“Jeana, kenapa kamu mau saja menikah dengan lelaki yang punya kekasih seperti Leo?” kening Jeana berkerut memandangi Rebeca yang tiba-tiba duduk di sampingnya dan bertanya hal itu.
“Apa hanya harta kekayaan lelaki itu?” serunya lagi. Dia menatap lekat mata Jeana yang termenung di sampingnya.
“Singa itu ganteng juga!” sahutnya lagi sambil mengerakan tanganya mengekspresikan wajah Leo. Jeana masih terdiam, dia sibuk menulis mata kuliah hari ini, Jeana tidak terlalu memperdulikan Rebeca yang asik bercerita di sampingnya.
“Dia bukan singa Rebeca dia Leo,” ucap Jeana lirih tanpa memandang Rebeca. Rebeca hanya terkekeh sambil tersenyum tidak jelas.
“Besok Alfin pulang, dia mau bertemu denganmu,” sambung Rebeca. Mata Jeana tiba-tiba membola.
“Bagaimana kalo dia tahu kamu sudah menikah?” Rebeca menatap mata Jeana.
“Rebeca, aku akan bercerai denganya, kontrak itu hanya berjalan dua tahun,” sahut Jeana lagi.
“Tidak masalah.” Jeana berdiri dan memandang wajah Rebeca yang menatapnya.
“Kamu tahu, bahkan kami tidak akan bersentuhan dan jatuh cinta,”
“Tidak akan ada hubungan yang lebih diantara kami!” sambung Jeana.
“Hah?” Rebeca terkejut. Dia menghela nafas panjang. Matanya menyusuri ornament wajah Jeana yang tersenyum bangga dengan pernyataanya yang diucapkan.
“Jadi dia belum menyentuhmu?”
“Terus, kalian…”
“Kalian belum itu?” sambung Rebeca menyatukan dua telapak tangannya.
"Hai! Jangan bilang dia hanya memandangmu!" pekik Rebeca terheran,
“Stop Rebeca, dia tidak akan menyentuhku, itu sudah jelas di kontrak perjanjian kami!” jelas Jeana tegas, matanya menatap tajam Rebeca dan berharap sahabatnya itu membuang jauh-jauh pikiran kotornya.
“Maksudnya, kamu kawin kontrak?” sambung Rebeca lagi. Otaknya tidak bisa berjalan baik hari ini, kening Rebeca berkerut. Jeana hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.
“Tuhan! Astaga! Jeana!” Rebeca lalu memukul kepala perempuan di depannya.
“Sakit tahu!”
“Kamu yang sakit,” balas Rebeca.
“Kamu gila yah!” sahut Rebeca lagi. Rebeca tidak bisa mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.
"Gila apa?"
"Aku bisa gila kalo bersama lelaki itu terus!" protesnya.
"Dia memang gila sehingga kamu juga gila?"
"Ahh! Pusing Rebeca!" cetus Jeana.
"Dia lebih dari gila!" sambungnya.
***
Leo membuka matanya, dia tidak melihat siapa pun hari ini di dapur. Seharusnya perempuan kecil itu sudah menyediakan makanan pagi ini. Dia mencoba membuka nakas. Mata sayup Leo melihat ada secangkir cokelat tapi sudah tidak panas lagi dan di sisi meja ada sepiring roti bakar berbentuk hati. Dia tersenyum kecut.
“Sudah jam tiga sore?” sahutnya terheran, matanya menatap dinding berwarna biru dengan hiasan ornament klasik. Leo lupa bahwa tadi malam, dia sangat kelelahan dan sudah minum banyak anggur sehingga kepalanya berat dan memilih untuk tidur seharian.
“Pantas saja semuanya sudah dingin,” ujarnya lagi. Dia mencoba memakan nasi goreng buatan Jeana yang sudah tersusun rapi di atas meja makan.
“Enak juga!” sahutnya.
“Aku tidak tahu bahwa anak tuan Brokas pandai memasak,” sambungnya.
“Tapi kenapa dia mengirimkan perempuan kecil sebagai istriku?”
“Dia punya tiga anak, kenapa harus Jeana?” seru Leo. Begitu banyak pertanyaan di kepalanya. Dia menghembuskan nafas panjang sambil menikmati sepiring roti dingin yang dipegangnya.
“Tuan Leo!”
“Aku sudah berada di sini lima menit dan tuan masih duduk dan tersenyum sendiri,” suara itu membuyarkan lamunan Leo. Dia tidak sadar bahwa Jeana sudah berada di depannya.
“Buatkan aku kue, segera!” setelah mengatakan itu, Leo lalu berdiri dan meninggalkan Jeana yang termenung dan menatapnya dengan terheran.
“Aku tidak bisa masak kue tuan!”
“Harus bisa Jeana, kamu istriku!” tegasnya. Leo melirik sekilas istrinya dan Jeana sudah memanyunkan bibirnya seperti mulut bebek. Leo tersenyum penuh kebahagian.
"Jangan pikir bahwa aku akan romantis denganmu yah! Aku tidak akan pernah melakukannya! bentaknya lagi. Jeana bergeming dan menghela nafas panjang.
“Tapi..”
“Jangan melawan aku Jeana, atau aku akan menyuruhmu hal yang lain!” ucapnya lagi dan segera mengambil jas hitam yang tergeletak di kasur.
“Setelah itu, kamu sempotkan pewangi lavender di kamarku!”
“Jangan pernah menantangku di rumah ini, kamu wajib memenuhi aturan di rumah ini!” setelah mengatakan itu, Leo kemudian bergegas menjauhi tubuh perempuan itu.
“Tuan Leo, mengapa selalu menyuruhku menyemprot wewangian. Aku bukan tukang parfum atau aku bau?” kata Jeana lirih.
"Atau yang bau malahan Tuan Leo?" sambungnya. Jeana tidak mau kalah berdebat dengan lelaki itu.
"Jangan banyak bicara!" Leo hanya berjalan dan tidak menghiraukan perkataan Jeana. Seutas senyuman terurai di wajah tampannya.
"Dia benar-benar sudah tidak waras!" batin Jeana.
"Leo Vernando! Gila!" teriaknya frustasi.
"Mengapa aku harus menikah dengan lelaki bertampang robert?" kata Jeana lirih.
"Owh Tuhan! Apa salah hambah?" Jeana menongakan wajahnya keatas sambil menutup matanya. Telinganya benar-benar panas hari ini.
"Apa?" Leo membuka pintu dan menatap Jeana lagi. Jeana terpatung sesaat dan mencoba tersenyum.
"Aku tidak gila, aku normal dan aku hanya tidak suka kamu!"
"Banyak hal yang harus aku lakukan agar kamu segera pergi dari kehidupanku, Jeana Brokas!" pekik Leo sambil menekan kata-katanya. Dia menatap tajam mata lentik Jeana.
"Satu lagi, ini rumahku jadi jangan buat peraturan lain selain peraturanku!" perintah Leo. Jeana mematung, dia membelakangi lelaki itu dan segera bergegas keluar kamar.
"Jangan pernah marah jika aku memberitahumu. Hei!" teriak Leo. Jeana berjalan dan menginjak kakinya segera.
"Tidak sopan menginjak kaki suami. Hai! Perempuan culun!" teriaknya lagi. Jeana hanya berlari sambil meleletkan lidahnya dan bergegas ke taman.
"Sumpah! Aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan perempuan sepertimu!" batinnya.
***
Sela Askara mengumumkan hubungan resminya dengan seorang lelaki tampan bernama Leo Vernado. Media di hebohkan oleh pernyataan dari Sela. Setelah pemotretan untuk majalah barunya. Dia memberitahukan kepada wartawan akan hubungan resminya dengan seorang lelaki pemilik saham perusahaan manufacture bernama Leo Vernado.
“Sudah berapa lama menjalin hubungan?” tanya salah satu wartawan. Sela menyergitkan keningnya dan mencoba menghindari wartawan yang berlari mengejarnya.
Ada Leo Vernado yang melindungi sisi tubuhnya agar tidak terhimpit orang banyak. Bahkan lelaki itu tidak segan memeluk tubuh sintal Sela dan berlari bersamanya.
Jeana masih saja melanjutkan siara TV yang menayangkan Leo dan Sela, dia menghembuskan nafas panjang dan memilih untuk mematikan saja. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Leo.
“Bukankah lelaki berhati yupi itu sudah diselingkuhi?” batin Jeana. Dia lalu mengambil selembar kertas dan mencoretnya.
“Dasar bodoh!” sahutnya lagi, tanganya masih sibuk mencoret-coret di kertas itu. Ada rasa sesak yang berada di hatinya.
Dring…
Bunyi ponsel mengagetkannya sejenak, Jeana dengan tidak bergairahnya mencoba mengambil ponsel itu dan menekal tombol hijau. Ada wajah lelaki tampan yang tersenyum dari layer ponselnya.
“Ada apa?” ujar Jeana, suaranya sama sekali tidak semangat.
“Aku pulang, kamu tidak rindu?” lelaki itu masih saja tersenyum menatap Jeana.
“Aku ada keperluan, nanti aku hubungi lagi. Bye!” seru Jeana lalu mematikan ponselnya. Hubunganya dengan Alfin memang sedang baik-baik saja. Tetapi karena lelaki itu tidak pernah menghubungi Jeana, membuat Jeana tidak berharap banyak. Walaupun Jeana sangat mencintai Alfin Askara. Cinta pertama dan terakhirnya.
Bersambung...