Pernikahan Yang Tak di Inginkan

1647 Words
“Saya terima nikah dan kawinnya Melisa Desmarani binti Jaka Arwanto dengan emas tiga gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai.” “Bagaimana saksi, sah?” “Sah.” “Alhamdulillah.” Air mata Melisa jatuh tak tertahankan saat semua saksi menyerukan kata Sah, dan penghulu membacakan doa. Beberapa detik yang lalu, dirinya telah sah menjadi istri seorang Devan Ardita Satria Nugroho. Melisa dengan terpaksa mencium punggung tangan Devan atas paksaan ibunya. Melisa terkejut saat merasakan tangan Devan yang begitu dingin saat ia genggam. Apakah, Devan merasa gugup? Entahlah, hanya pria itu yang tahu. Sebab, raut wajahnya hanya datar-datar saja. Dalam hati Melisa menjerit. Bukan pernikahan ini yang ia inginkan. Menikahi pria yang sama sekali tak dikenalnya bukan keinginan Melisa. Namun, mau bagaimana lagi. Melisa tak ada pilihan. Setelah beberapa minggu yang lalu, keluarga Devan untuk pertama kalinya datang ke rumah dan bertemu dengan Melisa. Saat itu juga papa Devan meminta jawaban dari pertanyaannya selama 26 tahun lamanya. Flash Back “Bagaimana Melisa?” tanya Damar sekali lagi. Melisa menghela nafas kasar sebelum menjawab, “Sa-saya ...." Melisa melirik ibunya sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, Melisa menghela nafas dan kembali berkata, “Ya, saya setuju Om.” Melisa memejamkan matanya saat mengatakan hal itu, dan saat membuka matanya. Wajah kesal dan marah Devan yang pertama kali ia lihat. Tatapan tajam Devan semakin menakutkan dari sebelumnya. Cepat-cepat Melisa mengalihkan tatapannya ke arah lain. Di sampingnya Fitri—ibunya mengucap syukur begitupun dengan kedua orang tua Devan. Mereka sangat terlihat senang. Melisa berdoa dalam hati, semoga keputusan terburu-buru ini adalah hal baik nanti ke depannya. Ia juga berharap agar rumah tangga yang nantinya di lalui bersama Devan. Pria yang baru beberapa menit ia kenal. Kenal sebatas nama saja, semoga pernikahan yang penuh kebahagiaan yang mereka lalui. Walau sebenarnya di dalam hati Melisa masih ada keraguan dan kebimbangan, namun cepat-cepat ia tepis. Ia tak mau rasa itu membuatnya kembali goyah dan merubah keputusannya, membuat semua orang kembali sedih dan kecewa. Flash Off “Jangan menangis, Nak. Berbahagialah, hari ini pernikahanmu. Ibu sangat bahagia melihatmu bersanding dengan Devan. Pria pilihan ayahmu,” ucap Fitri menyeka air mata Melisa yang tak henti mengalir mendesak keluar. Seiring perasaan perih yang menggerogoti hatinya saat ini. “Ayahmu pasti sangat bahagia di atas sana,” lanjut Fitri. Melisa hanya diam dan tak mengatakan apa-apa. Ia berusaha untuk melawan rasa sesal di dadanya dengan yang baru saja terjadi. Melisa menahan air matanya yang kembali ingin menetes saat mertuanya datang menghampirinya dengan senyum merekah bahagia. Melisa memaksa membalas senyum itu. Walau sangat sulit, tapi Melisa berusaha keras. Diana mertuanya memeluk Melisa yang dibalas Melisa. “Wah, cantik sekali menantu mama ini.” Melisa hanya tersenyum kecut. Dalam hati Melisa berdoa semoga Diana tak mengetahui senyumnya itu sungguh sangat terpaksa. “Makasih, Tante.” “Ck, Tante? No! Call Mama,” koreksi Diana menekan kata Mama pada Melisa. “Try calling Mama.” “Maaf tan Eh, Mama maksudku.” Diana dan Fitri tersenyum melihat Melisa begitu canggung. “Ya begitu, dong.” “Awal memang akan terasa canggung dan lain, tapi kalau sudah biasa juga nggak akan seperti itu. Iya, ‘kan Mel?” Damar datang dari arah belakang ikut menimpali. Melisa hanya tersenyum tipis sembari mengangguk pelan. “Iya, Om. Eh, maksudku Papa.” Ketiganya tertawa melihat Melisa masih terasa canggung. Sedangkan Melisa hanya diam menunduk. Di sampingnya, Devan mendengus tak suka melihat kebahagiaan mereka di atas penderitaannya. “Lucu sekali, ya, menantu kita, Ma.” Diana terkekeh sembari mengangguk. “Iya, Pa. Udah cantik, lucu lagi. Kita memang dapat yang komplit, Pa.” Mereka kembali terkekeh. Dengan Melisa yang merasa kurang nyaman dengan suasana sekarang. Apalagi saat melihat Devan yang selalu meliriknya dengan lirikan sangat tak bersahabat. Melisa akan menunduk saat melihat Devan meliriknya. *** Perayaan resepsi pernikahan Melisa dan Devan tak semeriah pernikahan pada umumnya. Sesuai keinginan Devan dan Melisa, mereka tak ingin ada resepsi mewah dan hanya ingin melangsungkan pernikahan di rumah. Dengan hanya keluarga inti saja sebagai tamu undangan. Bahkan, mereka tak sama sekali mengundang teman-teman. Benar-benar pernikahan sederhana yang digelar. Yang digelar di rumah Melisa. Jadi, setelah ijab Qabul selesai, mereka hanya duduk di pelaminan sederhana. Berfoto sebentar dan menyalami para tamu yang datang. Setelah itu, resepsi selesai. Melisa dan Devan diizinkan masuk ke dalam kamar. Mengganti pakaian dan beristirahat. Namun itu hanya pikiran Melisa. Nyatanya, setelah mengganti pakaian. Devan langsung meminta untuk segera kembali ke rumahnya. Melisa yang tak bisa menolak kalaupun bisa, mungkin tidak akan dilakukannya. Sebab, statusnya saat ini adalah istri Devan. Yang harus mengikuti apa kata suaminya. Dengan berderai air mata, Melisa menyalami tangan ibunya berpamitan. “Kamu yang baik-baik di sana ya, Nak. Nurut apa kata suami,” kata Fitri sembari memeluk Melisa. Dalam pelukannya, Melisa hanya bisa mengangguk sembari menyeka air matanya. Fitri mengurai pelukannya. Tangannya bergerak menyeka air mata Melisa, lalu tatapannya beralih pada Devan yang berdiri di belakang Melisa. Menyaksikan perpisahan penuh drama, pikir Devan. “Nak Devan, ibu titip Melisa ya. Tolong dijaga dia harta ibu satu-satunya,” kata Fitri pada Devan. Dengan malas Devan mengangguk pelan. “Baik, Bu.” Fitri mengangguk sembari melempar senyum manisnya. Devan pun memaksakan diri untuk membalas senyum Fitri. Ck, dia kira gua apaan. Nyuruh jagain anaknya, batin Devan. “Tenang saja, Fit. Devan bakalan jagain Melisa. Melisa, ‘kan istrinya.” Diana di belakang Fitri ikut menimpali. Fitri menoleh ke belakang sembari tersenyum menghapus air matanya. “Iya, Diana. Gua cuman agak berbeda mau ditinggal Melisa ke rumah suaminya.” Diana melangkah mendekati Fitri dan menyentuh pundak Fitri. “Tenang saja, Fit. Kami akan menjaganya. Kami akan menganggap Melisa sebagai anak kita sendiri, iya, ‘kan Pa?” Di belakang Damar mengangguk mengiyakan ucapan istrinya. Fitri tersenyum sembari mengangguk. Sedangkan Devan memutar bola mata jengah. Sungguh malas dirinya menyaksikan drama saat ini. Setelah mereka berpamitan, Devan membantu Melisa membawa kopernya, memasukkan ke dalam bagasi. Sementara Diana dan Damar jalan lebih dulu. Berhubung karena Devan miliki rumah sendiri. Maka dari itu, Devan tidak akan membawa Melisa ke rumah orang tuanya. Tetapi, akan segera membawa Melisa ke rumahnya sendiri. Sebab, Devan juga tak suka suasana di rumah orang tuanya. Maka dari itu, Devan membeli rumah sendiri untuk ia tinggali. Melisa melirik ke luar jendela melihat ibunya yang masih melambaikan tangan saat mobil Devan perlahan bergerak maju meninggalkan pekarangan rumah ibunya. Air mata Melisa kembali jatuh merasa tak tega meninggalkan ibunya sendirian di rumah. Sementara Devan mendengus melihat Melisa kembali menangis. “Ck, udah kaya mau pergi jauh nggak kembali-kembali. Nangis mulu, drama banget, sih.” Melisa menyeka air matanya sembari menoleh ke arah Devan yang juga menatapnya dengan tatapan