11

1268 Words
11   Aku kaget ketika melihat siapa yang menghubungiku. Aku bingung harus bagaimana. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya. **** AUTHOR POV Di depan kos shilla saat ini, tengah berdiri seorang lelaki berperawakan tinggi dengan jaket yang di kenakannya. Dia sudah mengetuk pintu kos shilla berkali-kali, tapi tidak ada yang membuka dan menyahutnya. "Apa jangan-jangan udah kerja ya?!" fikir randy dalam hati. Ya, pemuda itu tidak lain adalah randy. Dia mendatangi kos shilla karena dia ingin meminta maaf ke shilla tentang ciumannya waktu itu. Randy hanya tidak ingin kalau shilla membencinya. Dan juga randy merasa kangen dengan gadis yang selalu dia ganggu tersebut. Ketika randy masih berusaha mengetuk pintu kamar kos shilla, tiba-tiba ada pemuda yang masih seumuran dengannya datang menghampirinya. Pemuda itu adalah tetangga kos shilla. Dia menanyakan maksud kedatangan randy ke situ. Randy pun menjelaskannya. Dan pemuda itupun memberitahukan kalau dia dari tadi belum melihat shilla pulang dari sekolah. Randy pun kaget mendengarnya. Tapi dia berusaha tetap berfikiran positif, dengan menganggap kalau shilla kini sudah ada di tempat kerjanya. Dan pemuda yang menjadi tetangga shilla ini bisa saja tidak tahu kalau shilla sudah pulang. Ya...... Bisa saja seperti itu. Randy pun pamit pergi meninggalkan pemuda itu, setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih terlebih dahulu kepadanya. Kini randy sudah berada di cafe tempat shilla bekerja. Dia menanyakan ke salah satu pegawai wanita di sana, yang tidak lain adalah naya, teman shilla di cafe itu. "Permisi mbak.. " sapa randy sopan, dengan mendatangi naya yang sedang membersihkan meja bekas pelanggan. "Iya mas, mas mau pesan?? Sebentar ya.... Say—" ucapan naya terpotong oleh randy. "Maaf mbak, saya bukannya mau pesan. Tapi, saya mau menanyakan sama mbak tentang shilla. Apa shilla masuk kerja hari ini?" tanya randy masih dengan nada yang sangat sopan. "Oh, shilla hari ini nggak masuk. Saya juga nggak ngerti kenapa." jawab naya dengan sopan. Randy pun terdiam mendengar jawaban yang di berikan wanita tersebut. Dan difikirannya saat ini tengah bertanya-tanya tentang keadaan shilla dimana, kalau sekarang saja dia tidak masuk kerja. "Maaf, masnya ini siapanya shilla ya??" tanya naya penasaran. "Saya te—teman satu sekolahnya." jawab randy gugup saat mengucapkan kata 'teman'. Dan naya pun hanya ber oh ria mendengar penuturan randy. Randy akhirnya pamit permisi meninggalkan tempat itu dan masih dengan fikiran yang berkecamuk tentang shilla. ****** RANDY POV Aku melangkahkan kakiku keluar dari cafe tersebut dan menghampiri motor ninjaku yang terparkir di sana. Aku duduk di atas motorku sambil berfikir, "lo di mana sih shill, gue jadi kuwatir sama lo." Lantas akupun memutuskan untuk menghubungi shilla, guna menanyakan keberadaannya secara langsung. Ketimbang harus menerka-nerkanya. Tuuuuuuttttttt.... Tuuuuuuuuutttttt... Terdengar bunyi nada yang sedang menyambungkan saat aku menghubunginya. "Ck,lama banget sih ngangkatnya." batinku tidak sabar. Dan Tiba-tiba.. "Halo shill, lo lagi di mana?? Lama banget sih ngangkat telfonnya. Tadi gue ke kosan lo, tapi lo nggak ada. Terus gue ke tempat kerja lo, tapi lo juga nggak ada di sana. Sebenarnya lo dimana sih shill??" tanyaku dengan cepat, ketika shilla sudah mengangkatnya. "Rand...... Hiks....To—tolongin  gue.....hiks.... Hiks.... Gue takut.." ucapnya dengan suara serak karena menangis. "Shill, lo.... Lo kenapa nangis?? Lo sekarang di mana shill?? Lo nggak kenapa-napa kan?? Kasih tau gue posisi lo!!" tanyaku bertubi-tubi dengan perasaan khawatir. "Gu—gue hiks...hiks.. di se—kap hiks... di gu—gudang hiks...sekolah rand....hiks.…... Hiks... Gue takut!! Tolongin gue please... Hiks... Hiks..." jawab shilla dengan sesenggukan. Akupun semakin khawatir mendengar perkataan shilla barusan. Dan cepat-cepat mengendarai motorku menuju tempatku bersekolah tersebut, setelah sebelumnya ku tenangkan shilla terlebih dahulu  agar tidak panik dan tetap tenang. Karena sebentar lagi aku akan mengeluarkannya dari sana. "Sial.. Apa ini ulah si lisa lagi?!" batinku yang saat ini sedang sangat kesal dan khawatir. Ku parkirkan motorku di depan gerbang sekolahan, dan aku menaiki pagar besi sekolahku dengan cara memanjatnya. Dengan tergesa-gesa, aku berlari secepat mungkin menuju gudang sekolah, tempat di mana shilla di kurung. Penerangan di sini sangat minim sekali. Lantas aku menggunakan lampu flash di handphoneku untuk membantu menerangi langkah kakiku. Kakiku melangkah menyusuri koridor dan berhenti di sebuah ruangan yang di pergunakan sebagai gudang tersebut. "Shill, lo ada di dalam? Lo bisa dengerin gue shil??" tanyaku dengan berteriak . "Rand...... Bukain pintunya, gue takuuut...." sahut shilla dari dalam gudang. Akupun menyuruh shilla untuk tenang dan menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari pintu gudang tersebut. Karena, aku akan mencoba mendobraknya. Pintu itu ku dobrak menggunakan tubuhku berkali-kali, tapi belum berhasil terbuka juga. Nafasku terengah-engah. Ternyata pintu gudang ini lumayan kuat juga, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Ketika aku mencoba mendobraknya untuk yang kesekian kalinya, akhirnya pintu itu terbuka juga. BRAKK...!! shilla pun keluar dari gudang tersebut dengan berlari ke pelukanku. Dengan tubuh bergetar karena ketakutan dan air mata yang sudah mengalir dengan deras. Akupun mencoba menenangkannya dengan membalas pelukannya dan mengusap bahunya, agar dia tidak merasa ketakutan lagi. Lalu kemudian ku lepaskan pelukan shilla, ku pegang pipinya dan menatapnya lekat-lekat sambil berkata " shill, tenang... Lo udah aman sama gue." ucapku dengan menghapus air matanya. Aku menggenggam tangan shilla dan mengajaknya untuk keluar dari sekolah, membantunya saat hendak memanjat pagar besi sekolah, dan mengantarkannya pulang. Selama perjalanan, shilla hanya diam tak berbicara apa pun. Hatikupun di buat gelisah setengah mati oleh ulah shilla yang tak melepaskan pelukannya sama sekali di pinggangku. Akhirnya Kamipun sampai di tempat kos shilla. Aku dan shilla pun akhirnya turun dari motor yang kami naiki, dan melangkah masuk kedalam tempat kos shilla. Shilla masih tetap terdiam. "Nih anak kenapa jadi diem gini sih, biasanya kan cerewet dan menyebalkan." fikirku heran dalam hati. Karena sudah merasa terlalu canggung, akupun memberikan bungkusan makanan yang sempat aku beli saat perjalanan pulang tadi ke shilla. "Nih buat lo. Gue tau lo lagi laper kan?!" kataku dengan menyodorkan bungkusan makanan padanya, yang di terima oleh shilla. "Makasih." ucapnya dengan sedikit tersenyum. Dia pun akhirnya membuka bungkusan makanan yang aku berikan ke dia barusan, lalu kemudian memakannya. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan mataku dari wajah shilla yang kini tengah makan itu. Wajahnya, matanya, kulitnya yang putih bersih, dan bibirnya yang terasa sangat lembut itupun sangat memabukkanku. Aku benar-benar seperti orang bodoh saat mengetahui kalau gadis itu tengah terkunci di gudang malam-malam. Apakah ini yang di namakan cinta? Setelah beberapa saat shilla menghabiskan makanan yang aku berikan tadi, kini kami berdua hanya duduk saling diam tanpa ada yang berbicara. Akupun akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan di antara kami berdua. "Shil, lo nggak kenapa-napa kan? Apa ada yang terluka?" tanyaku yang merasa khawatir, dan hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh gadis itu. "Maafin gue shil...." ucapku lirih dengan menundukkan kepalaku. Gadis itupun melihatku, dan bertanya "kenapa jadi lo yang minta maaf rand??" "Karena..... Kejadian tadi yang menimpa lo itu pasti ada sangkut pautnya sama gue, dan gue yakin kalau itu semua pasti ulah lisa kan?!" ucapku penuh dengan nada penyesalan. "Tapi, itu semua bukan salah lo rand. Dan justru gue makasih banget sama lo, karena lo udah nolongin gue tadi." ucapnya dengan senyuman yang sangat tulus. "Anjiiiiirrrr..!! Senyumannya benar-benar ngebuat jantung gue nggak karuan." batinku. "Gue nggak tau rand harus gimana kalau nggak ada lo tadi. Dan  Gu—gue bener-bener ketakutan banget waktu di tinggal sendirian di sana." kata shilla dengan ekspresi sedih. "Kenapa lo nggak telfon gue langsung waktu mereka ngurung lo di sana?? Lo kan tau nomor handphone gue." tanyaku heran dengan perasaan kecewa. "Buat apa?? Lagian lo kan bukan siapa-siapa gue. Bahkan untuk bilang kita temen aja nggak kan?!" jawabnya dengan enteng, yang sukses membuatku tertegun sejenak. Aku pun tertawa miris saat mendengar ucapan shilla barusan. Dan hatiku benar-benar terasa seperti di hujani oleh ribuan jarum yang sangat tajam. Ya itu benar, semua yang di katakannya memang benar. Diriku hanyalah seseorang yang selalu mengganggunya saat di sekolah, dan selalu membuat dia kesal dengan tingkah laku ku. Lalu, aku harus mengharapkan apa darinya??! Tapi hatiku.... Hatiku sepertinya telah memilih shilla agar bisa mengisi kekosongan yang ada di dalam sana. Akupun menghela nafas berat, berdiri dan berbalik mendekati jendela kamarnya, yang kini aku membelakangi shilla yang masih terduduk di lantai. Akupun berkata "oke, kalau lo nganggap gue bukan siapa-siapa lo, berarti lo punya hutang ke gue sekarang. Karena gue kan udah nyelametin lo tadi." ucapku penuh Maksud tertentu. bersambung  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD