Semalaman tidur di kantor membuat Nicho memikirkan bagaimana caranya lepas dari perjodohan yang ditetapkan oleh mamanya. Segala sesuatu yang ditentukan oleh Iva tidak mungkin dibantah oleh siapapun, termasuk suaminya sendiri. Apalagi hati Nicho masih penuh dengan satu nama yaitu Angel Liam.
Bersinarnya matahari pagi taak membuat hati Nicho sehangat cahaya mentari pagi. Ia bahkan bersiap dari kantor untuk memulai pekerjaannya sebagai wakil CEO di perusahaan keluarganya saat ini. Untuk mengejar jabatan tertinggi pada perusahaan tersebut ada beberapa tradisi keluarga yang harus dipenuhinya.
“Tapi, aku hanya ingin bersama Angel, hanya Angel yang akan menjadi istriku,” gumam Nicho pada dirinya sendiri setelah selesai memakai dasinya.
Nicholas yang masih mengharapkan kekasihnya akan kembali ke London, terus saja berusaha menghubunginya tiada henti walau sudah ditinggal hampir tiga tahun lamanya untuk mengejar karir di Hollywood sebagai artis tentunya. Ambisinya membuat dirinya memilih untuk berpisah dengan Nicho.
“Halo, Tuan Nicho? Maaf, Nona Angel sedang ada pemotretan,” ucap suara wanita asing di sana.
“Katakan jika aku akan menikah!” tegas Nicho tak seberapa lama ponsel tersebut segera saja direbut oleh seseorang.
“Omong kosong apa ini?” ucap Angel yang tiba-tiba saja merampas ponsel tersebut dari asistenya.
“Angel ... pulanglah. Aku akan menjemputmu yah,” pinta Nicho untuk yang kesekian kalinya, dia memohon kepada wanita yang masih meniti karir itu.
“Mengapa kau tidak pernah memperhitungkan keinginanku? Sudah kukatakan beri aku waktu lima tahun disini. Setelahnya, aku akan pulang dan memperkenalkanmu kepada dunia bahwa kau adalah kekasihku, calon suamiku,” jawab Angel, selalu dengan kalimat yang sama setiap kali Nicho memintanya untuk pulang.
“Kali ini tidak ada waktu lagi, Angel. Mama sudah memutuskan sebelum pengangkatanku sebagai seorang CEO, aku harus menikah. Mama juga sudah menemukan calon menantunya, dia berencana akan menikahkanku dengan wanita itu dalam waktu dekat,” ucap Nicho terdengar begitu serius.
Tidak ada kebohongan apa pun pada suara Nicho. Hati Angel terasa sangat ngilu saat mendengar kabar ini. Tapi, dia tinggal selangkah lagi akan debut di rumah production yang mengontraknya dengan bayaran yang tinggi juga popularitas yang sangat menjanjikan. Apalagi pada bulan Desember nanti Angel akan memulai syuting film pertamanya bersama salah satu artis yang sangat terkenal.
“Maafkan aku Nicho, bukan hanya kamu yang memikirkan karirmu. Tapi aku juga memikirkan karirku. Menikahlah jika memang itu adalah sebuah keharusan dalam tradisi keluargamu. Jadilah CEO, bangunlah perusahaan itu lebih besar dari pada saat dipegang oleh papamu. Dua tahun lagi aku akan pulang ke London dan akan merebutmu dari wanita yang menyandang status sebagai istrimu. Selamat malam, Nicho,” tegas Angel dengan terisak dan segera mematikan ponselnya.
Nicho mendengarkan keputusan Angel dengan d**a yang terengah hebat, Ia bahkan meremas ponsel androidnya dengan sangat keras lalu membantingnya ke tembok hingga tidak berbentuk lagi selain hanya serpihan kaca dan onderdil yang terburai di lantai.
***
Dengan perasaan frustasi Galaxy akhirnya mau mengantarkan Iva ke gereja setelah menolak rencana yang dibuatnya sendiri semalam. Ia selama ini memang suka bermain wanita dan bergonta ganti pasangan karena bosan juga belum menemukan tambatan hati yang pas. Namun, saat dia bertemu kembali dengan Kimberlie hati kecil Galaxy ingin pensiun sebagai sang casanova, tapi rasanya angannya hanya tinggal angan belaka yang menguap bagaikan embun di pagi hari.
“Galaxy, maafkan Aunty. Kali ini Aunty tidak bisa mengalah denganmu, Aunty memiliki perjanjian dengan seseorang sebelum dia meninggal untuk menikahkan anaknya dengan anakku. Janji adalah hutang bukan? Semua ini harus Aunty tepati,” batin Iva dalam hati saat melihat wajah kecewa juga rasa cemas di wajah keponakannya.
Sesampainya di gereja Iva segera bertemu dengan Pastor dan meminta ijin untuk bertemu dengan Suster Theresa. Setelah menunggu selama lima belas menit akhirnya keluarlah Suster Theresa dengan seorang gadis imut dan rambut panjang berwarna cokelat legam, kulit putih, mata coklat, bibir mungil dan merona merah, Galaxy begitu terpesona dengan sesosok bidadari di hadapannya itu.
“Galaxy, yah?” tiba-tiba saja Kimberlie menyapanya dengan ramah.
“Hai, Kim, apa kabar?” tanya Galaxy dengan gugup lalu merasa tertekan dengan mata tajam Iva yang terus menatapnya tanpa berkedip kepadanya.
“Aku, baik Galaxy, senang berjumpa denganmu lagi. Selamat pagi, Aunty Iva, apa kabar?” Kini giliran Iva yang disapa oleh Kimberlie yang langsung memeluk wanita paruh baya di hadapannya itu.
“Baik sayang, Aunty baik. Apakah kamu siap untuk pindah ke rumah Aunty dan bertemu dengan, Nicho?” tanya Iva membuat Galaxy seolah menelan pil pahit yang begitu besar hingga menyumbat tenggorokannya.
“Iya, Aunty, Kim siap,” jawab Kimberlie dengan semangat.
Kim lalu berpamitan dengan Suster Theresa dan Pastor dan mengikuti Iva menuju ke rumah yang bagaikan kerajaan di pinggiran kota London. Sepanjang perjalanan hati Kimberlie begitu membuncah, akhirnya Ia akan bertemu dengan pangeran masa kecilnya. Pangeran yang telah menyelamatkannya saat dia terjatuh dari pohon rambutan di depan gereja sepulang dari ibadah sekolah minggu.
Sejak itu hati Kimberlie hanya terpaut dengan seorang pria yang membuat masa-masa hidupnya hanya berdoa dan berharap akan menikah dengan pria impiannya tersebut. Siapa sangkah jika doanya itu ternyata dikabulkan oleh Tuhan, melalui perjodohan ini. Kimberlie bahkan tidak sanggup untuk berhenti tersenyum juga berbinar sepanjang perjalanan, jantungnya bergemuruh begitu hebatnya saat Ia memasuki pekarangan rumah megah tersebut.
“Aunty, apa Nicho ada dirumah?” tanya Kimberlie dengan gugup sambil meremas-remas jemarinya.
“Nicho lagi dikantor, Sayang. Dia akan pulang saat sore nanti. Tapi, biasanya jika Aunty masak enak dia akan pulang di siang hari untuk makan siang,” terang Iva sambil tersenyum palsu, sebenarnya sejak tadi dia berusaha menghubungi anaknya tapi ponsel Nicho malah mati.
“Baiklah, Aunty,” jawab Kimberlie langsung bernafas lega. Kim berpikir dia bisa-bisa pingsan di tempat jika saat dirinya datang ke rumah ini dan langsung disambut oleh Nicho.
“Sayang, nanti Galaxy akan mengantarkanmu ke kamar yang akan kamu tempati. Aunty, mau belanja dulu di antar sama Supir. Jangan sungkan-sungkan di rumah Aunty yah ... anggap saja rumah sendiri,” ucap Iva saat dirinya telah sampai.
Mengikuti langkah Galaxy, Kimberlie berjalan dari belakang sambil terpanah melihat bagaimana megah dan besarnya rumah ini. “Bukankah ini tidak cocok disebut rumah, Galaxy?” tanya Kimberlie yang tiba-tiba memecahkan keheningan yang ada. Galaxy begitu terkesiap mendengar suara lembut Kimberlie, suara yang selama ini menjadi candu.
“Lalu cocok disebut sebagai apa?” tanya Galaxy.
“Ini namanya Istana, ini bukan rumah,” ucap Kimberlie sambil menggelengkan kepalanya dan masih memutar-mutar tubuhnya untuk melihat sekeliling ruangan dengan kagumnya.
Membuat Galaxy tersenyum kagum melihat bagaimana reaksi Kimberlie yang begitu polosnya.
“Apakah kamu menyetujui pernikahan ini karena kamu memang menyukai Nicholas, Kim?” Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terceplos begitu saja dari bibir Galaxy hingga membuat Kimberlie berdiri dan mematung gugup.