Bab 4

1204 Words
--- Malam turun cepat di Jakarta. Langit hitam tanpa bintang menggantung di atas kawasan industri Cengkareng. Di sebuah gudang tua berlantai dua, beberapa pria berbadan kekar tengah sibuk memindahkan kardus ke truk besar. Tak ada logo, tak ada keterangan isi. Tapi semua tahu: ini adalah salah satu jalur utama distribusi narkoba Rafael yang masih aktif. Di kejauhan, mobil hitam berhenti. Dari dalam, Rafael keluar, mengenakan hoodie gelap dan masker hitam. Toni menyusul di belakangnya, bersama Daniel—mantan operator gudang yang kini membelot dan memilih setia pada Rafael, sang bos besar yang ingin berubah. “Semua sudah siap?” tanya Rafael tanpa basa-basi. Daniel mengangguk. “Anak-anak di dalam hanya lima orang malam ini. Sisanya sudah aku suruh pulang lebih awal dengan alasan keamanan. Barang terakhir sedang dimuat. Setelah itu, kamu tinggal kasih aba-aba.” Rafael menatap gudang itu lama. Ia mengingat setiap langkah yang membawanya ke titik ini—darah, uang, pengkhianatan, kemenangan semu. Semua dimulai dari tempat seperti ini. Kini ia sendiri yang akan menghancurkannya. “Panggil orang-orang keluar. Bawa truk menjauh 500 meter,” perintah Rafael. Toni memberi isyarat. Dalam waktu lima menit, gudang itu kosong. Hanya Rafael, Toni, dan Daniel yang masih berdiri di depan pintunya. “Bom sudah dipasang?” tanya Rafael. Daniel menunjukkan remote kecil di tangannya. “Kita pakai sistem peledak terkontrol. Aman. Tak ada bangunan warga di radius 300 meter.” Rafael mengangguk. Toni menatapnya. “Yakin?” “Lebih dari yakin,” jawab Rafael. Daniel menekan tombol. Dalam hitungan detik— BOOOMMM!! Ledakan mengguncang malam. Api menyembur dari dalam gudang. Suaranya memekakkan telinga, kaca-kaca di bangunan sekitar bergetar hebat. Langit malam menyala jingga, dan dari kejauhan, sirene mulai terdengar. Tapi Rafael tak bergerak. Ia hanya menatap api yang menjilat bekas kejayaan masa lalunya. Itu bukan hanya kehancuran satu gudang. Itu adalah akhir dari satu era. Ia berbalik, dan pada Toni ia berkata pelan, “Satu jalur jatuh. Sisanya akan menyusul.” --- Namun di sisi lain kota, saat Rafael menghancurkan masa lalunya, orang lain sedang membangun jalan menuju masa depannya—dengan darah. Pria berjaket hitam dari sore tadi kembali muncul di sekitar panti. Kali ini, ia tidak sendiri. Tiga pria lain bersamanya, menyamar sebagai petugas PLN. Mereka membawa peralatan dan mengenakan ID palsu. Pukul 9 malam, listrik panti padam. Bu Ina panik. Anak-anak mulai menangis. Lia langsung ke halaman depan. Salah satu dari “petugas” itu menghampirinya. “Permisi, Ibu. Kami dari PLN. Ada gangguan di jaringan utama. Bisa kami periksa ke dalam?” Lia menatap tajam, firasatnya tak enak. “Tapi kenapa tidak dari siang tadi?” tanyanya, waspada. Pria itu tersenyum kecil. “Kami dapat laporan barusan. Tidak lama kok, hanya lima belas menit.” Tapi sebelum Lia bisa menjawab, salah satu anak panti berteriak dari jendela lantai dua: “Bu Lia! Mereka bawa senjata!” Semua kekacauan terjadi serentak. Lia mundur satu langkah. Pria-pria itu langsung berubah wajah. Dua dari mereka menarik pistol dari balik rompi. Lia berbalik lari ke dalam sambil berteriak, “KUNCI SEMUA PINTU! SEMBUNYI!” Tembakan terdengar. DOR! DOR! Pintu kaca depan pecah. Anak-anak berteriak. Bu Ina berusaha mengumpulkan mereka ke dapur belakang. Tapi saat pria bersenjata itu hendak masuk, sebuah motor besar muncul dari ujung jalan dengan suara menggerung tajam. Rafael. Ia datang tanpa aba-aba, dengan helm tertutup dan jaket kulit. Tanpa banyak bicara, ia lompat turun, menarik pistol dari sabuknya, dan melepaskan dua tembakan cepat. DOR! DOR! Dua dari pria bersenjata roboh. Dua lainnya kabur ke gang sempit. Rafael mengejar satu, Toni yang datang lima detik kemudian mengejar satunya lagi. --- Di dalam panti, Lia memeluk anak-anak kecil yang menangis. Nafasnya tersengal. Wajahnya pucat. Tapi yang paling menonjol adalah air matanya yang tak berhenti mengalir—bukan karena takut, tapi karena tahu: ini bukan dunia yang pantas ia tempati. Dunia Rafael, walau ia ingin mempercayai kebaikan pria itu, tetaplah dunia darah dan bayang-bayang. Dan kini... anak-anak panti sudah terkena imbasnya. ------ Langit belum berubah warna saat Rafael kembali masuk ke halaman panti. Helm sudah dilepas, wajahnya tertutup debu dan bekas darah dari musuh yang ia tumbangkan. Napasnya berat, tapi langkahnya tetap mantap. Ia langsung menuju pintu masuk, di mana Bu Ina berdiri dengan mata berkaca-kaca, menatapnya seperti melihat iblis masuk ke rumah ibadah. Di balik Bu Ina, Lia berdiri. Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, tatapan Lia ke Rafael tidak berisi keraguan atau penasaran. Tapi takut. “Maafkan aku,” kata Rafael pelan, nyaris berbisik. Lia melangkah maju satu langkah, suaranya bergetar. “Kau bilang aku aman.” “Aku pikir aku bisa jaga itu,” jawab Rafael. “Aku pikir... aku bisa lindungi kamu tanpa menyeretmu masuk ke kegelapan yang kutinggalkan.” “Dan nyatanya?” suara Lia naik setingkat. “Anak-anak hampir mati malam ini! Kau pikir aku bisa duduk diam menonton itu semua?!” Rafael menunduk. Bukan karena malu—tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang lebih mengiris dari peluru atau pengkhianatan: penolakan dari orang yang ingin ia selamatkan. Bu Ina melangkah maju. “Maaf, Tuan Rafael. Tapi saya harus minta Anda pergi malam ini juga. Jangan pernah kembali ke tempat ini. Tidak lagi.” Toni, yang berdiri di dekat gerbang, menunduk hormat pada Bu Ina. Tapi tatapannya pada Rafael menunjukkan betapa gentingnya situasi ini. Namun Rafael tak langsung pergi. Ia menatap Lia sekali lagi. Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku menghancurkan gudang terakhirku malam ini. Semua itu... untuk kamu.” Lia menggigit bibir. Wajahnya memucat. Ia ingin berkata sesuatu—mungkin menyuruhnya berhenti, atau mungkin mengucapkan terima kasih. Tapi hatinya terlalu kacau untuk memilih. Rafael menatapnya terakhir kali, lalu berbalik. --- Malam itu, panti dijaga aparat. Polisi datang terlambat—seperti biasa. Tapi untungnya tak ada korban jiwa. Dua penyerang tewas, dua lainnya masih buron. Namun luka yang tertinggal jauh lebih dalam dari sekadar pecahan kaca atau pintu rusak. Lia duduk sendiri di kamar kecilnya, memandangi foto anak-anak yang tertawa saat perayaan ulang tahun bersama. Di luar, suara anak-anak mulai tertidur satu per satu. Tapi pikirannya jauh... menuju pria yang berdiri sendirian di tepi jurang dunia kelam, mencoba naik—dan menariknya ke dalam tanpa sengaja. Ia tak bisa membenci Rafael sepenuhnya. Tapi ia juga tak bisa mengampuni sesuatu yang nyaris membunuh anak-anak itu. Dan di luar kota, di tempat tersembunyi... Rafael duduk sendirian di ruang bawah tanah markas lamanya. Dinding beton, lampu kuning temaram, meja kayu yang penuh berkas lama. Di depannya, peta jaringan Jendra. Toni berdiri tak jauh darinya. “Dia menolakmu,” ujar Toni tanpa basa-basi. Rafael tak menjawab. “Kamu yakin masih mau teruskan ini, Bos? Kamu sudah hancurkan satu jalur. Kamu bisa mulai hidup baru... sendiri.” Rafael mendongak. Tatapannya tajam. Suaranya datar, penuh amarah dingin. “Kalau mereka menyentuh Lia sekali lagi... aku akan menghancurkan semua yang pernah kupelajari dalam dunia ini. Dan mereka akan menyesal.” Toni mengangguk pelan. Ia tahu, Rafael tidak main-main. “Baik, Bos. Aku ikut.” Lampu mati sebentar karena gangguan listrik. Saat menyala kembali, Rafael sudah berdiri. “Besok pagi. Kita mulai dari pusat Jendra di Bandung. Kita akan ambil semuanya.” Dan malam itu, Rafael Adinata kembali berubah. Bukan menjadi monster seperti dulu—tapi menjadi seseorang yang tak lagi punya apa-apa untuk kehilangan. Dan itu... jauh lebih berbahaya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD