Bab 09

1065 Words
09 Beberapa hari telah berlalu dari pertemuan terakhirnya dengan Farzan. Siang itu, pria berkumis tipis tersebut tiba-tiba datang ke kafe, dan mengajak Tanti menemui ibunya. Meskipun bingung, perempuan berkulit kuning langsat itu tetap memenuhi permintaan laki-laki berkemeja hijau lumut. Sepanjang perjalanan, Farzan mengajak Tanti berbincang mengenai bisnis. Dia dan teman-temannya berencana membangun resor di Lembang. Farzan mengajak Tanti untuk menjadi rekanan yang khusus menyediakan pastry dan berbagai macam kue. "Ya, Mas. Aku mau," ungkap Tanti sembari memandangi Farzan dengan sorot mata berbinar-binar. "Oke. Senin depan, meeting pertama. Kamu mesti ikut," terang Farzan. "Acaranya di mana dan jam berapa?" "Ruang rapat hotel. Nanti kamu bisa sekalian diskusi dengan wedding organizer. Mungkin ada masukan sebelum mereka mempersiapkan dekorasi untuk resepsi kita." "Semuanya sudah kuserahkan sama Bunda dan Ibu. Biar mereka yang urus tentang itu. Aku cuma mau fokus pada diri sendiri." Farzan melirik sekilas, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Kamu kentara sekali terpaksa menikahiku." Tanti mendengkus pelan. "Aku mau menolak juga nggak bisa. Orang tua kita begitu bersemangat, dan aku nggak mau mengecewakan mereka." "Berakting sedikit kali ini. Tunjukkan bahwa kamu cukup antusias. Jangan sampai Ibu curiga." "Hu um." Farzan kembali melirik, sebelum memalingkan wajah ke kanan. Dia tahu jika Tanti tidak semangat untuk menikah. Demikian pula dengan dirinya. Farzan teringat Ristin yang setiap malam akan menelepon, untuk melaporkan kemajuan persiapan pernikahan mereka. Farzan mengerutkan dahi. Dia baru menyadari jika semenjak Tanti menerima perjodohan, hanya Farzan yang akan menelepon atau mengirimkan pesan terlebih dahulu. Sedangkan Tanti tidak pernah melakukan itu. Pria bermata sendu tersebut menghela napas berat, sebelum mengembuskannya sekali waktu. Entah kenapa, dia berkeinginan agar Tanti juga sama antusiasnya dengan Ristin, dalam menyambut hari besar mereka. Farzan menggeleng pelan untuk mengusir pemikiran tersebut. Dia menyadari bila Tanti tidak mencintainya, hingga tidak mungkin bisa mengharapkan gadis berhidung mancung di sebelahnya akan bersemangat menyambut hari pernikahan. Setibanya di tempat tujuan, Farzan memarkirkan mobil dengan rapi. Dia baru hendak turun ketika Tanti telah membuka pintu kiri, kemudian keluar. Farzan bergegas turun. Dia mengunci pintu, sebelum menyusul Tanti yang telah melenggang menuju pintu masuk pusat perbelanjaan. Farzan menarik tangan kiri Tanti yang spontan terkesiap. Perempuan berambut sebahu itu hendak bertanya, tetapi lelaki berkumis tipis telanjur mengaitkan tangan mereka. "Mas, lepasin," bisik Tanti sambil berusaha menyejajarkan langkah mereka. "Ini akting," tutur Farzan. "Nanti saja, kalau sudah di depan Ibu." "Ini sudah dekat." "Hmm?" Farzan tidak menyahut, melainkan mengarahkan badan ke kiri. Tanti mengikuti gerakan sang pria yang memasuki toko perhiasan. Perempuan berbibir tipis tersebut spontan mengulaskan senyuman, ketika menyaksikan Nuri dan Jihan tengah memandangi dirinya. Tanti melepaskan pegangan Farzan. Dia menyalami Nuri dengan takzim, sebelum berpindah untuk bersalaman dengan Jihan. Ketiga perempuan berbeda tampilan itu berbincang basa-basi, kemudian Nuri meminta calon menantunya tersebut untuk memilih set perhiasan sebagai mahar. Tanti kebingungan ketika diminta memilih. Dia memandangi Farzan, seolah-olah meminta bantuan. Pria berambut tebal itu mengulum senyuman. Ekspresi wajah Tanti yang seperti itu terlihat lucu baginya. "Tiga ini, bagus menurutku," cakap Farzan. Mau tidak mau dia harus membantu calon istrinya. "Ehm, ya." Tanti menunjuk set perhiasan kedua. "Aku suka yang ini, sederhana, tapi tetap indah," lanjutnya. Farzan mengangguk. "Cocok denganmu yang nggak neko-neko." Tanti mengulaskan senyuman. "Ya, udah, itu aja." "Ada tambahan endak?" tanya Nuri. "Moso' cuma satu set? Buat antarannya, mana?" desaknya. Tanti kembali melirik calon suaminya. Farzan berpikir sesaat, kemudian menunjuk set perhiasan pertama. Dia menatap Tanti, lalu mengarahkan dagu ke kotak merah. "Mau yang itu?" Farzan mendekatkan diri pada Tanti hingga tangan mereka menempel. Perempuan berbaju abu-abu itu terkejut, kemudian dia cepat-cepat mengangguk. "Ehm, ya, aku mau," cicitnya sembari menggeser tangan menjauhi pria yang tengah menatapnya lekat-lekat. Tanti mengarahkan badan ke kiri untuk melanjutkan percakapan dengan Nuri dan Jihan. Perempuan bermata cukup besar itu berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang, akibat bersentuhan dengan lelaki yang masih mengamatinya saksama. Farzan tertegun saat Jihan menjulurkan lidah meledeknya. Pria berparas manis itu tersenyum malu-malu, akibat ketahuan tengah memerhatikan calon istrinya. Farzan menyugar rambut, kemudian mengarahkan badan ke depan untuk berbincang dengan pegawai toko. *** Rinai hujan membasahi bumi sejak sore tadi. Jalanan yang biasanya ramai, menjadi lengang. Hanya kendaraan roda empat yang melintas, sedangkan pengendara motor nyaris tidak terlihat. Tanti duduk di sofa dekat jendela sambil membaca novel yang sejak lama tertunda penyelesaiannya. Perempuan berkaus merah muda itu begitu tenggelam dalam bacaan, hingga tidak menyadari jika ponselnya sejak tadi berkedip-kedip. Tanti sengaja membisukan volume agar tidak terganggu. Dia baru melihat kedipan lampu kecil ponsel ketika berdiri, dan hendak mengambil gelas di meja rias. Tanti meraih telepon genggam, kemudian mengecek siapa yang telah menghubunginya belasan kali. Nama Yosrey yang tercantum sebagai pemanggil membuat Tanti berdecih. Dia bingung kenapa pria itu masih kukuh menghubunginya, walaupun sering diabaikan. Akan tetapi, setelah membaca pesan yang dikirimkan Yosrey, mau tidak mau Tanti akhirnya menelepon balik pria tersebut. Deringan kedua panggilan diangkat dan suara Yosrey terdengar mengucapkan salam. "Waalaikumsalam," balas Tanti. "Ada apa, Mas?" tanyanya tanpa berbasa-basi. "Kamu sudah lihat foto yang kukirim tadi?" Yosrey balik bertanya. "Yang mana?" "Lihat pesan pertama." Tanti menjauhkan ponsel untuk mematikan panggilan. Dia menggulirkan jemari ke aplikasi hijau berlogo gagang telepon putih. Banyaknya pesan yang dikirimkan Yosrey menjadikan Tanti harus menggeser percakapan ke atas. Sepasang mata beriris cokelat itu membeliak kala menyaksikan foto sepasang manusia yang dikenalinya. Tanti bingung bagaimana caranya Yosrey mendapatkan foto itu. Dia hendak menghubungi sang mantan kekasih, tetapi pria tersebut telanjur menghubunginya terlebih dahulu. "Apa maksud Mas mengirimkan foto itu padaku?" tanya Tanti. "Kamu harus tahu siapa sebenarnya calon suamimu, Ti," jelas Yosrey. "Itu mantan pacarnya, dan mereka sudah putus lama." Tanti mengarang cerita agar Yosrey tidak curiga. "Itu foto yang baru beberapa hari diunggah ceweknya. Masa udah putus lama, tapi fotonya baru diupload?" "Mana kutahu. Mas aja yang tanya perempuan itu, kenapa masih mengunggah foto mereka." Tawa Yosrey terdengar dari seberang telepon. Tanti menggigit bibir bawah, karena cemas jika pria tersebut akan mengetahui sandiwaranya bersama Farzan. "Dari awal aku sudah feeling kalau kalian memang bukan pasangan, Ti," papar Yosrey setelah tawanya menghilang. "Aku juga curiga, kalian terburu-buru menikah, mungkin ingin menutupi sesuatu. Benar, kan?" desaknya. Tanti mengepalkan tangan kiri. Dia gusar, karena Yosrey seolah-olah tengah mengejeknya. "Itu urusan kami. Tidak ada sangkut-pautnya dengan Mas. Lagi pula, aku bebas menentukan hendak menikah dengan siapa. Yang penting aku nggak selingkuh di belakang kekasih. Atau harus mengarang cerita tengah dinas ke luar kota yang jelas-jelas bohong!" Tanti memutus sambungan telepon dan menonaktifkan ponselnya. Tanti sangat khawatir dan mencoba berpikir keras untuk mencari solusi, supaya sandiwaranya dengan Farzan tidak terbongkar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD