Aldric berjalan dengan langkah besarnya. Tergesa-gesa menuju apartemen yang sudah sejak awal menjadi tujuannya. Tangan kanannya memegang erat hasil pemeriksaan milik Ara yang diberikan kepadanya sekitar dua minggu lalu. Memang sengaja Aldric yang menyimpannya. Tepat berada didepan pintu. Jemarinya mengetuk dengan tak sabaran. Bahkan dapat dimasukan kategori keras. Aldric tidak perduli jika tetangga Evan atau bahkan pihak security datang dan mengusirnya. Dia hanya ingin meluapkan emosi saja. "Evan, buka pintunya," Aldric berteriak. "b******k buka pintunya," Aldric masih terus menggedor pintu itu. Hingga tak berselang lama, Evan membuka pintunya. Belum sempat berbicara, Aldric sudah lebih dulu menerjang Evan dengan pukulan bertubi-tubi. "Apa yang kamu lakukan pada Ara, huh?" Evan tidak me

