Bagas menepuk- nepuk punggung Dinda perlahan. Rasanya canggung sekali, lagi-lagi Dinda lah wanita yang berhasil membuat dadanya berdesir hebat. Perasaan aneh tiba-tiba kembali muncul. Dadanya berdesir kuat. Namun, kali ini bukan karena Bagas kembali teringat pada sosok Renata, melainkan murni karena tubuh hangat Dinda yang masih menyatu dengannya. Dua menit berlalu sampai akhirnya Dinda melepaskan pelukannya. Wanita muda itu mengusap pipi yang basah oleh air mata. "M--maaf Pak. Saya hanya-- tak tahu--harus menumpahkan-- perasaan ini pada-- siapa," akunya lirih, masih sesenggukan. "Tak apa. Mari bicara di dalam. Di luar dingin," ajak Bagas. Dinda mengangguk, ia membiarkan Bagas merangkul bahu dan menuntunnya ke dalam. Bagas membawa Dinda duduk di ruang tengah. Saat itu Kevin sudah tid

