Ara memegang kepalanya yang mendadak sedikit pening. Padahal semangkuk sereal beserta s**u sudah masuk diperutnya setengah jam lalu. Tak seperti biasanya yang terasa begitu nikmat. Mendadak lidahnya merasa mual menikmati sereal ternikmat menurutnya. Walaupun mual, Ara tetap memaksakan mulutnya menelan. Takut jika penyakit sakit perutnya akan kumat jika terlambat makan. Beberapa hari ini dirinya sering mual. Pikirnya karena pola makan yang tidak teratur. Jadi, takut hal itu terjadi. Ara memaksa saja untuk menghabiskan walaupun sebenarnya benar-benar tidak kuat. Ara belum sempat berkunjung ke dokter. Tugasnya menumpuk sekali. Belum lagi pikiran-pikiran rumit yang sulit sekali terurai. Membuatnya malas mengunjungi dokter. Belum sempat mengunjungi, dirinya sudah bisa menebak bahwa dokter itu

