Ch.8

683 Words
Begitu sampai di rumahnya segera ia turun, melangkah tergesa-gesa dan dengan tidak sabarnya ia membuka paksa daun pintu yang kecil itu ... “Alena!! Alena!!” Orang yang dipanggilnya tengah asik memasak di dapur, menyumbat kedua telinganya dengan earphone mendengarkan musik pop membuatnya tak mendengar seseorang yang sedang memanggilnya. “b******k!! Berani sekali dia mempermainkan ku!!” Segera Jimmy menyelusuri rumah sederhana itu, membuka satu persatu pintu kamar, tak juga mendapatinya. Ia mencium aroma masakan yang begitu wangi, kebetulan sekali ia juga belum makan siang.  Apakah mungkin wanita sialan itu di dapur? Tak mau berdebat dengan pemikirannya sendiri, Jimmy bergegas menuju dapur. Dan.. ya benar saja wanita yang ia cari ternyata sedang memasak, Alena menggunakan daster sebatas lutut, dengan rambutnya yang ia kuncir 1, Memakai earphone? Pantas saja tidak mendengarku... Melangkah perlahan, dan... greep!! Memeluknya dari belakang. Pelukan itu membuat Alena terperanjat kaget.  “Aaah!!”  Segera ia melepas kedua tangan yang melingkar sempurna di pinggangnya, kemudian berbalik kebelakang untuk mengetahui siapakah gerangan pria yang begitu lancang memeluknya. “Tu.. tuan..?” tubuh Alena sedikit bergetar, ia begitu gugup saat berada di hadapan Jimmy, “Tuan sedang apa di rumahku..?” “Tentu saja meminta hak ku... kita masih terikat kontrak, jangan lupa!” 1 kalimat kontrak membuat Alena tertunduk diam, ia menggigit bibir bawahnya hingga bergetar. “Kau sudah selesai memasak? Kalau begitu layani aku sekarang juga..” Jimmy menghapus jarak diantara mereka dengan ciuman lembut dibibir Alena. kemudian ciuman itu berpindah ke bagian leher jenjangnya.  “Emh...” lenguhan yang sudah lama Jimmy tak mendengarnya, kini gairahnya benar-benar bangkit. Ia mulai melepas ikat pinggang, membuka kancing celana dan menurunkan rel seleting, “Tuan.. jangan disini...” “Katakan di mana kamarmu...” *** Tubuh polos Alena berada tepat di bawah Jimmy, tubuh kekar yang sudah lama tak ia lihat membuatnya merona merah, “Tuan..” ucapnya lirih, “Aaah...” 1 kecupan di gundukan kirinya meninggalkan kiss mark. “Mendesah lah... mendesah lah.. aku akan memuaskan mu..” “Tuan.. aah..” Jimmy kembali menghujani seluruh tubuh wanitanya dengan ciuman dan juga kiss mark yang bertebaran dimana-mana, kini ia beralih di kewanitaan Alena. Memasukan 1 jarinya dan memaju mundurkannya sungguh membuat Alena tak kuasa menahan desahan. “Aaaah.. emh.. tu.. tuan...” 15 menit melakukannya membuat Alena mencapai k*****s pertamanya. Kini Jimmy sudah bersiap dan membuka kedua paha selebar pinggul, menghentakan nya sekaligus membuat Alena kembali mendesah, “Aaaah.. tuan.. eemh.. aah.. aah..” remasan Jimmy di kedua gundukan nya semakin kuat. “Bagaimana? Teknik ku semakin membaik?” Alena mengangguk membuat Jimmy semakin kuat dan gencar menyiksa kewanitaannya. “Tuan.. lebih kuat lagi.. aah... eemhh.. lagi.. lebih kuat lagi.. aah.. suamiku...” dengan cepat Alena menutup mulutnya, Astaga.. apa yang barusan ku katakan?! Matilah aku!! “Heeee....??” 1 kalimat terakhir membuatnya senang, “Benar.. aku suamimu.. setiap kali kita berhubungan kau harus memanggilku seperti itu..” Kini Jimmy melepaskan mr.X nya yang membuat Alena menggeleng tak rela, “Aku masih belum selesai..” tutur Jimmy membuatnya senang. Jimmy membalikan tubuh Alena dan kembali memasukan mr.X itu dengan posisi tengkurap. Meremas tanjakan kembar dan sesekali memukul pelan, Montok sekali.. desahannyapun tak kalah hebat. Alena mulai merasakan keram dibagian rahimnya, ia juga mulai kelelahan, namun tidak dengan prianya. Ia masih begitu bernafsu, setiap kali Alena memohon untuk menyudahi percintaan mereka Jimmy memberinya alasan bahwa hampir 2 minggu ini ia tak merasakan tubuhnya. “Aaah... tu.. tuan.. kumohon.. kita istirahat sebentar.. aah..” Hentakan yang dirasakannya semakin kuat. “Bertahanlah, hampir keluar sayang.. tahan sebentar lagi.. aah..” Benar saja, 10 menit kemudian cairan kental itu menyembur keluar menyeruak masuk kedalam kewanitaan Alena. Dengan cepat mereka tersungkur di atas ranjang dengan nafas yang masih tersengal-sengal. “Katakan.... apa yang kau gunakan padaku?” memasukan kembali 1 jarinya kedalam kewanitaan Alena membuat wanita itu menggeliat, “Kenapa aku tak bisa berhenti melakukannya denganmu..” “Tuan.. jangan aku masih lelah..” “Sekali lagi.. aku masih menginginkannya..” Apa? Dia benar-benar masih ingin melakukannya?! Aku bahkan sudah kehabisan tenaga.. tapi dia.. “Eemh..” hentakan pelan dan penuh gairah membuatnya tak berdaya. Sungguh!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD