Jawaban Dari Melisa

1668 Words
Melisa dan Dea sahabatnya sedang duduk di kantin kampus, menikmati pesanan mereka masing-masing. Dea menyuapi mulutnya dengan kentang goreng pesanannya sembari matanya tak lepas menatap Melisa, yang sedari tadi terus saja terlihat murung dan tak fokus. Melisa juga sejak tadi hanya diam dan mengaduk-aduk makanannya, membuat tampilan makanannya ambul-adul. “Astaga, Mel. Itu makanan dipesan buat dimakan, bukan buat diacak-acak kaya gitu. Udah nggak berbentuk,” ujar Dea sambil mengunyah. Melisa menghentikan gerakan tangannya sembari mendongak menatap Dea bergantian dengan makanannya. Yang benar-benar sudah tak berbentuk. Melisa melepaskan sendok itu, dan menghembuskan nafasnya kasar. Dea mengernyitkan keningnya heran melihat Melisa. “Kenapa, sih, Mel? Sejak tadi murung kaya gitu udah kaya kertas yang udah diremas. Kenapa, ada masalah?” Melisa mengedikkan kedua bahunya. “Nggak tahu ... Mungkin ada mungkin juga nggak ada,” jawab Melisa sekenaknya. “Ck, gua nanya serius, Mel. Malah dijawab ngaco kaya gitu.” Dea berdecak sebal masih menyantap kentang goreng miliknya dengan lahap. Melisa hanya diam tak menanggapi, sedangkan Dea terus saja memperhatikan sahabatnya itu. Dea tahu, pasti Melisa sedang ada masalah. Hanya saja, ia tak ingin memberitahu atau belum mau. Dea menghentikan menyuapi mulutnya, membenahi duduknya dan menelan cepat makanan yang ada dimulut dan kembali bertanya. “Ada masalah, Mel?” Melisa melirik Dea agak lama. Sementara Dea pun, tak lepas menatap Melisa menunggu jawaban. Lalu, Melisa menghela nafas dan mengangguk ragu-ragu sembari memalingkan wajahnya. “Iya, mungkin.” “Mau cerita sekarang?” Melisa kembali menoleh ke arah Dea. “Hhmm... Gua dijodohin,” jawab Melisa pelan. Dea mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Melisa. Benarkah? Pikir Dea tak percaya. “Serously?” tanya Dea memastikan. Dijawab anggukan oleh Melisa. “Oh, my good.” Dea menutupi wajahnya dengan satu tangan. Sekali lagi, Melisa menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyeruput minumannya sembari memperhatikan suasana kantin yang agak ramai dari kemarin-kemarin. “Di zaman ini?” tanya Dea sekali lagi saat beberapa saat terdiam. Bagaimana mungkin, di jaman sekarang ini masih ada orang tua yang menikahkan anaknya dengan jalan perjodohan? Bukankah, seiring berkembangnya zaman, pemikiran seseorang pun ikut berkembang. Lalu ini, astaga sangat disayangkan bukan. Dea tak habis pikir dengan hal ini. Namun, mau bagaimana lagi. Melisa tidak mungkin berbohong. Sebab, Melisa bukan gadis yang hobi berbohong. “Ya, menurut lo? Walaupun, zaman sudah berubah dan semakin modern. ‘Kan belum tentu pemikiran orang tua yang lain ikut berubah menjadi modern, De.” “Seharusnya, ‘kan, Mel. Mereka juga harus mengubah jalan piki—“ “Ya, mungkin seharusnya begitu. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak tahu. Bukan tidak tahu, sih. Tetapi tidak mau. Mereka sudah terlalu terpaut dengan hal di zaman dulu. Mereka nggak tahu kalau pemikiran mereka juga harus ikut berubah,” sela Melisa. Dea mengangguk mengerti. “Iya, sih, Mel. Tapi, ‘kan itu merugikan kita sebagai anak. Baik-baik kalau udah nikah kita bahagia. Bisa menerima perjodohan kalau enggak, gimana? ‘Kan merugikan banget nggak, sih?” “Hhuummm... Ya mau gimana lagi. Gua juga pusing,” ucap Melisa menghembuskan nafasnya kasar. Dea menghela nafas kasar sembari kembali menyuapi mulutnya sambil berpikir, entah apa yang ada dia pikirkan. Sedangkan Melisa ikut menyeruput minumannya. “Eh, jadi ... Lo terima?” tanya Dea tiba-tiba. “Terima apaan?” Alih-alih menjawab Melisa malah balik nanya dengan tampang tak mengerti. Dea mendecak. “Ck, perjodohannya. Lo terima apa tidak?” “Oh, itu. Ya, nggak tahu. Gua belum jawab apa-apa, sih, sama Ibu.” Dea mengangguk-angguk seolah paham dengan permasalahan yang tengah dihadapi Melisa saat ini. Yang membuat gadis bermata hazel itu murung sepanjang mengikuti mata kuliah. “Ya, sudah, sih, Mel. Kalau lo emang nggak setuju sama perjodohan ini, ya udah, tinggal lo tolak aja. Beres, ‘kan?” ucap Dea memberi usul. Melisa memutar bola mata jengah. “Andai saja semudah itu, De. Gua nggak akan berpikir serumit ini,” kata Melisa memalingkan wajahnya ke arah lain. Dea mengernyitkan kening tak mengerti maksud dari ucapan Melisa. “Maksud lo? Lo, ‘kan nggak setuju sama perjodohan ini. Ya tinggal nolak baik-baik sama ibu lo. Ngomong baik-baik sama beliau. Jelasin, kalau lo nggak setuju dengan hal semacam ini. Pasti beliau juga bakalan ngertiin, kok.” Sekali lagi Melisa menghembuskan nafasnya kasar. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu. Mungkin sudah tak terhitung. Melisa melakukan itu dengan harapan masalahnya yang saat ini memenuhi kepalanya bisa ikut keluar bersamaan dengan embusan nafas kasarnya. Namun nyatanya tidak, karena ia malah bertambah pusing saja dengan banyak pemikiran-pemikiran yang berputar-putar, bahkan menari-nari di kepalanya. “Andai saja segampang itu, De. Mungkin malam itu saat Ibu ngomong ini ke gua. Udah gua bilangin, tapi nggak semudah dan segampang yang lo pikir,” ucap Melisa dengan tatapan jauh ke depan. Dea masih menatapnya dengan penuh kebingungan. Dea tidak tahu, apa yang membuat Melisa sahabatnya menjadi gelisah dan merasa masalahnya serumit yang dibayangkan gadis itu. Padahal, Dea sudah memberi solusi. Walaupun, mungkin ibu Melisa tidak mau Melisa menolak. Akan tetapi, kalau Melisa mau menjelaskannya dengan baik. Pastilah, ibu Melisa akan setuju. Pikir Dea. “Ibu meminta gua buat nerima perjodohan ini sebagai permintaan terakhir Ayah, De. Ibu juga bilang kalau ini amanah beliau yang dimana gua nggak dikasih pilihan, Dea. Ibu seperti memaksa dengan cara yang halus,” lanjut Melisa dengan mata berkaca-kaca. “Bahkan ini, De. Udah Ayah rencanakan sejak aku masih kecil. Kami sudah dijodohkan, bahkan sebelum kami belum lahir,” tambahnya. Dea menutup mulutnya tak percaya. Benarkah begitu, pikir Dea. Dia tidak menyangka masalah Melisa serumit rumus matematika yang sangat dibencinya itu. Dea lalu menggenggam tangan Melisa memberi senyum manisnya yang menurutnya bisa membuat Melisa bisa lebih tenang. Melisa balas tersenyum sembari menyeka air matanya. *** Melisa memarkirkan mobilnya di bagasi rumahnya, ia mengernyitkan kening saat melihat ada mobil terparkir di pekarangan rumahnya. Melisa turun dari mobil, dan mengunci otomatis mobilnya. Ia berjalan mendekati mobil itu memperhatikannya. Dan ia sama sekali tak tahu mobil milik siapa. “Ini mobil siapa ya?” gumam Melisa pelan. “Apa tamu Ibu?” lanjutnya. Melisa lalu berjalan masuk ke dalam untuk segera menghapus rasa penasarannya. Perasaan Melisa menjadi tak enak saat mendengar namanya disebut-sebut oleh seseorang. Perasaannya semakin tak karuan saat melihat di ruang tamu empat orang sedang duduk di sana. Tiga di antaranya Melisa baru pertama kali melihatnya. Yang satu, ibunya yang sedang tersenyum menemani sang tamu. Melisa berhenti sejenak memperhatikan ketiga tamu ibunya itu. Namun nyatanya, mata Melisa hanya terfokus pada satu titik saja, yaitu pada sosok beraura dingin duduk di samping wanita seumuran dengan ibunya. Sosok pria itu terlihat sangat menakutkan. Aura dinginnya sangat terasa membuat seluruh tubuh Melisa bergetar. Apakah orang itu yang akan dijodohkan denganku? batin Melisa. Kalau benar, maka habislah riwayat Melisa. Terlihat pria itu sama sekali tak ada hangat-hangatnya. Bahkan mungkin sulit untuk dicairkan. Melisa kesusahan menelan salivanya saat mata pria itu berporos padanya. Tatapan tajam yang ia layangkan pada Melisa membuat gadis itu semakin ketakutan. Tatapannya sungguh sangat tak bersahabat. Melisa berusaha untuk menenangkan detak jantungnya, namun tetap saja berdebar begitu kencang. Fitri ibu Melisa tak sengaja menatap pria di depannya. Ia mengikuti tatapan mata pria itu dan melihat Melisa berdiri di lorong tak jauh dari mereka. Dan tatapan mata Melisa juga terarah pada pria itu. “Eh, Melisa.” Suara Fitri membuat pria itu memutuskan kontak mata pada Melisa. Fitri tersenyum kearah Melisa. Melisa juga cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah ibunya sembari tersenyum kecut. Dua tamu lainnya mengalihkan fokus ke arah Melisa yang masih berdiri kaku di ujung sana. Pria paruh baya dan wanita paruh baya itu tersenyum melihat Melisa yang sejak tadi ditunggunya akhirnya datang juga. “Ke mari, Nak.” Fitri melambaikan tangannya meminta Melisa mendekat. Melisa dengan kaku mengangguk dan mencoba melangkahkan kakinya yang terasa berat. Senyumnya masih terus dipaksakan, apalagi saat bertatapan pada dua orang di samping pria itu. Melisa lalu duduk di samping ibunya setelah mencium punggung tangan keduanya. “Wah, ini ya yang namanya Melisa. Ternyata aslinya lebih cantik dari foto yang sering kamu kirim ya, Fit?” ucap orang itu membuat Melisa mengernyitkan kening. Melisa melirik ibunya yang duduk di sampingnya tersenyum hambar sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Fitri memalingkan wajahnya ke arah lain. Jadi, selama ini ibunya sering mengirimkan foto kepada orang ini. Pantas saja, ibunya sering meminta dirinya untuk berpose. Ternyata ia ingin mengirim pada orang itu, pikir Melisa. “Iya, kamu benar, Ma. Ternyata dia sangat cantik. Cocok sama Devan,” ucap pria paruh baya itu yang ikut menimpali. “Benar banget, Pa. Aku udah nggak siap buat cepat-cepat menikahkan mereka,” sambung perempuan paruh baya itu sembari terkekeh, membuat Melisa melirik ibunya yang juga meliriknya. Pria yang bernama Devan itu, yang Melisa tahu dari wanita tadi mendengus saat mendengar ucapan wanita itu. Melisa bisa mengambil kesimpulan, kalau pria itu juga mungkin tak menginginkan perjodohan ini. Fitri lalu memperkenalkan satu persatu tamunya, dan sekarang Melisa sudah yakin dengan perasaannya yang tak merasa enak tadi. Ternyata benar, pria itu yang akan dijodohkan dengannya. Dari ibunya juga ia tahu, ternyata Devan ini adalah seorang dokter spesialis jantung. Ia bekerja di sebuah rumah sakit ternama di kota mereka. Bahkan, Damar ayah Devan pemilik yayasan rumah sakit itu. Melisa menarik nafas panjang. Ia tak habis pikir, akan jadi bagaimana nanti rumah tangganya saat menikah dengan pria seperti Devan. Dingin tak tersentuh, cuek, dan sama sekali tak banyak berbicara. Entah perasaan Melisa saja atau mungkin memang benar begitu. Sepertinya Devan tak suka dengan Melisa, apalagi saat melihat Melisa. Pria itu seolah menatap Melisa begitu tajam. Kalau sudah begitu, Melisa akan buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Sungguh sangat mengerikan pikir Melisa. “Jadi bagaimana, Melisa. Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya Damar pada Melisa yang tiba-tiba melirik Devan kembali. Namun hanya sebentar saat Devan pun menatapnya dengan tatapan sama. Tatapan menyeramkan. Lalu, Melisa beralih menatap ibunya. Ibunya menatapnya dengan tatapan sulit diartikan oleh Melisa. Melisa menarik nafas panjang, mengisi kantung paru-parunya yang terasa kosong karena tatapan menyeramkan oleh pria bersifat salju di depannya itu. “Bagaimana Melisa?” tanya Damar sekali lagi. Melisa menghela nafas kasar sebelum menjawab, “Sa-saya....” Bersambung!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD