• Mingzhi memang lebih pantas
Ketika Qi Qiu Wei dan Mingzhi pergi ke tengah pesta, seorang pria paruh baya berbadan gemuk dengan rambutnya yang sudah botak di tengahnya secara tidak sengaja menghentikan Qi Qiu Wei.
“Oya oya... Bukankah ini adalah Nona Muda dari Keluarga Qi, saya adalah Nalan Meng, saya bekerja sebagai manager tim penjualan dan produksi di perusahaan O.Three.O milik Nyonya Wu. Salam Nona Muda Qi!” kata pria yang bernama Nalan Meng sambil sedikit membungkuk pada Qi Qiu Wei.
“Salam Tuan Nalan!” balas Qi Qiu Wei.
Mingzhi juga sedikit membungkuk pada Nalan Meng, melihat sikap Mingzhi dan juga cara berpakaiannya yang begitu tidak sopan membuat Nalan Meng berpikir rendah terhadap Mingzhi.
“Nona Muda Qi! Ini adalah anak saya Nalan Jiude, dia masih berusia sembilan belas tahun, dia seorang mahasiswa dari Sanming University, dan ini masih tahun pertamanya untuk berkuliah.”
“Salam Nona Muda Qi, saya Nalan Jiude, saya mahasiswa tahun pertama, saya mengambil jurusan ekonomi di Sanming University.”
“Salam Tuan Nalan!”
“Ano... Nona Muda, kemarin kami mendengar kabar tentang pertunangan dari Nona Muda Qi, apakah kabar itu benar berasal dari Keluarga Qi sendiri atau... Seseorang sedang mencoba menyebarkan kabar angin?”
“Ah! Tentang pertunangan itu, itu memang benar Keluarga Qi kami yang telah menyebarkannya, dan pertunangan itu seratus persen valid kebenarannya. Rencananya pertunangan itu akan di adakan bulan depan.”
“Begitu ya? Haha... Selamat atas pertunangan anda Nona Muda Qi,”
Nalan Meng melihat ke arah Mingzhi yang tidak menatap wajah Nalan Meng sama sekali melainkan Mingzhi hanya tolah-toleh kesana kemari sambil melihat luasnya Aula yang mana itu merupakan ruang tamu Keluarga Li.
“Apakah pemuda yang bersama anda ini adalah calon tunangan anda?” sambung Nalan Meng sambil menunjukkan senyum yang dimaksud untuk merendahkan Mingzhi.
Mingzhi melihat Nalan Meng dengan wajah sedikit bertanya-tanya.
“Benar, Tuan Nalan. Pemuda ini adalah calon tunangan saya, namanya adalah Su Mingzhi.”
“Halo Tuan, Nama saya Su Mingzhi! Salam!”
“Hahahaha... Saya sempat bertanya-tanya tentang pemuda mana yang akan ditunangkan dengan Nona Muda Qi, dia pastilah orang yang sangat beruntung bisa mendapatkan restu dari Penatua Qi. Orang itu pasti berasal dari salah satu keluarga besar, dan ternyata dugaan saya salah,”
Nalan Meng dan Nalan Jiude menunjukkan senyum yang sama. Qi Qiu Wei mulai menekuk alisnya sedangkan Mingzhi masih terlihat biasa-biasa saja.
“Marganya Su, saya tidak pernah mendengar nama marga ini sebelumnya di Sanming. Apa dia berasal dari Keluarga Kelas Satu? Tapi bagaimana saya tidak pernah mendengar soal Keluarga ini?” sambung Nalan Meng.
“Mingzhi memang bukan berasal dari Keluarga Besar ataupun Keluarga Kelas Satu...”
“Wah... Padahal jika itu seorang Tuan Muda dari Keluarga Besar, dia sangat beruntung bisa ditunangkan dengan Nona Muda dari Keluarga Qi, apalagi itu adalah Nona Muda Qi Qiu Wei yang merupakan Cucu Kesayangan Penatua Qi Laoze, sungguh berkah yang amat besar. Anak muda ini pasti sudah menggunakan seluruh keberuntungannya untuk bisa mendapatkan Nona Muda Qi Qiu Wei.” sela Nalan Meng.
“Tuan! Apa anda mencoba merendahkan tunangan saya di depan saya? Saya bisa menganggap tindakan anda juga sebagai niat merendahkan saya.”
“Tidak tidak! Nona Muda Qi, saya tidak berani melakukan tindakan semacam itu,” jawab Nalan Meng sambil tersenyum.
“Hehe... Satu lagi seekor αnjing yang ingin mencoba merendahkan Tuan Muda Ini, baiklah... Terserah saja, aku tidak pernah merasa cukup dengan jumlah Point Emosi yang kumiliki. Mari lihat bagaimana αnjing ini akan bermain,” dalam hati Mingzhi.
“Hanya saja... Saya sedikit terkejut melihat sosok yang ternyata adalah tunangan Nona Muda Qi. Bagaimana pemuda dengan penampilan lusuh bisa pantas menjadi tunangan Nona Muda..”
“Tuan Nalan!” seru Qi Qiu Wei.
Mingzhi memegang tangan Qi Qiu Wei, gadis itu spontan melihat ke arah Mingzhi. Mingzhi mengacungkan jari telunjuknya di dekat mulutnya yang mengisyaratkan agar Qi Qiu Wei membiarkannya.
“Pemuda yang cukup cerdas, dia pasti tidak ingin Nona Muda Qi dipermalukan karena membuat keributan di Pesta Bintang yang diadakan di rumah Keluarga Li. Heh! Dengan begini aku bisa membuka sedikit mata pemuda lusuh ini,” pikir Nalan Meng.
Qi Qiu Wei diam sesuai dengan yang di inginkan oleh Mingzhi, namun wajah Qi Qiu Wei tetap terlihat kesala melihat kepada Pria gemuk dengan rambut tengahnya yang sudah bersih mengkilap.
“Jangan hanya karena wajah pemuda ini yang cukup tampan lalu Nona Muda Qi dengan mudah mau ditunangkan dengannya, coba lihatlah bagaimana dia berpakaian! Di acara yang sangat formal ini, bukankah sangat keterlaluan jika memakai pakaian seperti itu? Kita orang-orang dari kalangan atas menjaga status kita dengan cara menunjukan bagaimana kita bersosialisasi, menggunakan etika.”
“Jika etika berpakaian saja tidak mengerti, bagaimana bisa pemuda ini layak untuk Nona? Itu hanya seperti membubuhi lumpur pada martabat Keluarga Qi,” sambung Nalan Meng.
Qi Qiu Wei kembali naik pitam dan ingin mulai bergerak namun Mingzhi mengenggam tangan Qi Qiu Wei semakin erat sehingga dia mau berhenti.
“Tuan... Nalan, kan? Maaf atas ketidaksopanan saya, berpakaian seperti ini memang kurang layak jika di lihat di sebuah Pesta, tapi setidaknya saya masih berpakaian. Yang dimaksud tidak sopan itu jika datang tanpa memakai apapun, bukankah begitu?”
“Heh! Dasar Orang Kampung, mengatakan kalimat yang tidak senonoh semacam itu, apa bahkan kau berpendidikan?”
“Aku sangat meragukan itu, Ayah. Lihatlah pakaiannya! Murah! Tidak ber Merk! Dan modelnya juga sudah ketinggalan. Dia pasti orang miskin yang tidak mampu membayar biaya sekolah, di sekolahkan pun itu pasti di sekolah pinggiran di mana tata krama dan etika tidak diajarkan disana,” sambung anak Nalan Meng, Nalan Jiude.
“Ah... Sudah setampan ini aku masih di rendahkan kah? Bagaimana orang lain bisa merasa dirinya lebih tinggi? Hadeh... Inginnya aku tidak memperolok orang lain, tapi karena kedua orang ini melakukannya lebih dulu apa boleh buat,” dalam hati Mingzhi.
“Nona Muda Qi, tidak kah kau berpikir kalau putraku Nalan Jiude lebih baik daripada Pemuda Lusuh ini? Dia berasal dari Keluarga Nalan, setidaknya itu Keluarga Kelas Satu yang dikenal oleh banyak orang, Nalan Jiude juga pemuda dengan rekam pendidikan yang sangat baik, bahkan sekarang ini dia masuk ke Sanming University dan mengambil jurusan ekonomi, suatu saat dia pasti akan menjadi pengusaha yang ternama.”
“Tuan Nalan Meng, anda sudah menyebutkan status sosial milik anak anda dan juga pendidikannya. Tapi anda lupa memberitahu pada Qi Qiu Wei bagian penampilan anak anda. Apa anda berpikir anak anda pantas digandengkan dengan Qi Qiu Wei, dia itu pendek dan gemuk pula, saya yakin enam tahun kedepan rambutnya akan banyak rontok dan di tengah kepalanya tidak akan di tumbuhi apapun, bahkan lalat saja tak akan bisa hinggap karena licin.”
Qi Qiu Wei yang semulanya kesal seakan perutnya digelitik hingga dia tidak sanggup menahan tawa.
“Qi Qiu Wei, kau tidak boleh menertawainya karena lelucon buruk seperti itu, bagaimana bisa seorang Nona Muda tertawa karena hal tidak sopan seperti itu?”
“Maaf Kakak Su, tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya.”
Mingzhi dan Qi Qiu Wei saling menatap, mereka sama-sama tersenyum untuk beberapa saat.
“Pffft!!!” dan akhirnya Qi Qiu Wei dan Mingzhi tertawa lepas. Hal itu membuat Nalan Meng dan Nalan Jiude tersinggung dan merasa kesal.
“Beraninya.... Beraninya orang rendahan sepertimu memperolok putraku, apa kau tidak tau siapa aku, hah?!!!”
“Tuan Nalan... Jaga cara bicara anda,” kata Qi Qiu Wei dengan nada rendah.
“Hemph! Kau hanya seorang pria yang berlindung di belakang bahu seorang wanita, jika bahkan bukan karena Nona Muda Qi, kau tidak akan bisa masuk ke dalam Pesta Bintang ini, dasar kau orang rendahan! Ketahui tempatmu!” seru Nalan Meng sambil menunjuk pada Mingzhi.
“Ayah! Orang rendahan sepertinya hanya akan mengerti jika dirinya sudah diberi pelajaran!” kata Nalan Jiude.
Pria pendek bertubuh gemuk itu mengambil sesuatu di saku jasnya, sebuah sapu tangan dikeluarkan dan dilempar kepada Mingzhi.
“Kau orang miskin... Aku Nalan Jiude menantangmu untuk bertarung!”
“Hah???”
“Ambil sarung tangan itu, artinya kau menerima tantanganku. Tapi jika kau tidak mengambilnya maka aku tau kalau kau itu pengecut, jadi tinggalkan Nona Muda Qi!”
“Hadeh... Ada juga orang yang mau ngebadut disini,” ucap Mingzhi sambil mengambil sapu tangan itu.
“Haha! Ternyata kau cukup mempunyai nyali juga ya, orang miskin! Biar kuberi tahu kau kalau aku ini adalah seorang juara dalam permainan catur tingkat provinsi, bahkan aku adalah pemain catur terbaik dan termuda di negara ini yang berhasil mencantumkan namanya pada piala nasional catur tahun lalu.”
“Catur? Memang apa hubungannya dengan...”
Saat Mingzhi menjawab pernyataan dari Nalan Jiude, pria gendut itu malah meninju Mingzhi tepat di perutnya.
“Hah! Kau lengah! Bagaimana kau bisa tidak mempunyai persiapan sama sekali, meskipun aku itu gendut, tapi pukulanku itu berat, dan setelah seseorang menerima pukulanku maka dia...”
“Dia...???” Mingzhi menatap Nalan Jiude yang hanya setinggi d**a Mingzhi sambil mengucapkannya.
“Eh? Kenapa dia baik baik saja?”
Nalan Jiude terus menerus memukul Mingzhi tapi pukulannya sama sekali tidak terasa oleh Mingzhi. Mingzhi memegang kepala Nalan Jiude dan melangkah mundur sedikit.
Nalan Jiude sekarang memutar-mutar tangannya sambil berusaha untuk mendekati Mingzhi dan mendaratkan pukulannya, Nalan Jiude sudah berlari namun dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
“Anak Kampung!!! Beraninya kau mempermalukan putraku!”
Nalan Meng berlari lalu menyundul bagian rusuk Mingzhi yang terbuka, lalu Nalan Meng jatuh terpental.
“Sial! Ini sakit, terbuat dari apa rusuk anak ini? Apakah dia terminator? Rasanya seperti menyundul besi,” kata Nalan Meng sambil memegangi kepalanya.
Nalan Meng lalu kembali berdiri dan mencoba mendorong Mingzhi, namun Mingzhi sama sekali tidak beralih pijakan sedikitpun.
“Anu... Apa kalian sudah selesai? Bolehkah aku membalas kalian?” tanya Mingzhi dengan wajah datar.
“Jika kau memang lelaki maka balas serangan kami! Jangan bilang kau tidak mampu?!” jawab Nalan Jiude sambil memutar tangannya dan berusaha mendekati Mingzhi.
Keributan itu langsung memancing orang lain untuk menghampiri Mingzhi.
“Hei lihat! Sepertinya ada yang ribut.”
“Mana mana?! Ah! Benar! Mari kita lihat!”
“Ayo kita kesana dan melihat apa yang akan terjadi!”