Bertemu Part 3

1022 Words
Zidan hanya menghindarinya, makanya dia kuliah di luar Indo, semata-mata untuk membuang semua kenangannya bersama Sita. Walaupun singkat dan itu terjadi saat di sekolah dasar, Zidan merasa itu bukan cinta monyet, begitu pula dengan Sita. Mereka berdua mengalami cinta pandangan pertama pada orang yang tepat. Hanya saja ending-nya miskomunikasi. Di benak Dafa, Sita dan Zidan hanya akan saling melukai. Mereka berdua seharusnya berbicara dari hati ke hati dan menuntaskan semuanya. Apakah mereka masih memendam perasaan ataukah mereka memutuskan untuk membunuh saja perasaan itu. "Kamu sudah sangat lelah dan terus menangis, sebaiknya kita pulang. Angin malam juga kurang bagus buat kesehatanmu," ajak Dafa, sambil melepaskan genggaman tangannya. "Daf, terima kasih buat hari ini, aku benar-benar sangat kacau. Aku masih saja tidak bisa berpikir logis." "Ga apa. Kamu bisa mengandalkan aku. Kalo ada apa-apa, hubungi aku ya," jawab Dafa dengan lembut. Keduanya meninggalkan taman tersebut. Dafa langsung mengantarkan Sita pulang. Sita pun mengajak Dafa masuk untuk pamitan pada orangtuanya.Juna dan Jihan kebetulan belum tidur, hanya Reyna, adiknya Sita, yang masih duduk di kelas 2 SMA, yang sudah terlelap. "Selamat malam om, tante, maaf saya mengantarkan terlalu malam. Tadi abis ketemuan ama temen-temen," kata Dafa kepada Juna dan Jihan. "Ini kok seperti familiar ya wajahnya Bun?" tanya Juna kepada istrinya. "Iya, kok Bunda juga sepertinya ga asing ya," Jihan mulai meneliti wajah Dafa. "Tante dan Om mungkin masih ingat, saya temen SD Sita, yang dulu sering belajar kelompok," balas Dafa. "Dafa," Juna dan Jihan berbarengan menjawab. Dafa hanya tersenyum dan mengangguk. "Bukannya kata Sita kamu kuliah di luar negeri?" tanya Juna. Juna pun mempersilakan Dafa duduk. Sita pamit ke kamar untuk berganti baju dan membasuh muka. Lalu kembali bergabung bersama di ruang tamu. "Ini lagi libur semester 2 minggu, kebetulan selama 3 tahun saya ga pernah pulang, banyak tugas, Om," Dafa menjelaskan. "Oh gitu, Gege ma Zidan juga ikut liburan ke Indo?" Tanya Jihan. "Iya betul tante. Kalo begitu saya pamit, udah malem juga, Om, Tante." "Waalaikum salam." Sita pun pamit masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat lelah dan hanya ingin berbaring. Pikirannya menerawang entah ke mana. Sedangkan di ruang tamu, Juna dan Jihan melanjutkan obrolan mereka. Suara mereka sengaja dipelankan agar tidak terdengar. "Ayah, kamu masih ingat Zidan?" tanya Jihan. "Tentu saja ingat, anak lelaki yang menjanjikan kebahagiaan buat putri kita. Aku sebenernya merasa bersalah sudah memisahkan mereka. Tetapi memang waktunya yang kurang pas. Mereka masih terlalu kecil. Belum saatnya memikirkan hal-hal seperti itu." "Bunda merasa ayah terlalu keras pada mereka. Seharusnya ayah membicarakan hal ini secara baik-baik. Bukan dengan cara memblokir WA dan telepon lalu meminta Sita menjauhinya. Pasti tanggapan Zidan akan berbeda terhadap Sita." "Ayah paham. Saat itu ayah memutuskan seperti itu bukan tanpa alasan. Ayah tahu sifat Zidan keras. Jika Sita tidak melakukan hal itu, Zidan akan terus nempel kaya permen karet," kekeh Juna. "Ayah ini kaya ga pernah muda aza." "Mereka masih muda banget bun, kelas 5 SD, apa yang mereka pikirkan. Ayah cuma ingin mereka fokus belajar. Dan terbukti sekarang, Zidan melanjutkan kuliah di Amerika. Dan Sita juga walaupun tidak kuliah, dia mendapatkan pekerjaan yang bagus." "Tapi bunda merasa ayah terlalu keras. Bunda takut Zidan masih menyimpan amarah pada Sita. Dan bunda takut Sita masih menyimpan perasaan pada Zidan. Bunda sering lihat Sita diam-diam menangis saat tengah malam. Sita juga ga pernah dekat dengan lelaki sampai usianya 22 tahun sekarang." "Ayah juga memikirkan hal itu bun. Di usianya yang sekarang, dia belum pernah sekali pun membawa seorang lelaki ke rumah ini. Baru tadi dia membawa lelaki, itu pun sahabatnya." "Kita doakan saja semoga Sita segera menemukan jodohnya, bunda berharap lelaki yang datang padanya, adalah jodoh dan takdirnya." "Amin, sudah malam, ayo kita istirahat," ajak Juna. "Ayo." Di dalam mobil, Dafa akhirnya menumpahkan tangisnya. Tetesan air mata itu akhirnya tumpah membasahi tangan kemejanya. Dari tadi menahan sesak, akhirnya. Dalam tangisnya, Dafa menggumamkan nama Sita. Kenapa harus Sita yang terluka. Kenapa harus Sita yang mencintai dalam diam. Kenapa harus Sita yang bertepuk sebelah tangan. Seharusnya Zidan bersikap gentle, bukan malah lari ke luar negeri. Terkesan kabur seperti buronan. Dan kenapa juga dia dan Gege harus mengikuti Zidan sampai ke luar negeri. Sebenarnya dia dan Gege hanya mengkhawatirkan Zidan. Tetapi orang yang dikhawatirkan malah asyik dengan dunianya. Sungguh ironis. Tak lama, ponsel Dafa berbunyi. Ada panggilan masuk dari Zidan. "Daf, kamu masih di mana? Aku ini dah di rumahmu, tapi bibi bilang kamu belum sampai." "Aku masih di jalan, lima menit lagi sampai. Tunggu aza Zi." Zidan pun menunggu sesuai instruksi Dafa. Tetapi dia mulai kesal, mengapa Dafa lama sekali mengantar Sita. Padahal tadi Zidan pulang lebih lama dari Dafa dan dia langsung pulang ke rumahnya, lalu pergi lagi ke rumah Dafa. Pikiran negatif mulai meracuni otaknya. Apa jangan-jangan mereka berkencan dulu. Tapi sepertinya ga mungkin, mereka baru saja bertemu. Tak lama, mobil Dafa memasuki garasi. Dafa pun segera menghampiri Zidan. Dafa heran, tumben Zidan mampir ke rumahnya, padahal mereka baru saja bertemu di kafe. Pasti ada sesuatu, pikir Dafa. "Daf, macet di jalan?" sindir Zidan. "Ga kok, lancar, cuma tadi aku mampir dulu ke rumah Sita. Ga enak juga kalo ga mampir, mana udah malem, takutnya Sita diomelin ortunya." "Pantesan, aku barusan lewat daerah sini. Iseng aza pengen mampir, dah lama ga ke sini," jelas Zidan. Seperti ada udang di balik batu, pikir Dafa. Tapi dia tidak mau mengambil kesimpulan sendiri. Dia mau Zidan sendiri yang membuka obrolan mereka. "Ga masalah, pintu rumahku selalu terbuka untukmu Zi, kamu bisa datang kapan saja." "Ada yang harus aku bicarakan sama kamu Daf, tentang Sita. Menurutmu, apakah aku harus menjelaskan secara jelas padanya bahwa aku sudah tidak mencintainya. Namanya sudah kuhapus sejak beberapa tahun yang lalu." Kata Zidan. "Kamu bilang ama dia, kamu akan menyelesaikan masalah di antara kalian, dia akan mengerti. Aku mengenal Sita sudah bertahun-tahun. Ga mungkin dia ga mau. Sepertinya dia juga mau menyampaikan sesuatu padamu Zi." "Baiklah. Aku akan ke kantornya besok setelah jam kantor selesai. Aku akan menanyakan alamatnya pada Fara." "Semoga masalah kalian cepet beres." "Thanks. Aku balik dulu ya Daf." "Oke." Besok paginya, Sita kaget. Saat akan bersiap ke kantor, ada WA masuk dari Zidan. "Nanti pulang kerja, aku nunggu di kantormu. Ada yang harus kita bicarakan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD