Ch-22

1601 Words

"Selamat pagi, Mas.." sapa Dinda ketika melihat Bagas duduk pada salah satu kursi di ruang makan. "Pagi..." jawab Bagas. "Apa Kevin belum bangun?" "Belum. Sebentar lagi aku bangunin dia. Mas mau teh, su$u, atau jus buah?" tawar Dinda. Bagas mendongak. Ia menatap Dinda yang berdiri di depannya. Tangan kanan Dinda memegang teko teh sedangkan tangan kirinya memegang botol jus buah segar. Bagas menelan saliva. Seketika ia teringat akan kejadian semalam ketika bibirnya tak sengaja menyentuh bibir Dinda. Meski semalam jantungnya bergemuruh dan dadanya berdesir hebat, tetapi Bagas tahu betul status mereka. Sejak Inggrit mendeklarasikan bahwa Dinda adalah putrinya, sejak itu pula Bagas mengubah perspektifnya. Ia mencoba menganggap Dinda sebagai saudara, bukan seorang wanita dewasa. Apakah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD