Rencana HoneyMoon

1587 Words
“He’em...,” deheman Devan beberapa kali. “Mama sama Papa ada apa tiba-tiba datang kemari?” tanya Devan to the point. Diana memutar bola mata jengah. “Lihat anakmu, Pa. Orang tuanya datang, bukannya menanyai kabarnya. Malah ditanya buat apa kesini. Nggak sekalian ditanya, kapan pulang?” ledek Diana. Devan menghembuskan nafas kasar. Selalu seperti itu, Devan akan selalu serba salah kalau bertemu dengan Mamanya. Pikir Devan. “Bukan begitu, Ma. Tapi, ‘kan Devan cuman mau tau—“ “Ck, sudahlah. Kamu memang selalu seperti itu,” sela Diana cepat dengan memasang wajah cemberut. Devan bingung dengan sikap mamanya yang seola-olah seperti anak ABG. Devan mengusap wajahnya kasar. “serba salah saja,” gumam Devan pelan. Melisa yang sudah berdiri di samping Devan hanya diam tak mengatakan apa-apa. Damar yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Melisa dan Devan seperti ada yang aneh pada keduanya. Tidak tahu kenapa, tapi Damar merasa ada yang tidak beres dengan dua orang suami istri ini. “Melisa, kenapa berdiri di situ, Nak? Ayo, sini duduk!” Damar menggeser duduknya dan menepuk sofa di sisi tengah antara dirinya dan Diana. Diana, Devan kompak melirik ke arah Melisa yang berdiri di samping Devan. Melisa mengangguk sembari tersenyum canggung. Diana baru menyadari kalau Melisa sejak tadi berdiri di sana. Ia balas tersenyum ke arah menantunya itu. Sementara Devan, ia hanya diam dan memutuskan pandangannya ke arah kedua orang tuanya. “Iya, Nak. Sini, duduk bareng kami. Mama sampai lupa kamu ada di situ. Semua itu, karena anak gunung Es itu,” cibir Diana pada Devan yang mendengus mendengarnya. “Iya, Ma. Biar Melisa berdiri di sini saja,” tolak Melisa halus. “Ck, kenapa, kamu takut sama dia? Apa dia melarangmu untuk duduk di—“ “Ish, Ma. Berhenti menuduhku yang tidak-tidak,” sela Devan cepat sembari menoleh ke arah Melisa yang menundukkan pandangannya takut membalas tatapan Devan. “Ayo, sana duduk di dekat mertuamu!” perintah Devan sembari menekan kata mertua. Diana mencebikkan bibirnya ke arah Devan. Sedangkan Damar hanya menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan istrinya, yang sudah hampir anak SD yang bertengkar permen. “Melisa, sini, Nak!” panggil Damar lagi. Melisa menatap Devan terlebih dahulu yang juga sedang menatapnya datar, lalu beralih menatap dua mertuanya. Diana mengangguk memberinya isyarat agar mendekat. “Eum... Nggak usah, Pa. Melisa mau ke dapur dulu buat sarapan,” ucap Melisa membuat alasan. “Papa sama Mama minum teh apa kopi?” “Nggak perlu! Mama dan Papa nggak lama, kok, di sini. Mending kamu ke sini dulu, deh. Ada yang Papa sama Mama ingin beritahukan pada kalian berdua,” ujar Diana. Meskipun ragu, Melisa tetap bergerak maju dan duduk di tengah-tengah di antara dua mertuanya. Diana mengelus lembut kepala Melisa sembari tersenyum. Melisa hanya menunduk canggung. Sedangkan Devan memutar bola mata jengah. Yang anaknya ini siapa, sih? Melisa atau aku? Menyebalkan, batin Devan kesal. “Bagaimana kabar kamu, Nak?” tanya Diana. “Baik, Ma. Mama sama Papa gimana kabarnya?” tanya Melisa juga. “Alhamdulillah, baik, Nak.” Damar tersenyum senang karena telah mewujudkan mimpinya bermenantukan Melisa anak sahabatnya. Untuk mencapai di titik ini, Damar harus berjuang keras. Bahkan, ia harus melawan anaknya sendiri. “Mama ada yang mau disampain? Tentang apa?” tanya Devan tanpa basa-basi. Diana melirik ke arahnya, lalu memutar bola mata jengah. Diana masih ingin berbincang-bincang dengan Melisa, tapi Devan selalu mengacaukannya. “Ck, mengganggu sekali dia.” Diana menggumam tidak suka. Sementara Devan tidak peduli itu. Diana lalu melirik suaminya, memberi isyarat untuk Damar saja yang menyampaikannya pada Devan dan Melisa. Diana malas berbicara dengan Devan yang terlalu kaku. Damar membenahi posisi duduknya sembari menarik nafas terlebih dahulu sebelum berkata, “Begini ... Papa sama Mama sudah memboking tiket pesawat dan hotel untuk kalian Honeymoon ke Bali,” jelas Damar. Baik Devan maupun Melisa sama-sama terkejut mendengar penjelasan Damar. “Honeymoon?” ujar Devan dan Melisa hampir berbarengan. Sontak Diana dan Damar saling bersitatap sebentar dengan tersenyum penuh makna, lalu menatap ke arah Melisa dan Devan bergantian. “Wih, kompak banget. Lihat, tuh, Pa. Mereka romantis banget, ya,” goda Diana pada keduanya. Melisa sudah menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Sedangkan Devan mendengus sebal. “Iya, Ma. Papa, ‘kan sudah bilang. Mereka itu memang cocok sudah jodoh,” ucap Damar ikut menimpali. “Iya, Pa. Manis banget,” ujar Diana lagi sembari terkekeh. “Ck, norak.” Devan berkata dengan pelan, tapi masih bisa didengar oleh Damar dan Diana. Diana melirik Devan dengan tatapan mautnya. Tajam sekali. Diana mendengus sebal ke arah Devan. “Diam kamu!” “Ck, Ma, Pa. Serius kalian sudah memesan tiket pesat dan booking hotel?” tanya Devan mengalihkan pembicaraan. Damar mengangguk mengiyakan. “Iya, serius. Tiketnya bahkan udah ada. Ma, tiketnya dibawa, ‘kan?” tanya Damar pada Diana. “Iya, Pa. Bawa, kok.” Diana menggeledah tasnya, dan mengambil dua tiket pesawat untuk Devan dan Melisa. “Nih, tiketnya.” Diana menyerahkan dua tiket itu pada Devan. “Ck, kenapa nggak bilang dulu sama Devan, sih?” protes Devan tanpa menerima tiket yang disodorkan oleh mamanya. Ia hanya melihatnya sepintas. Sementara Diana menghela nafas kasar lalu meletakkannya di atas meja. “Memang kenapa? Bukannya bagus. Kamu harusnya senang, ‘kan. Kamu nggak repot lagi buat rencanain akan kemana untuk honeymoon, atau kamu punya tempat sendiri? Bilang saja! Biar Papa yang pesan—“ “Enggak, Pa. Aku nggak punya tempat ke mana pun, untuk honeymoon. Karena aku dan Melisa tidak akan ke mana-mana. Kami tidak akan honeymoon,” potong Devan cepat. Kedua orang tuanya mengernyit heran mendengar Devan mengatakan hal tersebut. Sedangkan Melisa, tidak heran. Sebab, ia tahu alasan Devan tidak ingin pergi untuk honeymoon bersamanya. “Kenapa begitu?” tanya Diana heran. “Iya, kenapa kamu nggak akan mau pergi honeymoon? Bukankah, setiap pengantin baru akan merencanakan hal semacam ini? Lalu, kamu? Ada apa? Apa ada hal yang kami tidak ketahui tentang kalian?” cecar Damar sengaja memancing Devan. Melisa sudah takut, jantungnya berdebar kencang. Sementara Devan menghela nafasnya kasar, ia merutuki dirinya yang sudah salah berbicara pada dua orang tuanya yang sangat jeli ini, serta rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Alis Damar terangkat sebelah, ia memperhatikan raut wajah keduanya. Dan benar, firasat Damar memang benar. Devan dan Melisa ada sesuatu yang tidak sehat di antara mereka. Namun, apa? Hal itu yang masih Damar belum ketahui. “Devan, kamu menjelaskannya?” tanya Damar kembali meminta Devan untuk menjelaskan alasannya mengatakan hal tadi. Devan menarik nafas panjang, ia terdiam mencari kata yang tepat. Agar, Papa dan Mamanya tidak sampai tahu tentang hubungan mereka berdua. Juga, agar Devan tidak lagi salah bicara. “Eh, anu, Pa. Maksudku ... Aku, ‘kan cutinya susah buat dapat. Makanya, nggak akan honeymoon ke mana-mana. Lagian, nggak harus honeymoon, ‘kan?” “Masalah cuti kamu. Biar Papa yang urus,” ujar Damar sembari memerhatikan raut wajah Devan yang seperti tidak suka. “Jadi, nggak akan ada alasan lagi.” Diana mengangguk. “Ya, kalau masalah cuti, ‘kan ada Papa. Jadi, kamu tidak perlu khawatir.” Devan kembali terdiam tak tahu akan bicara apa lagi. Sementara Melisa, dia pun ikut diam tak tahu harus mengatakan apa. Agar kedua mertuanya membatalkan rencana mereka. Sebab, Melisa tahu kalau Devan akan sangat kesal akan rencana honeymoon ini. Melisa melirik suaminya yang juga meliriknya dengan tatapan tajam seperti biasa. Sangat menakutkan bagi Melisa. Jelas terlihat di sana. Devan sangat kesal padanya. Melisa cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ia takut kalau harus bersitatap dengan Devan. Seolah tatapan Devan benda tajam yang dapat melukainya kalau terus ditatap. *** “Mama sama Papa, pamit dulu ya, Sayang. Kamu baik-baik sama suami kamu. Kalau dia ada apa-apain kamu, bilang sama Mama!” Diana memeluk Melisa sembari menatap tajam ke arah Devan yang hanya menghela nafas kasar mendengarnnya. “Iya, Ma. Mama sama Papa hati-hati ya.” Diana mengurai pelukannya sembari tersenyum dan mengangguk mengiyakan. “Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati. Suami kamu menakutkan,” ucap Diana memelankan suaranya di akhir kalimatnya sembari melirik Devan. “Ck.” Devan mendecak tidak suka. “Kami pamit dulu, ya, Melisa. Kamu baik-baik, ya.” Melisa mengangguk sembari mencium tangan mertuanya. “Iya, Pa.” “Ck, kaya Devan berbahaya saja. Melisa disuruh hati-hati mulu,” gerutu Devan tidak suka. Damar hanya tertawa sembari melirik Devan. Sementara Diana mendengus. Sedangkan Misa hanya diam dan merasa tidak enak. “Memang berbahaya,” gumam Diana. “Ya sudah, Mama dan Papa pergi, ya.” Diana kembali berpamitan pada Melisa membuat Devan menarik nafas berat. “Ck, pamit muluh, tapi nggak jadi pergi,” ledek Devan. “Ish, anak ini. Menyebalkan sekali astaga.” Diana lalu berbalik lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Damar hanya terkekeh melihat Diana dan Devan. Mereka berdua menang tidak pernah akur. Selalu ada saja hal yang akan membuat mereka berdua saling berdebat. “Ya, sudah, Dev. Papa sama Mama pergi dulu. Ingat! Tiga hari lagi, kalian berangkat.” Damar kembali mengingatkan Devan tentang Honeymoon mereka yang membuat Devan menghela nafas kasar. “Ya, Pa. Devan ingat.” Damar kembali tertawa. Lalu, berjalan pergi benar-benar pergi meninggalkan rumah Devan dan Melisa. Menyisakan Devan dan Melisa berdua. Melisa menutup pintu dengan Devan yang berjalan masuk dengan perasaan dongkol. Melisa menghela nafasnya kasar. Ia berbalik dan melihat suaminya sudah berjalan lebih dulu. Melisa menarik nafas panjang. Melisa tahu, Devan pasti sangat kesal. Karena Melisa tahu, Devan pasti sangat tidak setuju dengan rencana Honeymoon itu. “Ya Tuhan, kenapa serumit ini, sih?” gumam Melisa sembari berjalan masuk ke dalam rumah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD