08
Pertanyaan Farzan tadi siang masih terngiang-ngiang di telinga Tanti. Dia tidak menduga jika Farzan akan menanyakan hal yang selama itu menjadi kebimbangan hatinya.
Tanti tadi tidak menyahut. Dia hanya menggeleng tanpa menjelaskan apa pun. Bagi Tanti, itu sangat privasi. Meskipun mereka akan menikah, Farzan tidak perlu mengetahuinya.
Malam kian larut. Tanti memasuki kamarnya dan mematikan lampu utama. Dia berpindah ke meja rias untuk menyalakan lampu kecil, kemudian mencabut kabel pengisi daya dan meraih ponselnya.
Tanti menghempaskan badan ke tepi tempat tidur. Dia membuka kunci layar ponsel dan mengecek puluhan pesan yang masuk. Satu nama yang mengirimkan banyak pesan membuat Tanti berdecih. Dia mengabaikan pesan-pesan itu dan beralih berselancar dalam dunia maya.
Dering ponselnya menyebabkan Tanti menjengit. Dia mengamati nama pemanggil, sebelum mendengkus kuat. Namun, Tanti akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan, karena tahu orang yang menelepon tidak akan berhenti sampai dia mengangkatnya.
"Ya, Mas," sapa Tanti sembari menahan rasa kesal dalam hati.
"Assalamualaikum," ucap Yosrey.
"Ehm, ya, Waalaikumsalam."
"Pesan-pesanku, masuk nggak?"
"Ya."
"Kenapa nggak dibalas?"
"Tidak harus, kan?"
"Aku menunggu kepastianmu."
"Semua sudah kujelaskan waktu itu, dan tadi acara lamaran sudah berlangsung."
Sesaat hening. Tanti hanya mendengar helaan napas Yosrey dari seberang telepon. Perempuan berkaus ungu itu memejamkan mata. Sudut hatinya tercubit, karena menyadari bila rasa sayang pada laki-laki di seberang telepon itu, masih ada.
"Berhentilah menghubungiku, Mas. Aku akan segera menikah," tukas Tanti sembari membuka mata.
"Aku masih mencintaimu," balas Yosrey.
"Lupakan aku."
"Tidak bisa."
"Lanjutkan saja hubungan Mas dengannya. Dia pasti nggak akan nolak."
"Aku yang nggak mau. Aku cuma pengen kamu yang jadi istriku."
"Sekali lagi kukatakan, aku akan segera menikah, Mas. Jadi ...."
"Aku akan menunggu sampai kalian berpisah!"
Telepon diputus Yosrey tanpa berpamitan. Tanti tergemap, kemudian menggeleng pelan. Dia merebahkan tubuh, lalu memejamkan mata.
Pelupuk matanya yang memanas akhirnya mengeluarkan bulir bening. Tanti terisak-isak menangisi nasibnya yang tidak beruntung dalam hal percintaan.
Sementara itu di kamarnya, Yosrey juga tengah berbaring. Dia menatap langit-langit yang memancarkan wajah Tanti. Pria berkaus putih itu merutuki diri. Akibat tingkahnya di masa lalu, kini dia harus kehilangan perempuan kesayangan.
Yosrey memejamkan mata. Dia merindukan sosok perempuan yang masih dicintainya sepenuh hati. Berkali-kali Yosrey mengucapkan maaf dan menyatakan penyesalan, tetapi hal itu tidak mengubah keputusan Tanti untuk menikahi pria lain.
Yosrey sudah mencari tahu tentang calon suami Tanti. Dia akhirnya paham kenapa perempuan tersebut mau menikahi lelaki bersama Farzan. Selain tampan, pria itu merupakan anak pengusaha yang cukup terkenal di Bandung, dan pastinya berlimpah materi.
Pria berhidung tidak terlalu mancung tersebut menggeleng pelan. Sebelum menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya sekali waktu. Yosrey sadar dirinya mungkin tidak akan bisa bersaing dengan Farzan. Namun, dia tetap akan menunggu Tanti, meskipun tidak tahu kapan perempuan itu akan berpisah dengan Farzan.
***
Waktu terus bergulir. Siang itu Tanti ditelepon Farzan yang mengajaknya menemui Ristin. Walaupun Tanti was-was akan penerimaan perempuan yang akan menjadi madunya, tetapi dia tetap ingin berjumpa.
Sore harinya, seusai bekerja, Tanti mengemudikan mobil sedan putihnya menuju tempat pertemuan. Lalu lintas yang padat menjadikan perjalanannya terhambat. Hingga akhirnya Tanti tiba di tempat tujuan meski terlambat beberapa menit dari waktu yang disepakati.
Tanti memasuki ruangan luas yang cukup ramai orang. Dia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari Farzan. Kala lelaki itu melambaikan tangan, Tanti segera menyambangi meja yang berada di sudut kanan.
"Halo, aku Tanti," sapa Tanti sembari mengulurkan tangannya.
"Hai, aku Ristin," balas perempuan berambut sepundak sambil menyalami gadis di kursi seberang.
"Maaf, aku terlambat. Tadi di jalan macet banget," ungkap Tanti.
"Enggak apa-apa. Kami juga baru datang," sahut Ristin.
"Mau pesan apa, Ti?" tanya Farzan yang duduk berdampingan dengan Ristin.
Tanti mengambil buku menu yang diulurkan pria berkemeja biru muda. Lalu dia berkata, "Aku mau struddle aja. Minumannya, es lemon tea."
Farzan memanggil pelayan restoran yang segera mendatangi dan mencatat pesanan mereka. Setelah pelayan pergi, Farzan memulai pembicaraan dengan menunjukkan kertas yang berisikan poin-poin kesepakatan pra nikah.
"Dibaca dulu, Ti. Kalau ada yang mau ditambahkan, langsung tulis aja. Nanti kuketik di rumah," cetus Farzan.
Selama beberapa saat berikutnya, Tanti membaca setiap detail dengan teliti. Farzan memandangi perempuan berhidung mancung itu lekat-lekat, tanpa menyadari bila dirinya tengah diperhatikan sang kekasih.
Ristin menggerutu dalam hati. Dia mulai curiga bila Farzan sepertinya menyukai Tanti. Ristin menepuk paha kekasihnya yang spontan menjengit. Kala Farzan menoleh, perempuan berbibir penuh itu mendelik tajam padanya.
Farzan ingin bertanya, tetapi diurungkannya, karena mendengar panggilan Tanti. Dia mengarahkan pandangan pada perempuan yang lebih muda untuk mendengarkan penjelasan calon istrinya.
"Ini sudah cukup lengkap, Mas. Aku hanya menambahkan beberapa hal, yaitu tentang asisten rumah. Biar aku nggak sendirian kalau Mas ke tempat Ristin," ungkap Tanti sembari menuliskan apa yang dimaksudkannya.
"Ada lagi?" tanya Farzan.
"Kalau misalnya Mas di sana, apa aku boleh menginap di rumah orang tuaku?" Tanti memandangi pria yang terlihat tengah berpikir. "Nanti alasannya, Mas sedang ke luar kota. Agar mereka tidak curiga," lanjutnya.
"Ehm, ya, boleh."
"Lalu, bagaimana tentang kunjungan ke orang tua Mas?" Tanti mengalihkan pandangan pada Ristin. "Kita harus mengunjungi mereka, bukan?" tanyanya.
"Sepertinya bagian itu, aku skip," jawab Ristin. "Mas boleh pergi dengan kamu, Ti," bebernya.
Tanti mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kita bisa mengunjungi mereka sama-sama."
Ristin menggeleng. "Aku tahu, kalau orang tua Mas tidak menyetujui hubungan kami. Jadi, percuma saja aku mendekatkan diri pada mereka. Apalagi kalau bersamamu, jelas-jelas aku akan diabaikan."
Tanti terkesiap. "Maaf, tapi aku nggak paham."
"Mereka nggak suka sama aku."
"Tentang itu, kita bicarakan nanti," sela Farzan. Dia tidak mau jika hal itu akan menjadi perdebatan antara kedua perempuan tersebut. "Ti, ada lagi yang mau ditambahkan?" desaknya.
"Untuk sementara, sudah cukup," ungkap Tanti. "Tapi kalau nanti ada tambahan, boleh?" tanyanya. "Tenang aja, aku nggak akan minta hal-hal aneh," bebernya seraya mengulaskan senyuman.
"Ya, boleh," pungkas Farzan. "Batas waktunya, sehari sebelum aku menikahi Ristin. Setelah itu, kamu tidak bisa menambah apa pun," terangnya.
Tanti mengangguk. Dia mengembalikan lembaran kertas pada Farzan, kemudian berdiri untuk berpamitan ke toilet. Ristin memperhatikan hingga calon madunya menghilang di belokan. Dia mengalihkan pandangan pada lelaki berkumis tipis, lalu menyenggol lengan Farzan yang tengah memandangi kertas.
"Aku tetap nggak mau berkunjung ke rumah orang tua Mas," tutur Ristin.
"Ya, nggak apa-apa," balas lelaki bermata sendu. "Tapi kamu nggak boleh marah kalau aku ke sana sama Tanti," pintanya.
"Hu um. Tapi usahakan jangan menginap."
"Itu kayaknya sulit. Ayah dan Ibu pasti ingin kami menginap sekali-sekali. Begitu pula keluarga Tanti."
"Gimana kalian bisa misah tidurnya kalau sekamar?"
"Kamu nggak percaya sama aku?"
"Ya. Terutama, karena dia ternyata lebih cantik dariku."
"Aku cintanya sama kamu, Ris. Tolong, percayalah. Aku pasti bisa jaga diri."
"Sekarang Mas ngomong gitu. Kalau sudah menikah, pasti beda. Apalagi dia juga halal buat Mas."
Farzan hendak menyanggah, tetapi diutundanya, karena kehadiran pelayan yang segera menghidangkan makanan dan minuman. Setelah pelayan pergi, Farzan memegangi tangan Ristin yang refleks menepisnya.
"Kamu cemburu?" tanya Farzan.
"Entahlah. Aku lagi nggak bisa mikir!" ketus Ristin.
"Jangan cemburu. Aku cuma cinta sama kamu."