Scene 5

4557 Words
�Ah mas... shhhh.... aduh... mas jangan keras-keras nyedotnya ugh...� desahku �Habis gemesin deh t***k ade ini� ucap kekasihku, Rian �Slurp slurp mmm... nyammm... ahhhh...� dia mengenyot terus s**u ku, tanganku mengocok batang penisnya yang baru saja mengeluarkan laharnya didalam mulutku Tangannya lalu turun dan turun kebawah, mengelus selangkanganku. Terasa aneh tapi aku menikmatinya. Tiba-tiba aku tersadar ketika pahaku dibuka, dan mas rian mencoba mencopot celana dalamku. �Mas ade mohooon...� ucapku sambil menggeleng kepala �Ta.. tapi yang sudah kepalang tanggung yang, mas pengen banget...� ucapnya �Tapi mas sudah janji kalau akan mengambilnya setelah menikah, plis mas tepati janji mas...� ucapku Kulihat kekecewaan di wajahnya, aku memang sudah di ubun-ubun tapi aku masih mampu menahan gejolak dalam dadaku. Dia kembali menyusu sebentar dan baru kemudia dia ke kamar mandi. Aku rapikan pakaianku dan bangkit dari tempat tidur. �Ade buatkan teh hangat ya sayang?� ucapku �Iya, jangan manis-manis� ucap mas rian, sedikit ketus, kurasakan kekecewaanya �Iya...� aku keluar menuju dapur �Hei kak Desy... iiih wajahnya seneng banget deh, habis dapat jatah nih ya...�Ucap adik kosku, dia masih SMA �Yeee... sok tahu kamu, sudah sana masuk ke kamar ditungguin tuh dari tadi pagi sama yayang� ucapku �Yaaaah kalau itu mah gak nungguin kak, tapi istirahat habis 3 ronde semalam kak� ucapnya �Kamu itu masih kecil udah doyan banget� ucapku �Yeee... bukan doyan kak, kebutuhan hi hi hi�Ucap adik kosk yang langsung pergi ke kamarnya Aku kembali melangkah dan ku dapati mas rian keluar dari kamar. kulihat dia tampak buru-buru. Langsung diminum teh hangatku sambi berdiri. �Mas keluar dulu sudah ditunggu� ucapnya �Gak makan dulu mas?� ucapku �Gak... dah sayang cup..� ucapnya sembari mengecup keningku Kulihat langkah cepatnya dan menghilang dengan motor sportnya. Aku kembali ke kamar dan termenung melihat isi kamarku. Mengingat apa yang baru saja aku lakukan, aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Bagaimana tidak pacarku selalu meminta dan memintanya, tapi untuk yang satu ini maaf aku tidak bisa memberikannya sekarang. Dalam hening aku memilih untuk belajar kembali, apa lagi kemarin Arta sudah mengajariku banyak hal. �eh, Arta...� bathinku Entah kenapa aku tiba-tiba teringat akan lelaki culun itu, dia sedikit menyita perhatianku. Cara dia berbicara memang terlihat asli tapi kadang juga terlihat dibuat-buat. Terkadang pula dia lupa akan siapa dirinya. Hmmm, pertama kali dia menjawab pertanyaan bu anglin, culun sih tapi cara dia menjawab. Ah, tak tahulah, kenapa aku malah memikirkan lelaki yang seharusnya tidak aku pikirkan. Sebuah buku aku keluarkan, secarik kertas kecil ikut terjatuh. Aku rebahkan punggungku di atas bantal, duduk melihat secarik kertas, yang aku mencoba mengingatnya. Ah, ini punya Arta... Setiap saat, entah kenapa, kenangan itu selalu hadir Tangis sedih, tangis bahagia Tawa sedih, tawa bahagia Selamat tinggal, Goodbye to all those rainy nights Goodbye, so long, I'm moving on Dua kalimat terakhir seperti kutipan sebuah lagu, tapi lagu apa ya? Kalau dilihat lagi tampaknya arta memang anak yang pandai dalam bahasa juga. Buktinya dia bisa mengartikan nama Dini, Dina dan aku. Dua kalimat terakhir yang membuatku penasaran, ku ketik semua tulisan itu di gugle, dan enter. �Suka musik rock ternyata dia? Hahaha baru kali ini lihat culun tapi suka rock!...� �Goodbye? Did you have something that you hide Ar?� bathinku dan aku tersenyum ----- Aku pulang ke kontrakan dan berisitirahat karena luka-luka yang aku dapatkan. Kubasuh dengan air dan ku obati, pasti besok mereka berdua marah-marah. Ah, terserah lah karena memang aku tidak bisa menghindari semua yang terjadi. Lelah aku tertidur, hingga aku sadari aku terbangun pukul 9 malam. Enak juga ternyata tidur habis maghrib tapi sialnya perut terasa sangat lapar. Aku segera bergegas mencari angkringan diluar komplek RT-ku tanpa berdandan culun. Di pinggir jalan, di sebuah warung angkringan. Ada beberapa yang mengenalku karena kejadian tadi ketika aku berkelahi dengan bang jali dan Mas Reman. Dengan dua bungkus nasi teri dan segelas wait cofee aku mencari tkar yang masih kosong. Kulahap dengan mantap dan duduk bersandar pada sebuah bangku tembok, namanya juga pinggir jalan. Ssssshhh... aaaaah.... asap dunhill menari di atas kepalaku. Menikmati malam hari, kuraih hape jadulku dan kulihat sudah menunjukan jam 11 malam. Brakk... seseorang melemparkan sebuah wadah yang berisi dokumen di sampingku dan kemudian berjalan ke angkringan untuk memesan sesuatu. Sebuah foto terlihat jelas olehku, karena ada dua foto yang keluar dari tanpa aku menariknya keluar. Kulihat sebuah foto jejak sepatu yang aneh di foto itu . sebuah jejak kaki yang berada di sebuah tanah kering. dan satunya lagi sebuah foto kaki yang terikat. Aneh karena memang aku tidak tahu maksudnya itu apa. He he he... �Kamu yang mengeluarkan fotonya?� ucap lelaki tadi, yang membawa segelas minuman hangat �Eh, maaf mas, tidak kok, tadi fotonya keluar sendiri sewaktu mas melemparkannya� ucapku �Owh... kenapa memandangnya seperti itu?� ucapnya duduk disebelahku �Masnya fotografer?� ucapku polos �Bukan, itu foto bukti pembunuhan tadi� ucapnya, aku sedikit terkejut ketika mendengar kata pembunuhan �Owh... berarti mas polisi� ucapku, sambil melihat foto itu kembali �Ya, ...� ucapnya, singkat �Kenapa dipandang terus ada yang aneh?� ucapnya, memandangku dengan tatapan tajamnya �Eh... i.. iya... merasa aneh saja� ucapku �Yang jejak kaki itu, jejak korban sebelum bunuh diri dan yang satunya kaki korban yang mengikat kakinya sendiri kemudian terjun dari tebing dan jatuh ke laut� ucapnya �Owh ya mas... kok diceritain ke saya?� ucapku melihat lagi �Paling kamu juga gak mudeng, dan kamu juga gak bakalan tahu. Beritanya belum ada di media, sekalipun tahu ya gak masalah kan?� ucapnya aku masih melihat dua foto itu, tiba-tiba tanganku menarik foto kedua yang tertumpuk sedikit oleh foto pertama �Ada yang aneh?� ucap lelaki tersebut �Iya mas...� balasku spontan �Apa?� ucapnya �Foto jejak sepatu, aneh saja mas� ucapku �Ha ha sok tahu banget kamu, itu orangnya memang berencana bunuh diri. Dia ikat kakinya, dan kemudian memutarkan lakban di kedua tangan yang disatukan. Jadi tangannya satunya di lakban dulu baru satu tangannya di satuakan kemudian lakbannya di ayun berputar melalui dua tangannya. Baru kemudian dia melompat-lompat hingga dia jatuh ke tebing� ucapnya �Mas...� ucapku �Ya� ucapnya menyeruput minuman hangat Sruuupttt... mas-nya menyeruput minuman hangatnya. �Berarti dia mengikat dan melakban tangannya di pinggir tebing kan? Dan kemudian melompat-lompat menuju pinggir tebing setelahnya dia melompat dari tebing begitu?� ucapku �Iya... seperti foto jejak sepatu yang kamu lihat, itu bekas jejak sepatu dia melompat� ucap masnya. Foto �Kalau misal melompat dan berniat bunuh diri, tak mungkin ada jejak kaki miring mas� ucapku �Bisa saja kan, mungkin dia hampir terpeleset� ucapnya �Mungkin juga ada orang yang mengancamnya di belakang agar korban tetap melompat ke depan terus� ucapku �Ha ha ha ha... kamu itu bisa saja, semua orang mengira dia dibunuh tapi kenyataanya tak ada orang disana. Penjual warung berkata, dia melihat perempuan itu bersama temannya datang lalu temannya ke warung, dan perempuan tersebut kemudian masuk kedalam tempat wisata sendirian. Temannya menunggu di warung dan hanya diam tanpa berbicara sedikitpun, hingga kurang lebih jam 8 temannya mengajak penjual warung mencari perempuan tersebut karena curiga temannya tidak kunjung kembali� ucapnya �Kenapa mas bisa yakin kalau orang itu bunuh diri� ucapku �Karena penjual itu bilang tidak ada orang lain masuk, kecuali perempuan tersebut dan temannya yang datang. Perempuan tersebut keluar dari mobil bersama temannya, perempuan itu yang mengemudi karena keluar dari pintu kanan mobil� �Penjual juga bilang kalau pada malam ini, sepi pengunjung ya seperti biasa tempat itu terkenal angker kalau malam minggu. Biasa mitos, ya akhirnya tidak ada yang datang kalau pas malam minggu� ucap masnya �Kalau bunuh diri, berarti dia mengikatkan tali yang ada di kakinya sendiri terebih dahulu kan?� ucapku menunjuk ke tali yang diikat mengelilingi keseluruh betis korban sehingga kakinya rapat. �Iya...� ucapnya, dengan asap keluar dari mulutnya �Bentuk ikatannya itu adalah ikatan mati dan itu sulit dibuka. Diikat sekali kemudian diikat lagi seperti ketika kita mengikat sesuatu agar permanen. Sisa talinya sedikit, kalau memang korban sendiri mengikat kakinya terlebih dahulu seharusnya bentuk ikatannya adalah huruf V jika dilihat dari arah kita atau dengan kata lain dari depan ikatan (korban), tapi pada foto itu bentuk ikatannya adalah huruf V terbalik...� ucapku, dan seketika itu masnya melihat foto itu kembali �Begini mas maksudku� ucapku, sembari mengambil seutas dari anyaman tikar yang sudah rusak. Aku mengikatkan tali pendek itu di jempol kakiku, ikatan permanen. �lihat mas, kalau mas melihat ikatan tali ini, mas pasti akan melihat huruf V bukan. Itu jika aku yang mengikat sendiri, tapi maaf mas, coba mas mengikat tali ini di jari saya� ucapku, karena tak enak jika aku menyuruhnya mengikat di jempol kakiku. Lelaki ini kemudian mengiyakannya. �sekarang mas lihat, jika mas yang mengikatkan pada benda atau bagian tubuh orang, pasti bentuk ikatannya berbentuk huruf V terbalik, ketika mas melihatnya� jelasku kepada mas-nya. Dia menatapku tajam, dan kulihat wajahnya seperti melihat sebuah jawaban. �Cepat tanya lagi... ayo cepat! pasti ada yang aneh lagi kan? Ayo cepat tanya! aku akan menjawabnya!� ucapnya keras dan tampak bersemangat �Eh... mas itu kan cuma anu mas...� ucapku �Cepat!� bentaknya sembari memegang bahuku �I.. iyaa mas... lepasin dulu tangan mas� ucapku �Oh maaf... cepat ada yang mau kamu tanyakan lagi?� ucapnya sembari memperlihatkan foto Huft... aku kembali melihat foto-foto itu... �Mas...� ucapku �Ya bagaimana?� ucapnya �Apa tidak ada jejak lain selain jejak sepatu korban?� ucapku �Tidak ada, semua jejak sepatu disitu menunjukan jejak sepatu korban. Awalnya jejak sepatu itu seperti jejak kaki melangkah kemudian, ada bekas orang duduk dan jejaknya kemudian berubah menjadi jejak sepatu yang berjajar dengan jarak tertentu, atau lebih tepatnya jejak sepatu korban yang melompat. Jika dilihat ya memang setelah kaki terikat dia kemudian melompat-lompat ke arah tebing� jelasnya kepadaku dengan sangat antusias �Berarti mereka tidak mencari bukan?� ucapku �Eh... benar apa katamu.... hmmm.... tapi kalaupun tidak mencari berarti itu tetap dianggap bunuh diri karena tidak ada orang yang ada disitu � ucapnya �Foto ini, ini sepatu siapa?� ucapku �Ah, itu tadi teman korban berada dekat dengan mayat korban jadi ikut kefoto� ucapnya �sepatunya sama� ucapku, dia mendelik kearahku dan otakku semakin berputar �Sebentar mas, ada dua kemungkinan karena ini sepatunya sama dan kelihatannya ukurannya sama. Yang pertama seperti yang aku bilang tadi mas, ada kemungkinan diancam disuruh melompat kemudian dia mencoba memohon ampun kepada orang yang dibelakangnya yang membawa senjata. Dan...� ucapku terhenti dahiku mengrenyit �Apa ayo katakan?� ucap masnya �Yang kedua adalah, korban dipingsankan terlebih dahulu dan diikat oleh pelaku. Jejak sepatu didepan bekas dimana ada orang duduk seperti jejak sepatu terbalik mas. Seperti ini, korban dipingsankan dari belakang, kemudian korban didudukan dengan posisi kaki tertekuk. Pelaku kemudian bergerak didepannya, sehingga terdapat jejak kaki berjajar mengahadap ke korban. Pelaku yang didepannya kemudian mengikat tangan korban dan juga mengikat kaki korban dengan tali. Setelahnya korban diangkat oleh pelaku dengan membuat jejak sepatu dengan jarak tertentu seperti melompat-lompat. Ada bekas jejak kaki bergeser, mungkin pelaku mengalami ketidak seimbangan ketika mengakat korban. Coba mas lihat... pada jejak sepatu yang didepan bekas tempat korban duduk, seperti ganda, ada yang mengarah ke korban ada yang mengarah ke tebing� jelasku �Dan ada lagi mas, mengenai jejak sepatu juga kenapa tidak ada jejak sepatu yang lain disana. Bisa juga orang yang berada dibelakangnya menginjakan kakinya pada bekas injakan kaki korban sehingga bisa dikatakan kalau tak ada jejak lain selain korban. Karena bisa saja dari awal pelaku mengikuti gerakan langkah kaki korban. Bukan begitu kan? Karena sepatu mereka sama, dan kelihatannya ukurannya pun sama� �Berarti, tentang mereka mencari korban adalah bohong, jika mereka mencari seharusnya ada jejak kaki disana. Entah itu jejak sepatu teman korban atau jejak (sepatu/sandal) penjual warung. Dilihat dari foto, tebing itu tidak ada pembatasnya dan daerah tebing berupa tanah kering dan sedikit lunak bisa mencetak sebuah jejak sepatu. Jika dilihat dari foto tersebut, mereka bohong...� ucapku �Benar, memang dari tanah lunak bisa dibilang bukan tanah keras dan kemungkinan satu, dua itu bisa masuk� ucap masnya �Tinggi tebing berapa mas?� ucapku berlanjut tanpa memberinya waktu berpikir �Hampir 30 meter lebih dan korban ditemukan berada di bawah tebing tersangkut karang� ucapnya �Berapa yang turun kesana? Ada berapa banyak orang yang berada diatas?� ucapku �2 orang, diatas hanya aku dan teman korban serta 3 orang dari rumah sakit� ucapnya �Apa benar penjual warung itu berkata perempuan itu datang bersama si teman?� ucapku �Hmm... begini dia bilang ketika aku mengintrogasinya tadi... oOo �Tadi perempuan itu datang bersama temannya, perempuan itu mengemudi karena dia keluar dari pintu kanan mobil. Kemudian temannya langsung ke warung dan duduk sambil memainkan sematponnya. Perempuan tersebut langsung masuk saja tanpa menemani temannya. Temannya memesan kopi hitam. Perempuan itu aneh, memakai jaket berkerudung sejak keluar mobil, tangannya juga pakai sarung tangan� �Jam berapa itu?� �Sekitar jam 7 malam tadi, temannya langsung menuju warung saya� �Apa benar tidak ada orang yang datang ke tempat ini?� �Kalau malam minggu pasti tidak ada, sedari siang memang tidak ada orang. saya jualan dari siang mas sampe malam jam 3 malam. Kalau sabtu begini ya dagangan ndak bakal ada yang beli� �Apa benar tidak ada orang yang datang?� �Ya jelas mas, yang buka gerbang saja tadi datangnya bareng saya. Dan saya itu selalu di warung mas� oOo �Mas... apa yang mas pikirkan ketika melihat korban?� ucapku �Maksud kamu?� ucapnya �Lihat mas...� ucapku sembari memperlihatkan foto korban yang menggunakan jaket sport yang kebesaran dengan penutup kepala, tangannya mengenakan sarung tangan dan juga kakinya mengenakan sepatu cat warna hitam biru. �Aku tidak mengerti, jelas itu adalah korban dan korban adalah seorang perempuan� ucapnya �Kalau aku pertama kali melihat korban pasti aku akan mengira dia adalah laki-laki. Dilihat dari tinggi badan sesuai dengan data pada berkas mas, tingginya adalah 160 cm. Itu cukup untuk seorang lelaki mas� �Jika memang perempuan tersebut menyapa penjual warung, baru aku percaya penjual warung itu tahu bahwa dia perempuan. penjual warung bilang, kalau korban langsung masuk ke tempat wisata bukan. Ingat mas, penjual warung mengatakan perempuan tersebut keluar dari mobil bersama temannya. Berarti dia tahu kalau itu perempuan, dan anehnya kenapa dia bisa tahu kalau sejak keluar dari mobil... orang yang keluar dari pintu kemudi adalah perempuan, padahal semua tubuhnya tertutup, dan pasti yang pertama kali melihatnya, akan mengira itu lelaki, jika dilihat dari apa yang dia pakai� ucapku. Masnya langsung saja duduk dan memandangku kosong. �Benar apa katamu... pertama kali mayat korban diangkat ke atas, aku mengira itu adalah laki-laki bahkan 3 orang dari rumah sakit mengira itu juga lelaki. Tapi setelah dibuka kerudung jaketnya baru aku tahu itu adalah perempuan. Setelahnya karena tidak ada orang disana selain korban aku menyimpukan bahwa itu bunuh diri dan mayat dibawa ke RS. Aku langsung kemari karena sudah ada wakil di RS� ucapnya �Mungkin penjual warung tersebut menyembunyikan sesuatu dari mas, bisa juga setelah kejadian temannya yang mengatur alibi. Setelah dia masuk, membunuh, dia melakukan deal dengan penjual warung� ucapku �Ikut aku...� ucapnya, membereskan berkas �Woi... bang dul, kopinya aku bayar besok sekalian punyanya masnya� ucap masnya �Iya bang� ucap penjual warung �Eh mas mau kemana?� ucapku ketika tanganku ditarik �Sudah ayo ikut!� Bentaknya Masuk kedalam sebuah mobil sedan hitam, aku duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja. Eh salah, duduk disamping masnya yang tampak serius. Mobil melaju dengan kencang. �Kita masih punya waktu, aku harap penjual warung itu belum pulang� ucap masnya �Lha TKP-nya mas?� ucapku �Sudah aku beri garis polisi� ucapnya �Lha mas mau ngapain?�Ucapku �Ya mengintrogasi!� ucapnya �Ndak bakalan ngaku dia, sekalipun analisa tadi benar. Kan itu hanya analisa, bisa saja dia mengelak kalau teman korban yang memberi tahu� ucapku Ciiiiiiiiiiiiiiit... �Terus bagaimana?!� teriaknya ke arahku �Ya... nan nanti aku yang ngorbol mas... benar tidak kalau si temannya datang langsung ke ke warung� ucapku �Bagus you emang smart!� ucapnya, kembali menjalankan mobilnya Lampu merah, masih saja ada yang bergerak di kota besar ini, mobil tampak masih lalu lalang. Kulihat jam digital di mobil masnya menunujukan pukul 00.30. kulihat ke kiriku, membuang pandangan melihat pemandangan. Mataku terbelalak... ketika melihat sebuah mobil sedan putih, kaca sopir terbuka. Tampak seorang wanita... �Mirip sekali...� bathinku Mobil berjalan... �Mas sebentar.... itu itu...� ucapku �Kamu itu.... kita sedang dalam tugas! Masalah cewek nanti saja!� ucapnya, aku kembali bersandar dan mengelus kepalaku. Dengan kecepatan seperti michael schumacher, ndak juga sih, mobil melaju dengan kencang. �Siapa namamu?� ucap masnya �Arta� ucapku �Oke Arta, namaku Jiwa...� ucapnya, kembali mengemudi brutal! Mobil berhenti kejauhan... �Pakai ini, kamu dari sini jalan kaki menuju warung itu� ucapnya, memberi sebuah mikropon kecil kepadaku �Dan lakukan tugasmu, aku akan mengawasimu� ucapnya kembali �Iya... iya... tapi aku dianter pulang lho mas...� ucapku sedikit takut, dia mengangguk Aku melangkahkan kaki santai, sambil bersiul-siul menuju warung. Terlihat dari kejauhan penjual warung itu santai tetap di warung angkringannya. Sambil bernyanyi-nyanyi aku melangkah dan melompat seperti Ababil. Dan kuhampiri warung tersebut... �Pak, masih buka?� ucapku �Masih mas?� ucapnya �Wait kofi pak� ucapku, sembari duduk dan melihat beberapa makanan ringan �Oke, anget pa panas?� ucapnya �Panas pak...� ucapku kemudian melihat ke gerbang yang ada di dekat warung, memang jika dilihat dengan jelas bapak penjual warung ini bisa melihat ke arah pintu dengan jelas. �Waduh jam berapa ini yah?� ucapku �Jam 1 malam mas kurang 10 mennit� ucapnya �Wah, bapaknya update sekali� ucapku �Ya jelas, ini ada jam digital beli Cuma 30rb mas� ucapnya �Mas bukan orang sini?� lanjut bapaknya �Iya pak, saya orang tengah agak ketimur pak, kuliah pak. Lha ndak ada kerjaan ya saya jalan-jalan pak. lha bapaknya?� ucapku �Asli sini mas, pantes logatnya kok bukan logat orang sini?� balasanya �Sepi ya pak? Itu kenapa ada garis kuning pak?� ucapku �Sepi mas, itu tadi ada pembunuhan mas� ucapnya �Pembunuhan? Kenapa bisa tahu pembunuhan, dari keterangan mas jiwa itu adalah bunuh diri� bathinku �Pembunuhan pak? Lha siapa pak yang dibunuh?�Ucapku �Wah gak tahu mas� ucapnya �Dagangannya masih banyak ya pak?� ucapku �Iya mas... saya buka dari siang mas, baru ada orang mampir ya jam 8 lebih 15 menit mas� ucap �Wah lha pantes ya pak, dagangannya masih banyak. jam segitu baru ada yang beli� ucapku �Iya mas, wah memang parah mas kalau malam minggu. Selalu saja seperti itu mas, penghasilan berkurang mas. Ini masih beruntung mas jam 8-an tadi ada pengunjung� ucapnya Jam 7 menurut penuturannya kepada mas jiwa, dan jam 8 menurut penuturannya padaku. Berarti memang ada yang disembunyikan oleh penjual warung tersebut. Penjual warung ini memiliki akses untuk mengetahui waktu dengan tepat karena ada jam digital di tempat dagangannya yang hanya bisa dilihat olehnya. Jika aku samakan dengan jam pada hapeku ketika dia menyebutkan jam satu malam kurang 10 menit, benar-benar cocok dengan jam di hapeku. �Ndak ada cewek ya pak?� ucapku, kunaikan kakiku dan kupeluk, tidak sampai mengenai dadaku �Ya ndak ada mas, tadi ada cuma mati� ucapnya �Cewek? Yang mati tadi cewek ya pak?� ucapku �Iya mas, keluar dari mobil itu cewek itu sudah berkerudung, jaketnya kaya jaket pemain basket mas besar terus kerudungnya itu yang digunakan untuk menutupi kepalanya, sayang ndak bisa lihat wajahnya mas, tangannya juga pakai sarung tangan. Dianya langsung masuk ke dalam wisata, eh malah mati terusan. Belum lihat bodinya sudah mati duluan, mungkin dibunuh sama penunggu tebing. Kan kalau malam minggu pas angker-angkernya mas. Keluar saja sudah dibungkus mas� ucapnya �Kenapa bapak bisa tahu itu cewek? Jaketnya besar, kepala tertutup, menggunakan sarung tangan... orang yang pertama kali melihat pasti mengira itu laki-laki pak. Sedangkan bapak tidak pernah melihatnya sebelumnya, tadi bapak bilang ndak mampir kesini langsung masuk, keluarnya sudah dibungkus. Bapak kelihatannya tahu sesuatu? Karena pembungkus mayat kan tidak tipis pak, tebal sulit bagi orang awam untuk tahu jenis kelamin mayat...� ucapku, matanya mendelik dan mengambil pisau dan menodongkannya ke arahku �SIAPA KAMU!� teriaknya �BERHENTI! LETAKAN PISAU ITU ATAU KAMU AKU TEMBAK!� teriak mas jiwa Setelahnya, penjual warung itu langsung menjatuhkan pisaunya. Wajahnya tampak menangis, dan langsung berlutut dihadapan mas jiwa. Diborgolnya bapak itu, dan kemudian bapak itu diminati keterangan. Pawa awalnya memang bapak penjual warung tahunya itu adalah lelaki ketika datang dan kemudian mereka berdua masuk. Tapi teman korban kelihatannya membawa sesuatu dari dalam tasnya yang seakan menodong si korban. Jam 7 tepat korban beserta temannya masuk ke dalam tempat wisata, dan jam 8 lebih 15 menit teman korban keluar. Teman korban yang kemudian disebut namanya bernama Bunbun, melakukan deal dengan si bapaknya agar bapaknya diam dengan memberi uang sebesar 5 juta. Bapak penjual warung tidak bisa menolak, karena memang sedang butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya. Dan dari penuturan bapaknya, bunbun adalah pembunuhnya. Selama penuturan bapaknya, mas jiwa menelepon rekannya untuk datang ke TKP. �Ingat, bapak tidak akan saya jadikan pelaku, tapi bersaksilah...� ucap bapaknya �Baik mas, tapi tolong jangan tahan saya...� ucap bapaknya �Oke gak masalah, asalh bapak bersaksi� ucap mas jiwa �Janji padaku mas, jangan penjarakan dia. Siapa yang akan membayar biaya anaknya dan mendidiknya� ucapku memandang tajam. Mataku dan mata mas jiwa berpandangan, dia kemudian tersenyum. �Aku janji...� ucapnya Warung ditutup, bapak tersebut di gelandang ke kantor polisi. Mas jiwa mengantarku ke kontrakan. Selama perjalanan, mas jiwa memberitahukan bahwa pelaku sudah di bawa ke kantor polisi dan di penjara karena mengakui semuanya. Perempuan tersebut hamil oleh pelaku (bunbun), korban meminta pertanggung jawaban namun pelaku sudah memiliki istri. Korban diancam akan dibunuh dengan menggunakan pistol korek api yang korban sendiri tidak tahu tentang pistol itu. korban menurut pada pelaku karena pelaku akan mengacam membunuh semua keluarga korban jika tidak menurut walau sebenarnya korban bisa saja melawan lari. Korban adalah simpanan dari pelaku. Pembunuhan dilakukan dengan sempurna. Korban di todong, memakai pakaian tertutup, kemudian diajak ke tebing oleh pelaku. Langkah kaki korban diikuti oleh pelaku jadi tidak akan meninggalkan jejak lain selain jejak sepatu korban. Sesuai dengan analisa keduaku. Disana korban dipingsakan terlebih dahulu. Korban sebelumnya memohon tidak akan membocorkan rahasia antara mereka. Namun ancaman korban terhadap pelaku sebelumnya telah membuat pelaku tak mempunyai hati. Korban setelah pingsan, kemudian diikat oleh pelaku dari depan inilah yang membuat bentuk ikatannya V terbalik jika dilihat dari korban. Pelaku di dudukan dengan kaki tertekuk sebagai tempat bersandar tubuh depan korban dan tangannya dibuat seperti orang bersedekap. Baru setelah kaki terikat, tangannya baru dilakban oleh pelaku. Pelaku kemudian memutar tubuhnya terlebih dahulu dan mengalungkannya di lehernya lalu digendong dipunggung pelaku. Pelaku kemudian melompat-lompat, sesuai dengan dugaanku pelaku mengalami ketidak seimbangan hingga membuat sebuah pergeseran pada jejak sepatu. Baru setelahnya pelaku melompat kembali dan melempat korban dari tebing. Pelaku kembali dengan hati-hati mengikuti jejak sepatu yang dia buat, dengan satu kaki terlebih dahulu kebelakang. Setelahnya pelaku keluar dari tempat wisata, melakukan deal dengan penjual warung agar alibinya tertutupi. Keluarga korban yang sempat dihubungi tidak tahu dengan siapa korban pergi tapi ada penuturan dari teman korban yang menyatakan bahwa korban pergi dengan pelaku, mungkin inilah yang membuat pelaku melakukan deal dengan penjual warung agar polisi tidak curiga jika dia adalah pelaku pembunuhan. Aku hanya mengangguk-angguk ketika mendengar penjelasan dari mas jiwa, mataku terlalu berat untuk terbuka tapi kupaksakan sehingga apa yang mas jiwa katakan hanya berlalu saja. Setelah sampai di halte tempat aku biasa memberhentikan bis, aku turun. �Arta...� ucap mas jiwa �Ya mas...� ucapku �Ini nomorku, jangan lupa hubungi aku kalau kamu ada masalah� ucapnya �Ya mas...� uapku �Ya sudah, kapan-kapan aku traktir kamu ngopi lagi ya� ucapnya �Okay mas� ucapku Ku berjalan pulang kekontrkan dengan kantuk yang berat. kulihat jam di hapeku menunjukan pukul setengah empat pagi. Sesampainya di kontrakan aku menunggu subuh, duduk dengan kopi hitam yang masih tersisa aku mencoba bertahan hingga subuh. ----- �Hm... kamu anak yang aneh ar...� �Cerdas dan smart, aku suka itu� ucapku dalam hati �Selamat pagi pak! Lapor pelaku sudah kami tahan dan sudah kami masukan dalam penjara� ucap bawahanku �Laporan diterima, buat penjagaan dan besok jika ada wArtawan suruh menemui saya agar saya yang menjelaskan� ucapku �Siap pak! Laksanakan!� ucap anak buahku Aku masuk ke dalam ruanganku, rasa kantuk menyengat mataku. Kulihat jam di dinding mengajakku untuk tertidur. jam 4.15, capek sekali rasanya. �Mau aku pijitin mas?� ucap seorang wanita �Egh... sayang? Kok ada disini?� ucapku �Secara aku kan istri yang selalu kangen sama mas, gak bisa jauh� ucapnya mendekatiku entah dari mana dia datang �Sayang baik sekali...� ucapku �Auw....� cubitan di lenganku �Kalau ada kasus atau apa itu bilang, kabari, mau lembur! Jadi gak mubadzir istrimu itu dandan dirumah hegh!� ucapnya dengan nada gemasnya. Memang aku lihat istriku terlihat sangat cantik malam ini �Maaf tadi mendadak sayang... ugh...� ucapku �Puasi aku sekarang atau 1 minggu main sama guling sayang... pilih mana sayang?� ucap istriku ini �Ta tapi sayang ini dikantor...� ucapku, istriku berjalan ke belakangku memeluk leherku �Guling itu tak ada lubang, tak ada p****g, tak bisa ngulum... hmmm jadi kamu pilih guling ya Jiwa suamiku terganteng dan termuah dihati?� ucapnya berbisik tepat di telingaku �Sayaaaang ini kantor sayang... mas mohon...�Ucapku �Hiks hiks hiks aku sudah gak cantik lagi, dah gak nafsuin ya mas hiks hiks� ucapnya yang tiba-tiba berjongkok di belakangku �Sayang....� ucapku berdiri dan ikut berjongkok di belakang kursi �Sial! Kalau ini harus diselesaikan� bathinku Aku berdiri, kutarik korden berlapis ini. langsung ku kunci pintu kantorku, kumatikan lampu kantorku dan kunyalakan lampu remangnya. Ku dekati istriku yang tiba-tiba bingug dengan sikapku. Kupeluk dan kudaratkan ciuman di bibirnya masih di belakang kursiku. �Masss.... mmmpppph... sabar mas sabar... mas kok tiba-tiba...� ucapnya �Ini, pakaianmu longgar sayang... kelihatan lipatan s**u kamu mmmppphhhh...� ucapku itulah yang membuatku tidak tahan Kutarik rok selututnya ke atas, ciumanku turun ke lehernya. lidahku menyapu leher jenjangnya, gelap tak menghentikan aksiku. Semakin turun dan kutarik kaos longgarnya itu ke atas. �Ahhh... susu...� ucapku pelan memandang s**u yang masih terbungkus BH tanpa renda itu �Aghh mas... remashhhnya pelanhhhh...� desahnya pelan, segera kuraba bagian s**********n istriku, udah basah. �Gak pakai celana dalam sayang? Sudah basah?� ucapku �Egh... mas jahat, tadi ade sudah dandan cantik buat weekend dirumah, pakai lingere seksi gak pakai daleman, mas malah gak pulang-pulang. Ade tadi jengkel, jadi nyusul mas, cuma pakai BH doang! Padahal kan buah hati kita sudah ade titipkan ke rumah ortu ade, jahaaaaat!� ucap istriku, nita �Aw... mas pelan... masukin saja mas cepeetan ade sudah ndak tahan, dari berangkat didalam mobil ade nyiumi celana dalam kotor mas, jadi basah� ucapnya �Wow...� aku tersenyum bengis Ku rebahkan tubuh istriku di lantai dan langsung kangkangi. Waktu mepet sebentar lagi pagi, segera aku keluarkan rudal kesayangannya. Ku tekan pelan di v****a yang kuperawani dulu sewaktu dia masih kuliah ini. �Arghh pelan.... besar mashh...� desahnya Kuremas susunya, dan kulumat. Pinggulku bergoyang memompa tubuhnya, pertama aku masukan sedikit kemudian kukeluarkan, lebih dalam keluarkan lagi, lebih dalam lagi keluarkan lagi hingga sebatang daging milikku ini masuk kesesluruhan. Kepalanya mendonga, bibir bawahnya digigit. �Mmmppph.... terus mas lebih keras lagi... lebih dalam ade suka k****l mas... ugh... I Love your d**k honey, f**k me harder! Entot!� ucapnya sedikit keras �Ssssttt jangan keras keras agh agh agh agh� ucapku pelang sembari menggoyang �Ssssttt mmmphh... enak banget... terus mas kerasa banget mas... kontolnya jadi tambah besar didalam arghh... terus... lebih keras mas...� ucapnya Aku terus menggoyang tubuhnya keras, lebih keras dari sebelumnya. Suara persatuan k****l dan m***k terdengar keras. Ku cium bibirnya... �Mmmppphh... ade keluar.... hampir keluarrhhh....� �Massshhh... masshhhh... ade... ade... arghhh....� desahnya seketika tubuhnya melengking dan ku hujamkan penisku sedalam mungkin. Tubuhnhya mengejang beberapa kali, kupeluk erat tubuhnya. Kutunggu hingga nafasnya kembali normal, ku kecup keningnya dan kuelus kepalanya. Kusentuhkan hidungku dengan hidungnya. �Sudah yuk pulang...� ucapku �Mashhh ash ash belum keluar, keluarkan dulu� ucapnya �Nanti di rumah saja, hampir pagi gak enak sama bawahan� ucapku �Beneran, mas gak nanggung?� ucapnya, aku mengangguk Segera kami merapikan pakaian, ketika hendak memasukan penisku kedalam celana dalam. Sebuah kecupan manis di helm penisku, aku tersenyum. Ku semprot kantor dengan wewangian dan kemudian ku kembalikan seperti semula. Ku gandeng istriku ke luar kantor dan masuk ke dalam mobil istriku menuju pulang sedang mobilku aku tinggal di kantor. �Ade keluarkan mas?� ucapnya ketika perjalanan pulang �Gak usah...� ucapku �Iiih tumben bisa tahan... hi hi hi� godanya �Awas nanti dirumah ya...� ucapku �Awas apa? Hi hi hi� ucapnya tapi pandanganku menjadi kosong melihat jalan �Ada yang mas pikirkan?�Ucap istriku, ingatanku sedikit kembali ke masa lalu �Masih ingat, ketika mas bilang �itu adalah mata jenius�...� ucapku, dengan pandangan mata tetap ke jalan �Mmm... owh ya masih ingat...� ucapnya �Mas bertemu lagi, dengan seorang pemuda mungkin umurnya kurang dari 20 tahun. Tapi kejenniusannya sama� ucapku �Sama dengan...� ucap istriku, memandangku dengan tatapan akan sebuah jawaban. Aku tersenyum �Ya, sama persis atau mungkin lebih... bahkan cara dia menganalisa sesuatu� ucapku sembari membelokan mobil �Jadi kangen candaaanya...� ucap istriku �Sama... melihat pemuda itu sama seperti aku melihatnya, cerdas...� ucapku �Apa mungkin dia sama seperti pemuda itu waktu muda ya?� tanya istriku �Kalau dari ratu-ratu hatinya, dia pandai dan cerdas...� ucapku, mataku sedikit berkaca �Mas kangen...� ucap istriku, aku mengangguk �Cup...� sebuah kecupan di pipiku �Hari itu pasti berlalu, waktu pasti berganti, semua akan terlihat sama hanya nama yang akan berubah, kebersamaan pun akan berakhir... tetaplah bersama sampai waktu akhir itu, dan peluklah yang kamu cintai� ucap istriku, langsung aku mengerem mobil. Dan kupeluk istriku, kata-kata itu adalah kata-katanya. �Sudah yuk pulang...� ucap istriku, setelah beberapa menit aku menangis dengan kepalaku di elusnya �Ade sih...� ucapku �Iya ini ade, ade yang akan selalu sama mas� ucapnya tersenyum Kulanjutkan perjalanan pulangku... ----- Setelah subuh, aku masih saja bertahan dengan dunhill putihku, bingung rasanya dan penuh dengan penasaran. �Siapa dia? Mirip sekali...� bathinku, mengingat wanita yang berada di mobil sewaktu lampu merah Setelah subuh aku lewati, aku rebahkan tubuhku untuk tidur. �Siapa kamu? mirip... sangat mirip tak ada bedanya� ucap hatiku ketika tubuh mulai tak sadarkan diri �Ayo Arta kamu harus mencari tahu siapa dia� bathinku....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD