18

1266 Words
18   "Pacar kamu...!!" Shilla menoleh, karena ia sangat kaget mendengar sahutan suara seseorang yang sangat dekat ke telinganya. "Kamu.....?!" kata shilla setelah berbalik dengan ekspresi kaget. "Eh... Alex, aku fikir siapa tadi..." lanjutnya, dengan ekspresi kikuk. "Ehem." alex berdehem sejenak. "Kamu telat 15 menit." lanjutnya dengan ekspresi datar. Shilla nyengir sesaat dan berkata " maaf lex..." ucap shilla tertunduk lesu. "Kenapa kamu bisa telat sampai 15 menit begini...?" ucap alex masih mempertahankan ekspresi datarnya. "Tadi..aku....-" shilla bingung mau memberikan alasan apa. Alex yang sedari tadi sedang berpura-pura itu pun, akhirnya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan tawanya. "Hahaha..... Shill, kamu lucu banget kalau lagi kebingungan gitu." ucap alex dengan tertawa renyah. Shilla melongo melihat alex. "Lex, kamu- ihh... Jahil banget sih jadi orang." ujar shilla, dengan memukul pelan bahu alex. Alex masih tetap tertawa dengan renyahnya. "Aku udah ketakutan setengah mati tau, aku fikir kamu beneran marah tadi..." ucap shilla manyun. "Hahaha.... Iya iya maaf.." kata alex, dengan memegang perutnya yang sedikit kaku karena tertawa. "Udah, jangan manyun gitu, kan aku udah minta maaf.." lanjutnya dengan mengusap lembut puncak kepala shilla. "Lagi pula, mana mungkin aku marah-marah cuman karena hal sepele begitu shil." alex melanjutkan perkataannya. Kemudian dia mengajak shilla masuk ke cafe. Shilla pun menurut, dan mengekor di belakang alex. Lalu gadis itu memulai pekerjaannya. Ya benar, alex tidak akan pernah bisa marah dengan gadis yang sudah ia cintai dan kagumi sejak lama itu, apalagi dengan hal sepele seperti tadi. Bahkan, alex tidak pernah punya fikiran memecat shilla, walaupun shilla ada kesalahan saat bekerja. Karena alex tentu tidak akan sanggup untuk jauh dari gadis itu. Rasa Cinta alex ke shilla sungguh sudah sangat dalam sekali. Sampai suatu ketika ia hendak mengungkapkannya, tapi ia urungkan karena takut shilla menjauhinya. Alex hanya berfikir, dengan tetap seperti ini, mungkin itu lebih baik. Karena menurutnya, cinta nggak harus saling memiliki. ** "Ehem..... Cie cieeeee......" goda naya ke shilla dengan menyenggol pelan bahu gadis itu, dan melebarkan senyumannya. Shilla mengerutkan keningnya heran dengan tingkah sahabatnya itu. " kenapa sih nay?? Kesambet lo??" "Di anterin siapa tu tadi....?? Pacar ya.....?? Aiiissshhhh... Ternyata shillaku udah besar." ucap naya masih tetap menggodanya. Shilla terperangah mendengarnya. " ihh... Gue mana ada pacar, lo sendiri kan tau, gue nggak ada waktu buat hal begituan." ucap shilla menepis tuduhan naya. Naya sedikit menyipitkan mata dan menaikkan satu alisnya. lalu berkata "Masak?? Kok gue nggak percaya ya....?!!" "Di bilangin juga!!" ucap naya mendengus kesal, karena sahabatnya itu tidak mempercayainya. "Tapi kok dia udah ke sini sampek dua kali sih?!" tanya naya heran. "Dua kali?? Emang lo tau dia??" tanya balik shilla. "Iya, soalnya kemarin dia ke sini nyariin lo. Cuman lo nya aja lagi nggak masuk." naya menjelaskannya dengan duduk bersandar di kursi. Karena kebetulan suasana cafe sedang tidak terlalu ramai. Shilla terdiam sejenak. "Ohh.... Pasti pas gara-gara gue di kunciin si lisa waktu itu." fikir shilla dalam hati. "Oh ya shill, gue jadi penasaran, kenapa lo nggak masuk kemarin??" tanya naya yang membuyarkan lamunan shilla. "Emm... Ituu... Emm... Ceritanya panjang nay, kapan-kapan deh gue ceritain." "Beneran..?" tanya naya memastikan. "Iya nay...!" "Ya udah deh kalau gitu." Naya pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya, dan meninggalkan shilla. Karena akan melayani pelanggan yang baru datang. Naya menanyakan ke pelanggan yang baru datang tersebut mengenai pesanannya, dan tentu saja tidak lupa dengan memasang wajah yang sangat ramah. Saat naya selesai mencatat pesanannya. Naya tertegun sesaat. "Eh, kok kayaknya gue nggak asing ya sama mukanya?!!" batin naya setelah memperhatikan rupa pelanggan tersebut. "Tapi, siapa yaaahh...?!!" lanjutnya. Melihat naya yang sepertinya sedikit melamun itu, membuat pelanggan tersebut sedikit kesal, dan membuyarkan lamunan naya. "Mbk...!! Woii...!!" kata pelanggan itu dengan mengibas-ngibaskan tangannya. "Eh, i-iya..." naya tersentak kaget. "Malah bengong. Dengerin omongan gue nggak barusan?!" Naya mengangkat satu alisnya, karena merasa tak mengerti. "Ck, gue bilang... Gue mau yang nganterin pesanan gue itu pelayan yang bernama shilla. Faham?!" ujar pelanggan tersebut dengan memerintah. Naya pun mengiyakan, dan berbalik melangkahkan kakinya menghampiri shilla sahabatnya. Tapi sebelumnya naya juga baru ingat kalau ternyata pelanggan perempuan tadi adalah orang sama, yang pada waktu itu pernah mencaci maki sahabatnya itu. Naya pun menjelaskan tentang keinginan pelanggan tersebut ke shilla. Dan shilla yang mendengarnya pun sebenarnya kaget. Tapi sesaat kemudian, dia mencoba untuk tenang. Shilla menghela nafas sejenak dan berkata "gue tahu, kalau dia pasti ke sini lagi." ucapnya tersenyum kecut. Naya yang mengetahui permasalahan sahabatnya dengan wanita yang bernama rani itupun, lantas melarang shilla agar tidak usah menuruti permintaan rani. Karena khawatir kalau rani pasti akan berniat buruk padanya. "Nay..... Lo tu kenapa jadi parno gitu sih?! Padahal gue biasa aja." dusta shilla ke naya. "Udah, lo nggak usah kuwatirin gue." lanjutnya dengan menepuk-nepuk pundak naya agar tidak kawatir. Naya pun hanya bisa diam memperhatikan shilla yang sudah membawa nampan berisikan pesanan rani. Dan melangkahkan kakinya menuju meja yang di maksud. Seperti dejavu, shilla sedikit mengingat cacian yang di lontarkan rani kepada dirinya waktu itu. Shilla, menaruh pesanan tersebut ke meja rani dan lisa dengan senyum yang terlihat sopan. Tapi mereka berdua melihatnya dengan pandangan sinis. Dengan wajah angkuhnya, rani mengomentari coffe pesanannya. "Nggak lo masukin racun sianida kan?!" Shilla menghela nafas lelah "tadinya sih niatnya begitu, tapi berhubung gue nggak punya hati sepicik dan sejahat kalian, jadi gue batalin niat gue." jawab shilla dengan enteng. Mendengar jawaban shilla yang terdengar sangat tidak enak itu, membuat rani dan lisa sangat geram. Lisapun berdiri dari tempat duduknya, dan menyiram coffe pesanannya yang masih panas itu ke tubuh shilla. Rani melongo melihat ulah lisa tersebut. Dan shilla pun sedikit meringis kesakitan, karena walaupun siraman coffe tersebut terhalang baju shilla, tapi tetap saja shilla bisa merasakan sedikit panas coffe yang tembus mengenai kulitnya. Alex yang secara tidak sengaja melihat kejadian itupun sontak saja langsung berlari menghampiri meja yang kini sudah menjadi perhatian pengunjung cafe tersebut. "Kalian ini apa-apa an?? Kalian gila ya?? Kalian tidak lihat shilla kesakitan?!" tanya alex dengan raut muka yang menjadi emosi dengan memegangi shilla yang dalam kondisi basah di baju depannya itu. "Ups..!! Kita nggak sengaja." ucap lisa dengan santainya. "Lagian, jalang kayak dia pantas mendapatkannya." lanjut lisa dengan santai dan angkuh. "Kalian jangan macam-macam ya, saya bisa menuntut kalian atas perbuatan kalian ke shilla saat ini!!" ancam alex yang sudah sangat tersulut emosinya. Kalau saja yang di hadapi alex saat ini bukan wanita, ia pastikan kalau orang tersebut akan ia hajar habis-habisan. Rani yang mendengar ancaman alex itupun sebenarnya merasa sedikit takut juga. Tapi berbeda dengan lisa yang justru menanggapinya dengan santai. "Oohh silahkan!! Kami nggak takut sama sekali." ucap lisa angkuh dengan melipat tangan di bawah dadanya. Alex sangat geram dan hampir sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Alex pun mencengkram kuat lengan lisa dan berkata "lo itu sebenarnya cewek atau iblis sih...?!!" ucapnya dengan tatapan yang sangat tajam. Shilla yang melihatnya itupun, lantas mengingatkan alex agar tidak terbawa emosi. " lex, udah jangan di tanggapi omongannya. Karena itu nggak akan pernah ada habisnya. Lagian aku nggak papa kok." ucapnya menenangkan. "Nggak papa gimana??! Itu coffe masih panas shill...!!" kata alex dengan segala kekhawatirannya. Lisa yang melihat mereka berdua seperti itupun langsung melepas paksa cengkraman alex di tangannya, dan berkata "oohhh..... Ternyata nggak cuman si randy aja yang lo rayu. Bos lo pun juga termasuk ya....?!! Dasar b***h!!" umpatnya menghina dengan raut muka penuh kebencian. Setelah lisa puas dengan apa yang ia lakukan, lisa pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya dan menaruhnya kemeja dengan cara sedikit menggebraknya. Lalu mengajak rani yang sedari tadi hanya bisa diam karena takut akan ancaman alex itupun untuk pergi meninggalkan tempat itu. "Dasar cewek gila." umpat naya yang tiba-tiba datang dan menghampiri shilla. "Shill, lo nggak papa kan??" tanya naya yang sedari tadi melihat keributan itu dari jauh. Sebenarnya naya mau menghampiri sahabatnya itu dari tadi, tapi karena sudah ada alex di sana, jadi ia mengurungkannya. Shilla menggeleng kepalanya pelan, "gue nggak papa nay..." ucap shilla sedikit berbohong agar sahabatnya itu tidak perlu merasa khawatir. "Nay.... Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu, saya akan mengajak shilla ke ruangan saya untuk di obati." perintah alex. "I-iya pak." jawab naya dengan menganggukkan kepala dan berlalu meneruskan pekerjaannya. Bersambung    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD