[Minister suggests 'the rich' should marry 'the poor' to reduce Indonesia's poverty rate - The Jakarta Post]
Interesting concept.
Actually, billionaires will never use that unlogical kind of theory.
Bokap nggak akan semudah itu mengizinkan gue menikahi artis, model, pejabat, youtuber dengan subscriber jutaan atau profesi lain tanpa melihat sejarah.
Buat bokap penampilan fisik nomer seribu satu yang paling penting adalah portofolio latar belakang keluarga dengan minimal sejarah yang tercatat empat generasi sebelumnya memiliki kekayaan yang sepandan dengan kami.
Kenapa? karena bokap harus memastikan kekayaan leluhur tetap berputar di satu poros, jangan sampai ada kebocoran meski itu lubang kecil.
But... Organic Rubbish... is extreamely rude.
Dan gue harus bertahan selama seminggu di pulau terpencil hanya bersama wanita terhormat ini. Satu-satunya wanita yang paling gue nggak suka dari dulu.
Orang bilang jangan terlalu nggak suka akan sesuatu, karena suatu saat bisa terjadi sebaliknya. Tapi setiap gue melihat Elea semakin gue nggak suka dengan wanita arrogant ini, wanita yang namanya selalu digaungkan di setiap perbincangan keluarga dari gue kecil.
"This is not my idea, this is your mom idea. So keep your straight face for yourself, I don't want to see it."
See... She's never afraid of anyone -- anything.
"Mau nyoba ATV nggak?" tanyanya lagi, kali ini dengan melihat gue yang baru aja menggeser kopernya ke belakang pintu.
Gue menolak merespon dan memilih membaca email-email dari kantor yang masuk.
"Atau nyoba parasailing? Snorkeling? Jet skiing? Archery? Golf? Yoga by the beach?" lanjutnya.
Elea yang sedari tadi berdiri di depan dinding kaca sekarang berjalan ke arah tempat gue duduk.
"Bryan." panggilnya, gue menoleh tak acuh.
"Nggak perlu lo anggap liburan ini honeymoon atau semacamnya, anggap aja kita lagi nyoba fasilitas-fasilitas yang ada di pulau ini sebelum lo memutuskan resort ini mau lo buka buat publik atau buat keluarga kita aja." jelas Elea yang sebetulnya nggak perlu, karena gue lebih tahu apa yang mau gue lakukan walau keluarga Elea yang membeli pulau ini.
"Bisa besok aja? kita baru aja sampai, barangkali lo lupa."
Elea mendelik. "Jakarta-Riau nggak sejauh Jakarta-Ukraina, barangkali lo lupa juga." balas Elea sinis. "Udah bagus nyokap lo cuma maksa kita liburan ke sini."
"Eh mau ke mana?" seru Elea ketika gue berdiri.
"Mandi. Kenapa? Mau ikut?" kata gue sambil berjalan ke pintu kamar mandi.
"Ngapain mandi kan mau naik ATV, nanti juga kotor lagi." teriak Elea.
Gue melengos. Siapa yang setuju naik ATV?
"Eh Stop! Stop!" Elea menarik lengan gue. "Lo pakai kamar lain. Ini kamar gue. Gue juga nggak suka bathroom gue bau laki-laki."
Gue memejamkan mata sepersekian detik, menata emosi.
"Kalau gue nggak mau?" tanya gue santai. Sekalian ajalah ngerjain tuan putri, biar belajar bahwa nggak semua yang dia mau bisa jadi kenyataan.
Elea tersenyum tipis. "Sorry, gue nggak suka berandai-andai. You can keep the question for yourself." kata Elea sambil meraih gagang koper. Sementara gue reflek mencengkeram pergelangan tangan Elea untuk menahan koper yang nyaris diseret paksa melewati pintu kamar.
"You do have a way with words. I'm impressed." bisik gue di telinga Elea. Persis seperti apa yang dia lakukan ke gue ketika di dapur malam itu. Gara-gara kalimat sarkastiknya, gue nggak bisa tidur sampai pagi.
Oke... bukan karena itu sejujurnya. Combination exhaution and beast inside my mind membuat gue nggak bisa berpikir jernih ketika melihat Elea memakai lingeri. Ditambah teh buatannya yang ternyata enak. Gue nggak menyangka Elea bisa meramu teh dari kedua tangannya.
But I'd rather bite my tongue off than admit it in front her.
Elea mundur dua langkah tanpa melepas gagang koper gue.
"I don't need your compliment." katanya, angkuh.
Gue sengaja maju sebanyak jumlah kaki mungilnya yang mundur. "Barangkali lo mau menjelaskan bau laki-laki seperti apa? Karena gue nggak pernah nyium laki-laki sih kebetulan."
Senyum gue hampir merekah saat Elea sontak terduduk di atas koper gue.
Gue melihat daun telinga Elea memerah ketika gue berbisik.
"Sorry ya, gue nggak bisa menjelaskan detail baunya seperti apa, karena gue belum pernah nyium laki-laki juga kebetulan." tanpa terganggu untuk berdiri, Elea yang tetap duduk di atas koper menatap mata gue balik.
Bola matanya jernih, tatapannya bukan tatapan menantang. Begitu tenang tapi... percaya diri. Sikapnya terlalu 'berpengalaman', kontradiktif dengan pengakuannya.
Gue tersenyum sinis. "Kalau belum pernah, kenapa nggak suka?"
Elea mencoba melepas pergelangan tanggannya dari gue.
"Karena nggak perlu nyium untuk menghirup aroma yang nggak enak." jawab Elea diplomatis.
Gue merasa harga diri gue diinjak oleh wanita ini.
Belum pernah ada satupun manusia yang nggak menyukai bau gue. All of my personal care cleansing product are made by my personal chemist - not to mention based on my character and my favorite essences. Does she know it?
I can't handle this woman.
"Berdiri." gue memerintah. "Atau lo mau gue seret bareng koper gue?"
"Lepas dulu." katanya seraya mengangkat tangannya yang ternyata masih gue genggam.
Gue langsung menarik koper, melenggang keluar dari kamar Elea setelah episode perdebatan nggak berguna yang selalu ada setiap kami mencoba bicara.
Elea nggak pernah mau kalah, jadi gue terpaksa mengalah.
Keluarga gue satu kelas sosial dengan keluarga Elea, tapi orang tua gue selalu mendewakan Elea hingga rasanya keluarga gue nggak lebih dari keluarga Dharmawan.
Seperti mantra, sedari kecil cerita Elea menyelamatkan gue yang hampir tenggelam di kolam renang terus terdengar di gendang telinga.
Kisah bagai legenda yang bahkan nggak gue ingat sama sekali. Mungkin karena dulu gue masih enam tahun atau mungkin juga itu cuma karangan bokap hanya supaya gue merasa berhutang budi dengan keluarga Dharmawan atau jangan-jangan bokap yang terlalu berlebihan.
I mean... It wasn't something special.
Sudah sewajarnya menolong orang lain yang susah.
Gue pun akan melakukan hal yang sama walau yang tenggelam stranger.
Human instinct, you named it.
Bahkan sempat keluarga Elea pindah ke Jepang bertahun-tahun, pun nggak membuat gue lepas dari bayang-bayang Elea.
Setiap gue dekat dengan perempuan lain, bokap selalu mengingatkan gue untuk nggak terlalu serius.
Masa depan gue udah reserved untuk seseorang yang gue nggak pernah harapkan untuk datang meski itu hanya di mimpi gue.
Kenyataan bahwa akhirnya gue menikahi Elea, nggak membuat gue terkejut.
Tapi kenyataan bahwa gue nggak pernah menang di hadapan Elea benar-benar membuat gue terhina.