Fitri menghela nafasnya kasar. Fitri membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik Melisa. Dirinya sedang merindukan anak satu-satunya itu. Yang sedang berada di rumah suaminya. Kini, Fitri tinggallah seorang diri.
Melisa sudah berada di rumah suaminya. Sedangkan suaminya sendiri sudah berada di alam berbeda dengannya.
Di sisi lain, Fitri sangat bahagia Melisa menikah. Akan tetapi, di sisi lain Fitri merasa sedih. Sebab, tak ada lagi yang bisa Fitri ajak untuk berbicara.
“Aku merindukan kalian berdua,” gumam Fitri sembari menatap lurus ke arah sebuah bingkai yang memperlihatkan tiga orang yang sedang berpose dengan ekspresi bahagia.
Fitri tidak merasakan air matanya jatuh. Dengan cepat, ia menyeka dan berusaha agar tidak menangis. Dia harus bahagia atas apa yang sudah tercapai.
Tanpa Fitri tahu, Melisa saat ini sedang berjuang mencairkan hati Devan. Melisa berusaha agar bisa kuat dan tegar menghadapi dinginnya sikap Devan.
Fitri mengira kalau Melisa sudah mulai bahagia membina rumah tangga bersama Devan. Padahal, yang terjadi malah sebaliknya.
Melisa sama sekali tidak bahagia, dia menderita, luka karena sikap dan setiap perkataan yang keluar dari mulut Devan.
“Aku ingin menelefon, Melisa. Tapi, takut mengganggu.” Fitri bangkit dari berbaringnya dan memandang ponselnya yang menampilkan nama Melisa.
“Besok pagi sajalah, jangan sampai Melisa dan Devan sedang anu ... Ah, hahaha... Tak sabarnya aku ingin menimang cucu,” katanya tersenyum geli.
Fitri berpikir kalau Melisa dan Devan sedang menikmati masa-masa pengantin baru mereka. Sebuah hubungan yang masih hangat-hangatnya, dan suasana yang penuh gairah. Namun nyatanya, siapa yang akan tahu. Kalau saat ini, Melisa sedang menangis di atas ranjang super besar. Di dalam kamar yang super luas. Seorang diri, tanpa siapa-siapa.
Melisa sedang meratapi nasibnya, menangisi takdirnya yang begitu menyakitkan. Fitri tidak tahu kalau pilihannya begitu penuh duri yang harus Melisa cabut satu persatu, dan yang pastinya akan membuat Melisa berdarah-darah karena duri tersebut.
***
Diana—mama Devan sedang terburu-buru menuruni tangga. Di belakang suaminya berjalan mengikuti hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Sungguh, istrinya ini memang super pikirnya.
“Ma, bisa jalan yang pelan. Kalau kamu jatuh, gimana?” peringat Damar.
Diana menghentikan langkah dan lari kecilnya di atas anak tangga dan menoleh ke arah Damar yang ternyata ikut berhenti di belakang istrinya.
“Papa doain Mama? Kenapa? Supaya bisa punya istri baru lagi?” skatmat Diana.
Damar membulatkan matanya mendengar kalimat Diana. Ia lalu menghela nafas kasar. “Astaga, kenapa harus ada pikiranmu yang kaya begitu, sih, Ma? Orang Papa cuman—“
“Cuman apa? Aku tahu, kok. Kamu doain aku kaya gitu. Karena kamu udah punya calon pengganti aku, ‘kan? Iya, ‘kan? Ayo, ngaku!” sela Diana cepat.
Damar memutar bola mata jengah. Padahal, tadi dia hanya ingin memperingati istrinya. Niatnya baik, agar istrinya itu berjalan lambat dan hati-hati. Kenapa malah kemana-mana dan seperti mengajak ribut begini. Pikir Damar.
“Sudahlah, Ma. Terserah kamu,” ucap Damar kembali berjalan meninggalkan Diana yang melongo kesal.
“Ck, malah ditinggal, sih? Nyebelin banget.” Diana menghentakkan kakinya di atas lantai anak tangga karena kesal. Lalu, ia ikut menyusul di belakang Damar yang sudah tidak memedulikannya.
“Mas, tunggu!” teriak Diana.
“Bodoh,” gumam Damar pelan.
Di lain tempat, Melisa sedang sibuk dengan segala pekerjaan yang diberikan oleh Devan. Devan sengaja mengerjai Melisa dengan menyuruhnya melakukan apapun yang mampu membuat Melisa kerepotan.
Mulai dari membuat sarapan, membuat kopi, menyiapkan pakaian kerja Devan, kaos kaki dan lain-lain. Hal itu sengaja Devan lakukan agar Melisa kapok dan menyerah untuk mempertahankan hubungan mereka.
Devan mengetahui rencana Melisa. Maka dari itu, dia pun membuat rencana ini untuk melawan rencana Melisa.
Suara bel terdengar dengan jelas. Bahkan, Melisa yang berada di dapur pun masih bisa mendengarnya. Devan yang duduk di ruang keluarga hanya menatap keluar ke arah pintu yang tertutup rapat, tanpa ada niat untuk beranjak berdiri untuk membukakan pintu orang tersebut.
“Melisa,” teriak Devan keras sembari masih fokus menatap ke arah korannya. “Ada tamu. Coba kamu lihat dulu,” perintah Devan.
Melisa yang berada di dapur sedang membuatkan roti bakar yang Devan inginkan mendecak sebal. “Ck, nyebelin banget, sih.”
Melisa tidak menghiraukannya, ia masih fokus pada roti yang ia olesi mentega. Dan sekali lagi, suara bel kembali berbunyi, tapi tetap saja. Melisa mengabaikannya.
“Melisa,” teriak Devan lagi. “Ada tamu itu. Kamu budek, ya? Ayo, bukain!!”
Melisa mendengus sebal. Lalu, meletakkan pisau dengan keras ke arah piring. Sehingga terdengar dentumannya.
“Ck, sumpah dia benar-benar menyebalkan.” Melisa pun berjalan keluar. “Iya, tunggu, Mas.”
Melisa memutar bola mata jengah saat melihat Devan yang duduk begitu santainya di ruang keluarga sembari membaca koran. Sedangkan, pintu dan ruang tamu berdekatan.
Sepertinya, dia sengaja membuatku repot, batin Melisa kesal.
Devan yang masih mendengar suara bel tidak berhenti, mendengus sebal. Devan menutup koran dan menyimpannya di atas meja. Hendak berdiri dan membukakan pintu. Tetapi, gerakannya terhenti saat melihat Melisa berdiri tak jauh darinya dengan wajah cemberut.
Devan tersenyum tipis senang melihat Melisa sudah seperti itu. Itu artinya, rencananya berhasil. Dalam hati, Devan bersorak senang.
“Kenapa masih diam berdiri di sana?” tegur Devan. “Nggak dengar bel dari tadi udah bunyi kaya mau meledak gitu?”
Melisa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Dan menarik nafas panjang, guna mengurangi rasa kesalnya pada Devan, dan juga tidak sampai membuat wajah Devan membiru karena pukulannya.
“Hhhmm... Ini juga udah mau dibuka, Mas.” Melisa mengentak-entakkan kakinya menuju pintu.
Sementara Devan tersenyum di belakang. Devan kembali duduk dan mengambil koran untuk kembali ia baca. Rutinitas Devan sebelum berangkat kantor. Membaca koran sembari minum kopi dan makan roti bakar coklat.
Biasanya, Devan akan bangun pagi sekali untuk membuatnya. Tetapi, karena sudah ada Melisa, dan Devan punya rencana untuk mengerjai Melisa. Maka dari itu, ia pun sengaja bangun agak terlambat. Supaya, dia punya alasan untuk memarahi atau mengerjai Melisa.
Di luar, Melisa sedang menggerutu tidak jelas atas perlakuan Devan padanya pagi ini. Sungguh, sangat menyebalkan dan melelahkan. Namun, Melisa tidak boleh menyerah. Pokoknya, rencananya harus berhasil, pikir Melisa.
Melisa dengan segala perasaan kesal pada Devan, juga pada si tamu yang tidak berhenti memencet bel. Hingga membuat telinga Melisa hampir tuli karenanya. Namun, rasa kesal Melisa berganti dengan perasaan bingung dan tak tahu harus berbuat apa setelah melihat siapa tamunya se pagi ini.
“Astaga, buka pintu, kok, lama banget, Mel? Mama udah dari tadi mencet bel, sampai sudah hampir bel rumah kalian rusak karena Mama pencetin terus,” gerutu Diana saat Melisa membuka pintu.
Belum selesai rasa terkejut Melisa kedatangan Mama dan Papa mertuanya, Diana sudah mencecarnya dengan gerutukan yang mampu membuat Melisa bungkam.
“Eh, Ma-mama, Pa—pa. Maaf, tadi Melisa di dapur. Makanya, nggak dengar.” Melisa mengatakan hal yang tidak salah dan tidak semua bohong.
“Oh, begitu. Ya, sudah nggak apa-apa.” Diana tersenyum manis. Ia senang bisa melihat menantunya. “Ini, Mama sama Papa nggak dibolehin masuk, ni?”
“Astaga, Maaf, Ma, Pa. Silahkan masuk,” ucap Melisa gugup.
Damar dan Diana terkekeh geli melihat tingkah Melisa yang begitu menggemaskan. Diana dan Damar bersyukur karena Melisa sudah menjadi menantunya. Melisa menggeser tubuhnya dan memberi jalan untuk mertuanya masuk ke dalam rumah.
Melisa kembali menutup pintu saat Diana dan Damar sudah berjalan masuk. Melisa menghela nafas kasar.
“Suami kamu mana?” tanya Damar sembari berjalan masuk.
“Di sana,” tunjuk Melisa pada Devan yang duduk di ruang keluarga.
“Ck, ck, padahal dia dekat, Ma. Tapi, nggak bergerak buka pintu. Nungguin istrinya dulu yang buka,” ujar Damar pada Diana sembari geleng-geleng kepala melihat Devan si gunung Es.
“Ish, nggak usah banyak cela Devan. Kamu juga, ‘kan gitu. Nungguin aku dulu yang buka. Kau nggak, nggak akan masuk tuh tamu ke rumah,” balas Diana membuat Damar tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal.
Sedangkan Melisa yang berjalan di belakang mereka. Ikut tersenyum sambil berkata dalam hati. Ternyata, anak sama bapak. Sama saja.
Diana berjalan cepat menghampiri Devan yang masih belum menyadari kehadiran mereka. Hingga, Diana duduk di depannya. Barulah Devan menyadari kalau tamu yang sudah hampir merusak bel di rumahnya adalah mamanya sendiri.
Mata Devan membulat kaget. Cepat-cepat Devan melipat kembali koran dan menyimpannya di atas meja sembari membenahi posisi duduknya. Devan menatap mama, papa dan Melisa secara bergantian.
“Mama, Papa?” ujar Devan kaget.
“Ck, kaget gitu? Udah kaya lihat hantu saja kamu.” Diana mendengus melihat ekspresi Devan saat melihat mereka datang.
“Tahu, bukannya menyambut orang tuanya dengan baik. Ini malah nyambut dengan ekspresi begitu.” Damar ikut menimpali.
Sedangkan Melisa hanya diam dan masih berdiri tak jauh dari mereka. Devan menarik nafas panjang, ia mencoba menormalkan ekspresi wajahnya. Bukan apa-apa, Devan tahu. Semua akan berakhir tidak baik-baik saja saat kedua orang yang duduk di depannya itu datang. Pasti, akan ada hal yang akan membuat Devan merasa kesal.
“He’em...,” deheman Devan beberapa kali. “Mama sama Papa ada apa tiba-tiba datang kemari?” tanya Devan to the point.
Diana memutar bola mata jengah. “Lihat anakmu, Pa. Orang tuanya datang, bukannya menanyai kabarnya. Malah ditanya buat apa kesini. Nggak sekalian ditanya, kapan pulang?” ledek Diana.
Devan menghembuskan nafas kasar. Selalu seperti itu, Devan akan selalu serba salah kalau bertemu dengan Mamanya. Pikir Devan.
“Bukan begitu, Ma. Tapi, ‘kan Devan cuman mau tau—“
“Ck, sudahlah. Kamu memang selalu seperti itu,” sela Diana cepat dengan memasang wajah cemberut. Devan bingung dengan sikap mamanya yang seola-olah seperti anak ABG. Devan mengusap wajahnya kasar.
“serba salah saja,” gumam Devan pelan.
Melisa yang sudah berdiri di samping Devan hanya diam tak mengatakan apa-apa. Damar yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Melisa dan Devan seperti ada yang aneh pada keduanya. Tidak tahu kenapa, tapi Damar merasa ada yang tidak beres dengan dua orang ini.
Bersambung!!!