tajam. Selama mengenal Devan hari di mana ia pertama datang ke rumah Melisa. Baru kali ini ia mendengar Devan berbicara dengannya. Dan aurnya begitu menakutkan. Melisa kembali cepat-cepat membuang pandangannya ke arah luar jendela. Takut dengan tatapan dan suara dingin Devan. Begitu sangat menakutkan auranya, membuat bulu kuduk Melisa meremang. Melisa tak berani lagi untuk menangis. Walau sangat ingin, ia menahannya. *** “Turun,” ucap Devan saat telah memarkirkan mobilnya di garasi rumah yang lumayan besar menurut Melisa. Melisa masih terdiam memperhatikan rumah di depannya. Sementara Devan sudah turun lebih dulu. Membuka bagasi mobilnya menurunkan barang-barang milik istrinya. “Ck, kau akan menginap di mobil?” Suara Devan membuat Melisa tersentak. Ia baru sadar kalau Devan sudah berada di luar mobil. Dengan koper miliknya di tangan Devan. Melisa cepat-cepat membuka pintu mobil dan turun. Ia lalu menunduk tak berani membalas tatapan Devan. “Maaf,” ujar Melisa pelan serupa dengan bisikan. Hanya decakan terdengar dari Devan. Lalu pria itu meninggalkan Melisa sendirian di luar rumah, membuat Melisa menghela nafas kasar sekali lagi. Sepertinya, Melisa harus melatih kesabarannya serta rasa takutnya. Sebab, menghadapi Devan yang memiliki sifat seperti itu. Akan tidak mudah bagi Melisa. Selanjutnya, Melisa mengikuti langkah Devan masuk ke dalam rumah. Rasa kagum pada penampilan luar rumah itu. Sekarang kembali dibuat kagum dengan tampilan dalam. Selera Devan memang tidak kampungan. Walau dilihat cuek, tapi seleranya lumayan juga. Devan berdecak sebal melihat Melisa begitu kagum dengan rumah miliknya. “Ini koper kamu. Bawa ke kamar kamu sendiri,” ucap Devan membuat Melisa kembali pada kesadarannya. “Saya lelah, ingin istirahat.” “Oh, baik Mas.” Melisa meraih kopernya sembari mengangguk dan menundukkan pandangannya. “Kamar kamu di atas sana,” tunjuk Devan pada sebuah pintu kamar yang tertutup tepat di dekat tangga. “Di sebelahnya kamarku.” Melisa terdiam sejenak memahami apa yang dikatakan Devan barusan. Kamar Melisa dan Kamar Devan berbeda. Itu artinya, mereka tidak akan tidur sekamar. Sedikit rasa lega di hati Melisa. Sebab, Melisa tidak harus bersusah payah untuk membuat dirinya nyaman tidur sekamar dengan Devan. Apalagi kalau sampai Devan meminta haknya, Melisa mungkin akan merasa sangat tidak nyaman. Walau itu adalah haknya, namun di lain sisi. Melisa tetap merasa sedih. Sebab, tidak secara langsung Devan tidak sudi berada satu kamar dengannya. Atau tidak membutuhkan dan menginginkannya ada dalam hidup Devan. “Ada apa?” tanya Devan saat Melisa hanya diam saja. “Apa kau kecewa kita tidak tidur satu kamar?” tebak Devan. Melisa mendongak menatap mata Devan, tapi cepat-cepat menunduk tak berani membalas tatapan tajam milik suaminya. Melisa menggeleng pelan. “Tidak!” Devan memicingkan matanya menatap Melisa yang menunduk. “Bohong! Aku tahu, kau pasti sangat kecewa bukan. Kau pasti mengira kita akan tidur sekamar, melalui malam pertama yang indah. Cuih, menjijikkan,” cibir Devan membuat Melisa semakin menunduk dalam. “Kalau benar kau memikirkan itu, maka buang jauh-jauh pikiranmu itu. Sebab, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau menerima pernikahan ini, paham?” lanjutnya sembari pergi meninggalkan Melisa yang sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Devan tadi. Entah kenapa dan dari mana rasa perih tersemat di hatinya, matanya berkaca-kaca membuat penglihatannya mengabur. Melisa menghembuskan nafasnya kasar, agar rasa sesak di hatinya bisa segera hilang. Ia menatap ke arah jejak Devan melangkah masuk ke dalam kamar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD