RIANI DAN KEBAHAGIAANNYA

1673 Words
Drrttt.. drrttt.. Getaran dari saku Diani membuat gadis itu terbangun. Badannya terasa remuk redam akibat tidur dalam posisi duduk. Ia mencoba untuk meregangkan otot-otot tubuhnya sambil mengerjapkan matanya berharap kesadarannya segera berkumpul. Diani baru mengambil ponselnya setelah getarannya terhenti. Ia melihat pada waktu yang tertera di ponselnya. Pukul tujuh pagi dan nama bos besar pemilik perusahaannya sudah nampak di menu panggilan tak terjawab. Diani hanya menghembuskan nafasnya lelah. Dia menoleh ke arah Kakaknya. Merapikan anak-anak rambut yang dirasa mengganggu wajah Riani. Senyuman tipis menghiasi wajah putih bersih Diani melihat Kakaknya tidur dengan damai. Diani bergegas mandi dan bersiap untuk bekerja lagi. Hari ini ada proyek penting yang harus didiskusikan dengan bos besarnya terkait proyek Bali yang akan dikerjakan. Langkah lebarnya membuat wanita yang bertubuh jangkung itu berhasil sampai di kantornya tepat waktu. Keberadaannya selalu berhasil membuat setiap orang mengalihkan pandangan ke arahnya. Rambut hitam legam yang panjang itu terasa melambai sesuai dengan gerakan tubuhnya. Kulit putih bersih itu cocok dengan setelan kerja berwarna dasar abu-abu. Apalagi pakaiannya melekat pas di tubuhnya yang tampak berisi di beberapa bagian. Diani memang bagaikan dewi untuk banyak orang di perusahaan yang bergerak pada bidang developer real estate itu. Sebagai salah satu arsitek muda berbakat, kecerdasan dan kecantikan Diani tidak dibarengi dengan keramahannya. Banyak orang menjulukinya 'macan betina' karena sikapnya yang begitu dingin dan galak. Dia dikenal dengan keperfeksionisannya, hingga sedikit saja kesalahan orang bisa jadi hal besar jika sudah berhadapan dengan Diani. Tak ayal hal itu membuat banyak laki-laki yang semula mengidolakannya mundur teratur. Mereka lebih suka membicarakan kesombongan Diani dan sifat buruknya. Terkadang, beberapa orang dengan sadis melontarkan kalimat seolah melecehkan Diani dengan sifat sombongnya. Diani yang dingin, sekalipun mendengar tanpa sengaja kata-kata merendahkan itu keluar dari mulut rekannya atau siapapun itu, Diani tak pernah ambil pusing dengan desas-desus dirinya yang terdengar buruk. Baginya selama tak menyentuh fisiknya, ia akan aman. Bahkan beruntungnya karena gosip-gosip itu, kini tak ada laki-laki yang mendekatinya karena enggan dengan sifat dingin, cuek, dan galaknya. "Liat tuh Diani, pagi-pagi mukanya udah bikin gue pengen bolos. Ngeselin banget, anjir! Sok bossy," ucap pria tiga puluh tahunan yang berdiri di depan lift sisi kanan sambil memandangi Diani yang berada di lift sebelah kiri dengan sinis. "Jangan kenceng-kenceng kalo ngomong, bisa end karir lo," peringat lirih teman di sebelahnya. "Perawan tua kayak dia doang. Gak takut gue!" jawab pria itu dengan menggumam sinis. Diani menoleh ke arah dua pria itu dengan tatapan meremehkan. Membuat temannya yang memperingatkan tadi menyiku lengan pria itu. "Apa sih?!" hardik pria yang tingginya sama dengan Diani. Pria itu sempat menciut sebentar saat tatapan matanya bersinggungan dengan Diani. Tatapan meremehkan Diani yang memandangi laki-laki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dan kembali menatap pria itu tepat pada matanya. Membuat si pria yang tergolong bawahannya itu makin emosi karena merasa direndahkan. Ting! Tanda lift terbuka membuat Diani melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Tak perlu menawarkan kedua rekan kerjanya untuk bergabung karena ia tahu, harga diri mereka terlalu tinggi untuk diturunkan. Segera ia menutup pintu lift "Cewek anjing! Telat kita!" umpat pria itu yang masih bisa Diani dengar karena lift belum mulai berjalan. Diani menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Ia perlu menenangkan dirinya. Apa yang dimiliki kedua lelaki tadi hingga dengan kurang ajarnya mereka berani membicarakan dirinya dengan tak sopan seperti itu? Padahal nyalinya jadi ciut saat Diani memandangi mereka. Ting! Pintu kembali terbuka dan menampakkan ruangan-ruangan bersekat kaca. Ia masuk ke salah satu diantaranya. Didalam sekat kaca itu, masih ada ruangan bersekat dinding. Saat Diani masuk, ruangan itu sudah kembali rapi setelah semalaman ia tinggalkan dalam keadaan kacau. Pasti Fatma sudah menyuruh office boy untuk membereskannya. Drrt.. Drrt.. Ponsel Diani kembali bergetar saat ia baru saja menaruh tasnya di meja. Segera ia menekan tombol hijau untuk menjawab telepon dari bosnya itu. "Selamat pagi, Pak." "Kalau sudah datang, segera ke ruangan saya, Diani,” perintah atasannya itu tanpa menjawab sapaan Diani. “Baik, Pak.” Tut! Diani menatap langit-langit ruangannya dengan lelah setelah sambungan teleponnya tu terputus. Sejujurnya ia kurang cocok dengan atasannya, hanya saja tak ada pilihan selain bertahan. Gaji yang diberikan perusahaan ini sangat besar hingga dua digit perbulannya. Tak ada perusahaan lain yang mau membayarnya dengan angka sefantastis itu untuk level pemula. Pilihannya adalah memiliki banyak klien hingga portofolionya penuh dan bisa membuatnya beralih ke perusahaan lain. Sementara ini dia harus banyak bersyukur bisa bertahan di perusahaan pengembang properti terbesar di Jakarta itu. Gajinya mampu untuk menutup biaya rumah sakit dan biaya hidupnya. *** Drrt.. Drrt.. Diani baru saja meletakkan pantatnya saat ponselnya kembali bergetar. Emosinya kini memuncak. Baru saja ia selesai melakukan meeting untuk pematangan konsep hingga melupakan jam makan siangnya. Kini telepon masuk kembali terdengar dari ponselnya. Ia sudah bersumpah serapah jika itu bosnya. Berdoa agar bosnya terkena tipes karena sangat gila kerja. Baru saja ia akan mengumpat, namun wajahnya berubah panik ketika melihat nama Grace yang terpampang disana. “Halo Kak Grace? Ada apa Kak?” tanya Diani dengan wajah panik sambil menggigit kuku ibu jarinya. Diani akan selalu begitu jika dia sedang cemas. “Hai, sore Di. Maaf ya, gue ganggu. Lo sore ini ke rumah sakit?” ucap Grace dari ujung sana terdengar tenang. “Iya, habis ini Diani kesana. Ada sesuatu Kak?” tanya Diani masih panik dengan tubuh menegang. “Gak ada apa-apa. Kakak lo nanya aja. Yaudah, kalau gitu nanti gue sampein.” “Beneran gak ada apa-apa? Kak Riani kemana? Kenapa Kakak yang telepon? Biasanya kan Kak Riani sendiri yang tanya,” tanya Diani yang coba mencari kebenaran bahwa keadaan Kakaknya baik-baik saja. “Kakak lo lagi ketawa ketiwi sama temennya itu, yang gue ceritain sama lo.” “Beneran, Kak? Kak Riani ketawa?” tanya Diani setengah tak percaya. “Iya, nanti gue kirimin fotonya. Udah gitu aja, ya. Nanti gue sampe-in kalau lo dateng. Bye, Di.” “Bye, Kak.” Tut! Diani termangu dengan ucapan Grace. Kakaknya tertawa? Benarkah? Sudah lama ia tak mendengar tawa Kakaknya. Siapa sebenarnya temannya. Ting! Bunyi pesan masuk itu membuat Diani segera mengecek ponselnya. Sebuah foto dari aplikasi pesan membuat Diani tertegun. Kakaknya benar-benar tertawa lebar. Laki-laki dengan wajah yang tak terlihat jelas itu sepertinya sedang melontarkan kata lucu hingga kakaknya bisa tertawa seperti itu. Siapa pria yang terlihat memiliki kulit bersih dengan wajah sekilas mirip keturunan timur tengah itu? Otaknya mencoba mencari siapa pria di samping Kakaknya itu. Tiba-tiba Diani teringat seseorang. Orang yang menjadi topik pertengkaran Kakaknya sebelum akhirnya mobil itu terhantam truk. Takdir macam apa yang sedang Tuhan persiapkan? Diani mulai kembali menggigit ujung-ujung kukunya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan tak nyaman di hatinya. Entah untuk apa perasaan mengganjal itu ada. Samudera Adnan, lelaki itu tak bersalah, tapi pertengkaran Kakaknya malam itu karena Samudera. Jadi bagaimana dia harus menerima kehadiran seseorang yang secara tak langsung membuat Kakaknya dalam keadaan seperti ini? *** *Diani POV* Aku memasuki ruangan Kak Riani yang ku amati kini di nakas sebelah tempat tidurnya, sebuah bunga lily dengan wangi yang semerbak tercium dari ruangan ini. Bau obat mulai samar ku cium dari ruangan ini. Aku yakin yang memberi Kak Diani bunga adalah teman prianya yang tadi sempat membuatku terkejut. “Di, masuk gak ada suaranya,” ucap Kak Riani dengan senyuman yang tersungging di wajahnya. Wajah cerah yang telah lama tak pernah kulihat. Sungguh aku lebih ingin untuk menangis saat ini. Tapi, aku menahannya sekuat yang aku bisa. “Bunganya cantik. Dari siapa, kak?” tanyaku seolah ingin tahu sambil kulangkahkan kakiku mendekat pada Kak Riani. “Temen Kakak, dulu pernah jadi guru kamu juga beberapa bulan. Inget gak? Samudera,” ucap Kak Riani sumringah. “Oh..” hanya itu jawabku sambil menganggukkan kepala. Mana bisa aku melupakan Samudera setelah dia juga berkontribusi dalam kejadian ini. Tak mungkin aku katakan, karena Kak Riani pun tak tahu bahwa aku tahu soal pertengkarannya dengan suaminya. “Eh, Kak aku bawa martabak manis kesukaan Kakak nih! Kita makan ini gimana?” tawarku untuk mengalihkan pembicaraan soal Samudera. Aku tak ingin membahas pria itu. “Kakak kenyang, Di. Tadi Samudera bawain Kakak puding buah enak banget. Kakak habis banyak. Gimana kalau martabaknya disimpan dulu. Nanti aja makannya. Kamu kalau mau, makan dulu aja.” Aku hanya mengangguk. Sejujurnya aku bingung dengan perubahan sikap Kakak. Aku bahkan bingung bagaimana menanggapi cerita Kakak. Aku sungguh tak ingin membahas lelaki itu. “Sebenernya, Samudera itu sering banget kesini, Di. Selama kamu di Bali, dia terus kesini. Kakak sampe gak enak sama dia. Tapi, Dianya diusir malah jadi lebih sering kesini. Hampir tiap hari. Heran, deh. Lain kali, kalian harus ketemu ya. Biar bisa ngobrol bareng,” ucap Kak Riani semangat. “Syukur deh, kalau ada yang nemenin Kakak kalau pagi,” hanya itu yang bisa kuucapkan dengan nada penuh keraguan. Otakku buntu. Seandainya jika itu teman Kak Riani yang lain, mungkin aku sungguh sangat bersyukur. “Kakak beneran gak mau makan martabak manis ini?” Kak Riani menggeleng dengan mantap sambil tetap tersenyum. Akupun segera beranjak dan menaruh martabak manis itu di atas kulkas yang ada di ruangan itu. “Samudera itu random banget, Ri. Tiba-tiba bawa makanan, tiba-tiba bawa bunga, kadang juga bawa setumpuk kerjaan dan mempekerjakan aku dengan cara ngajak diskusi. Hal-hal yang kadang udah lama gak aku lakuin, bahkan ada beberapa hal mustahil yang kayaknya gak mungkin aku lakuin. Tapi, Samudera bisa bantu aku ngelakuin itu. Hihi, aneh, tapi lucu juga,” ujar Kak Riani dengan tawa kecilnya. Tuhan, sungguh aku ingin menangis. Sebegitu ajaibnya sosok Samudera hingga bisa merubah Kakakku. Apa yang dia lakukan hingga seolah merubah Kak Riani yang pesimis menjadi seceria itu. “Di, kok malah bengong sih. Pokoknya nanti kamu harus ketemu sama dia. Ucapin makasih sama dia karena udah nemenin aku terus disini, oke?” “Iya, nanti aku bakal bilang makasih karena udah bikin Kak Rianiku jadi cerewet lagi!” godaku. Ucapanku itu hanya basa-basi saja. Mengiyakan agar tak panjang urusannya. Kalau Kak Riani sudah bahagia, kini giliran aku yang lelah. Seharusnya ketika Kak Riani bahagia, aku ikut bahagia kan? Tapi, bagaimana bisa aku merasakan bahagia jika perasaanku sendiri rasanya tak nyaman. Pada siapa harus aku ceritakan kegelisahan hatiku saat ini? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD