Kriiing kriiing kriiing...
"Egh.... hoaaaam.... " tanganku menggapai hape jadulku
"Halo..."
"ARTAAAAAAAAA KAMU MAU DATANG JAM BERAPA!" mataku lagsung terbelelak, kulihat layar hape tertera jam 11
"Eh a.. anu maaf wind, ketiduran"
"Harusnya itu pagi tahu! Kamu itu ugh ugh ugh"
"Ma.. maaf wind, segera meluncur ke tempatmu wind"
"Cepet! gue sendirian ni dikos. Untung pacarku gak ngapel. Cepetan!" tut
Sialan gara-gara semalam, kampret! Aku segera bergegas menuju ke kamar mandi. Suasana sepi, tak ada Samo dan Justi. Aku kelimpungan sendiri, memakai dandanan. Langsung keluar dari rumah kontrakan.
"Aduh hape" ucapku
Kembali lagi ke rumah kontrakan. Membuka pintu mengambil hape, keluar lagi.
"Aduh kenapa aku pakai celana pendek" ucapku, melihat celanaku masih celana pendek kolor
kembali lagi ke rumah kontrakan. Membuka pintu memakai celana panjang, keluar lagi.
"Aduh... kacamata" ucapku
kembali lagi ke rumah kontrakan. Membuka pintu mengambil kacamata, keluar lagi.
"Aduh... rokok" ucapku
Kembali lagi ke rumah kontrakan. Membuka pintu mengambil kacamata, keluar lagi. Kenapa juga aku bisa lupa segala hal. Segera berlari ke halte bis terdekat dan menuju ke tempat Winda. Aku duduk dan melihat keluar jendela, sebah pemandangan yang membuatku teringat akan kebahagiaan kecilku. Pohon-pohon itu seakan berjalan pergi kebelakang meninggalkan aku. Ah...
"Arta lu itu gimana sih?! gue kan sudah bilang minggu, emang gue gak bilang jam-nya ya paling tidak lu dateng pagi!" bentak Winda ketika aku sampai dikosnya
"I.. iya maaf..." ucapku
"Dasar cowok, selalu telat!' ucapnya masuk ke dalam kamar kosnya
"Ya udah, masuk! ngapain berdiri disitu! Mau ngamen!" ucapnya, kulihat rambutnya sebahu, celana pendek dan kaos ketat
"Maaf..." ucapku, langsung masuk
"Dah tuh kerjain lagi, gue mau tidur... tuh minuman dah dingin, tadi gue bikinin yang anget. Salah sendiri dateng telat!" ucapnya masih marah
Aku langsung kembali mengerjakan apa yang belum selesai. Menata setiap tulisan yang ada, menambahi, mengurangi, menghitung. Kenapa jadi aku yang mengerjakan sendiri? kenapa ini cewek malah tiduran sambil main hape. Sialan! Kalau cowok dah gue hajar ini, huh.
"Tampil beda ya lu ar?" ucap Winda tiba-tiba
"Eh... ndak wind" ucapku lalu aku menengok kebelakang dia hanya tersenyum dan kembali memainkan sematponnya
Setelah hampir 3 jam aku mengerjakan tugas, akhirnya selesai juga. Aku save dan kemudian aku mengopi melalui flashdisk 512 MB, jadul sih tapi bermakna bagiku. Bermakna? Sudah ndak punya uang lagi buat beli, ini saja beli bekas.
"Sudah ya?" ucap Winda, dudu disebelahku, memeluk kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Salah satu tangannya kemudian menggerakan kursor naik turun.
"Iiih... ganteng deh Arta" ucapnya, aku hanya senyum-senyum saja
"A.. aku pulang ya wind..." ucapku
"Ehhh tunggu dulu... maem dulu kaleee... awas kalau nolak!" ucapnya, berdiri dan mengambilkan makanan
"Nih makan" ucapnya, memberikan aku sepotong ayam goreng tepung dan nasi beserta saus
"I.. iya..." ucapku, dia kemudian duduk disebelahku sambil melihat tugas yang telah selesai
"Lu kok pinter sih ar? Gimana caranya?" ucapnya
"Nyammm...mmm glek... belajarmmmm..." ucapku
"Iya sih belajar, tapi betah juga lu belajar? Gue bau buku aja dah klenger hi hi hi kalau kepepet dibetah-betahin" ucapnya, aku hanya mengangguk karena mulutku penuh makanan
"Dah makan dulu, ntar ngobrolnya" ucap Winda
Segera aku selesaikan makanku. Kulihat dia mulai membaca tugas yang aku kerjakan. Perhatiannya semakin serius ke layar laptop, aku sedikit tersenyum melihatnya mulai antusias.
"Gue kok malah paham sama yang lu buat ya? daripada bu anglin yang nerangin" ucap Winda tanpa menoleh
"Ndak tahu..." jawabku, dia menoleh ke arahku
"Lu habis berantem?" ucapnya, mati aku, di wajahku pasti ada bekas memar. Aku mengangguk.
"Heran gue, anak culun kaya lu doyan berantem" ucapnya
"Di.. dihajar wind, aku ndak bisa kelahi" ucapku
"Kalo gue ngira, elu berantem bukan digebukin" ucap Winda
"Kok bisa..." ucapku
"Ada deeeeh..." balasnya
Hening sesaat, aku bingung kenapa Winda bisa mengira aku berkelahi tapi bukan di pukuli. Ah, daripada semakin dalam introgasinya mending pulang saja.
"Wi.. wind, aku pulang ya..." ucapku
"Aku anter, lu tunggu depan" ucapnya
"Ndak usah wind, beneran..." ucapku
"GU-E PE-NGEN TA-HU KOS LU!" ucapnya
"Eh,... ndak usah wind, aku pu.. pulang dulu" ucapku
"Lu pulang, gue hapus nama lu dari tugas!" ancamnya, aku hanya mampu menghela nafas dan keluar dari kamarnya. Selang beberapa menit...
Klek..
"Ayo..." ucapnya langsung memukul bahuku dengan telapak tangannya
"Eh... iya..." ucapku, cantik sekali, wajahnya berpadu dengan kerudung abu-abu, kaos ketat, jeans ketat
Aku mengikutinya dari belakang, dan masuk ke dalam mobilnya. Dalam perjalanan kami hanya diam saja, ternyata memang enak kalau punya kendaraan sendiri. Mau kemana-mana ndak perlu nunggu pak supir sama pak kernet.
"Jauh juga kos lu" ucapnya
"Bu bukan kos tapi kontrakan wind. Kalau dibandingkan kamar kos kamu jauh wind, mungkin kos kamu harganya bisa berlipat–lipat dari kontarakanku" ucapku
"Bisa aja lu, emang kaya apa kontrakan lu?" ucapnya
"I.. iya, Cuma tumpukan bata wind, lantainya aja semen sama pasir" ucapku
"Lu betah?" ucap Winda sembari menyetir mobil
"Be.. betah" ucapku
"Kalo gue mungkin langsung nangis..." ucapnya, aku hanya tersenyum
Lampu merah, mobil berhenti. kulihat ke samping kiriku, mataku kembali terbelalak.
"Wanita itu lagi!" bathinku
Mobil berjalan...
"Eh itu itu..." ucapku sambil menunjuk ke arah mobil sedan
"Lu ternyata doyan cewek juga ya, gue kira enggak. Dari tadi lu lihatin tuh cewek..." ucapnya
"Eh anu... lupakan saja wind" ucapku
"Aneh lu, tapi ya syukurlah lu normal... gue kira lu suka jenis lu hi hi"
"Maaf maaf bercanda..."
"Siapa wanita itu? kok lu kaya kenal banget? Kaya lihat setan tahu gak lu!" ucapnya,
Aku hanya senyum lebar menutupi keterkejutanku tadi. Winda melihatku dan memandangku, senyumnya mengembang, senyum geli terhadapku. Sampai didepan gang masuk, aku turun dan berrterima kasih pada Winda.
"Arta..." ucapnya dari jok kemudi
"I.. iya..." ucapnya
"Gak usah berantem lagi ya... daaaah..." ucapnya
"I.. iya..." balasku
"Winda..." ucapku menunduk
"Terima kasih dan jaga diri kamu ya wind" lanjutku, aku mengankat kepalaku dan tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih Artaaaa...." ucapnya, lalu aku melihatnya menghilang dengan mobilnya
Aku pulang dengan sejuta pertanyaan kenapa dia bisa tahu aku berkelahi. Apa dia sudah tahu tentang dirku yang sebenarnya? Masa bodohlah, sekarang pulang. Sampai dikontarkan pun aku tidak menemukan keberadaan mereka berdua, padahal ada sepatu mereka. dimana Samo dan Justi? Tanpa berlama-lama, aku langsung tidur saja, di kamarnya saja mereka tidak ada. Hoaaaam....
"Kemana saja sih kalian?" ucapku
"Eh anu biasa lah main sama Justi tadi he he he" ucap Samo
"Pengen tahu saja kamu he he he" ucap Justi
"Wah, main ndak ajak-ajak..." ucapku
"Yaelah, ngaca bro... gimana mau ngajak kamu aja ndak ada di kontrakan huuu" ucapnya
"Ah bener juga kata kamu, kopi?" ucapku
"Yo'aaaa" ucap mereka berdua
Melewati malam dengan tiga batang dunhill dan segelas kopi hitam manis...
.
.
"Baik, sekarang kalian presentasikan tugas kalian satu-satu" ucap bu anglin
Setiap kelompok kemudian maju dan mempresentasikan tugasnya. Bu anglin tidak tahu kalau masing-masing dari kamu sudah mengatur pertanyaan kami semua, jadi para audience yang juga teman kami sudah kami berikan soal sehingga kami sudah bisa menjawab. Telrihat sengit memang presentasi kali ini, tapi sebenarnya juga sudah di atur.
"Baiklah, akan ibu berikan nilai... nilai tertinggi kelompok Arta dan Winda, tertinggi ke dua Burhan dan Salma" ucap bu anglin memberikan nilai kepada kami hingga dua peringkat. Setelah bu anglin keluar dari ruangan.
"ARTA GANTEEEEENG MUAAAAH..." teriak Winda
"Winda curang tuh, paling yang buat Arta tuh" ucap Desy
"Iiih iri ya iri hi hi hi gue juga ikut buat kali, buatin Arta minum sama makan hi hi hi" ucap Winda, aku hanya senyum-senyum saja
"Pokoknya kalo besok ada kelompok lagi Arta kelompokku!" ucap keras Dina
"Enak saja, kelompokku ya ar" ucap Desy
"Kenapa sih gak ada yang mau sama gue? Wekekekekeke..." ucap Irfan
"Yang ada main game kalo smaa elu!" ucap Dini
"Kalau aku sama helen saja" ucap andrew, sambil mendekati helena
"Iiih mas..." ucap helena
"MAS!????" teriak semua sekelas
"Ups..." ucap helena menutup mulutnya
"Jadi jadian gitu? Diam-diam gitu? Ndak ada makan-makan gitu?" ucap Dini
"Oke semuanya, kita akan ditraktir sama andrew! Makan besar!" teriak Johan
"Yeeeeeee...." teriak sekelas
"WOI WOI WOI... duit moyang lu, permen aja satu-satu!" teriak andrew
"Okay permen satu-satu diatas nasi plus lauk pauknya yaw" ucap Winda
"Arghhh gak ada duit nih" ucap andrew
"Ha ha ha ha..." teriak satu kelas
"Tenang aja bro, ndak bakalan... yuk makan, tapi yari yari ya... bayar sendiri bayar sendiri" ucap Irfan
Aku sedari tadi hanya tersenyum dan melihat tingkah mereka. benar-benar rasa tenggang rasanya tinggi, semua sekelas keluar untuk makan. Awalnya aku menolak, tapi Winda memaksaku dan akan mentraktirku. Mau ndak mau kan...
"Ntar aku diajari lagi ya ar?" ucap Desy
"I.. iya..." ucapku
"Mau gak kalau ntar kekos aku?" ucap Desy
"Eee... anu des..." ucapku bingung
"Kalau ke kos Winda saja kamu mau, kalau ke kosku gak mau... ya sudah deh gak papa, pinter buat diri sendiri kok gak dibagi juga gak papa..." ucapnya dengan wajah langsung memandang ke depan
"I.. iya des, iya..." ucapku
Percakapan dengan Desy aku lakukan ketika kembali dari kantin menuju ke kelas. Aku dan Desy berjalan paling belakang, sebenarnya aku yang paling belakang tapi Desy-nya yang menghampiri. Jujur saja aku heran, kenapa ya culun seperti aku laku? Apa ada kelihatan seperti clark kent yang berculun padahal dia superman? Atau memang culunku membawa daya tarik sendiri? he he he...
"Baguslah kalau begitu, secara kamu paling pinter sekelas... burhan saja yang dulu satu SMA-ku masih dibawah kamu padahal dia ranking satu pararel lho di SMA dulu" ucap Desy
Okay fix, semua karena aku pintar dan gampang dimanfaatkan oleh permpuan. Fix! Emang apaan sih arti fix? Dari dulu sampai sekarang ndak mudeng penggunaan kata fix, kalau balsem ada sih fix.
"Jangan mikir aku manfaatin kamu, secara kamu pinter aku juga pengen pinter. Ibuku selalu pesan sama aku untuk menjadi wanita yang pintar agar nanti bisa didik anak dengan baik. Wanita adalah ibu dan juga guru pertama bagi seorang anak, kalau ibunya gak pinter kasihan kan anaknya nanti" ucap Desy
Ini cewek bisa baca pikiranku apa? Setiap aku berpikir selalu saja dia berkata membalik keadaan,orang italia kali ya dia? Pertahanan gerendel dengan serangan balik cepat? atau jangan-jangan dia adalah seorang peramal masa depan?
"Jangan banyak mikir, yang penting kalau punya ilmu bagi-bagi ya ar..." ucapnya
Nah lagi kan? Sudahlah aku ndak mau mikir lagi... mending mengangguk-angguk saja lah, memang sejak awal aku harus mengangguk.
"Kamu itu ar, bisanya mengangguk terus... ngomong kenapa? tahu gak?" ucapnya sembari masuk kekelas, dan kemudian berbisik
"Don't say goodbye, to yesterday, because of it, you can live today" ucapnya, dan membuatku semakin bingung. Aku hanya tersenyum ketika dia kemudian duduk bersama teman yang lain. Biasa, aku duduk dibelakang. Ah, memang aneh itu cewek yang bernama Desy, kelihatannya dia punya ilmu untuk membaca pikiran orang.
Kuliah kembali dimulai dan kemudian semua mulai diam. Perhatian mereka tertuju pada jam di dinding agar segera selesai dengan dosen yang membuat mahasiswa menjadi semakin bingung. Tik tok tik tok... akhirnya kuliah selesai.
