Hujan turun deras malam itu. Di tengah gemuruh langit Jakarta, sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depan klub malam paling mewah di sudut kota—The Black Lotus. Petir menyambar, menciptakan bayangan kilat di dinding-dinding bangunan beton yang berdiri seperti penjaga sunyi. Keluar dari dalam mobil itu seorang pria tinggi, berjas gelap, rambut licin ke belakang, mata tajam seperti pisau silet. Dia melangkah pelan, tenang, namun penuh ancaman.
Namanya Rafael Adrasta. Nama yang tak disebutkan sembarangan di kalangan bawah tanah Jakarta. Bos besar dari jaringan narkoba internasional. Di usia 33, ia sudah memiliki kekayaan yang sulit dihitung, kekuasaan yang membuat polisi segan bertindak, dan reputasi sebagai pria paling kejam yang pernah memimpin organisasi gelap itu. Ia bukan sekadar pengedar—ia adalah dewa dalam dunia hitam.
Dari luar, Rafael tampak sempurna: berpendidikan tinggi, wajah tampan, tubuh terlatih, dan selera kelas dunia. Tapi siapa pun yang mengenalnya tahu: di balik jas mahal dan senyum simpulnya, tersembunyi jiwa yang gelap dan tidak segan membunuh siapa pun yang menghalanginya.
Klub malam itu adalah markas utamanya, tempat para eksekutif bayangan dan mafia kecil-kecilan datang membawa upeti. Rafael berjalan menembus keramaian dengan tatapan dingin. Orang-orang membuka jalan seketika, seperti air yang menghindari batu besar yang menghalangi arus.
Di ruang VIP lantai atas, Rafael duduk di sofa kulit. Di depannya, tiga pria berwajah tegang menunduk. Salah satu dari mereka, pria tua dengan kemeja basah karena keringat dingin, memberanikan diri bicara.
“Ma-maaf, Tuan Rafael. Barang yang di pelabuhan... kami kehabisan orang. Polisi menyergap titik pengiriman.”
Rafael tidak langsung menjawab. Ia mengangkat gelas kristal, menyesap scotch dalam diam. Hening menyelimuti ruangan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kemudian, dengan suara pelan dan tenang, ia berkata:
“Lalu, siapa yang memberi tahu polisi?”
Pria di depannya menelan ludah. Ia tahu tak ada yang bisa bohong pada Rafael. Dan ia juga tahu, satu kalimat salah bisa berarti akhir hidupnya malam itu.
“Saya... tidak tahu, Tuan. Tapi kami akan selidiki secepatnya. Saya bersumpah—”
DOR.
Suara pistol meledak. Darah mengucur dari dahi pria itu. Tubuhnya roboh tanpa sempat menyelesaikan kalimat. Dua pria lain yang duduk di sebelahnya menggigil ketakutan.
“Kalau dalam tiga hari kalian tidak bawa nama yang membocorkan informasi itu...” Rafael menatap mereka tajam. “...kalian akan menyusul dia. Mengerti?”
Mereka mengangguk cepat, tubuh bergetar hebat. Rafael menaruh pistol di meja, kembali duduk seolah tak terjadi apa-apa.
Ia hidup dalam dunia tanpa belas kasihan. Di sana, kelemahan adalah undangan untuk dimangsa. Namun, malam itu—entah karena mimpi buruk yang menghantuinya atau rasa lelah yang tak bisa dijelaskan—Rafael merasa kosong. Seperti ada bagian dalam dirinya yang hilang, tertinggal di masa lalu yang tak pernah ia izinkan untuk muncul kembali.
Keesokan paginya, di dunia yang jauh berbeda, matahari bersinar hangat di sebuah yayasan panti asuhan sederhana di pinggiran kota. Anak-anak berlarian di halaman, tertawa riang, sementara seorang wanita muda duduk di bangku panjang sambil membacakan cerita dari buku tua bergambar.
Namanya Lia Nurani.
Usianya 26 tahun. Wajahnya manis tanpa perlu riasan. Rambut hitam lurus diikat rapi, matanya lembut seperti embun pagi. Lia bukan siapa-siapa dalam ukuran dunia besar. Ia hanya guru sukarelawan di panti itu. Namun dalam dunia kecil anak-anak itu, ia adalah segalanya.
“Dan akhirnya,” ucap Lia, menutup buku dongeng, “sang pangeran tahu bahwa kekuatan terbesar bukanlah pedang, tapi hatinya yang mau memaafkan.”
Anak-anak bersorak. Lia tersenyum hangat. Hari-harinya sederhana, penuh kasih, dan penuh harapan untuk masa depan anak-anak yang tidak seberuntung dirinya.
Ia tidak tahu, takdir sedang merangkai sesuatu yang akan mengguncang dunianya. Pria dari dunia gelap sedang berjalan perlahan menuju cahayanya.
Pertemuan pertama mereka terjadi secara tak sengaja.
Dua hari kemudian, Rafael menghadiri gala amal yang diadakan oleh pemerintah daerah untuk menggalang dana pendidikan anak-anak kurang mampu. Biasanya ia tidak tertarik pada acara semacam ini. Tapi malam itu, salah satu rekan bisnis legalnya memaksanya hadir, dan untuk alasan yang belum ia mengerti, ia setuju.
Ruangan penuh orang berpakaian elegan. Musik klasik mengalun. Rafael, mengenakan setelan jas hitam sempurna, berdiri di sudut ruangan, menyesap wine mahal sambil menunggu waktu berlalu.
Lalu matanya menangkap seorang wanita.
Di antara gaun gemerlap dan dandanan mencolok, ada seseorang yang berbeda. Ia mengenakan gaun sederhana warna biru muda, tanpa perhiasan mencolok. Senyumnya tulus saat menyapa anak-anak yang diundang dalam acara itu. Ia tidak sibuk berswafoto atau membangun citra. Ia hadir karena peduli.
Rafael terpaku. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tertarik bukan karena hasrat atau kekuasaan—tetapi karena kehangatan.
Ia bertanya pada seorang pelayan.
“Siapa wanita itu?”
“Ah, itu Bu Lia. Guru sukarelawan dari Yayasan Harapan Baru.”
Nama itu menancap dalam kepalanya seperti panah.
Lia Nurani.
Rafael menyaksikannya dari jauh, matanya mengikuti setiap gerak wanita itu seperti seorang anak kecil melihat sesuatu yang indah namun tak berani disentuh. Ada sesuatu pada Lia yang membuat hatinya yang beku selama bertahun-tahun mulai retak.
Ia tidak tahu mengapa. Ia hanya tahu satu hal:
Ia ingin mengenalnya.
Dan ia akan mengenalnya.
Dengan cara apa pun.
Rafael tidak pernah gugup dalam hidupnya. Tidak saat berhadapan dengan musuh bersenjata, tidak saat harus mengatur ratusan miliar transaksi narkoba, tidak juga ketika ia harus menembak seseorang di wajah dengan jarak satu meter.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa gugup.
Bukan karena takut. Tapi karena perempuan itu—Lia Nurani—terlalu berbeda dari segala sesuatu yang pernah ia kenal. Ia tidak tahu cara mendekati perempuan baik-baik tanpa membuat mereka takut. Karena biasanya, perempuan mendekatinya karena uang, kekuasaan, atau rasa takut. Lia tidak mengenalnya. Dan Rafael tahu, itu justru yang membuatnya tertarik.
Ia berjalan mendekat, pelan-pelan, seperti seekor serigala yang hati-hati mendekati rusa, tapi kali ini bukan untuk memangsa.
“Selamat malam.” Suaranya dalam, penuh wibawa.
Lia menoleh. Matanya bertemu dengan milik Rafael. Seketika, ia merasa hawa di sekelilingnya berubah. Pria itu tinggi, berpakaian rapi, dan memiliki aura misterius yang tidak bisa dijelaskan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.
“Selamat malam,” jawab Lia sopan. Ia tersenyum kecil, tapi bukan senyum hangat yang Rafael lihat sebelumnya.
“Nama saya Rafael.” Ia mengulurkan tangan.
“Lia,” jawabnya, menyalami sebentar. Sentuhan itu singkat tapi membekas.
“Apa Anda bekerja di yayasan?”
“Saya sukarelawan. Mengajar anak-anak. Sudah hampir empat tahun.”
“Empat tahun? Luar biasa. Tidak banyak orang bisa meluangkan waktu sebanyak itu hanya untuk orang lain.”
Lia menatap Rafael sejenak. Kalimatnya terdengar tulus, tapi ada sesuatu dalam cara pria itu bicara—tenang, terukur, terlalu percaya diri—yang membuatnya sedikit waspada.
“Saya percaya, kalau kita punya kemampuan, sekecil apa pun, kita harus memakainya untuk bantu yang lain,” jawab Lia. “Hidup ini bukan cuma soal uang dan kenyamanan, bukan?”
Rafael diam sejenak.
Perempuan ini... benar-benar dari dunia lain.
Ia tersenyum. “Pandangan yang mulia. Saya... kagum.”
Lia hanya membalas dengan senyuman kecil. Ia tidak merasa nyaman. Sesuatu dalam diri pria ini terlalu tenang. Terlalu... gelap.
“Maaf, saya harus menemani anak-anak. Senang bertemu Anda, Pak Rafael.” Ia melangkah pergi.
Rafael tidak mengejarnya. Ia hanya menatap punggung wanita itu, dan mengerti satu hal: wanita itu tidak tertarik padanya.
Bukan karena ia tidak cukup tampan atau kaya.
Tapi karena bagi Lia, semua hal yang biasanya menjadi kekuatan Rafael... justru membuatnya menjauh.
Malam itu, Rafael duduk sendiri di ruangannya. Rokok menyala di antara jarinya, tapi tak tersentuh. Pikirannya masih tertinggal di gala amal. Matanya masih terbayang wajah Lia. Suaranya. Tatapan matanya yang jujur.
Tak ada perempuan seperti itu dalam hidupnya. Yang berani menatap matanya tanpa rasa takut. Yang tidak menjilat atau mencoba menggoda. Yang tidak menyembunyikan kebohongan di balik senyuman.
Dan untuk alasan yang belum bisa ia jelaskan, Rafael merasa... ia ingin lebih dari sekadar memiliki Lia.
Ia ingin dimengerti.
Dipahami.
Dicintai… bukan karena siapa dirinya. Tapi meskipun siapa dirinya.
Dan ia tahu, hanya Lia yang bisa melakukan itu.
Sementara itu, Lia duduk di kamarnya yang sederhana. Ia membuka laptop, mengecek email dari kepala yayasan. Laporan donasi. Daftar relawan baru. Catatan keuangan.
Semuanya berjalan normal... sampai matanya tertuju pada satu nama.
“Donatur baru: Rafael Adrasta. Jumlah: Rp500.000.000.”
Lia terpaku. Tidak mungkin. Ia bahkan tidak pernah menyebut yayasannya kepada Rafael. Bagaimana pria itu bisa tahu?
Hatinya gelisah.
Mungkin itu hanya kebetulan?
Atau... mungkin tidak.
Hari-hari berikutnya, Rafael muncul lagi. Tapi tidak secara langsung. Ia mengirim mainan, alat belajar, bahkan membiayai renovasi bangunan panti. Semuanya dikirim secara anonim—tapi Lia tahu. Ia merasa tidak nyaman. Panti itu jadi ramai wartawan. Anak-anak bertanya kenapa tiba-tiba mereka punya sepatu baru dan mainan mahal.
Lia mulai curiga. Ia mencari informasi tentang Rafael. Di internet, ia hanya menemukan jejak legal: pengusaha properti, pemilik klub malam, investor. Semuanya tampak bersih.
Tapi ketika ia tanya pada salah satu kenalannya yang bekerja di lembaga hukum, jawabannya membuat darah Lia dingin.
“Rafael Adrasta? Hati-hati. Nama itu muncul di banyak kasus kejahatan, tapi tak pernah bisa dibuktikan. Mafia kelas atas. Nggak main-main.”
Lia merasa perutnya mual. Ia telah bertemu iblis.
---
Namun yang aneh... kenapa iblis itu tidak menyakitinya?
Kenapa justru membantu?
Dan kenapa... wajahnya terbayang setiap malam?
Di sisi lain, Rafael tahu satu hal penting.
Lia bukan seperti wanita lain yang bisa ditaklukkan dengan uang atau ancaman. Ia harus berubah. Ia harus menunjukkan bahwa ia bisa menjadi seseorang yang berbeda.
Dan demi Lia, untuk pertama kalinya, Rafael mempertimbangkan satu hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan:
Keluar dari dunia narkoba.
Dua minggu berlalu.
Selama itu, Rafael tak pernah menghubungi Lia secara langsung. Tapi setiap hari, sesuatu dari dirinya selalu hadir—sepaket buku cerita baru untuk anak-anak, satu set peralatan lukis, bahkan lemari pendingin untuk menyimpan makanan. Semua datang tanpa nama, tanpa pesan.
Lia tahu siapa pengirimnya.
Dan akhirnya, ia tidak tahan lagi.
Pagi itu, saat anak-anak sedang belajar menulis, Lia menerima telepon dari pengelola yayasan.
“Ada tamu yang ingin bicara langsung dengan Anda, Mbak Lia. Katanya sangat penting.”
Lia turun ke aula depan. Dan di sana, berdiri sosok pria dengan setelan kasual, tanpa jas mahal, tanpa pengawal, hanya satu tas di tangan.
Rafael.
Lia berdiri diam beberapa detik. Ia ingin membalik badan dan kembali ke kelas. Tapi ia juga tahu, semakin lama ia diam, semakin dalam perasaan campur aduk ini mengendap di hatinya.
Ia melangkah mendekat.
“Apa yang Anda lakukan di sini?” tanyanya dingin.
“Aku ingin bicara. Lima menit saja,” jawab Rafael. Suaranya tenang. Tidak seperti pria berbahaya yang diberitakan. Tapi Lia tahu lebih baik dari percaya pada suara lembut.
Lia mengangguk. “Oke. Lima menit.”
Mereka duduk di taman kecil di belakang yayasan, jauh dari telinga anak-anak.
“Aku tahu kamu mungkin tidak suka semua yang aku lakukan,” Rafael membuka percakapan. “Tapi semua bantuan yang kuberikan... itu tulus. Aku tidak punya niat menyogok atau membeli simpati.”
Lia menatapnya. “Tapi tetap saja, kamu menyusup ke kehidupan kami tanpa izin. Panti ini bukan proyek amal untuk pencitraan.”
“Aku tidak butuh citra,” jawab Rafael, senyum tipis. “Aku hanya... ingin dekat. Dekat dengan kamu.”
Lia menegakkan bahunya. “Kenapa? Kenapa aku?”
“Aku tidak tahu,” jujur Rafael. “Mungkin karena kamu berbeda. Karena kamu satu-satunya cahaya yang pernah kulihat dalam hidupku yang kelam.”
Lia terdiam. Perkataannya indah—terlalu indah. Tapi ia tahu dunia tidak seindah itu.
“Rafael,” katanya pelan tapi tegas. “Kamu mungkin pria kaya. Kamu mungkin bisa membeli apa pun. Tapi bukan aku.”
Rafael menunduk. Ia sudah menduga ini. Tapi tetap saja, rasanya seperti ditampar.
“Aku tidak bisa dekat dengan seseorang yang hidup di dunia yang bertentangan dengan semua prinsipku. Kamu bukan orang baik. Kamu berbahaya.”
Kata-kata itu menusuk, tapi Rafael tidak marah. Ia hanya merasa... kecewa.
“Kalau begitu, izinkan aku berubah,” katanya. “Beri aku waktu. Aku akan buktikan bahwa aku bisa jadi orang yang berbeda.”
Lia menggeleng pelan. “Orang tidak bisa berubah semudah itu, Rafael. Dan aku tidak mau jadi alasan seseorang memaksakan perubahan palsu.”
Ia berdiri, menatapnya lurus.
“Tolong jangan hubungi aku lagi. Jangan kirim apa-apa ke panti ini. Kalau kamu benar-benar peduli... biarkan kami hidup tenang.”
Rafael duduk sendirian setelah Lia pergi. Kata-katanya terngiang-ngiang di kepala:
> “Aku tidak bisa dekat dengan seseorang yang hidup di dunia yang bertentangan dengan semua prinsipku.”
Itu bukan hanya penolakan. Itu adalah cermin. Dan untuk pertama kalinya, Rafael melihat dirinya sendiri bukan dari kaca mewah atau pantulan senjata, tapi dari mata seorang wanita baik-baik.
Dan yang ia lihat... membuatnya muak.
Malamnya, Rafael duduk di ruangannya. Di hadapannya, berdiri tiga anak buah kepercayaannya.
“Aku akan ambil alih semua operasi malam ini,” katanya datar.
Mereka saling berpandangan, bingung.
“Tuan... dengan segala hormat, ini bukan waktu yang tepat. Polisi sedang...”
“Aku bilang, aku akan turun tangan langsung.”
Rafael menatap mereka tajam.
“Dan setelah operasi ini, kita hentikan semua pengiriman untuk sementara waktu. Aku akan pikirkan cara bersih untuk keluar dari jaringan.”
Ketiganya menahan napas. Ini gila. Tapi tidak ada yang berani menentang.
Rafael Adrasta sedang berubah.
Dan semua karena satu wanita—yang justru menolaknya.
Di tempat lain, Lia menangis diam-diam malam itu. Ia merasa bersalah, merasa takut, dan... merasa kehilangan.
Bukan karena ia mencintai Rafael.
Belum.
Tapi karena jauh di dasar hatinya, ia tahu: pria itu... benar-benar sedang mencoba berubah.
Dan itu justru yang paling menyakitkan.