Langit Jakarta pagi itu tidak seperti biasanya. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menandakan sesuatu yang berat sedang turun ke bumi. Di salah satu sudut kota, di rumah besar bergaya kolonial yang sepi dari tawa keluarga, Rafael Adrasta berdiri sendiri di balkon lantai dua.
Cangkir kopi di tangannya sudah dingin. Ia bahkan tidak sadar sudah berdiri di sana selama lebih dari satu jam. Matanya menatap kosong ke kejauhan, tapi pikirannya tidak. Ia penuh dengan konflik, dengan pertanyaan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya:
Bagaimana caranya keluar dari kehidupan yang sudah melekat seperti darah dalam nadinya?
Rafael bukan pria biasa. Semua orang tahu itu. Bahkan para penguasa kota, para politisi, polisi, dan pengusaha tahu: Rafael bukan seseorang yang bisa diganggu. Ia adalah kepala dari jaringan narkoba terbesar di Jakarta—pemain kelas kakap yang wajahnya tak pernah muncul di koran tapi namanya dibisikkan di ruang rapat gelap.
Tapi sekarang, setelah satu pertemuan dengan wanita bernama Lia Nurani, semuanya berubah. Tak lagi tentang uang. Tak lagi tentang kekuasaan. Tak lagi tentang siapa yang tunduk padanya.
Sekarang, satu-satunya yang dia ingin taklukkan… adalah dirinya sendiri.
---
Pukul delapan pagi, Rafael memanggil asistennya yang paling dipercaya, Toni. Pria muda itu mengenakan kemeja hitam dan celana taktikal, wajahnya selalu tegang.
“Ada yang bisa saya bantu, Bos?” tanyanya.
“Kita jual klub malam di Kemang. Segera.”
Toni menatap Rafael seolah baru saja mendengar halusinasi.
“Maaf, Bos? Yang di Kemang? Tapi itu pusat pendistribusian… dan tempat pencucian uang kita paling stabil.”
“Aku tahu. Tapi aku tidak peduli.”
Rafael berdiri dan berjalan menuju rak buku yang menyembunyikan brankas besar. Ia membuka kombinasi rahasia, lalu mengambil dua berkas besar bertuliskan Transaksi: Cartagena dan Operasi Singapura.
“Batalkan semua pertemuan dengan mitra dari luar negeri. Aku tidak akan terlibat lagi.”
Toni membuka mulut, tapi tak jadi bicara. Ia tahu lebih baik tidak mempertanyakan Rafael saat pria itu bersuara seperti ini. Tapi tak bisa dipungkiri, hatinya waspada.
“Kalau boleh tanya… ini semua karena perempuan itu?”
Rafael berhenti sejenak. “Sebagian, ya. Tapi juga karena aku sadar, aku hidup seperti binatang. Dan aku muak.”
Ia menutup brankas, lalu berbalik.
“Tapi aku tidak bodoh, Toni. Aku tahu mereka tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Jadi aku butuh kamu tetap siaga. Kalau mereka mulai bergerak... lindungi orang-orangku. Dan...”
Ia menarik napas panjang.
“Pastikan tak ada yang menyentuh perempuan itu.”
------
Siang itu, Rafael kembali ke salah satu lokasi gudang yang dulu menjadi pusat distribusi di kawasan pelabuhan tua. Bangunan tua berlantai dua itu kini seperti kuburan, tak seramai biasanya. Ia sengaja meminta semua aktivitas dihentikan untuk sementara waktu. Beberapa anak buahnya duduk gelisah di sudut-sudut gelap, seolah menunggu keputusan penting.
Begitu Rafael memasuki ruangan, semua berdiri.
Ia tak mengenakan setelan jas. Hanya kaus hitam polos dan jaket kulit. Tapi aura dominannya tetap tak tertandingi. Ia memandang satu per satu wajah yang sudah bekerja padanya bertahun-tahun. Wajah-wajah keras yang tak pernah takut pada peluru, polisi, atau bahkan kematian.
Tapi hari itu, Rafael membawa pesan yang menakutkan bagi mereka: perubahan.
“Aku tahu kalian dengar kabar yang beredar,” katanya. Suaranya tenang, namun setiap kata mengandung tekanan. “Ya, aku akan keluar. Perlahan, bersih, tanpa jejak.”
Riuh mulai terdengar. Salah satu tangan kanannya, Johan, bersuara, “Bos, dengan segala hormat... ini gila. Kita sudah bangun semua ini selama lima belas tahun. Kita menguasai jalur dari Batam sampai Makassar. Kalau kita keluar, orang lain akan rebut semua. Kita akan jadi target!”
“Aku tahu,” jawab Rafael cepat. “Itulah sebabnya kita harus keluar dengan strategi. Aku tidak akan biarkan satu pun dari kalian jadi tumbal. Tapi aku juga tidak akan mati sebagai penjahat. Kalau kalian mau ikut bersih... aku bantu. Kalau tidak... kalian bebas.”
Diam.
Beberapa dari mereka saling menatap. Tak satu pun bergerak.
“Aku tahu ini sulit. Tapi aku sudah ambil keputusan,” lanjut Rafael. “Mulai malam ini, kita tutup semua gudang. Hentikan distribusi. Dan untuk kalian yang butuh uang untuk bertahan—aku akan bayar pesangon dua kali lipat.”
Johan mengepalkan tangan. “Bos… ini bukan sekadar bisnis. Ini wilayah. Ini kekuasaan. Mereka tidak akan biarkan kita keluar.”
Rafael menatapnya tajam. “Biarkan mereka datang.”
---
Sementara itu, di sudut kota yang jauh dari kegelapan dunia Rafael, Lia sedang duduk di balkon panti asuhan, memandangi halaman belakang yang kosong. Senja menggantung indah. Tapi hati Lia terasa penuh.
Sudah seminggu sejak ia menerima surat dari Rafael. Ia tidak pernah membalasnya. Tapi surat itu masih disimpannya—di laci lemari, terlipat rapi, tak pernah dibakar.
Ia mencoba menepis bayangan pria itu. Tapi setiap kali anak-anak tertawa karena buku baru yang muncul di rak, atau saat listrik tetap menyala di tengah pemadaman berkat generator baru, ia tahu... semuanya berasal dari Rafael.
Dan ia benci harus mengakui—ia mulai penasaran.
“Bu Lia,” sapa seorang anak kecil, Santi, sambil menarik ujung bajunya.
“Ya, Sayang?”
“Yang beli buku buat kita itu siapa sih, Bu? Dia baik banget. Aku mau bilang makasih.”
Lia tersenyum tipis, tapi dadanya seperti terhimpit.
“Dia... orang baik. Tapi sedang belajar jadi lebih baik lagi.”
---
Malamnya, Lia membuka kembali surat itu.
> “…tapi jika suatu saat kamu ingin tahu siapa aku sebenarnya—dan kenapa aku ingin berubah—datanglah ke alamat ini…”
Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di taman panti, Lia bertanya dalam hati:
Bagaimana jika... aku benar-benar datang?
---
Keesokan harinya, Rafael menerima panggilan yang tidak ia harapkan.
“Bos... mereka gerak cepat.”
“Siapa?”
“Orang-orang Jendra. Gudang kita di Kalideres dilempar molotov tadi malam. Tidak ada korban. Tapi itu peringatan.”
Rafael menutup telepon dengan rahang mengeras.
Ia tahu ini akan terjadi. Tapi tetap saja, amarah itu mengalir. Bukan karena barang. Bukan karena harta.
Tapi karena mereka mencoba menyerang keluarganya. Orang-orang yang ia lindungi.
Dan ia sadar, satu hal:
> Untuk keluar dari neraka... kau harus berjalan melewati apinya.
------
Malam mulai turun perlahan di Jakarta. Hujan rintik-rintik menghiasi kaca jendela kamar Rafael. Ia berdiri di ruang kerjanya yang luas, namun kosong. Meja kayu jati itu dulu penuh berkas transaksi, kini hanya menyisakan satu laptop, satu botol air mineral, dan foto lawas ibunya.
“Jendra mulai bergerak,” gumamnya.
Ia menekan tombol interkom. “Toni, naik ke atas. Bawa laporan terakhir.”
Beberapa menit kemudian, Toni masuk sambil menyerahkan map hitam. Rafael membukanya pelan. Di dalamnya, foto-foto dari CCTV. Beberapa orang berpakaian seperti buruh pelabuhan, tapi wajah mereka dikenali Rafael. Mereka orang-orang Jendra. Mengawasi. Mengintai.
Salah satu foto membuat Rafael berhenti bernapas sejenak.
Itu Lia.
Keluar dari gerbang panti, memeluk salah satu anak kecil yang hendak sekolah. Di belakangnya... dua pria tak dikenal berdiri di bawah pohon beringin tua. Mengintai.
“Sejak kapan?” tanya Rafael, matanya tajam.
“Kami baru sadar kemarin. Tapi sepertinya mereka sudah memantau sejak dua atau tiga hari lalu,” jawab Toni. “Mereka tidak bergerak langsung. Tapi jelas ada pesan.”
Rafael berdiri. Amarahnya perlahan memuncak. Tapi bukan jenis amarah meledak-ledak. Ini amarah dingin. Seperti api biru yang membakar tanpa suara.
“Kirim dua orang untuk jaga panti itu. Diam-diam. Aku tidak mau anak-anak atau Lia tahu.”
“Bos, ini sudah bukan main-main lagi. Mereka tahu kelemahan kita. Kita harus serang balik. Kirim pesan juga.”
Rafael menggeleng.
“Belum. Kita lindungi. Tapi jangan perang dulu. Aku tak mau darah tumpah... belum sekarang.”
---
Di sisi lain kota, Lia gelisah di tempat tidurnya. Sudah lewat tengah malam, tapi matanya tetap terbuka.
Surat Rafael kembali di tangannya.
Lalu, dengan gerakan cepat seolah ia akan menyesal jika menunda, Lia bangkit. Ia membuka lemari, mengeluarkan sweater tipis, mengambil tas kecil, dan memasukkan beberapa barang.
Tak lupa, ia menulis surat untuk kepala panti:
> “Bu Ina, aku akan pergi sebentar. Ada sesuatu yang harus aku urus. Tolong jaga anak-anak. Aku akan kembali secepatnya.”
Ia menyelipkan surat itu di bawah pintu kantor administrasi, lalu keluar dari gerbang depan. Jalanan sunyi. Hanya suara jangkrik dan rintik hujan yang mengiringi langkah kakinya.
Ia tidak tahu kenapa dirinya melakukan ini.
Yang ia tahu hanyalah: jika Rafael benar-benar ingin berubah, dan jika sedikit saja dari semua kebaikan yang ia lakukan untuk panti berasal dari niat tulus—Lia ingin melihat itu sendiri.
Meskipun, di lubuk hatinya yang terdalam, ia juga tahu… dirinya mulai goyah.
---
Dua jam kemudian, Lia tiba di depan sebuah vila di kawasan Puncak. Alamat yang Rafael tulis di surat itu.
Vila itu besar, tapi tidak mewah berlebihan. Dikelilingi pepohonan pinus, berpagar kayu, dan memiliki balkon dengan lampu kuning hangat menyala. Seperti rumah dari cerita lama.
Ia berdiri ragu di depan gerbang.
Lalu, pintu depan terbuka.
Sosok tinggi Rafael muncul, hanya mengenakan sweater abu-abu dan celana rumah.
Ia tak tampak seperti raja kriminal. Ia lebih mirip pria patah hati yang tak pernah tidur.
Lia dan Rafael saling tatap selama beberapa detik yang panjang.
“Kamu datang…” suara Rafael pelan, seakan takut jika ia bicara terlalu keras maka mimpi ini akan pecah.
Lia mengangguk, gugup. “Aku… hanya ingin tahu, apa semua ini benar.”
---
Di dalam vila, keheningan menyelimuti mereka. Rafael menyajikan teh hangat, dan mereka duduk berhadapan, meja kecil di antara mereka. Tak ada penjaga. Tak ada senjata. Hanya dua manusia dengan masa lalu dan masa kini yang tak pernah cocok.
“Aku tak tahu harus mulai dari mana,” kata Rafael. “Tapi sejak aku ketemu kamu, Lia… semuanya berubah. Rasanya... seperti aku lihat dunia dengan mata baru. Dan untuk pertama kalinya, aku ingin hidup normal. Tanpa darah. Tanpa ketakutan.”
Lia mendengarkan tanpa menyela.
“Aku tahu siapa diriku. Dan aku tahu aku bukan orang yang pantas ada di dekatmu. Tapi aku ingin mencoba berubah. Meskipun... kamu tidak pernah mau melihatku lagi setelah ini.”
Hening sesaat.
“Aku tidak butuh kamu berubah untuk aku,” kata Lia, pelan. “Kalau kamu mau berubah… pastikan itu untuk dirimu sendiri.”
Rafael mengangguk pelan. “Tapi aku ingin kamu tahu. Semuanya dimulai… karena kamu.”
------
Beberapa jam setelah kedatangan Lia, Rafael mengantarnya berkeliling vila. Tak ada kemewahan berlebihan. Semua terasa bersih, sederhana, dan tenang—kontras dengan reputasi pria yang tinggal di dalamnya. Lia mulai melihat sisi lain dari Rafael, sisi yang belum sempat ia nilai karena selalu terhalang prasangka dan fakta masa lalu yang terlalu gelap.
Mereka duduk kembali di ruang baca. Lia memperhatikan rak buku yang dipenuhi novel-novel klasik, buku sejarah dunia, dan... buku rohani?
“Kamu baca ini?” tanyanya menunjuk Tafsir Al-Mishbah dan beberapa buku agama lain.
Rafael tersenyum kecil. “Dulu waktu kecil... ibuku sering bacain. Aku dulu pikir, semua itu cuma dongeng. Tapi setelah aku kehilangan dia... dan hidup jadi kosong meskipun penuh uang, aku mulai cari makna lagi.”
Lia menatapnya lama, tak berkata apa-apa. Di dalam dirinya, sesuatu mulai bergeser. Ia mulai merasakan simpati... atau lebih jauh, empati.
Tapi kebersamaan itu tak berlangsung lama.
Ponsel Rafael bergetar di saku jaketnya. Ia mengangkat, dan dalam sekejap, wajahnya berubah.
“Ya?” tanyanya, tajam.
Dari seberang, suara lelaki paruh baya terdengar tenang namun penuh ancaman.
“Kamu pikir bisa keluar semudah itu, Raf?”
Diam. Rafael tidak menjawab.
“Dulu kau main di jalan ini bersama kami. Sekarang kau ludahi tanahnya dan mau pergi?”
“Jendra,” desis Rafael.
“Aku kasih kau waktu tiga hari. Kembalikan semua jalurmu. Atau anak-anak panti itu... akan aku kirim satu-satu dalam kantong mayat.”
Klik. Telepon ditutup.
---
Wajah Rafael memucat. Ia menoleh pada Lia yang sedang membaca buku di sofa. Ia terlihat begitu damai... tak tahu bahaya baru saja diucapkan atas namanya.
“Lia...”
Perempuan itu menoleh.
“Kamu harus kembali ke panti besok pagi,” ujar Rafael pelan.
“Kenapa?”
“Tempat ini tidak aman. Bukan karena kamu. Tapi karena aku. Dan... mereka tahu kamu dekat denganku.”
Lia bangkit berdiri. “Apa maksudmu? Maksudmu aku dalam bahaya?”
Rafael mengangguk pelan. “Mereka akan mulai main kotor. Dan aku tak bisa biarkan kamu terlibat.”
Lia menggigit bibirnya. Ketakutan dan kekacauan muncul di wajahnya. Tapi juga... keberanian yang perlahan tumbuh.
“Aku tidak takut, Rafael. Aku hanya... ingin tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kamu benar-benar ingin berubah? Atau semua ini hanya permainan untuk membuat aku luluh?”
Tatapan Rafael tajam, dalam, dan jujur.
“Aku tidak pernah yakin tentang banyak hal dalam hidup ini. Tapi satu yang pasti: aku ingin berubah karena aku tidak ingin kamu... melihatku sebagai monster. Mungkin aku sudah jadi monster. Tapi kalau masih ada satu kesempatan untuk jadi manusia lagi... aku akan perjuangkan itu.”
Lia menunduk. Perlahan, ia angguk.
“Tapi kamu harus tahu juga... aku tidak akan pernah jadi milik seseorang yang membangun istana dari darah orang lain.”
Rafael menatapnya. Tak tersinggung. Justru kalimat itu menegaskan apa yang selama ini ia takutkan—dan juga harapkan.
---
Malam itu, Rafael duduk di balkon sendirian. Hujan turun lebih deras dari malam sebelumnya.
Toni duduk di kursi seberang, sambil menyerahkan laporan baru. Rafael membacanya cepat. Serangan kecil terjadi di gudang lama di Bekasi. Belum ada korban. Tapi jelas... ultimatum Jendra bukan gertakan.
“Apa rencana kita?” tanya Toni.
Rafael menatap hujan di luar.
“Kita kirim pesan. Tapi bukan dengan darah. Dengan kekuatan. Aku akan mulai dengan bersihkan jalur uang mereka.”
Toni mengangkat alis. “Kau mau perang finansial?”
“Aku tidak akan tembak duluan. Tapi kalau mereka datang dengan peluru... aku tidak akan tinggal diam.”
Toni mengangguk. “Dan wanita itu?”
Rafael terdiam lama, lalu berkata dengan nada yang tak biasa ia pakai:
“Dia... alasan aku mau hidup lebih lama.”
---
Sementara itu, di panti asuhan, Bu Ina menerima kabar dari salah satu petugas dapur. Ada dua pria tak dikenal yang terlihat duduk lama di luar pagar panti sore tadi. Tak melakukan apa-apa. Hanya mengamati.
Dan di bawah jendela kamar Lia, yang kini kosong, ada bunga mawar merah yang belum pernah ditanam siapa pun di sana.
Dan kertas kecil terselip di bawahnya.
> “Kau telah memilih sisi yang salah. Sekarang bersiaplah untuk konsekuensinya.”
---