"Iiih Desy, rebut Artaaaaa..." ucap Winda
"Masa sama situ terus, sekali-kali gantian dong..." ucap Desy
"Aaaa... Artaaa, Arta jahaaaat..." ucap Dina, dengan wajah yang selalu tampak memanjakan setiap laki-laki
"Sudah! Culun kaya gitu direbutin!" ucap Dini dengan wajah galaknya
"Culun sih tapi pinter... ganteng deh" ucap Dina
"A.. anu itu be.. belajar kelompok..." ucapku
Canda mereka membuaku semakin nyaman disini, apalagi canda mereka bukan canda yang menyinggung. Namanya juga keluarga mungkin, Cuma si Dini yang kadang galak banget kadang alus banget. Aku dan Desy kemudian ke kosnya dengan menggunakan taxi, dulu di awal aku pernah melihatnya menggunakan mobil tapi kemuian mobilnya hanya diparkir di kos saja.
"Kosnya jelek ya ar?" ucap Desy ketika aku sampai di kosnya
"Ba bagus kos kamu... daripada kontrakanku des" ucapku, sangat jelas. Dilihat dari model banguna hingga ke-elitannya hampir sama dengan kos Winda
"Ayo masuk..." ucap Desy mengajakku masuk ke kamar kosnya
Luasnya memang tidak seluas kamar Winda, tapi sudah cukup eksklusif dengan kamar mandi dalam dan sebuah TV menempel di dinding sama seperti di tempat Winda. Mungkin aku tidak menceritakannya, kalau di tempat Winda aku kagum tapi aku tahan. Kalau smaa Desy, aku lebih bisa terbuka.
"I.. itu.. tipi?" ucapku
"Iya..." jawabnya, sekilas aku melihatnya melepas kerudungnya
"Kok nempel di dinding?" ucapku
"Namanya juga perkembangan teknologi ar... belum pernah lihat? Kan di Winda ada" ucapnya
"I.. iya, tapi lupa tanya he he he... pernah lihat juga di iklan" ucapku, aku dekati tipi yang nempel di dinding itu
"Ar, sekarang yuk, ntar kesorean kasihan kamunya ntar.." ucap Desy, aku berbalik dan betapa terkejutnya aku.
Rambutnya panjang terurai hingga punggungnya, wajahnya tampak lebih manis. Baru kali ini aku melihatnya tanpa kerudung. Kalau dari wajah lebih kalem Desy dan lebih gimana gitu.
"Malah bengong, cepeetan ajarin" ucapnya
"Eh iya ar, pas praktikum kemarin itu aku mecahin gelas kimia. Ntar aku temenin ya, takut kalau salah beli, ya kan disuruh ganti sebelum semester baru dimulai" ucap Desy
"A.. a.. anu des, sama yang lain saja... a a a da urusan" ucapku
"Yaaaah... ya sudah, dah cepetan aku diajari" ucap Desy
Aku mulain menerangkan beberapa mata kuliah yang belum dia pahami. Jujur saja kenapa aku menjadi seperti sorotan kalau aku orang pintar, entah darimana. Dulu aku ditanya bu anglina juga itu karena kepepet. Selama sekolah dulu waktu SD ibu selalu membangunkan aku pas pukul setengah empat pagi untuk belajar. Otak masih fresh ketika dibuat belajar jadi gampang terisi. Itu juga berlanjut setelah ibu tiada, sekarang pun masih tetap sama hanya kadang-kadang aku bangun kesiangan. Ingat, kesianganku adalah jam setengah lima kalau hari aktif, kalau hari libur ya biasalah.
"Siiipzzz... pinter juga kamu ar, aku lebih mudeng kalau kamu yang nerangin. Mmmm bisa gak ya aku kalahin kamu? hi hi hi..." ucapnya
"Pasti bisa... kalau belajar..." ucapku. Dia memandangiku...
"What happen with your yesterday?" ucapnya
"Eh.. maksudnya?" ucapku
"Nih..." ucapnya memberika selembar kertas
"Lho... kok kok ada dikamu?" ucapku
"Iseng waktu itu hi hi hi..." ucapnya
"Eh, anu itu..." ucapku
"Kamu tahu gak tadi di grup bbm, pada bicarain kamu. Tuh muka kamu ada bekas luka, tapi si Winda klarifikasi kalau kamu habis ditonjokin preman daerah kontrakan kamu, bener itu ar?" ucapnya, aku mengangguk. Desy berdiri dan melangkah keluar.
"Pulang ntar malam saja ar, aku antar..." ucapnya
"Eh, sekarang saja des..." ucapku
"Sudah... aku buatkan nasi goreng dulu ya, sama minum kasihan kan kamu belum makan" ucapnya
"Eh anu... iya..." jujur saja aku lapar, Desy tersenyum dan kemudian keluar kamarnya
Sial! Aku pengen ngrokok tapi ah, bisa bahaya kalau Desy tahu tapi Desy sudah tahu tapi anu arghhhhh.... selang beberapa menit kemudian...
Klek... pintu terbuka, selang beberapa saat terlihat punggung Desy yang sedang berbalik menutup pintu
"Ni tapi minumnya aku ambil dulu" ucap Desy membawa dua piring dan meletakannya dihadapanku, aku hanya mengangguk. Desy keluar lagi dan mengambil minuman es.
'makan ar..." ucapnya
Setelahnya, dia mengembalikan piring. Tak ada perbincangan ketika kami makan. Dia kembali dan mempersilahkan aku melakukan kewajibanku.
"Oia nonton tipi dulu ar, pulangnya ntar ya jam 8 malem, mobilku dipinjam sama teman kosku" ucapku
"Eh, ndak usah diantar saja des, aku pulang naik bis" ucapku
"Sekarang habis maghrib, ntar aja kali. dah nonton tipi dulu" ucapnya
Dia duduk disampingku, dan kemudian rebah diatas dua bantal besar. Aku fokus pada acara tipi, lama kelamaan aku mendengar nafas halus keluar dari hidungnya. Kulihat dia telah lelap dalam tidur. Kulihat jam dinding menunjukan jam setengah 8, kuambil selimut di atas tempat tidurnya dan kuselimutkan. Aku bereskan semua buku-buku, dan menuliskan pesan disebuah kertas kalau aku hendak pulang. Tepat jam 8, aku tinggalkan tulisan itu di samping tubuhnya. Aku keluar, dan mulai berjalan mecari halte bis. Setelah berjalan, dipinggir jalan yang remang dengan warna kuning dari lampu, ku temukan halte bis.
Tiiiiiiiiiiiiin... aku menoleh ke samping kananku
"Kamu itu! disuruh nunggu malah pulang, cepat masuk!" bentak Desy
"Eh anu..." ucapku
"MASUK!" bentaknya lebih keras
Klek... jeglek....
"Kalau aku bilang tunggu ya tunggu!" ucap Desy tampak marah
"Ta.. tadi kamu kelihatan capek des..." ucapku
"Aku gak suka kalau sikap kamu seperti itu, kamu sudah mengajari aku banyak tentang materi kuliah, balas budiku ya antar kamu pulang" ucapnya
"Maaf..." ucapku, aku menunduk
"Egh, maaf ar, malah marah ma kamu hi hi hi" ucapnya, ternyata ketika dia marah sangat mengerikan tapi kini suasana sudah berubah kembali
"Ke arah mana nih?" ucapnya
"Ke komplek gemah ripah loh jinawi" ucapku
"Owh kontrakanmu daerah situ, oke kita kesana" ucapnya
Mobil masuk ke dalam pom bensin, terdapat tiga pompa pengisian sedangkan mobil Desy ada di pompa ke tiga atau paling samping kanan jika dilihat dari arah mobil. Hanya dengan menceklekan sesuatu, kulihat dari kaca spion (karena aku membungkuk) petugas pom bensin sudah bisa langsung mengisi tanpa harus pengemudi turun membuka tutup tangki bensin mobil.
"Ar, tolong bayarin..." ucapnya sambil menyerahkan uang kepadaku
"Des..." ucapku, aku memandangnya, dia tampak heran dengan pandanganku
"Ya..." jawabnya
"Kacanya mbukanya gimana?" ucapku, dia langsung tersenyum renyah. Tiba-tiba kaca membuka sendiri, ajaib!
"Mas ini..." ucapku, setelah aku membayar dan tanganku masuk lagi, kaca itu bisa nutup lagi! Edan!
"Ada apa ar?" ucap Desy
"Kok buka nutup sendiri?" ucapku
"Hi hi hi pakai sihir itu ar hi hi hi" ucapnya, sambil menjalankan pelan mobil. Benar, dia penyihir!
Ketika hendak keluar dari pom bensin dan masih di pinggir jalan hendak masuk kejalan...
"Dia..." bathinku, mataku terbelalak melihat wanita itu untuk ketiga kalinya
Wanita itu sempat memandang ke arah mobil dimana aku berada, entah dia tahu aku melihatnya atau tidak. Yang jelas, selama kaca jendela mobil wanita itu naik dia terus melihat ke arahku. Mobil wanita itu kemudian masuk ke jalan terlebih dahulu dan baru mobil Desy. Dalam perjalanan aku terus berpikir tentang siapa wanita itu hingga tak sadar aku sudah sampai di mulut gang. Aku turun... pintu jendela kembali terbuka.
"Ar!..." panggil Desy dimana aku masih berdiri menghadap pintu dimana aku keluar. Aku membungkuk...
"Ya des..." ucapku
"Terima kasih..." ucapnya
"Sama-sama des, ilmu untuk dibagi kata kamu kan seperti itu" ucapku, dia hanya tersenyum
"Untuk selimutnya..." lanjutnya, aku bertambah bingung
"Duluan ya ar..." ucapnya, aku mengangguk
-----
"Hmmm... aku semakin yakin... sejak kehadiranmu ke ruang kuliah. Kamu bukan orang seculun itu. entah kenapa ada sesuatu yang kamu tutupi dan aku menjadi semakin penasaran dengan kamu" bathinku sembari aku mengemudi mobil selepas mengantar Arta pulang
"Orang culun, jarang menjawab pertanyaan dengan tegas Arta... jarang sekali... gagapmu hanya didepan tapi kalau sudah hanyut dalam menjelaskan sesuatu, kamu seakan lupa dengan gagap kamu itu" ucapku sembari mengemudi
Ku jalankan mobil lebih cepat, rasanya aku sudah sangat lelah sekali. Segera aku berlari kecil menuju kekamar untuk melanjutkan tidurku, entah mengapa aku ingin sekali tidur di tempatku tadi. Tempat dimana si culun itu menyelimutiku.
"Cara kamu menata buku saja, rapi sekali ar..."
"Dan... cara menyelimutimu..." ucapku
Aku tersenyum sendiri jika mengingatnya, aku kembali pada posisiku tidur tadi. Aku posisikan selimut itu seperti ketika aku terjaga dan tidak menemukan si culun itu.
Ku ketik sebuah pesan singkat ke hape Arta...
-----
Setelah sampai di kontrakan, aku langsung mandi. Kubuka pintu kamar Samo dan Justi, mereka sudah teler. Segera aku tidur untuk menggapai esok.
ti tit. Sms. Desy.
From : Desy
Masa lalu tidak bisa kamu tinggalkan
Masa lalu selalu ada untuk diingat
Masa lalu untuk memperbaiki kesalahan
Agar kita bisa berjalan lebih baik lagi
Menuju masa depan,
Dasar culun!
Ah, apa yang dia tahu tentang masa lalu ku? Mau kubalas, ndak ada pulsa tidur sajalah....
"Sial, dia memang peramal atau penyihir... menakutkan, pintu kaca jendela mobil saja bisa naik turun sendiri! atau memang aku yang ndeso?" bathinku. Tidur sajalah...