengertian yang dalam dan tulus. --- Hari berikutnya, proses persiapan transplantasi dimulai. Lia menjalani serangkaian tes genetik, pencocokan donor, dan perawatan stabilisasi. Tim medis dipimpin oleh Prof. Dietrich, ahli transplantasi organ ganda yang diakui dunia. “Dia kandidat yang tangguh, tapi kita melawan waktu,” jelas Prof. Dietrich pada Rafael. “Donor untuk dua organ vital sekaligus sangat langka. Dan sistem kekebalannya sudah mulai melemah.” Rafael hanya menjawab dengan satu kalimat: “Cari sampai ketemu. Tak peduli berapa biayanya.” --- Sementara itu, di Jakarta… Arman memulai pergerakannya. Dengan koneksi bawah tanah yang masih aktif, ia melacak keberadaan Rafael. Ia menyewa dua hacker dan satu pemburu bayaran untuk menemukan titik terlemah: saluran komunikasi antara Rafael dan pihak rumah sakit. Salah satu anak buahnya bertanya, “Untuk apa kau incar wanita itu? Dia bahkan tidak ada hubungannya dengan bisnis.” Arman tertawa kecil, getir. “Justru karena itu. Dia satu-satunya hal yang membuat Rafael jadi manusia. Kalau dia kehilangan wanita itu, dia akan kembali jadi iblis. Dan saat dia kembali ke dunia bawah… aku akan menjemputnya di sana.” --- Di Swiss, Rafael menginap di ruang tunggu rumah sakit. Ia menolak tinggal di hotel. Ia hanya ingin dekat dengan Lia. Malam-malam ia terjaga, duduk di samping ranjangnya, kadang membacakan buku, kadang hanya menggenggam tangannya diam-diam saat Lia tidur. Tapi di tengah keheningan, ketegangan mulai muncul. Lia demam tinggi pada malam keempat. Dokter memindahkannya ke ruang ICU untuk sementara. Nafasnya pendek. Irama jantungnya mulai tak teratur. Rafael melihat tubuh yang dicintainya itu semakin rapuh, semakin jauh dari genggaman. Saat itulah ia akhirnya menangis. Tak di hadapan Lia, tapi di kapel kecil rumah sakit. Di sana, ia bersimpuh, bukan sebagai bos kejam, bukan sebagai pria penuh dendam. Tapi sebagai lelaki patah yang mencintai seorang wanita dengan segenap jiwanya. “Aku tahu aku tak pantas meminta… Tapi Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku. Ambil semua yang kupunya. Tapi jangan dia.” Tangisnya pecah. Tak ada yang melihat, kecuali salib kayu di altar dan bayangannya sendiri. --- Pagi harinya, kabar mengejutkan datang. Seorang pasien muda yang baru saja meninggal dalam kecelakaan mobil dinyatakan cocok sebagai donor jantung dan paru untuk Lia. Keluarga pasien menyetujui donasi dengan syarat anonim dan tanpa imbalan. “Ini mukjizat,” ujar Prof. Dietrich. Operasi dijadwalkan dalam 36 jam. Rafael tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, mengusap wajah, dan berlari kembali ke kamar Lia, menatapnya yang masih tertidur lemah di balik selimut putih. “Kau akan selamat, Lia. Aku janji.” --- Namun kabar baik tak pernah datang sendirian. Di waktu yang hampir bersamaan, Rafael menerima pesan di ponselnya dari kontak tak dikenal. Hanya satu kalimat: > “Kau selamatkan dia sekarang. Tapi berapa lama bisa kau lindungi dia dari kami?” Rafael menggertakkan gigi. Nama pengirim muncul kemudian: Arman. Toni langsung ditelepon. “Perketat semua jalur komunikasi. Jangan sampai satu pun data rumah sakit bocor. Dan awasi semua pengunjung, staf, bahkan kurir.” “Siap, Bos. Kami sudah deteksi ada pergerakan mencurigakan di Jakarta. Arman kayaknya aktif lagi.” Rafael tahu… pertempuran belum selesai. Ia telah melawan dunia untuk menyelamatkan Lia. Tapi dunia kelam yang dulu ia tinggalkan… kini ingin kembali menagih harga yang harus dibayar. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD