Embun memandangi foto pernikahan Samudera dan mendiang menantunya yang terpajang di sudut meja ruang keluarga. Senyuman di bibirnya terlihat getir kala menatap foto yang menampakkan kebahagiaan bertahun-tahun lalu.Tak ada yang menyangka bahwa beberapa bulan setelah foto itu diambil, hidup mereka tak lagi sama.
Enam tahun kejadian itu berlalu, tapi Samudera, putra bungsunya, masih berkutat dengan masa lalunya. Seolah tak mau beranjak dari sana.
“Apa kabar menantu dan cucu Mama? Kalian senang disana?" ucap Embun yang kini sudah mengusap lembut foto Tania yang terlihat cantik dengan gaun mewah yang memperlihatkan perut buncit Tania.
"Tan, bantu Mama bujuk Sam. Mama benar-benar kasihan liat dia sendirian. Kamu tahu kan, hidupnya seperti robot, Tan. Kantor, rumah, gitu terus. Mungkin sekarang dia gak kerasa kesepian. Tapi, menua sendirian pasti sangat sepi, Tan. Mama–"
"Ma," sapa Samudera memotong ucapan Embun.
Laki-laki dengan tubuh jangkung itu kini sudah berada di belakang tubuh Mamanya. Senyuman getir terlukis jelas di wajah tampannya.
Embun hanya memandang wajah anaknya sekilas. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Menatap kosong bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman rumahnya.
Embun tak mau berbicara apapun saat ini. Bujukannya untuk menyuruh Samudera menikah membuat lidahnya kelu. Entah sudah berapa kali Embun berusaha untuk meluluhkan hati Samudera. Agar anak semata wayangnya itu mau membuka hatinya kembali. Tapi, hasilnya masih saja nihil.
Embun menyadari bahwa Samudera bukan lagi anak-anak. Tak perlu ia membujuk Samudera berulang kali untuk keinginannya yang hingga saat ini tak dikabulkan putra semata wayangnya.
"Mama akhir-akhir ini banyak diemin aku lho," bujuk Samudera sambil memeluk ibunya dari belakang.
Embun masih enggan mengeluarkan suara. Ia tahu, berdebat dengan bungsunya hanya akan menambah kejengkelan dalam hatinya. Samudera yang keras kepala, tak akan mudah untuk diluluhkan hatinya jika soal pendamping hidup.
Embun tahu betul, bagaimana cinta anaknya kepada menantunya. Laki-laki itu belum pernah membuka hatinya pada wanita lain. Jatuh cinta pertamanya adalah menantunya. Pasti sulit untuk menyisihkan ruang hati Sam untuk wanita lain.
"Mama segitu pengennya punya menantu perempuan lagi sampe ikut bujuk-bujuk istri aku. Cemburu nanti dia, Ma."
"Mama kenal sama Tania lebih lama dari kamu. Mama yakin kebahagiaan kamu, itu juga kebahagiaan Tania," jawab Embun dingin.
"Tania itu cemburuan, Ma. Mama gak tau itu," kenang Sam dengan senyum tipis. Ia berusaha bertingkah lucu walaupun ia tahu bahwa ini bukan saat yang tepat.
Benar saja, hal itu membuat emosi Embun tersulut. Wanita paruh baya itu menghela nafas kasar. Embu menatap nanar ke dalam mata Samudera.
"Sam, ikhlasin Tania. Mama mohon! Mama yakin, dia juga mau kamu happy!"
"Ma, aku happy! Who said I'm not happy?" tegas Samudera.
"Sam, Mama ini Mama kamu–"
"Ya Mama emang Mama aku, terus? Ma, Samudera itu udah gede. Ruby-nya Sam aja udah masuk TK. Sam itu–"
"Sam, dia anak Kakakmu. Kamu itu sehat. You can have your own, Nak. Ruby punya Mama dan Papanya. Kamu gak bisa terus-terusan ikut mencampuri urusan ruby, Sam!" ujar Embun yang kini sudah menghadap Samudera. Menatap lekat penuh harap bungsunya sambil mengusap lembut pipi yang dipenuhi cambang tipis itu.
Kata-kata Embun terasa menusuk di hatinya. Seolah mengingatkan bahwa statusnya kini bukanlah orang tua. Ingatannya tentang Sania Putih Adnan, anaknya, terasa menyayat hatinya. Setelah sekian tahun ia menganggap Ruby seperti anaknya sendiri, baru kini ia ditentang atas pemikirannya. Tidakkah mereka tahu bagaimana rasanya tak menyandang status apapun setelah kehilangan anak dan istrinya, selain status duda.
Samudera berlalu begitu saja dari hadapan Embun. Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Tak peduli dengan panggilan Mamanya yang terdengar panik. Sam memilih tetap berjalan menjauh dan menutup pintu kamar dengan kekuatan penuh.
BRAK!
Suara debuman pintu itu benar-benar memekakkan telinga. Membuat siapa saja yang mendengar akan berjengit kaget. Begitu juga Embun yang meluruh ke lantai karena hatinya yang makin hancur melihat tingkah Samudera. Ia yakin hubungannya dengan Samudera tak akan baik-baik saja mulai sekarang.
Apa yang dikatakan Embun memang tak salah. Ruby bukanlah anaknya. Ia tak berhak banyak hal untuk mengatur Ruby. Tapi selama ini, Kakak-kakaknya tak pernah sekalipun melarang Sam untuk ikut mengatur Ruby.
Kini mendengar kata-kata Mamanya. Ia merasa tersakiti oleh penggalan kalimat tentang mencampuri urusan orang.
Sam duduk di meja kerja yang ada di kamar itu. Ia memandang foto usg empat dimensi itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Put, Papa kangen kamu–" ucap Samudera tercekat. Ia kini tengah menangis lirih sambil memeluk foto itu.
Putih, panggilan kesayangan Samudera untuk gadis mungilnya yang tak sempat ia sentuh. Hanya tendangan kecil melalui perut Tania yang bisa ia rasakan. Namun sentuhan itu, begitu terkenang di pikiran Samudera. Ia masih bisa mengingat bagaimana rasanya.
"Kenapa Papa gak ikut kalian? Papa kangen Putih, kangen kamu juga, Tan. Gimana bisa aku diminta menjaga orang lain, kalau hatiku saja masih gak rela aku bagi," ucap Samudera pilu.
Samudera mendekap erat foto usg itu. Ia beranjak menuju kasur, lalu meringkuk. Bagai anak kecil menangis tak dibelikan permen. Ia menangis sesenggukan. Hingga rasa lelah mendera tubuhnya. Membuat ia tak lagi sadar, bahwa sedikit demi sedikit matanya terpejam. Hingga akhirnya, dengkuran halus terdengar dengan tubuh yang masih meringkuk dan juga foto yang didekap erat di dadanya.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pintu itu berhasil membuat Samudera terbangun. Matanya terasa berat untuk terbuka. Mungkin karena efek bengkak akibat tangisnya tadi.
Tok.. Tok.. Tok..
“Sam, buka. Gue mau ngomong dulu sama lo,” ucap seseorang dari balik pintu. Samudera yakin itu Kakaknya, Berlian.
Walau enggan, ia tetap melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya.
Wanita dengan bayi mungil bernama Amethyst itu merangsek masuk ke dalam kamar Sam.
"Lo berantem apa sama Mama? Mama nangis dari tadi gak mau berhenti," ucap Lian tanpa melihat ke arah Samudera. Ia malah dengan santai meletakkan putri kecilnya di kasur king size milik Samudera.
Sebelum meletakkan Amethyst Lavelle yang akrab dipanggil Elle, Lian melihat ke arah kasur dan juga bantal Sam. Ada lingkaran besar dengan warna yang lebih gelap. Seketika itu ia juga tahu, bahwa pertengkaran ini mulai serius.
Samudera telah lama tak menangis. Kali ini, baik Mamanya dan Adiknya benar-benar sudah sama-sama kelewatan atas kekeras kepalaan mereka.
"Sam, dengerin apa kata Mama. Kalau lo gak mau dengerin, minimal lo maklumin omongan Mama."
"Jadi menurut Kakak, gue terlalu ikut campur untuk urusan Ruby? Kenapa lo gak pernah bilang sama gue, Kak? Kenapa baru sekarang?" tanya Samudera tajam.
Ruby? Otak Lian berpikir keras karena gadis kecilnya terseret masalah ini. Lian menatap adiknya sesekali sambil mencerna kata-kata Sam.
"Lo tau kan, buat gue Ruby pengganti Putih Kak. Ruby bisa buat gue bahagia. Kenapa sih Mama bahkan sekarang pakai bawa-bawa Ruby supaya gue nikah!"
Oh, gitu ceritanya. Ucap Lian dalam hati. Pantas saja adiknya kecewa hingga menangis. Mamanya kini membawa topik sensitif untuk memaksa Samudera menikah.
"Gue bakal pindah dari rumah ini, Sam.”
Bukan jawaban itu yang ingin Samudera dengar. Ia menatap lekat Lian dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Gue bakal pindah ke rumah lo."
"Sam–"
"Segitu ngeganggunya ya gue, Kak?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Lian menatap sedih adiknya.
"Lo boleh temui Ruby, kapanpun lo mau. Tapi, please. Kasih gue dan Ruby space, Sam. Dia anak gue. Gue pengen nge-didik dia dengan cara gue. Kak Davino juga pengen banget ngabisin banyak waktu sama anaknya satu itu."
"Ruby, gue angkat anak ya Kak. Biar dia ikut gue," mohon Sam.
"Gak, Sam. Gue masih sanggup dan lebih dari mampu untuk ngurus dia sendiri. Gimana pun dia anak gue dan gue sayang banget sama dia. Gue gak bisa kalau harus pisah dari dia. Jangan egois Sam," ucap Lian dengan tenang walaupun kesedihan mulai menyusup di hatinya.
"Lo sedih jauh dari Ruby, apa kabar suami gue? Dia selalu ngalah buat apapun demi lo, karena buat dia, elo itu adik kesayangannya. Gue tau semuanya berat buat lo, tapi please, ngerti juga keadaannya."
"Hidup gue sepi Kak, kalau gak ada Ruby," ucap Samudera sambil menunduk, menyembunyikan wajah sendunya.
"Itu kenapa Mama minta lo nikah, Sam. Sekarang ataupun nanti, Ruby pasti bakalan pisah dari kita. Dia pasti punya kehidupan sendiri. Dia pasti milih jalannya sendiri. Sekarang lo pahamkan kenapa Mama minta lo move on?" terang Lian.
Ia menatap Samudera lekat. Mengusap lembut bahu adiknya seolah memberi kekuatan.
Mata Samudera kembali mengembun. Tak ada kata yang mau ia ucapkan untuk saat ini. Semua orang seolah tak mengerti perasaannya. Seolah membuang rasa adalah hal sepele. Membentuk keluarga baru adalah perkara mudah hanya tinggal membuatnya.
“Kak, lo tau kan, nikah itu gak cuma nikah aja? Ada kewajiban dan hak yang melekat disana. Gimana bisa gue nikah dan melakukan hak dan kewajiban gue, kalau hati gue aja masih belum bisa gue bagi?” tanya Samudera dengan tatapan tajam. Ia mulai lelah dengan semua tuntutan yang ada.
“Makanya, buka hati lo. Ya? Belajar menerima keadaan Sam. Lo bakalan berkubang disini-sini aja, kalau lo gak mau menerima keadaannya,” ucap Lian dengan lembut, berharap pintu hati adiknya terketuk untuk mulai belajar mengikhlaskan masa lalunya yang begitu membekas di hatinya.
Samudera beranjak dari duduknya. Ia segera menyambar jaket yang menggantung di salah satu sudut ruangannya. Samudera terlihat dengan tergesa mengambil kunci lalu meninggalkan kamarnya.
Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Karena bagi Samudera, sebanyak apapun kata terucap, tak akan ada pengertian dari mereka yang mendengar.
Lian hanya memandangi punggung adiknya yang makin lama makin menghilang dari pandangannya. Raut wajahnya kini berubah sendu. Matanya kini mengarah pada sebuah foto perempuan yang tercetak besar di kamar Samudera.
“Gue tau, lo gak akan suka sama sikap Sam ini. Jadi, please banget Tan. Bantu gue bujuk Samudera,” ucap Lian lirih.
***
*Samudera POV*
Aku menuruni tangga dengan tergesa. Hingga aku melewati kamar Mama yang sedikit terbuka. Kulihat ia sedang menangis tersedu di pelukan Papa. Kuhentikan langkahku melihat Mama yang tak pernah menangis hingga seperti itu.
“Sudah, Ma. Itu pilihan Samudera. Dia memang sudah dewasa. Dia pasti tahu pilihan hidup yang paling baik buat dia,” ucap Papa yang dengan samar bisa ku dengar.
“Mama cuma gak mau dia kesepian, Pa. Itu aja,” ucap Mama lirih tapi masih tetap bisa ku dengar.
“Iya, Papa ngerti,” ucap Papa yang sedetik kemudian menyadari keberadaanku. Matanya menatapku lekat dengan nafas panjang yang ia hembuskan.
Aku merasa terintimidasi dengan tatapan Papa. Seolah ikut menyalahkanku atas tangis Mama dan keputusanku.
Aku memilih segera beranjak dari sana. Menghampiri mobilku dan segera memacunya untuk segera keluar dari rumah besar yang sudah lama terasa dingin semenjak kepergian Tania.
Tak terasa aku sudah sampai di tujuan. Hamparan warna hijau yang bersih dengan batu-batu nisan yang tertata rapi.
Aku melangkahkan kakiku menuju salah satu makam dengan dua nama dalam satu batu nisan. Aku berjongkok, menyiram gundukan tanah itu dengan air mineral seadanya yang ada di mobil. Aku bahkan tak membawa bunga seperti kebiasaanku karena amarahku yang tak terkontrol tadi.
Segera kupanjatkan doa-doa sebelum aku mencurahkan hatiku yang begitu sesak menekan dadaku. Kupejamkan mataku, melantunkan doa-doa yang kini sudah ku hafal diluar kepala karena seringnya aku datang kemari.
“Papa datang, Ma, Put. Apa kabar, Mamanya Putih? Putih juga gimana disana Nak?” ucapku lekat memandangi batu nisan dengan namaku terpampang disana.
Sedih? Jelas. Hatiku serasa ditusuk ribuan belati tak kasat mata. Aku bisa memandang namaku di atas batu nisan. Hati orang tua manapun, pasti akan teriris melihatnya. Tapi bisa apa lagi aku selain menangisinya?
Menerima? Sudah lebih dari enam tahun, tapi semua rasanya masih sama. Entah mengapa aku merasa masih menanti mereka pulang.
Memandangi semua ini, aku teringat tangis pilu Mama. Sejujurnya baru tadi aku melihat Mama menangis sesak seperti tadi.
“Sayang, aku tahu kamu pasti lihat semua kejadian ini kan? Aku gak mau bikin Mama sedih, tapi aku juga gak bisa gitu aja gantiin posisi kamu. Belum lagi, Kak Lian, sahabat yang kamu belain selama ini, malah dukung Mama. Aku harus gimana, Yang?” aduku pada almarhum istriku.
“Beberapa hari lalu, Riani juga minta aku jaga adiknya. Apa aku nikahin adiknya demi Mama dan Riani? Ini bener-bener demi Mama dan Riani. Mama yang udah lahirin aku dan Riani yang udah bantu aku dulu untuk gedein usaha kita, Sayang. Aku ngerasa berdosa banget uda bikin Mama nangis kayak tadi. Tapi, Mama emang keterlaluan, Yang. Kenapa Mama maksa aku, sih?” rajukku dengan air mata yang hampir menggenang di pelupuk mata.
“Kasih aku petunjuk, Yang. Dateng ya di mimpiku, aku kangen banget sama kamu. Aku pengen peluk kamu,” ucapku dengan tangan mengepal yang tak kusadari sudah menggenggam erat rumput-rumput rapi yang menyelimuti gundukan tanah dihadapanku.
“Maaf, kalau kadang aku lepas kendali kalau lagi sama, Riani. Bukannya aku lupa sama kamu. Tapi, waktu liat dia.. dia benar-benar ingetin aku ke kamu, Yang. Aku ngajak dia nikah, karena rasanya kayak aku bisa bantu rawat kamu. Aku mau rawat dia, sampe kita ketemu lagi, kumpul lagi disana. Makanya waktu Riani bilang buat nikahin Diani, aku gak jawab. Karena bukan Diani tujuannya, Yang. Sekarang Mama juga sampe kayak gini, gimana Yang? Tolong temui aku di mimpi, Sayang. Aku butuh kamu.”
Seandainya bisa, yang aku mau, kamu Titania Llena. Tapi semuanya tak mungkin, jadi izinkan aku untuk menangis dipelukanmu dalam mimpi. Bantu aku meredakan kegelisahanku, sebelum aku putuskan jalanku selanjutnya. Tolong, datang Tania.
***