Tepat pukul enam sore Jevan sampai di rumah. Ia memarkirkan motornya di sebelah mobil hitam yang dibelikan Dewi untuknya. Tapi sayang mobil itu jarang sekali ia gunakan. Jevan lebih menyukai naik motor lebih praktis dan lebih cepat menurutnya. Sesekali ia menggunakan mobil jika pergi dengan mamanya atau memang jika pergi jauh. Selebihnya ia lebih senang dengan motor kesayangannya.
"Baru pulang Je?" Tanya Dewi yang berada di ruang tengah
Sambil membuka resleting jaket ia menghampiri mamanya, mencium punggung tangan dan pipinya sekilas kemudian duduk di sebelah mamanya.
"Tadi ke rumah kak Jasmine dulu—pengen ketemu Ael"
Dewi tersenyum menatap putra semata wayangnya, "yaudah mandi dulu sana"
Jevan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu bangkit dari duduknya berjalan ke arah kamar. Dengan asal Jevan melemparkan jaket kulitnya ke sofa. Ia melepaskan jam tangan--meletakkannya di nakas beserta ponsel dan kunci motornya.
Sambil membuka dua kancing teratas kemejanya, Jevan duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya diluruskan ke belakang menahan tubuhnya dengan kaki yang diluruskan. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.
Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi ia pun tidak mengerti. Ia merasa kalau ada sosok baru yang hadir dalam hidupnya. Sosok gadis cantik yang entah kebetulan atau tidak selalu bertemu dengannya.
Jevan teringat saat beberapa waktu lalu Aello memainkan ponselnya yang berakhir dengan bocah tampan itu video call-an dengan Clara. Ia sendiri tidak tahu bagaimana awal mulanya karena yang ia tahu tidurnya terasa terganggu karena pergerakan Aello di ranjangnya.
Namun begitu ia membuka mata dan melihat ponselnya yang tergeletak. Betapa kagetnya Jevan saat melihat wajah Clara yang memenuhi hampir seluruh layar ponsel. Gadis itu terlihat menyapanya sembari mengumbar senyum kikuk.
Tetapi Jevan yang tidak memiliki banyak pengalaman dengan wanita tidak tahu mesti bagaimana dan melakukan apa saat itu. Terlebih lagi ia yang menyadari keadaan dirinya yang pasti sangat kacau karena bangun tidur merasa malu sendiri.
Hingga akhirnya jemari tangannya bergerak lancang mematikan sambungan video call tersebut. Tetapi yang dirasakan Jevan setelah mematikan video callnya, menyesal. Ia menyesal telah mengabaikan sapaan Clara yang sudah menyapanya ramah seperti tadi.
Ingin menelponnya kembali atau mengiriminya pesan sekedar untuk meminta maaf tapi langsung diurungkan karena takut Clara tidak akan meresponnya nanti. Jadi biarkan saja. Tetapi satu yang tidak bisa dilupakan Jevan saat itu sampai dengan sekarang ini.
Senyum kikuk Clara yang terlihat manis.
Pikirannya berpindah ke kejadian barusan ketika dirinya menurunkan Clara di pinggir jalan. Sungguh awalnya ia tidak berniat sedikit pun menurunkan gadis itu di pinggir jalan tetapi memang Clara sendiri yang meminta. Jevan hanya menurutinya saja.
Walaupun sampai sekarang ia masih berpikir, apakah Clara sudah sampai rumah? Apa ia tadi mendapatkan taksi untuk pulang? Semua pertanyaan itu masih memenuhi otaknya.
Jevan mendesah kesal sambil mengusap wajahnya kasar saat menyadari dirinya yang entah mengapa malah memikirkan gadis itu. Memang Clara siapanya? Kenapa juga ia harus memikirkan gadis itu?
Menghela nafas berat, Jevan membuka kemejanya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
***
Keesokan paginya, Jevan baru saja sampai di kantor. Ia sedikit berlari ke arah lift begitu melihat pintu besi tersebut yang hampir menutup namun tangannya berhasil memencet tombol pembuka pintu hingga membuat pintu tersebut tak jadi menutup. Ia sudah berada di dalam lift bersama dengan karyawan yang lainnya. Terlihat dua orang karyawan wanita saling berbisik dengan senyum di wajah mereka begitu melihat Jevan.
Bahkan dari mata mereka jelas sekali kalau mereka sedang membicarakan Jevan. Tetapi sayangnya yang dibicarakan terlihat acuh dan langsung melangkah keluar begitu lift sudah sampai di lantai tujuannya.
Jevan melangkah masuk ke dalam ruangan besar yang dikhususkan untuk para karyawan yang bekerja di bagian penjualan dan pemasaran. Ia berjalan ke arah kubikelnya sambil sesekali membalas sapaan selamat pagi dari rekan kerjanya.
Setelah meletakkan jaket beserta tas kerjanya di meja. Ia langsung melangkah menuju pantry untuk membuat kopi yang akan selalu menemani dirinya mengawali bekerja hari ini. Namun dahinya mengernyit begitu melihat sebuah tas hitam perempuan yang berada di kursi sebelah kubikelnya.
Sejak kapan kubikel ini ada orangnya? Karena setau dirinya kubikel yang berada tepat disebelahnya memang kosong tidak ada yang menempati dan sekarang ada tas di sana. Milik siapa ini?
"Ted, ada karyawan baru?" Tanyanya sambil membuat kopi
Ia bertanya pada Tedy yang juga sedang membuat kopi di pantry.
Tedy yang sedang menyeruput kopinya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Jevan, "cantik banget Jev. Gue yakin lo naksir nanti. Andai aja gue belom punya Anne"
"Buat apa cantik kalo gak bisa kerja, percuma" Jevan menuangkan air panas ke cangkir kopinya
Tedy mencebikkan bibirnya, "omongan lo gak bisa jauh dari kerjaan" ucapnya kemudian pergi meninggalkan pantry
Setelah selesai dengan kopinya, ia berjalan kembali ke kubikelnya sambil membawa secangkir kopi. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi beroda lalu meletakkan kopi di meja. Sambil menunggu komputernya hidup, ia menyeruput kopinya sedikit demi sedikit yang masih mengepul mengeluarkan uap panas dengan pandangan menatap ke arah layar komputer. Namun sayang Jevan tersedak kopinya sendiri ketika dirinya dikejutkan oleh seseorang,
"Morning Jevan!"
Uhuk. Uhuk.
Ia meletakkan kopinya di meja masih dengan terbatuk-batuk dan belum melihat siapa seseorang yang menjadi penyebab dirinya tersedak seperti ini.
"Ya ampun sorry sorry Je. Gak ada maksud buat ngagetin. Aduh maaf" ia menepuk-nepuk pelan punggung Jevan berharap agar batuknya mereda
Mendengar suara seorang perempuan yang ia rasa pernah didengar sebelumnya membuat Jevan mengangkat wajahnya yang memerah karena tersedak kopinya tadi. Raut wajah terkejut tak bisa disembunyikan Jevan saat melihat wajah Clara yang tepat di depan wajahnya dengan posisi yang setengah membungkuk dan tangannya yang masih berada dipunggungnya.
Dalam beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain sampai akhirnya terdengar suara deheman keras Gilang yang langsung menyadarkan keduanya.
Clara kembali menegakkan tubuhnya dan berdiri normal. Ia menarik tangannya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga berusaha menutupi kegugupan dan debaran jantungnya yang sudah marathon dipagi hari.
Sementara Jevan, ia pun ikut berdehem pelan. Lalu membenarkan posisi duduknya, batuk beberapa kali sebelum akhirnya kembali menatap ke arah Clara yang masih berdiri di sampingnya.
"Lo ngapain di sini?"
Mendengar pertanyaan Jevan membuat Clara menolehkan kepalanya. Sontak ia tersenyum bahagia menyadari kalau Jevan yang bertanya lebih dulu, itu artinya pria tampan ini yang memulai pembicaraan duluan padanya.
"Menurut lo?" Ia menunjukkan bangga name tag yang menggantung dilehernya
Jevan melihat sekilas name tag tersebut lalu kembali menatap ke arah Clara--masih belum percaya dengan semuanya.
"Lo kerja di sini?"
"Kerjaan pertama gue" ia memperlihatkan setumpuk pekerjaan yang baru saja diberikan manajer gendutnya tadi.
"Terus kenapa lo di samping kubikel gue?" Tanya Jevan lagi saat Clara sudah duduk di kursinya
Clara menoleh dan tersenyum manis ke arahnya membuat jantung Jevan seperti lari-larian melihat senyuman itu,
"Karena disini wangi dan disini punya pemandangan yang indah. Dan gue suka itu" ia mengakhiri ucapan ambigunya dengan senyuman manis yang makin membuat Jevan tak bisa berkedip melihatnya
Shit! Hidup gue mulai terusik, batin Jevan lalu memalingkan wajahnya menatap ke layar komputer.
***
"Je. Tungguin!" Teriak Clara saat melihat Jevan hampir mencapai pintu ruangan.
Dan Jevan menghentikan langkahnya lalu berdiri bersandar ke pintu dengan tangan terlipat di d**a dan memandang ke arah Clara yang masih sibuk mencari dompetnya di dalam tas.
Tak terasa sudah saatnya jam makan siang. Clara yang masih belum hafal dengan kantornya sendiri memilih ikut bergabung makan siang dengan Tedy, Gilang dan Jevan tentunya. Tentu Jevan lah alasan utamanya ingin ikut gabung makan siang.
Betapa bahaginya Clara hari ini--hari pertama dimana dirinya bekerja. Walaupun ada sedikit perasaan sedih karena seharusnya ia datang sebagai pemimpin perusahaan bukan sebagai karyawan baru di perusahaannya sendiri.
Tetapi setelah mengetahui kenyataan yang lebih menggembirakan dari semuanya rasa sedih itu hilang dengan sendirinya. Terkalahkan dengan rasa kebahagiaan ketika dirinya mengetahui satu divisi dengan Jevan dan bahkan kubikel mereka pun bersebelahan. Tak ada hal yang lebih menggembirakan selain itu hari ini.
"Mau makan dimana nih? Bosen gue makanan kantin kantor" ucap Tedy sambil menunggu lift datang
"Resto depan aja lah. Lo mau dimana Je?"
Pertanyaan itu ditujukan pada Jevan yang baru saja ikut bergabung tentunya dengan Clara di belakangnya.
"Resto depan aja" jawab Jevan singkat
Tedy mengedikkan dagu dengan alis terangkat yang ia tujukan kepada Clara seakan bertanya ia akan makan dimana.
"Resto depan aja" jawabnya sama persis dengan jawaban pria yang berdiri di sampingnya
Jevan menoleh ke arahnya dengan alis bertautan. Clara pun ikut menoleh bersamaan dengan senyuman lebar untuknya. Senyuman yang lagi-lagi mampu membuat jantung Jevan kebat-kebit dan akhirnya memilih menolehkan kepalanya ke depan.
"Je. Makanan di resto itu enak?" Tanya Clara pada Jevan.
Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju resto yang berada di sebrang kantor. Tedy dan Gilang berjalan di depan mereka.
"Hmm" jawab Jevan sesingkat-singkatnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana
Clara mencibir mendengar jawaban Jevan. Apa tidak ada kata lain selain hmm? Jevan memang gemar sekali menggunakan kata hmm.
"Murah gak?" Belum mau menyerah Clara masih terus bertanya. Biarkan saja Jevan kesal dengannya karena banyak bertanya.
"Lumayan"
Tuhan, apa tidak ada jawaban yang lebih panjang lagi selain hmm dan lumayan?
Gadis itu mengelus dadanya sambil menghembuskan nafas mencoba untuk bersabar menghadapi Jevan—si pria irit bicara.
"Lo bayarin gue kan? Sebagai tanda ucapan selamat datang dan selamat bergabung buat gue di kantor" ia masih terus menyerocos
Langkah Jevan terhenti, ia menoleh ke arah Clara dengan dahi mengernyit, "kapan gue bilang mau neraktir lo?"
Oke. Jevan sudah mulai, mulutnya sudah tidak mengeluarkan satu kata saja.
Clara tersenyum, "ayolah Je. Traktir ya" ia menggoyang-goyangkan lengan pria itu sambil tersenyum manis menatapnya
Jevan terpaku beberapa detik dengan senyuman Clara yang lagi-lagi berhasil menghipnotisnya. Ia berdehem kecil, membenarkan letak kacamatanya sambil memalingkan wajah lalu menutup wajah Clara dengan telapak tangannya dan sedikit mendorongnya ke belakang,
"Jangan senyum kayak gitu" ucapnya sambil menarik lengannya sendiri dan kembali berjalan
Clara yang masih berdiri di tempatnya menautkan kedua alisnya dengan dahi yang mengernyit. Ia tidak mungkin salah dengar kan, Jevan melarangnya tersenyum? Kenapa memangnya? Ia membalikkan badan dan sedikit berlari mengejar Jevan yang hampir sampai restoran,
"Emangnya kenapa? Ada yang salah sama senyum gue?"
Jevan menghentikan gerakan tangannya membuka pintu kaca restoran. Ia menatap Clara, bukan senyum lo yang salah tapi ada yang salah sama jantung gue tiap kali liat senyum lo.
"Ayo masuk" ia merangkul leher Clara dengan sedikit menjepitnya lalu mengajaknya masuk ke dalam
Clara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Jevan padanya. Ia hanya menurut saja. Jevan merangkulnya? Dan apa Clara tidak salah lihat tadi, Jevan tersenyum padanya. Senyuman pertama yang diberikan Jevan untuk Clara.
Oh Tuhan, ada apa dengan Jevan? Ia kerasukan setan apa? Baru saja tadi ia bersikap sangat cuek dan dingin tapi sekarang sikapnya membuat Clara meleleh seperti es.
Sepertinya tidak salah jika Clara menyebut dirinya es krim. Dingin tetapi manis. Manis senyumnya dan manis sikapnya.
Ya walaupun kadang-kadang.
***
Clara keluar ruangan manajernya sambil menggerutu sebal. Bagaimana tidak, manajernya yang gendut seperti nyonya Puff dengan rambut yang mirip seperti dora itu memintanya untuk segera menyelesaikan laporannya sekarang juga. Padahal tadi ia mengatakan untuk menyerahkan laporan tersebut saat jam pulang kantor. Tetapi sekarang nyonya besar tersebut malah labil.
Masih terus menggerutu dan wajah cemberut, Clara melempar laporan tersebut ke mejanya lalu menghempaskan tubuhnya di kursi beroda. Ia menengadahkan kepalanya menatap ke atas. Baru hari pertama bekerja, pekerjaannya sudah segunung apalagi besok.
Gadis itu menegakkan tubuhnya lalu melirik ke arah sampingnya dimana terlihat Jevan yang tengah serius menatap ke layar komputer dengan satu tangan yang menopang dagunya. Senyumnya kembali terbit ketika ia mengingat sikap Jevan saat di restoran tadi. Ah rasanya Clara tidak bisa berhenti tersenyum tiap kali mengingatnya.
Ia menggeser kursinya mendekat ke arah Jevan. Matanya menelusuri lengan kokoh yang terbalut kemeja coklat dengan lengannya yang digulung sampai siku. Tangan Clara terasa gatal ingin menyentuh lengan berkulit putih yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus.
Pandangan Clara naik ke atas--ke wajah tampan Jevan yang menatap serius ke layar komputer. Kacamata membingkai mata indahnya membuat ia semakin terlihat tampan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, bibirnya sexy.
Tuhan betapa sempurnanya makhluk indah ciptaanMu ini, batin Clara.
"Kenapa?"
Mendengar suara bariton tersebut membuat Clara tersadar dari kegiatannya meneliti ketampanan Jevan. Betapa malunya ia telah tertangkap basah memandangi Jevan sejak tadi tanpa berkedip sedikit pun. Rasanya Clara ingin mencari kantong plastik untuk menutupi wajahnya yang pasti sudah memerah karena malu.
"Engga kok" ia menggelengkan kepalanya
Jevan kembali menolehkan kepalanya menatap layar komputer tanpa menanggapi jawaban Clara membuat gadis itu mendengus sebal.
"Je, udah berapa lama sih bu Dora jadi manajer? Kok lo tahan sih punya manajer macem dia? Udahnya ngeselin labil lagi. Dia emang kayak gitu ya?"
"Hmm"
Clara mengepalkan tangannya bermaksud ingin memukul kepala Jevan karena geram mendengar jawabannya. Ia sudah berbicara panjang lebar dan Jevan hanya menjawabnya dengan kata hmm.
Tolong sabarkan hati Clara.
Sikap dingin Jevan mode on.
"Kenapa Ra cemberut gitu?" Tanya Gilang menggeser kursinya menjadi menghadap Clara
Gadis itu memutar kursi menatap Gilang, "bete gue sama manajer lo"
"Bu Dora?"
"Bukan tapi nyonya Puff"
Gilang tertawa mendengar ucapan Clara. Tedy yang sejak tadi menatap layar komputernya pun tertawa mendengar ucapan gadis itu yang menyebut manajernya seperti nyonya Puff yang ada dalam kartun Spongebob Squarepants.
"Keren nih si Clara. Masih baru udah bisa kasih sebutan baru buat nyonya besar" Ujar Tedy
"Ya lagian kalian nyadar gak sih. Bu Dora tuh gendut mirip nyonya Puff. Jari tangannya aja montok-montok banget. Gak salah kan gue nyebut dia nyonya Puff"
HAHAHA. Lagi-lagi Gilang dan Tedy tertawa bersamaan. Beberapa karyawan lainnya yang mendengar pun ikutan tertawa. Bahkan Jevan yang serius menatap layar komputer sedikit menarik kedua sudutnya membentuk senyuman ketika indera pendengarannya mendengar ucapan gadis cantik itu.
"Emang lo disuruh ngapain sama si nyonya Puff?" Tanya Gilang
"Dia itu labil Lang macem anak abege. Tadi bilangnya nyerahin laporan ke dia pas jam pulang tapi tadi malah minta sekarang. Labil kan?"
Tedy tertawa mendengarnya, ia sedikit menggoyang-goyangkan kursi berodanya ke kanan ke kiri.
"Doi emang gitu Ra tapi nih ya kalo sama Jevan. Doi nurut banget.. Jevan bilang A ya dia bakalan setuju"
Clara menoleh ke arah Jevan yang ternyata sudah memutar kursinya menghadap mereka entah sejak kapan, "beneran Je? Dia naksir lo jangan-jangan"
Jevan hanya tersenyum kecil sambil mengangkat kedua bahunya acuh.
"Udah jadi rahasia umum Bu Dora naksir Jevan. Bahkan nih ya resepsionis yang namanya Dila juga naksir sama si cuek ini" Gilang melirik ke arah Jevan
"Banyak saingan dong gue" refleks Clara berucap
"Maksud lo Ra?" Tedy menegakkan tubuhnya menatap ke arah Clara. Bahkan Gilang dan Jevan pun sudah ikutan menatapnya--menunggu jawaban
Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri yang asal berbicara. Ia menatap mereka satu per satu lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Ma-maksudnya nyonya Puff eh bu Dora itu banyak saingannya gitu"
Gilang dan Tedy saling pandang sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya sementara Jevan terlihat datar-datar saja. Tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Clara! Ke ruangan saya sekarang"
Clara menolehkan kepala melihat ke arah bu Dora yang berdiri tak jauh darinya. Jevan dan yang lainnya langsung kembali memutar kursinya menghadap ke komputer.
"Cobaan banget deh kalo dia udah manggil kayak gini. Dasar gendut" gerutunya pelan
Jevan senyam-senyum sendiri mendengar gerutuan Clara. Namun bibirnya langsung kembali normal ketika Clara mendekatinya dan memegang lengannya. Ia menolehkan kepala menatap Clara dengan dahi mengernyit.
"Je. Kira-kira nyonya besar denger gak ya sama pembicaraan kita tadi?" tanyanya takut
Jevan menggedikkan bahunya tak tahu. Sungguh jawaban Jevan sama sekali tidak membantu dirinya sama sekali.
"Je gimana dong? Kalo dia marahin gue gimana?"
"Masuk dulu sana"
"Takut Je. Anterin" ia merebahkan kepalanya di lengan Jevan. Mencari kesempatan dalam kesempitan.
Jevan melirik ke arah lengannya bersamaan dengan debaran jantungnya yang berdetak di atas normal.
"Masuk dulu sana" ia mengangkat kepala Clara lalu menarik lengannya
Gadis itu menatap Jevan dengan wajah memelas, "kalo dia marahin gue gimana?"
"Panggil gue"
Clara tersenyum lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju ruangan manajernya. Ia berdoa dalam hati semoga di dalam ruangan nanti manajernya ini akan memarahinya supaya ia bisa memanggil Jevan dan pria itu akan membelanya di depan bu Dora.
Pasti akan menggembirakan melihat manajernya cemburu melihat Jevan membela dirinya nanti.
Nyonya Puff marahi aku~