Bab 10

1043 Words
10 Tanti jalan mondar-mandir sepanjang ruang kerja. Dia sekali-sekali akan melirik pergelangan tangan kanan untuk mengecek arloji. Detik demi detik menunggu terasa begitu lama bagi perempuan berbaju abu-abu. Kala ponselnya berbunyi, dia segera mengangkatnya. Tidak berselang lama Tanti sudah jalan menyusuri tangga. Setibanya di lantai satu, dia menyambangi pria berkemeja biru tua, yang tengah duduk di kursi dekat meja kasir. Setelah menempati kursi seberang Farzan, Tanti langsung menceritakan tentang perdebatannya kemarin malam dengan Yosrey. "Ternyata dia benar-benar mencari tahu tentang Mas lewat akun i********:. Jadi, waktu Ristin men-tag Mas, kebukalah semuanya," tutur Tanti. Farzan mendengkus pelan. Dia tidak menduga jika Yosrey akan menggali informasi tentang dirinya. "Akunnya apa? Biar kublokir," cakapnya. "Kupikir dia pakai akun palsu. Akan ketahuan kalau dia gunakan akun asli." "Ehm, ya, benar juga." "Tolong sampaikan ke Ristin, untuk sementara jangan up apa pun yang berhubungan dengan Mas. Kuduga dia juga follow Ristin." Farzan mengangguk. Dia mengambil ponselnya dari meja, lalu mengetikkan pesan untuk Ristin. Tidak lama setelah dikirimkan, perempuan berparas manis itu membalas dengan menunjukkan kemarahan. Farzan : Nanti kita bicarakan lagi. Ristin : Nanti kapan? Farzan : Malam ini aku ke tempatmu. Ristin tidak menyahut. Dia mematikan ponsel, kemudian meletakkan benda itu ke meja. Perempuan berambut sepundak, merasa kesal karena Tanti mulai mengatur. Dia benar-benar tidak suka jika ada yang membatasi apa pun yang diunggahnya. Shireen yang menyaksikan tingkah temannya dari kubikel samping kanan, menggeser kursinya mendekati Ristin. Perempuan berambut panjang itu menyenggol siku rekannya yang spontan menoleh. "Ada apa?" tanya Shireen. "Perempuan itu, mulai ngatur-ngatur aku," jawab Ristin. "Ngatur gimana?" "Dia minta aku stop posting apa pun yang berhubungan dengan Mas." "Kenapa?" "Mantan pacarnya follow aku dan Mas. Mereka kemaren berantem lewat telepon. Setelah cowok itu lihat unggahanku." Shireen manggut-manggut. "Menurutku, nggak apa-apa kalau kamu stop menunjukkan apa pun yang berhubungan dengan Mas Farzan. Apalagi mereka akan segera menikah. Bakal jadi banyak pertanyaan dari orang-orang kalau kamu sibuk posting tentang rencana pernikahan kalian." "Pernikahan mereka cuma pura-pura! Hanya aku yang akan jadi pendamping utama Mas nanti." "Ya, tapi untuk setahun terakhir kamu akan jadi istri kedua. Mau kamu membela diri kayak apa pun, posisimu sebagai orang ketiga sudah jelas salah." "Dia yang orang ketiga. Bukan aku!" "Orang-orang nggak tahu tentang itu. Yang dilihat dan diketahui orang, kamu tetap pengganggu rumah tangga mereka." Ristin terdiam. Dia mengalihkan pandangan ke kiri, sebelum bangkit dan jalan menjauh. Perkataan Shireen menusuk hatinya dan menyebabkan Ristin gusar. Dia meneruskan langkah hingga tiba di kantin. Rasa panas dalam hati menjadikannya ingin melahap makanan yang pedas. *** Hari berganti menjadi minggu. Saat-saat pernikahan yang kian dekat membuat Tanti gelisah. Ditambah lagi dia harus dipingit, hal itu menjadikannya kian gundah. Sore itu, Nabila, sahabat Tanti sekaligus manajer kafe, datang. Mereka membahas pekerjaan selama belasan menit. Kemudian keduanya turun untuk menikmati bakso yang baru saja dipanggil, saat melintas di depan rumah. Bapak penjual bakso yang menjadi langganan Tanti sejak dulu, berulang kali terkekeh, karena dicandai Nabila. "Kamu, nih, iseng akut," keluh Tanti, sesaat setelah mereka duduk di kursi ruang tamu. "Mamangnya manis gitu, demen aku," balas Nabila, sebelum dia menyuapkan makanan ke mulutnya. "Pepet dan nikahi dia." "Ide bagus! Aku jadi bisa makan bakso gratis." "Nu gelo!" Keduanya serentak terbahak. Hingga mengejutkan orang-orang yang berada di ruang tengah. Saad dan Endang sudah terbiasa dengan tingkah kedua gadis yang akan heboh bila berkumpul. Mereka menggeleng kala tawa keduanya ditambahi Sovia, yang ikut berbincang dengan topik absurd. Zidane, anak Sovia yang tengah bermain mobil-mobilan di lantai, terlihat terkejut mendengar tawa mamanya. Dayyan yang menemani keponakannya bermain, mengalihkan perhatian lelaki kecil tersebut, dengan mengajak Zidane ke mini swalayan. Sementara itu di tempat berbeda, Farzan masih berkutat dengan pekerjaannya. Sebab esok hari dia akan cuti hingga seminggu berikutnya, Farzan sengaja lembur. Irwansyah, sahabat sekaligus asisten Farzan, memasuki ruangan. Dia menggeleng menyaksikan bosnya masih memaksakan diri untuk bekerja. Irwansyah menyambangi sahabatnya, kemudian duduk di kursi seberang meja. "Sudah setengah enam. Sampai kapan kamu mau nongkrong di sini?" tanya Irwansyah. "Sampai kerjaan selesai," balas Farzan. "Pulanglah. Mau nikah harus jaga stamina. Nggak lucu malam pertama kamu jadi loyo." "Omonganmu nggak jauh dari itu." "Itu, kan, tujuan menikah. Aku waktu itu, habis malam pertama, lanjut subuh pertama, pagi pertama, siang pertama dan sore pertama." "Dengkulmu sehat?" "Aman." "Aku sudah janji nggak akan nyentuh dia." Raut wajah Irwansyah berubah. "Itu namanya kamu nggak adil, Bro. Buat apa dinikahi kalau cuma buat ngikat dia? Harusnya jangan dituruti permintaan orang tuamu." "Aku nggak punya pilihan, Wan. Cuma Tanti yang bisa bikin Ayah luluh." "Kalau Ristin mau berusaha lebih keras, lama-lama orang tuamu akan sayang. Bukannya mengikat Tanti dan menjadikannya pajangan." Farzan menyandar ke belakang. Dia memijat pangkal dahinya yang tiba-tiba berdenyut. "Sudah terlambat untuk membatalkan semuanya." "Kalau begitu, cuma ada satu hal yang bisa kamu lakukan." Farzan menengadah. "Apa?" "Batalkan rencana pernikahanmu dengan Ristin, dan belajar mencintai Tanti." "Susah, Wan. Aku benar-benar cinta sama Ristin." "Tinggalkan dan lupakan dia. Jadikan Tanti istri satu-satunya. Dia cantik dan ramah. Kurasa nggak sulit untuk belajar mencintainya." Farzan menggeleng. "Usulmu bikin aku tambah bingung." "Karena usulanku tepat, kan?" "Entahlah. Aku nggak yakin bisa menjalaninya, karena di otakku cuma ada Ristin." Irwansyah berdecih. "Pokoknya, kalau nanti hatimu mendua, jangan curhat ke aku!" "Terus, aku curhat ke siapa?" "Sama tembok!" Farzan melemparkan kotak tisu yang segera ditangkap Irwansyah. Keduanya tertawa sesaat, kemudian menghentikan gelakak dan sama-sama berdiri. Farzan mengemasi meja kerjanya, lalu melangkah keluar bersama sahabatnya. Kedua pria berbeda tampilan itu melintasi deretan kubikel yang sepi, karena semua staf sudah pulang. Mereka memutuskan menuruni tangga daripada menggunakan lift. Setibanya di lantai satu, suasananya terlihat ramai, karena ada rombongan turis dari Italia yang baru tiba dan akan menginap di hotel itu. Farzan dan Irwansyah meneruskan langkah menuju tempat parkir. Mereka berpisah untuk memasuki mobil masing-masing. Farzan melaju terlebih dahulu. Dia tidak bisa mengebut, karena jalanan cukup padat. Melintasi sebuah toko bunga, Farzan berhenti. Dia memasang rem tangan sebelum turun dan jalan memasuki toko. Dia sempat bertanya-tanya pada pegawai, tentang bunga yang cocok untuk perempuan yang ceria. Tidak berselang lama Farzan sudah kembali berada dalam mobil. Sekali-sekali dia menggumamkan lirik lagu yang diputar dari radio. Sudut bibirnya membingkai senyuman saat membayangkan reaksi Tanti saat diberikan bunga. Farzan tidak tahu kenapa dia ingin mendatangi sang calon istri, dan memberikan bunga. Dia hanya ingin bertemu Tanti, setelah beberapa hari terakhir mereka tidak berjumpa, karena kesibukan masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD