Evan menenggak sebotol wine langsung dari dalam botolnya. Tak perduli pada tata cara meminum yang baik. Yang dia inginkan hanya cairan merah pekat ini melewati tenggorokannya. Rasanya pahit, tapi, justru Evan merasakan ketenangan disana. Ara menghilang lagi. Wanita itu sangat kerap datang dan pergi. Datang untuk berbagi kehangatan. Lalu, pergi tanpa kabar. Beberapa kali pesannya diabaikan. Membuat Evan harus menahan diri lagi. Menanti hingga Ara datang sendiri ke Apartemennya. "Evan, turunlah ke lantai dansa. Wajahmu tidak cocok menderita begitu," Nathan sudah mulai menggoyangkan tubuhnya. Evan hanya mendecih. Jika bukan karena paksaan, dirinya tidak akan mau datang kesini. Malas sekali mendengar suara bising seperti ini. Andai saja Kino tidak menjemputnya. Kino memaksa Evan untuk berga

