Bab.3 Berhati Yupi

1125 Words
  Leo menatap iba wajah Jeana yang tertidur dengan sangat kelelahan. Hari ini perempuan itu sudah membersihkan rumahnya dengan sangat rapi sepulang dari kantor tadi siang. Tidak lupa Jeana menyemprotkan wangi lavender di setiap sisi ruangan. Wangi lavender adalah kesukaannya. Dengan sangat pelan, Leo mengangkat tubuh Jeana dari sofa dan meletakkan di atas kasur. Leo melihat cincin yang melingkar di jari Jeana. Perempuan itu masih sangat setia menggunakanya bahkan di kampus. Sedangkan Leo sudah menyimpannya jauh-jauh hari.   Leo menyentuh pipi mungil perempuan itu, ada perasaan iba yang tiba-tiba menyerang hatinya. Seharusnya perempuan itu tidak terlibat dalam pernikahan bisnis ayahnya.   Leo kemudian menjauhkan tubuhnya dari Jeana. Jantungnya berdetak kencang. Dia lalu mengambil anggur yang tersimpan di lemari dan meneguknya segera. Sela hari ini membatalkan kencan buta mereka lagi, itu yang membuatnya frustasi. Katanya, dia ada urusan dengan klien dari luar negeri. Apa pun yang dilakukan Sela akan selalu dituruti oleh Leo, cinta buta sudah merusak hati dan otaknya.   “Kenapa di sini, jangan macam-macam tuan Leo!” seru Jeana sambil menyibakkan selimut ke wajah Leo sehingga gelas yang berisi anggur terjatuh di tanganya.   “Aku kenapa, mengapa?” tanya Leo kebingungan.   “Aku tahu kalo tuan bohong,” sahut Jeana sambil mundur beberapa langkah.   “Jadi kamu menuduh aku macam-macam denganmu Jeana?” Leo mendekati perempuan itu. Wajah Jeana gusar, dia berusaha mengindar.   “Aku tidak akan mau, aku tidak tertarik dengan dirimu,” sambung Leo. Jeana menelan ludahnya, ini sudah kelima kalinya Leo mengucapkan itu dihadapanya. Bagaimana kalo dia mengingkari ucapanya?.   “A-aku pergi dulu!” seru Jeana melompat dari sofa dan berlari keluar kamar.   “Perempuan kecil itu terlalu percaya diri, memangnya dia tidak malu?” ucap Leo sambil pandangannya mengarah ke luar pintu. Keningnya berkerut memandangi ekspresi Jeana yang tiba-tiba.   Jeana menenangkan jantungnya yang dari tadi tidak bisa di kontrol. Serasa detak jantung ini lebih cepat berdenyut dan seakan ingin keluar dari peraduanya.   “Mohon, tenang Jeana,” batinnya. Jeana menenangkan dirinya sambil berjongkok di sisi dapur.   “Apakah aku gugup tadi?” sahutnya dalam hati.   “Jeana, di mana kamu anak kecil?”   “Keluar dari persembunyianmu!” Leo membuka pintu dapur tapi dia tidak melihat perempuan itu. Jeana kemudian berjalan dibelakangnya dengan sangat pelan.   “Jeana sayang?” sahut lelaki itu lagi.   “Apakah kamu mencariku?” seru Jeana kemudian dan berlari memeluknya. Dia tersenyum kecut lalu mengangkat tubuh Jeana dan membawahnya ke sofa lagi.   “Aku akan memberikanmu sebuah pelajaran malam ini, sesuatu yang tidak pernah kamu duga!” serunya dengan pandangan nakal. Jeana menelan salivanya. Jeana merasa heran melihat wajah Leo yang menatapnya intens. Leo memeluknya erat tubuh Jeana sehingga Jeana sulit bernafas. Di dekatkanya wajah Leo segera, jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Jeana menutup matanya, dia yakin bahwa Leo akan menciumnya.   “Ahhh sakit!” teriak Jeana, hidung mungilnya di tarik sehingga meninggalkan bekas merah.   “Kamu kira aku akan menciummu?”   “Jangan bermimpi,” ujarnya lagi lalu memakai bajunya kembali.   “Mau kemana?” Jeana mengikutinya sampai depan pintu keluar.   “Aku ingin menemui kekasihku, kamu di sini saja!”   “Jangan menunjukan wajah sedihmu!” sambungnya. Leo lalu mengambil kunci mobil dan melaju kencang.   ***   Leo memasuki rumah kastil itu, dia sengaja tidak memberitahukan Sela. Dia akan memberikan kejutan buat kekasih tercintanya. Bagi Leo, Sela adalah dunianya dan bagi Sela, Leo adalah lelaki pendampingnya yang siap dia panggil kapan saja.   Leo mengamati sepatu lelaki yang tersusun rapi di rak sepatu. Keningnya berkerut, Sela sama sekali tidak akan mengundang lelaki lain selain dirinya. Bagi Sela, hanya Leo yang bisa menjamah tubuhnya, tidak ada lelaki lain.   Dia mengamati jendela kamar yang terbuka. Suara desahan sepasang kekasih yang bertautan menambah rasa penasaran di dalam dirinya. Leo membuka pintu rumah, mengendap-gendap masuk dan membuka kamar Sela.   Hatinya bagaikan di tekam belati, Leo melihat wanitanya tanpa sehelai benang pun bersama seorang lelaki bertato. Air matanya berjatuhan. Dia kemudian berlari dan menjauhi tempat itu. Sela yang menyadari keberadaan Leo menghentikan aktifitasnya segera.   “Mau kemana?” bisik lelaki itu.   “Lanjutkan lagi,” pintanya. Sela menjauhi tubuhnya dari lelaki itu, ditariknya piyama lalu berlari keluar kamar.   “Leo?” teriaknya. Namun Leo sudah masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi. Leo mengepal tanganya dengan sangat erat. Air matanya tanpa sadar berjatuhan.   ***   Jeana sedang membersihkan kamar tuan Leo, lelaki itu masuk lalu membanting pintu rumah dengan sangat kencang dan kasar.   “Tuan Leo, ada apa?” tanyanya heran.   “Tuan kenapa wajah anda?” sambung Jeana mengamati lekat-lekat wajah Leo. Leo tidak menghiraukan ucapan Jeana, dia memalingkan wajahnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar dan membanting segala jenis varian angur koleksinya yang berada di lemari. Amarahnya memuncak.   Jeana merasa ketakutan saat Leo yang mengobrak-abrik seisi rumah. Jeana kemudian masuk dan mengintip dari balik lubang pintu.   “Ke sini!” perintahnya. Mata Jeana membola.   “Jeana ke sini!” ulangnya. Dengan sangat hati-hati, Jeana membuka pintu itu. Leo lalu memeluk perempuan kecil itu dan mengangkat tubuhnya di kasur.   “Leo, kamu mau apa!” teriak Jeana. Dia memukul tangan berotot Leo dengan sangat keras. Kancing bajunya sudah terbuka setengah.   “Kamu istriku, layani aku!”   “Leo, lepaskan aku!” teriak Jeana sambil memukul tubuh lelaki itu. Namun Leo segera mendekatkan bibirnya, sangat dekat. Jeana lalu mendorong tubuh Leo dengan sangat keras dan menggunakan kakinya untuk menendang wajah Leo. Dia tidak ingin membayar apapun di rumah ini termasuk jika bersentuhan dengan tuan Leo.   “Sekali saja, jangan tingalkan aku!” pinta Leo iba. Pelukanya sama sekali tidak ingin dilepaskan. Leo memeluk Jeana dengan sangat erat. Jeana berhenti berontak, ada butiran bening yang menetes di bahunya. Jeana melirik wajah Leo, lelaki itu menangis.   “Apakah dia sangat mencintai Sela?” batin Jeana. Lelaki itu terus memeluknya dengan erat. Leo lalu menyenderkan kepalanya di bahu Jeana.   “Jangan tinggalkan aku!” bisiknya lagi. Jeana menyentuh pipi Leo, di usapnya air mata itu, dia kemudian mengelus mesra rambut lelaki di sampingnya.   “Ada apa, apa yang terjadi?” batin Jeana. Pak Ardan lalu masuk ke dalam kamar tanpa permisi, suara gaduh itu membuatnya terbagun segera.   “Plak!” pintu itu terbuka. Dia kemudian menutupnya lagi sesaat melihat Leo dan Jeana dalam keadaan berantakan.   “Maaf aku menganggu kalian,” sahutnya sambil tersipu malu.   “Buatkan aku cucu yang banyak!” serunya lagi dari balik pintu dan tertawa. Bunyi tawa tuan Andra membuat pipi Jeana merah semerah tomat. Mereka tidak melakukan apapun, mereka hanya saling beradu otot saat ini.   “Aku tidak sedang membutkan dia cucu,” batin Jeana bingung. Dia lalu menatap lelaki yang berada dipelukanya. Leo tertidur dan mengigau di sampingnya.   “Ternyata hatinya seperti yupi,” batin Jeana lalu bergegas meninggalkan Leo yang sudah tertidur pulas, dia tidak lupa menyelimuti lelaki itu dan mengecup keningnya. Ritme jantung Jeana semakin tidak beraturan.   Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD