Ara sudah membuka kedua matanya sejak tadi. Lagipula, sejak malam tidurnya terasa tak nyenyak. Ntah apa alasannya. Dia sulit sekali memejamkan mata. Lampu tidurnya masih menyala. Bahkan ketika cahaya matahari sedikit demi sedikit mengintip diantara celah gordennya. Malas rasanya untuk beranjak dari ranjang. Bahkan meraih remot control yang multifungsi untuk pendingin ruangan, penghangat ruangan, beserta lampu rasanya malas. Sudah sekitar sebulan dia tak bertemu dengan Evan. Dia sengaja meninggalkan lelaki itu ketika masih terlelap. Tanpa sepatah kata perpisahan lagi. Pikirnya, Evan sudah paham. Menjalani hubungannya dengan Aldric seperti biasa. Lelaki itu serius tak mempermasalahkannya. Bahkan kini semakin menyayangi Ara. Lebih lembut dan berusaha mengerti. Perasaannya terasa lebih rin

