Bab.2 Jangan Harap Ada Ciuman!

1061 Words
  Dengan sangat tergesah-gesah. Jeana Brokas melangkahkan kakinya menuju kampus. Dia baru saja akan memulai kuliah pertamanya setelah setahun dia mengajukan cuti untuk bekerja. Hari ini, dia hanya berjalan kaki dan pastinya tuan Leo tidak akan mengantarnya. Seminggu ini, dia akan lebih sibuk dengan Sela, kekasihnya. Pagi tadi lelaki dingin itu pulang dengan wajah kusut bahkan baju yang sangat berantakan. Bekas lipstik sungguh sangat banyak di kerah bajunya.   “Apakah mereka melakukan hal yang panas tadi malam?” batin Jeana. Jeana hanya mengerutkan kening saat memandangi tuan Leo tadi pagi, memikirkan tuan Leo yang datang dengan penampilan yang berantakan membuat Jeana terlambat untuk masuk ke kelas. Ada gadis berambut ikal yang melambaikan tangan ke arah Jeana saat perempuan dengan rambut legam itu menunjukan batang hidungnya di kelas psikologis hari ini. Rebeca lalu menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Dengan sigap, Jeana lalu menghampiri Rebeca dan meletakan bukunya di samping tas Rebeca.   “Tuhan, kamu mau kuliah atau jual buku?” tanyanya sambil membulatkan mata menatap Jeana yang menghela nafas panjang.   “Aku mendengarkan gossip, bahwa kemarin kamu menikah yah?” sahutnya. Rebeca memandang Jeana dengan mennyipitkan mata dan berharap gadis itu segera angkat bicara.   “Katanya, dia tua yah?” sambungnya.   “Tidak juga!” jawab Jeana. Dia lalu membayangkan tuan Leo yang sudah berumur. Walaupun umurnya sangat dewasa tetapi dia tidak terlihat sangat tua. Lelaki itu selalu melakukan perawatan yang intens dengan produk termahalnya.   “Terus, kalian sudah apa saja?” tanya Rebeca penasaran. Jeana lalu memandangi mata cokelat perempuan itu.   “Mencium aromaku!”   “Terus?”   “Sudahlah, tidak ada yang terjadi di antara kami!” tegasnya. Jeana lalu tidak menanggapi rasa penasaran Rebeca yang semakin menjadi-jadi. Hari ini Jeana dan Rebeca terbebas dari hujan buatan prof Gali. Andai saja Rebeca mengambil tempat di depan. Maka prof Gali akan menyemburkan hujan buatan ke wajah mereka. Lebih tepatnya rintikan hujan.   ***   Pagi ini, tuan Leo mencari sebuah naskah proyek yang diletakkan di atas meja. Tetapi dia sama sekali tidak menemukanya di mana pun. Pikiranya berpusat kepada perempuan kecil yang baru saja datang di rumahnya. Selama beberapa tahun, dia tidak akan salah menempatkan berkas penting itu. Dengan wajah yang berantakan, dia lalu mengambil jas hitamnya dan kaca mata hitam untuk segera menyusul perempuan kecil yang sudah sangat menganggunya hari ini.   Sesampai di kampus, Leo lalu mencari perempuan berkuncir kuda itu. Dia menyusuri tiap sisi kampus. Kedatangan Leo membuat beberapa mahasiswa menjerit tidak karuan. Lelaki itu pun sama sekali tidak menyadari bahwa dia menjadi pusat perhatian hari ini. Siapa yang tidak terpesona dengan Leo?.   “Jen, ada yang cari kamu. Katanya, om kamu?” sahut Rebeca segera sambil menunjuk ke arah Leo yang sudah berdiri agak jauh dengan melipatkan kedua tanganya.   “Astaga, dia suami aku Rebeca!” ujarnya sambil membuka mulutnya dan mengerutkan kening.   “Ups!” Rebeca menelan ludah.   “Kamu tidak mengatakan bahwa lelaki itu setampan ini Jeana!” Rebeca memukul kepala Jeana.   “Dasar bodoh!” bisik Rebeca.   Leo yang menyadari keberadaan Jeana lalu mendekati perempuan kecil itu. Deru nafasnya sangat jelas dirasakan Jeana. Leo mendekati wajahnya dan posisi mereka sangat dekat sehingga beberapa mahasiswa perempuan berteriak histeris.   “Tuan, m-mengapa kesini?" tanyanya terbata-bata. Leo kemudian memandang intens wajah Jeana dan sedikit tersenyum kecut.   “Mengapa membawah berkas proyek senilai 15 M?” bisiknya. Jeana membulatkan mata, dia menelan salivanya dan mencoba memandang wajah Leo.   “Jadi berkas itu, berkas tender 15 M?" tanyanya lagi.   “Hampir saja tadi aku gunakan sebagai alas gorengan!” batinya sambil memukul wajahnya. Leo yang melihat ekspresinya lebih mendekatkan wajahnya, membuat bulu kudu perempuan itu berdiri lagi.   “Di mana berkasnya?” tanya Leo. Perempuan itu lalu tersenyum dan sangat ragu.   “Tadi sudah jadi alas gorengan, di tempat sampah depan kelas!” serunya sambil menunduk dan tidak memandang mata elang lelaki itu.   Tanpa aba-aba, Leo kemudian mengangkat Jeana dan membawahnya menuju mobil sehingga membuat perempuan itu berteriak histeris. Rebeca tidak kalah kagetnya.   “Om, teman saya mau di bawah kemana?” sahutnya sambil menarik tangan Leo.   “Ini istri saya, jadi saya bawah kemana pun bisa!” ujarnya tanpa memandang Rebeca.   “Leo, turunkan aku. Sekarang!” teriaknya. Leo hanya terdiam sambil mengendong perempuan kecil itu dan menurunkanya di depan sebuah tong sampah. Leo kemudian mengambil berkas berwarna kuning itu dan mengendong Jeana lagi menuju mobil.   “Leo, aku bisa jalan sendiri!” teriaknya sambil memukul lengan lelaki dingin itu. Leo tidak memindahkan ucapan Jeana.   “Kamu harus membayar ini Jeana!” bisiknya.   Di dalam mobil, Leo mendekatkan wajahnya ke Jeana, sangat dekat sehingga perempuan itu terdiam sejenak dan menutup mata.   “Kamu pikir aku akan menciummu?”   “Jangan berharap bahwa selama pernikahan aku akan menciummu,” ucapnya.   “Hari ini, kamu jangan tidur di kamar!” bentaknya sambil menunjuk wajah Jeana.   “Kalo tidak, jangan berharap bahwa kamu akan bangun dengan selamat!” ancamnya. Leo lalu melajukan mobilnya sangat kencang menuju kantor.   Jeana yang terdiam hanya memandnag suram ke depan. Tatapanya nanar dan ada butiran bening yang hampir jatuh. Baru kali ini dia dibentak dengan kasar oleh seorang lelaki. Memasuki kantor, Jeana tetap mengekor di belakang Leo sambil menunduk. Sela model cantik itu kemudian menyadari kedatangan Jeana yang berkuncir kuda.   “Leo, apakah ini perempuan itu?” tanya Sela sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangan sambil mengarahkan pandangan sinis melihat Jeana dari ujung kepala ke ujung kaki.   “Aku rasa paman Andra sudah sangat rabun,” sambungnya sambil tertawa. Merasa diintimidasi, Jeana lalu berdiri di belakang Leo dan bersembunyi.   “Mengapa kamu ketakutan?” tanya Leo terheran saat melihat Jeana langsung berlari di belakangnya.   “Besok malam temani aku lagi yah!” Pinta Sela sambil bergeluyut manja di tangan Leo. Leo bahkan mencolek dagu perempuan berbodi sintal itu dan memeluknya.   “Ia, sayang!” bisiknya mesrah sambil mengarahkan pandangan nakal ke arah Sela.   “Jangan lama-lama datangnya, aku rindu tahu!” ucap Sela dengan sangat manja. Membuat Jeana sangat muak melihat perempuan cantik dengan wajah yang hampir sempurna itu memeluk tuan Leo.   “Kamu sudah tidak sabar yah?” goda Leo sambil merapatkan tubuhnya sehingga membuat kening Jeana berkerut melihat aksi mereka.   “Oke tuan, saya pergi dulu!” Jeana lalu berlari meninggalkan mereka berdua. Jeana bisa gila melihat sepasang kekasih itu sedang b******u di depanya. Bahkan lelaki itu berstatus suaminya. Tidak ada cinta untuk Leo dan tidak ada cinta untuk Jeana, semua sudah jelas di kotrak itu.   Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD