---
Dini hari itu, Rafael tidak tidur.
Ia duduk di ruang kerja kecil di lantai dua vila Puncak, hanya ditemani monitor besar yang memetakan jalur distribusi narkoba miliknya di seluruh Indonesia. Sebagian besar jalur itu telah ia tutup perlahan, tetapi masih ada simpul-simpul yang aktif. Dan semua itu membuatnya rentan.
Di tangan kirinya, secangkir kopi sudah dingin. Di tangan kanan, ponselnya menyala. Ia membaca ulang pesan yang datang dari akun tak dikenal, hanya berisi dua kata: “Sudah dekat.”
Toni masuk, membawa laporan hasil pelacakan aliran uang Jendra.
“Dia pakai jaringan baru,” kata Toni. “Transfer lewat perusahaan logistik fiktif di Surabaya. Tapi kita bisa potong masukannya lewat perbankan Papua kalau kamu mau.”
“Lakukan,” jawab Rafael tegas. “Tapi diam-diam. Aku tidak mau dia tahu kita tahu.”
Toni mengangguk. Ia menatap Rafael beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Bos, aku tahu kamu keras kepala. Tapi kamu nggak bisa hadapi ini sendirian.”
Rafael menoleh, menatap Toni dengan mata lelah. “Aku tidak sendiri. Tapi aku juga nggak bisa percaya siapa pun sekarang. Termasuk mereka yang pernah bersumpah setia padaku.”
“Termasuk aku?” tanya Toni, suaranya datar.
Rafael tersenyum tipis. “Kalau aku nggak percaya kamu, kamu nggak akan di sini.”
---
Sementara itu, di Jakarta, Lia baru saja tiba kembali di panti. Wajahnya lelah, namun matanya terang. Ada yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang membuat anak-anak menyadari bahwa Bu Lia hari ini berbeda.
Namun perubahan itu tak semua orang sambut dengan hangat.
Bu Ina, kepala panti, menunggu Lia di ruang administrasi. Di tangannya ada surat. Surat yang dikirim tanpa pengirim, namun berisi kalimat mengerikan:
> “Selama dia masih dekat dengan pria itu, kalian semua dalam bahaya. Ini peringatan terakhir.”
Lia membaca surat itu perlahan. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat.
“Apa kamu tahu maksudnya?” tanya Bu Ina, khawatir.
Lia mengangguk pelan. Ia duduk, mencoba menenangkan dirinya. “Aku tahu siapa mereka. Dan aku tahu... siapa yang mereka maksud sebagai ‘pria itu’.”
Bu Ina menatapnya dengan campuran kaget dan takut. “Lia... kamu dekat dengan Rafael Adinata?”
Lia tidak menjawab. Tapi tatapannya menjawab semuanya.
---
Di tempat lain, Jendra duduk di kursi kulit hitam dalam ruangan yang remang-remang. Di hadapannya, layar menampilkan wajah Rafael dari tangkapan kamera CCTV ilegal di Puncak.
“Dia makin gila,” gumam Jendra. “Meninggalkan semua itu... demi seorang perempuan?”
Salah satu anak buahnya, Pras, menimpali, “Mungkin ini kesempatan. Kalau dia mulai lemah karena cinta, kita bisa tekan dia dari dua arah.”
Jendra mengangguk lambat. “Kita tak akan sentuh dia dulu. Tapi perempuan itu... dia kuncinya.”
------
Lia mengunci pintu kamar asramanya. Ia bersandar di balik pintu, menarik napas panjang, lalu duduk di lantai.
Pikirannya kacau.
Kedekatannya dengan Rafael telah membuat panti dalam bahaya. Ia tahu itu. Surat ancaman yang diterima Bu Ina—dan bunga mawar merah yang entah siapa yang meletakkan di depan jendela kamarnya beberapa malam lalu—semua itu seperti peringatan dari semesta untuk segera pergi dan menjauh.
Namun, ada yang lain. Sebuah perasaan tak terjelaskan... bahwa Rafael memang ingin berubah.
Lia mengambil ponsel lamanya—bukan smartphone, hanya ponsel dengan tombol fisik. Ada satu pesan dari Rafael masuk:
> “Maafkan aku kalau semua ini membuatmu dalam bahaya. Tapi aku bersumpah, aku akan lindungi kamu… apapun yang terjadi.”
Ia menatap layar ponsel lama itu lama sekali. Kemudian ia ketik balasan:
> “Kalau benar kamu ingin berubah, tunjukkan. Jangan dengan kata-kata. Tapi tindakan.”
Lia menekan kirim.
---
Sementara itu, di markas Rafael di Jakarta, ruangan besar di dalam kompleks industri tua, empat orang berdiri di depan Rafael. Mereka adalah kapten-kapten jalur—orang-orang kepercayaannya yang memegang distribusi utama.
“Mulai hari ini,” kata Rafael, “semua jalur ke Sumatera dan Kalimantan berhenti. Sementara. Aku akan audit semuanya. Termasuk transaksi kalian.”
Wajah-wajah di depannya saling pandang. Salah satu dari mereka, Eko, melangkah maju.
“Bos, maaf saya bicara. Tapi kalau kita berhenti sekarang, Jendra akan ambil alih semua pasar. Dan anak-anak yang hidup dari jalur ini akan kacau.”
Rafael menatap tajam.
“Kau pikir aku bodoh, Eko? Aku tahu siapa yang sudah bocorkan data kita ke orang luar. Dan aku tahu, kamu sudah mulai jalankan bisnis pribadi.”
Eko membelalak. “B-bukan saya, Bos. Saya setia. Sumpah!”
“Keluar. Sekarang juga. Dan jangan pernah kembali.”
Dua orang anak buah Rafael langsung menggiring Eko keluar. Tidak ada protes. Di dunia Rafael, satu kata bisa jadi hukuman mati.
Setelah Eko pergi, Rafael berbicara lagi.
“Aku bukan bodoh. Aku tahu apa yang sedang terjadi. Tapi satu hal yang perlu kalian semua ingat...”
Ia berjalan mendekati meja bundar di tengah ruangan.
“Selama aku masih hidup... tidak satu pun dari kalian bisa bermain di belakangku.”
---
Di panti, Lia berdiri di depan ruang makan sambil membantu anak-anak kecil menuangkan sup.
Namun, bisik-bisik mulai terdengar.
“Ada yang bilang Bu Lia dekat sama orang jahat,” kata salah satu remaja.
“Iya, katanya sama orang kaya yang punya bisnis gelap,” timpal yang lain.
---
Pagi di panti asuhan terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari mulai menyembul malu-malu di balik awan. Lia duduk sendirian di taman belakang, mengenakan sweater abu-abu, menatap bunga mawar yang mulai gugur.
Bu Ina datang dengan langkah tenang namun tegas. Di belakangnya, dua orang staf panti mengikuti dari jauh. Terlihat jelas mereka ingin bicara… tapi ragu.
“Lia,” kata Bu Ina setelah duduk di sampingnya. “Aku tahu kamu sudah dewasa. Tapi kamu juga tahu tempat ini bukan cuma rumah kita. Ini rumah bagi puluhan anak yang bergantung pada kita.”
Lia menoleh perlahan. Matanya lelah.
“Aku tahu, Bu. Aku sadar. Tapi semua ini bukan seperti yang kalian pikirkan.”
“Kalau begitu bantu aku mengerti,” potong Bu Ina. “Apa yang kamu cari dari Rafael Adinata? Lelaki itu… musuh masyarakat. Ada puluhan nyawa tak berdosa yang hancur karena bisnisnya.”
Lia menatap rumput yang basah karena embun. Ia membuka mulutnya pelan, tapi suara tak langsung keluar. Akhirnya ia berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjelaskan. Aku hanya… melihat sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang mungkin tidak dilihat orang lain.”
“Sesuatu yang kamu yakin bisa kamu ubah?”
Lia terdiam.
“Apa kamu mencintainya, Lia?”
Pertanyaan itu seperti palu godam yang menghantam jantung Lia. Ia tidak bisa menjawab dengan jujur—karena ia sendiri belum tahu jawabannya. Yang ia tahu, hatinya tidak lagi bisa membohongi dirinya sendiri: ia menunggu kabar dari Rafael setiap malam. Ia takut jika Rafael terluka. Ia… memikirkannya lebih dari seharusnya.
“Aku hanya ingin tahu… apa benar dia bisa berubah,” jawab Lia akhirnya.
Bu Ina menarik napas panjang. “Aku mengerti perasaanmu, Nak. Tapi kamu bukan satu-satunya yang akan menderita kalau ada yang terjadi. Kita semua akan kena. Dan kamu tahu, mereka yang bermain di dunia Rafael… tidak mengenal kata maaf.”
---
Di vila Puncak, Rafael menyusun rencana. Ia berdiri di depan papan besar yang menampilkan peta jaringan kriminalnya: titik-titik merah menunjukkan jalur aktif, titik hijau jalur yang sudah ia bubarkan. Di bagian barat Jakarta, ada satu titik merah yang menyala lebih terang dari yang lain.
“Jalur distribusi gudang Cengkareng,” kata Toni, yang berdiri di belakangnya. “Sumber uang terbesar saat ini. Tapi juga yang paling diawasi orang Jendra.”
“Aku mau tutup malam ini,” ujar Rafael.
Toni nyaris tak percaya. “Tutup? Bos, kamu serius? Jalur itu… nyaris tak tergantikan. Sekali kamu matikan, kamu akan kehilangan setidaknya 40% pemasukan per bulan.”
“Aku lebih baik miskin daripada melihat Lia atau anak-anak itu disakiti karena aku.”
Toni menghela napas. “Kalau begitu kita perlu orang dalam. Orang kepercayaan.”
Rafael menatapnya. “Bawa Daniel ke sini. Sekarang.”
---
Sementara itu, di sisi lain kota, seorang pria berbadan besar mengenakan hoodie hitam duduk di kafe pinggir jalan. Ia sedang memperhatikan panti asuhan tempat Lia tinggal, melalui kaca spion sepeda motornya.
Tangan kirinya memegang foto. Foto Lia dan Rafael, diambil dari jauh. Di belakang foto itu tertulis:
> “Kita tidak perlu bunuh dia. Cukup buat dia tahu apa rasanya kehilangan.”
Pria itu tersenyum kecil, lalu memencet nomor di ponselnya.
“Target sudah terpantau. Waktu tunggu?”
Suara dari seberang menjawab dingin: “Malam ini.”
---
Di dalam panti, Lia sibuk membersihkan dapur bersama anak-anak. Salah satu anak perempuan, Lila, menarik-narik bajunya sambil bertanya polos, “Bu Lia, kapan Om yang suka kasih hadiah datang lagi?”
Lia tersenyum canggung. “Om yang mana?”
“Om yang tinggi. Yang matanya serem tapi suka bawa boneka. Anak-anak bilang dia om mafia!”
Lia nyaris tertawa, tapi ia menahan diri. “Om itu… sedang sibuk. Mungkin nanti kalau sempat, dia mampir lagi.”
Lila mengangguk. “Aku doain supaya Om itu jangan diserang polisi ya. Soalnya dia baik. Aku suka boneka kelinci warna pink itu.”
Dan mendadak, hati Lia menghangat—dan sekaligus dingin. Anak-anak ini tak tahu bahwa mereka berada dalam garis api.
Dan ia sendiri... mungkin membawa bahaya besar pada semua orang di panti.
---