103. Satu Minggu Lagi

1701 Words

“Benar kan? Kau pasti tidak akan datang untuk bimbingan lagi?” Lagi, Damar mengucapkannya. Ia menatap lurus pada kedua mata Priska. Menatap dengan dalam, tapi lembut. Ada kaca-kaca di matanya, yang membuat Priska harus memalingkan wajahnya. Sebelum dia akan luluh dibuatnya.  “Sekarang, terserah. Kamu akan datang bimbingan atau tidak. Aku tahu, kamu berhak marah. Ya aku yang salah. Kamu bisa marah sekarang. Penjelasannya sudah selesai.” Damar menutup penjelasannya. Dia duduk menyamping. Memberikan jalan untuk Priska. Gadis itu bisa kabur kapan saja. Dia tidak lagi membuatnya berada di pojok. Ia bahkan menggeser dirinya. Agar Priska lebih leluasa bergerak.  Tapi, gadis itu hanya diam di tempatnya. Degup jantungnya tidak karuan. Semua yang terjadi padanya terlalu rumit. Membuat kepalanya me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD