*Diani Pov*
Aku beranjak dari tempat dudukku, menatap lelah tumpukan pekerjaan yang rasanya tak ada habisnya. Mati satu, tumbuh seribu. Begitu istilahnya.
Setelah kepulanganku dari Bali, pertengkaranku dengan Kak Riani kembali terjadi. Aku kira keinginannya untuk mengakhiri hidupnya telah sirna. Karena selama aku di Bali, tak kudengar kabar dia mengeluhkan keadaannya. Ternyata, aku salah.
Kini tak hanya keinginan menyudahi hidupnya, ia malah sibuk mencari laki-laki kurang ajar yang menelantarkan dirinya sendirian setelah kecelakaan yang turut melibatkan manusia terkutuk itu.
Sampai sekarang, aku tak habis pikir. Kenapa Kak Riani masih mencari laki-laki b******k itu? Laki-laki yang beruntung hanya karena truk yang menabrak mobil mereka ikut bersalah. Seandainya itu kecelakaan tunggal. Sudah ku tuntut pria itu, tak peduli berapapun uang yang akan aku keluarkan.
Ego prianya yang menjijikkan membuat Kakakku kehilangan dunianya. Tak lagi bisa menapakkan kakinya, bahkan untuk sekedar duduk, Kak Riani bilang seperti ribuan jarum menusuk tulangnya.
Apa salah Kak Riani Aku melihat Kakakku adalah wanita patuh, baik hati, dan bertanggung jawab. Tapi lihatlah, inikah balasannya?
Aku ingat malam dimana kecelakaan itu terjadi. Duniaku kembali runtuh, tak ada lagi tempat bersandar bagiku. Seolah, aku tak berhak bahagia. Aku harus bisa mandiri. Aku lah nahkodanya.
*Flashback On*
"Maafin Kakak, Di. Kakak benar-benar nyesel," ucap laki-laki dengan baju sudah berlumur darah.
Tangisnya tak mampu menyentuh hatiku. Demi Tuhan, meskipun dia mati karena rasa bersalah. Itu tak akan menggerakkan hatiku untuk memaafkannya.
Bagaimana bisa aku memaafkannya setelah mendengar semua cerita versinya. Dia menuduh Kakakku berselingkuh dengan sahabat lamanya. Karena Kakakku memandang sahabat lamanya dengan penuh minat. Senyuman pun tak hilang dari bibir Kakakku, bahkan tawanya terdengar bahagia bersama laki-laki itu. Lihatlah tuduhannya! Menjijikkan! Disaat Kakakku berjuang dalam hidup dan mati, ia masih saja sanggup mencari pembelaan atas dirinya.
Kakak iparku yang bernama Reval, tak terima. Sepanjang perjalanan pulang mereka bertengkar hebat. Teriakan demi teriakan bersahutan hingga tak ada yang menyadari bahwa klakson truk rem blong itu sudah menggema sejak dari kejauhan.
Pemilik truk mencoba mengingatkan bahwa mobilnya tak bisa dikendalikan. Tapi sepertinya laki-laki bodoh itu terlalu bersemangat mencari masalah malam ini, hingga saat mereka tersadar, hanya cahaya menyilaukan yang dapat mereka lihat dengan suara dengungan panjang.
Sudah dari awal aku menduga, bahwa laki-laki bernama Reval ini egois, b******k, dan b******n. Seandainya dia tak menuduh Kakakku dengan alasan tak logis, tak harus seperti ini jalan hidupku dan Kak Riani.
"Aku kecewa banget sama Kakak! Kakak egois!" ucapku dengan penuh penekanan.
"Tapi kamu harus lihat Kakakmu juga, Di! Gimana bisa dia bersikap selembut itu sama laki-laki lain. Sedangkan sama aku, dia dingin. Bahkan dia sering mengusirku, dia bilang badanku bau. Dia bener-bener gak tau sopan santun," jelas Reval tak kalah menekan.
Aku menatapnya nyalang. Laki-laki ini bodoh atau t***l? Kakaku sedang mengidam. Bukan salah kak Riani jika hormon membuat Kakakku tak mau dekat dengan Reval. Lagipula aku tahu sahabat yang Kakakku temui adalah sahabat lamanya yang memang sangat dekat dengannya.
Jika sahabat laki-lakinya itu menaruh rasa, dan Kakakku ada rasa dengan pria itu. Bisa saja Kakakku mendekatinya. Status sahabatnya yang Duda memungkinkan Kak Riani untuk bisa bersama sahabatnya itu.
Laki-laki bodoh, egois, dan tak memiliki otak, kenapa bisa dicintai oleh Kakakku?! Kenapa, Kak! Sudah kuduga semua laki-laki sama.
"Pergi kamu!" geramku dengan bibir bergetar.
Laki-laki itu menatapku tajam dengan d**a naik turun.
"Pergi! Manusia gak ada otak! Gak punya hati! Saat kayak gini masih penting pembelaanmu?! Perasaanmu?! Gimana perasaan Kak Riani kamu hancurkan?! Gak cuma perasaan bahkan tubuhnya. Kamu juga tega bunuh anak kalian! Mati saja kamu! Laki-laki b******k!" teriak ku membabi buta.
Plak!
Tamparan yang tak pernah kuduga itu, mendarat tepat di pipiku. Menyisakan rasa panas yang aku yakin membuat kelima jarinya tercetak jelas di pipiku.
"Sialan!" Jeritan histeris ku berhasil membuat beberapa orang di dekat kami menarik paksa Reval untuk menjauh.
Mata kami saling menatap nyalang satu sama lain. Aku tak peduli seberapa besar badan Reval. Dengan nafas yang terasa sesak aku berlari sekuat tenaga sambil menacapkan kuku-kuku milikku sekenanya.
Manusia b******k sepertinya kenapa masih saja hidup? Harusnya dia menggantikan Kakakku!
Kericuhan itu mereda saat aku mendengar pintu kaca yang semenjak tadi tertutup memperlihatkan seorang Dokter dengan baju dinasnya dengan beberapa noda merah. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apapun membuatku menatap dalam pada mata Dokter.
"Ada dua kabar Pak Reval. Kabar baiknya, istri anda selamat. Berita buruknya--" Dokter menjeda kalimatnya membuatku tak sabar. "Kami mohon maaf, tapi bayi kalian tidak bisa selamat. Kecelakaan itu--" Kalimat selanjutnya tak bisa aku dengar.
Telingaku seolah berdenging hebat seiring dengan tangisan Reval yang terdengar pilu. Entah apa yang terjadi, karena detik selanjutnya aku hanya merasakan dinginnya lantai rumah sakit. Dan semuanya pun gelap.
*Flashback Off*
Hari itu adalah kali terakhir aku bertemu Reval. Tak pernah lagi aku mendengar kabarnya, aku pun tak mau tahu bagaimana kabarnya setelah membuat Kakakku hidup dalam neraka yang ia buat. Enyah dari hidup kami, adalah keputusan terbaik yang pernah dia buat.
Mungkin itulah alasannya tak ada perpisahan untuk Kak Riani. Tapi, laki-laki tak tahu malu itu benar-benar keterlaluan. Hingga kini ia pun tak pernah mengucapkan kata perpisahan untuk Kak Riani. Laki-laki pengecut! Bagaimana bisa ada manusia tanpa empati sepertinya? Ya Tuhan, aku benar-benar mengutuk perbuatannya.
Mataku kini beralih menatap ke dalam sebuah foto. Foto Keluarga yang berisi ayah, ibu, dan dua anak perempuannya. Senyum mereka tulus. Pasti tak akan ada pikiran, bahwa bertahun-tahun setelahnya, keluarga itu hancur karena ego seorang laki-laki yang hanya mementingkan nafsunya.
Aku kini mulai menatap tajam pada pria berjenggot dalam foto itu. Rasanya hatiku masih sakit mengingatnya.
“Papa senang?! Puas Papa lihat kehidupan kami? Setelah Papa ajak Mama, jangan-jangan sekarang Papa udah mulai ajak Kak Riani ikut Papa. Gak puas Papa ajak Mama? Kenapa sih, Riani lahir kalau Riani ditinggalin sendirian Pa?!”
Aku mulai menangis. Dadaku terasa sesak seolah ribuan jarum menusuk jantungku. Sudah lama rasa sakit ini tidak mendera. Kini aku kembali merasakannya lagi. Perasaan sepi, sendiri, menjebakku dalam keputusasaan.
“Papa harusnya ajak wanita sialan itu, Pa! Bukan Mama! Kenapa Mama?!” jeritku frustasi.
Aku ingin menyalurkan rasa sakit ini. Aku singkirkan semua yang ada di atas meja dengan sekali usapan tangan. Semua dokumen-dokumen itu berhamburan tak beraturan.
“ARRRGGGHH!” Teriakku keras dengan air mata yang mengalir deras.
Kenapa harus seberat ini cobaan yang aku dapatkan, Tuhan? Kenapa Engkau pikir aku sanggup? Kenapa?!
Semua pikiranku itu hanya bisa terlintas dibenakku. Lidahku kelu. Tulang-tulang tubuhku seolah melemah membuatku meluruh ke lantai.
“Mbak Diani!” Pekik seseorang, yang aku tahu asistenku.
Aku tak sanggup menatapnya. Aku hanya bisa merasakan tubuhku hangat. Dia pasti sudah memelukku erat. Aku sudah benar-benar tak bisa melihat asistenku. Ini sudah kesekian kalinya dia melihat keadaanku seperti ini. Aku malu. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan lagi. Selain membalas pelukannya, mencoba mencari ketenangan. Bahwa aku masih harus memperjuangkan hidupku hingga akhir.
***
*Author’s POV*
Fatma, nama asisten itu, tetap tak beranjak dari sisi atasannya itu. Fatma menganggap dirinya bukan hanya sekedar asisten bagi Diani. Ia menganggap Diani adalah teman baiknya.
Walaupun Diani memberikan jarak bagi hubungan mereka agar tak terlalu dekat. Tapi Fatma yang begitu menyukai cara kerja Diani. Begitu mengagungkan Diani. Meskipun terkadang Diani sesekali lepas kendali seperti beberapa waktu lalu. Fatma bisa memahaminya.
Diani yang mabuk tempo hari saat di Bali, menceritakan bagaimana kacaunya keadaan keluarganya. Diani, gadis yang sempat kaya raya lalu dengan sekejap mata dunianya terbalik.
Ia yang dikenal sebagai gadis pintar namun manja harus berubah seratus delapan puluh derajat karena orang tuanya bertengkar hebat karena kasus perselingkuhan yang begitu ramai diperbincangkan di kalangan elit. Pertengkaran itu terjadi saat keduanya berada di sebuah pesta besar milik kolega mereka.
Dalam perjalanan pulang, kamera di dalam mobil merekam pertengkaran mereka. Hingga kecelakan itu terjadi. Betapa marahnya Diani pada ayahnya yang dirasa salah, bahkan hingga menyebabkan kecelakaan karena kelalaiannya saat menyetir.
Setelah pemakaman kedua orang tuanya, kekayaannya lenyap seolah tak bersisa setelah keluarga besarnya yang tamak tak menyisakan apapun kecuali rumah dan tabungan orang tuanya. Mereka berdalih untuk menutup semua kerugian perusahaan dan hutang papanya.
Dari sanalah, kehidupan sederhana Diani dimulai. Ia mulai hidup hanya berdua saja dengan kakaknya. Kakaknya berusaha menghidupi adiknya bagaimanapun keadaanya. Hingga mau tak mau, Diani ikut bekerja seadanya. Mulai menjadi pelayan di kafe, bahkan membantu menjadi penjaga fotokopian demi bisa menyambung hidupnya. Agar bisa membantu kakaknya membayar sewa kos, biaya kuliah, dan makan.
Diani mulai kembali membangun hidup yang disangkanya hancur. Diani yang juga sempat tidak percaya dengan cinta, juga mulai bisa membuka hatinya. Hingga kecelakaan kakaknya kembali terjadi dengan alasan yang sama. Kini parahnya, kakaknya yang dituduh berselingkuh. Diani begitu murka. Pantaslah ia tak lagi percaya cinta. Apalagi kini Kakak iparnya menghilang entah kemana.
Fatma hanya mendesah kasar mengingat cerita panjang malam itu. Ia hanya bisa melihat pintu ruangan bosnya yang tertutup rapat.
“Semoga Mbak Diani bisa nemu laki-laki yang sayang tulus sama Mbak. Aku yakin gak semua laki-laki b******k mbak,” lirih Fatma yang hanya bisa menunggu Diani Keluar dari ruangannya.
Dia tidak mungkin meninggalkan atasannya sendirian. Keadaannya tidak memungkinkan untuk meninggalkan Diani sendiri. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Fatma tetap setia menunggu di meja kerjanya dengan harapan, Diani bisa segera baik-baik saja.
Klak!
"Fat, kok belum pulang?" tanya Diani dengan tenang seolah tak pernah terjadi apapun.
"Mbak Diani mau balik sekarang?" tanya Fatma dengan perasaan lega yang ia sembunyikan.
Diani hanya mengangguk dengan senyuman tipis.
"Aku setirin ya, Mbak? Aku anterin. Pakai mobilku aja," tawar Fatma dengan mimik wajah penuh permohonan.
"Gak perlu, Fat. Saya balik sendiri aja. Saya juga mau ke rumah sakit, gak balik ke apartemen. Kita gak searah."
"Aku takut kalau balik sendirian malem-malem gini, Mbak. Gak apa-apa deh, aku nebengin Mbak."
"Tapi–"
"Udah ayo, Mbak!" ucap Fatma dengan semangat. Fatma memang sengaja ingin mengantar Diani malam ini. Jiwa kemanusiaannya tak bisa membiarkan Diani yang tak stabil untuk menyetir sendiri. Ia takut esok pagi ada kabar buruk jika malam ini Diani pulang sendiri.
Sementara itu Diani hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya ia merasa dikasihani dan dia merasa tak suka akan hal itu. Apalagi sejak kejadian memalukan karena tak bisa mengendalikan emosinya tadi. Tapi, Diani tahu bahwa ia tak bisa menolak Fatma.
***