Benang Merah

782 Words
Mataku mengerjap melihat layar ponsel yang menyala. Panggilan dari orang yang hampir setahun menghilang membuatku menyeringai. "Duluan aja." kataku pada Bryan yang menengok ke belakang ketika menyadari aku berhenti mengikutinya. Aku menunjukkan layar ponsel dan menunjukan isyarat dengan tangan kiriku yang membentuk gagang telpon. Bryan tanpa ragu-ragu melanjutkan langkahnya. Aku berdecak, melayangkan tinju ke bayang-bayang Bryan yang menjauh sebelum menjawab telepon Ibra. "Kirana." suara bariton Ibra terdengar menyapa.  Aku menghela nafas. Kirana. Begitu Ibra biasa memanggilku ketika kami hanya berdua. Katanya, Kirana lebih cocok untukku. Dari bahasa sanskerta yang berarti sinar, baginya sosokku yang tenang terasa menghangatkan. Aku tanpa sadar menggeretakan gigi setiap mengingat semua sejarah bersama manusia ini. "Ya, Kak. Gimana?" sahutku seperlunya. Aku nggak mau lagi menyebut Ibra dengan hanya namanya aja. Kami udah nggak sedekat dan seakrab dulu, jadi lebih baik menggunakan honorific system yang berlaku. Not to mention, I am four years younger than him. Butuh beberapa detik hingga suara Ibra terdengar lagi. "Aku balik Singapur lusa." So? SO?! So???? "Aku mau kirim wedding gift buat kamu, atau mau aku anter ke rumah? atau gimana menurut kamu?" Time passes, things change but Ibrahim Sanjaya don't. Aku tumbuh di lingkungan di mana semua orang merasa dirinya paling benar, paling penting sampai mereka lupa bahwa benar kadang juga tentang perkara perspektif, bahwa penting juga untuk menghargai pendapat orang lain. Dan Ibra selalu meminta pendapatku. Aku tidak pernah punya hubungan serius dengan laki-laki sebelum menikah. Lima dari enam laki-laki yang dekat denganku selalu sibuk menceritakan tentang dirinya, tanpa mau repot meluangkan waktu mendengar ceritaku. Tetapi Ibra berbeda, Ibra selalu mendengarkan aku. "Ya ampun, wedding gift? It's okay Kak. Nggak perlu repot." "Nggak repot. Ini udah lam-," kalimat Ibra terhenti. "Aku lagi nggak di Jakarta. Minggu depan baru pulang. Di rumah juga kosong, cuma ada sekuriti" jawabku jujur. Lagian aku dan Bryan hanya tinggal berdua jadi asisten-asisten rumah tangga kami nggak ada yang menginap. Aku seperti mendengar Ibra menghembuskan nafas. "Ah... we are not destined to meet." "Balik Jakarta lagi, nggak?" tanyaku, bukan karena penasaran. Lebih karena heran aja, Ibra bisa kirim hadiahnya kapan-kapan kan. Seolah-olah dia nggak balik Jakarta lagi. "Not sure." Aku berlari mengejar Bryan setelah perbincangan dengan Ibra berakhir tanpa jalan keluar. Lagian dapat hadiah dari orang yang pernah menolak 'lamaranku' untuk apa juga. Bryan keterlaluan, dia sama sekali nggak tergerak hati buat memelankan jalannya. Aku nyaris habis nafas sampai akhirnya aku melihat punggung Bryan dari belakang. "Nggak bisa jalan pelan-pelan?" protesku ketika berhasil menyamai langkahnya. Bryan menoleh sekian detik, berkedip sekitar dua kali lalu kembali melihat ke depan. Supaya apa sih hemat suara? Untuk apa ditabung-tabung? Bikin harga saham perusahaan naik apa gimana? "Mau naik bu?" tanya penanggung jawab ATV Ride padaku ketika aku dan Bryan sampai di terminal ATV, tidak jauh dari Resort kami. Aku menggeleng. "Nggak Pak, saya lihat-lihat saja." Bryan langsung memicingkan mata ke arahku seperti senapan laser. "Kaki gue sakit." kataku menunjuk lutut kananku yang sedikit berdarah karena terjatuh saat mengejar Bryan. Padahal aku nggak mau kelihatan lemah tapi tatapan Bryan memaksaku untuk memberikan alasan logis kenapa aku tiba-tiba berubah pikiran. "Siapa developernya?" tanya Bryan yang akhirnya buka suara. Aku mengangkat kedua bahu bersamaan. "I am not involved in this matter, remember?" Kalau aku tahu dan ikut mengurus bisnis keluarga, aku nggak akan menikah sama dia. "Why?" tanyaku. Aku dan Bryan kembali berjalan menyusuri jalan menuju ke pantai seraya memeriksa pembangunan di Pulau yang sudah 80% jadi.          "Untuk pulau seluas tiga puluh-an hektar, mapping penginapan dan tempat-tempat wisatanya kurang jelas ukuran pendekatannya. Pemilihan Activity Spots nya juga out of date and ATV is so... low end? Market segmentation-nya.... kurang jelas." Aku tersenyum. "Kenapa lo ngambil jurusan Engineering? Kalau udah tahu pasti terjun di dunia bisnis?" tanyaku melenceng dari topik. Lucu ya, biasanya orang-orang menanyakan hal-hal dasar seperti ini untuk pendekatan sebelum menjalin ikatan. Aku malah menikah sebelum mengenal Bryan lebih dalam. "Paling nggak ada satu keinginan gue yang bisa terwujud." Aku membatu mendengar jawaban Bryan. Tanpa sadar bibirku menyungging senyum, ternyata aku dan Bryan memiliki satu kesamaan. Kami sama-sama terlahir berlimpah materi tapi tidak benar-benar memiliki kebebasan.  Bahkan kami tidak bisa menikah dengan orang yang kami inginkan. Perasaan iba tiba-tiba terasa, alih-alih mengatakan "I know that feeling" aku justru menepuk bahu Bryan dua kali. "Tapi water sports nya keren kok." sahutku berbarengan dengan sampainya kami di tepi pantai.          "Mau nyoba?" Aku menggeleng lagi. "My knee." aku beralasan. "Nggak bisa berenang juga sebenernya." tambahku dengan cengiran. Bryan tiba-tiba mengalihkan pandangan dari pantai ke wajahku. Kedua alisnya bertaut, kedua matanya memicing menatapku, membuatku merinding. Emang kenapa sih kalau nggak bisa berenang, memang hal yang memalukan? Dasar judgemental.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD