Di pagi hari yang cerah ini, Clara sudah menginjakkan kakinya di negara yang terkenal dengan sejuta pulaunya. Negara yang memiliki keindahan alam yang tak ada duanya, negara yang begitu banyak memiliki suku bangsa dan bahasa. Indonesia.
Tepat pukul sepuluh malam tadi ia tiba di bandara Soekarno-Hatta. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya membuat tak ada seorang pun yang menjemputnya di bandara, Clara hanya bisa gigit jari sambil menatap iri saat melihat sepasang kekasih yang melepas rindu di bandara kemarin.
Persis seperti di film-film dimana sang pria berlari meninggalkan kopernya lalu langsung memeluk kekasihnya yang menunggu di pintu kedatangan. Mereka saling berpelukan erat seakan dunia hanya milik mereka dan Clara hanya mengontrak.
Clara ingin seperti itu, Clara juga ingin berpelukan erat melepas rindu seperti itu. Senyumnya tak dapat ia tahan saat membayangkan dirinya yang baru saja tiba di bandara dan saat keluar dari pintu kedatangan ia melihat Jevan di sana berdiri menunggunya dengan membawa sebuket bunga mawar.
Kemudian ia akan langsung berlari memeluknya erat dan tak akan ia lepaskan. Ah pasti Clara akan sangat bahagia jika memang apa yang ia bayangkan barusan benar-benar terjadi. Tetapi sayangnya itu hanya ada dalam imajinasinya saja bukan kenyataan. Sangat sulit rasanya jika hal tersebut terjadi mengingat seperti apa sosok Jevan.
Bunyi bel pintu apartemen menyadarkan Clara dari lamunan bahagianya, pasti pesanan makanannya sudah datang. Clara bukan wanita yang pandai memasak, menggoreng telor saja gosong. Jadi untuk sarapan di hari pertamanya ia memutuskan untuk memesan makanan di salah satu restoran cepat saji.
Gadis yang masih berbalut jubah mandi berwarna putih, berjalan ke arah pintu dengan sebelumnya meletakkan gelas di meja ruang tengah apartemen. Selama tinggal di Jakarta, ia akan tinggal di apartemen miliknya yang untungnya berjarak tidak jauh dengan kantor.
Makanan untuk sarapan sudah tersaji di meja, Clara menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah tanpa perlu mengganti baju terlebih dulu. Perutnya lebih penting sekarang. Ia menyambar remote tv lalu mulai menghidupkan benda persegi panjang tersebut.
Sambil menikmati sarapan paginya, Clara menyusun apa-apa saja yang akan ia lakukan dihari pertamanya di Jakarta. Berhubung ia masih belum mulai masuk kantor jadi hari ini bisa ia habiskan dengan cuci mata di mall sekalian berburu pakaian untuk ke kantor nanti.
Ya, itu ide yang bagus.
***
Seorang pria tampan memarkirkan motor ninjanya di parkiran basement tempatnya bekerja. Ia melepaskan helm beserta jaket kulit kemudian meletakkannya di atas motor. Sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan, ia berjalan masuk ke dalam kantor. Tak lupa juga sebuah kacamata yang sudah bertengger dihidung mancungnya menambah ketampanan yang ia miliki.
"pagi Jevan" sapa sang resepsionis yang berdiri di balik meja panjang dengan senyum mautnya
Pria itu membalas senyumnya sambil menganggukkan kepala sebagai balasan. Jevan bukan CEO di kantor ini, ia juga bukan seorang bos besar atau pun manajer.
Jevan hanya seorang karyawan biasa di salah satu divisi tetapi betapa spesialnya Jevan karena disetiap paginya ia selalu mendapat sapaan selamat pagi dari sang resepsionis. Bukan karena alasan, sang resepsionis yang diketahui bernama Dila menaruh hati pada Jevan sejak lama. Tetapi namanya Jevan--si cowok es krim, ia selalu saja bersikap cuek.
Jevan sudah berada di kubikelnya sendiri, ia mendaratkan bokongnya di kursi beroda lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana kemudian diletakkan di atas meja. Setelahnya ia bangkit kembali menuju pantry untuk membuat kopi.
Sepuluh menit berlalu, Jevan sudah kembali dengan secangkir kopi ditangannya. Ia kembali duduk di kursinya,
"Gue denger dari bos bakalan ada anak baru di divisi kita" seru Gilang sambil menggerakkan kursi berodanya ke arah Jevan
Tedy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, mengangkat wajah. Ia berdiri disamping kubikel Jevan dengan satu tangan yang bertumpu pada pembatas kubikel,
"Serius? Cewek apa cowok?"
"Cewek"
Jevan yang berada diantara dua temannya yang sedang asik bergosip dipagi hari tak menanggapi sedikit pun, ia lebih tertarik dengan kopi buatannya tetapi indera pendengarannya selalu on mendengarkan gosipan mereka,
"Wihh seger nih mata. Cantik gak? Semolek Dila gak? Apa bakalan se-sexy sekertaris bos?" Tanya Tedy tertawa
"Ngomong-ngomong soal Dila, Jev lo gak tertarik sama doi? Body-nya kayak gitar Spanyol bro, cantik gila lagi. Sayang cewek kinclong kayak gitu lo sia-siain" Gilang menyenggol lengan Jevan
Jevan meletakkan gelas kopi di meja lalu mulai menghidupkan komputer di depannya,
"Kalo lo tertarik lo aja yang ambil. Gue ikhlas" ia tersenyum ke arah Gilang
"Njir! Barang kali di 'ambil'" Tedy tersenyum miring
Gilang menatap Jevan dengan mata memicing, "gue curiga lo gak doyan cewek"
HAHAHA. Tedy tertawa mendengar ucapan Gilang. Ia menatap kearah Jevan,
"Gue doyan cewek Lang tapi bukan Dila"
"Nih anak bahasanya gak banget ya, kita lagi ngomongin cewek tapi bahasanya dia kayak lagi ngomongin barang" Tedy menggelengkan kepalanya
Gilang menggerakkan kursi ke mejanya, "terserah lu lah Jev"
Tedy pun kembali ke mejanya dengan sebelumnya menepuk sebelah bahu Jevan. Pria itu hanya tersenyun tipis melihat kedua temannya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
***
Jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan pukul empat sore. Clara melangkahkan kakinya keluar mall dengan menenteng beberapa tas belanjaan, hari ini ia sangat puas setelah hampir seharian berkeliling di mall.
Cuci mata sekalian shopping sebelum ia masuk kerja besok. Ia menyetop taksi yang melintas di depan mall, sebuah taksi berwarna biru berhenti tepat didepannya. Ia membuka pintu penumpang bagian belakang lalu masuk ke dalam dengan tas-tas belanjaannya yang berada di sisi kanannya.
Di dalam taksi, Clara menyibukkan diri dengan mengecek ponselnya. Tiba-tiba nama Jasmine terlintas di benaknya, ia sudah berada di Jakarta tetapi belum ada satu pun orang yang tahu.
Seharusnya tadi ia ke rumah Dini, agar tantenya itu tahu keberadaannya sekarang. Di sana ia juga bisa saling melepas rindu dengan Kikan. Lalu Jasmine? Clara juga rindu dengan wanita cantik dua anak itu. Terakhir kali mereka bertemu, ah entah Clara sendiri lupa.
Begitu sampai di apartemen, Clara langsung ke kamarnya. Ia meletakkan begitu saja tas belanjaannya di sofa kamar lalu langsung melesat ke kamar mandi. Ia ingin ke rumah Jasmine.
Walaupun sebenarnya ia juga ingin sekali ke rumah Dini tetapi entah kenapa hatinya mengatakan untuk ke rumah Jasmine terlebih dulu. Masih ada hari esok untuk ke rumah tantenya itu.
Kaos lengan panjang berwarna putih tulang, blue jeans yang ditimpali dengan sepatu sneakers sudah siap menemani Clara untuk berkunjung ke rumah kakak sepupunya sore ini. Ia sudah keluar dari apartemen lalu memutuskan untuk ke toko kue yang berada di samping apartemen terlebih dulu. Membawakan sedikit oleh-oleh untuk Aello—ya walaupun kue dari Jakarta bukan kue dari Perth.
Clara berdiri di depan toko kue dengan satu tangan memegang plastik berisi kue dan satu tangan lagi memegang ponsel. Ia tengah menunggu ojek online yang datang menjemputnya. Ia tahu adanya ojek online seperti ini dari Kikan yang memberitahunya saat ia ke Jakarta untuk liburan beberapa lalu.
Clara yang memang tidak suka bermacet-macetan memilih untuk memesan ojek online agar lebih cepat sampai. Terlebih lagi saat ini sedang jam-jamnya pulang kantor. Bisa dipastikan seperti apa macetnya lalu lintas Jakarta.
Lima belas menit kemudian. Setelah menyalip sana sini di tengah kemacetan Jakarta akhirnya Clara sampai dengan selamat di rumah Jasmine. Ia melepaskan helm berwarna hijau yang ia gunakan lalu menyerahkannya pada pengemudi ojek online beserta dengan uangnya.
Ia merapihkan sedikit rambutnya yang berantakan lalu menatap ke arah rumah dua lantai yang ada di depannya. Rumah ini tak ada yang berubah sedikit pun. Masih sama seperti saat terakhir kali ia berkunjung.
Clara mendorong pintu gerbang bercat hitam tersebut lalu melangkah masuk dengan sebelumnya menutup kembali pintu gerbang tersebut. Langkah kaki Clara tertahan saat ia melihat pemandangan di depannya.
Seorang pria berkemeja biru dengan lengan digulung sampai siku ditimpali dengan celana kain hitam tengah berdiri membelakanginya dengan kedua tangan dipinggang. Tubuhnya tinggi tegap dengan punggungnya yang lebar membuat Clara ingin langsung memeluknya.
Gadis itu tidak tahu siapa pria tersebut tetapi ia yakin itu bukan Dirga. Clara sangat kenal dengan postur tubuh kakak sepupunya itu. Lagipula mobil Dirga tidak ada di garasi jadi bisa dipastikan kalau pria itu belum pulang dari rumah sakit.
Clara masih menatap terpaku pada punggung kokoh itu saat sebuah suara menyadarkannya bersamaan dengan sosok mungil yang memeluk kakinya,
"Aunty Raraaaa!!"
Aello—bocah itu yang melihat kehadiran Clara terlebih dulu langsung berlari memeluknya.
"Aello... aunty kangen sama Ael" Clara sudah menekuk lututnya memeluk Aello erat sambil sesekali menciumi pipinya
Jevan. Pria berkemeja biru itu membalikkan badan saat melihat Aello berlari sambil berteriak menyerukan nama seseorang. Matanya sedikit menyipit melihat seorang gadis yang sudah memeluk Aello erat, ia belum bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya karena terhalang oleh tubuh mungil Aello.
"Ael lagi apa?" Tanyanya dengan kedua tangan memegang lengan Aello
"Lagi main basket sama om Jeje"
Deg. Jantung Clara mulai tak normal. Jeje? Jeje sama dengan Jevan. Itu artinya pria berpunggung kokoh nan lebar yang sangat pelukable itu Jevan?
Gadis itu menelan ludahnya. Entah ia harus senang atau tidak saat ini. Ia memang ingin bertemu dengan Jevan tetapi setelah dihadapkan dengan situasi seperti ini Clara gugup. Rasanya ia ingin sekali kabur atau mungkin memakai jurus menghilang seperti jinny oh jinny. Tetapi sayangnya Clara tak bisa.
Perlahan tapi pasti Clara memiringkan wajahnya melihat ke arah Jevan. Pria itu masih diam ditempatnya--terlihat dari kakinya yang masih berdiri ditempat tadi.
Shit! Clara mengumpat dalam hati saat melihat Jevan yang juga sedang menatap ke arahnya. Buru-buru Clara menarik kembali kepalanya menatap Aello.
"Mama mana Ael?"
Clara merutuk dirinya sendiri dalam hati saat suaranya yang terdengar gugup tak seperti biasanya. Ya Clara memang sedang gugup sekarang.
Memalukan.
"Mama di dalam. Ayo aunty kita ke dalam" Aello menarik tangannya dan mengajaknya masuk dengan sedikit berlari
Clara hanya bisa menuruti kemauan anak kecil tersebut dan menatap lurus ke depan saat melewati Jevan walaupun sebenarnya ia ingin sekali melihat wajah tampan itu dengan jelas. Dan Jevan, pria itu terus menatap ke arahnya sampai ia hilang masuk ke dalam rumah.
"Kak Jasmine! Lecaaaa!"
Jasmine yang tengah menggendong Lesha dengan satu tangan memegang mangkuk kecil berisi makanan Lesha membalikkan badan. Wajahnya langsung menunjukkan keterkejutannya namun senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya.
"Clara? Kamu di Jakarta?"
Clara memeluk Jasmine erat--mencium pipi kanan dan kirinya bergantian dengan Lesha, "aku bakalan netap di sini kak. Tadi malem baru sampe"
"Wah asik dong. Kok Kikan gak bilang ya?"
"Aku malah belum ketemu dia kak. Belum ke rumah tante Dini juga"
Jasmine tersenyum lalu menerima plastik berisi kue yang diberikan Clara, "ngerepotin deh Ra bawa kue segala"
Gadis itu tersenyum lalu mengambil Lesha untuk digendong. Bocah cantik dengan tiga gigi barunya itu menatap Clara dengan tatapan bingungnya lalu bergantian menatap ke arah mamanya. Beberapa detik berselang, suara tangisannya langsung terdengar. Jasmine tertawa melihatnya lalu mengulurkan tangan hendak menggendongnya lagi,
"Leca emang gitu kalo sama orang baru. Maunya sama mama papanya doang"
Sementara Jasmine ke dapur, Clara melangkah keluar rumah. Ia berdiri di ambang pintu depan rumah, memperhatikan Aello yang sedang bermain basket dengan Jevan. Ah tidak, pandangan Clara hanya terfokus pada Jevan.
Sesekali senyuman manis terukir di wajah Clara saat melihat senyuman dan tawa renyah dari pria tampan itu. Si cuek itu bisa tertawa juga.
"Aunty ayo main basket" Aello berlari ke arahnya lalu menarik tangan Clara untuk ikut bergabung dengannya
Jevan yang sebelumnya berdiri membelakanginya memutar tubuhnya, memandang ke arah Aello yang masih menarik Clara lalu menyerahkan bola basket padanya,
"Aduh Ael, kamu main sama om Jeje aja ya biar aunty jadi cheerleadersnya aja"
Aello mengerutkan dahinya, "iders itu apa aunty?" Tanyanya dengan pengucapan yang salah
Clara menatap ke arah Jevan, pria itu hanya menaikkan kedua alisnya lalu melipat kedua tangannya di d**a seakan menunggu jawaban apa yang akan dikatakan gadis itu pada keponakannya.
"Bukan apa-apa, nanti kalo Aello sudah sekolah Ael pasti ngerti itu artinya apa. Sekarang kita main bareng mau? Gini-gini aunty dulu jago basket loh" ia memilih mengambil jalan aman dengan mengajak Aello bermain basket daripada harus menjelaskan arti cheerleaders pada Aello yang pastinya tidak akan mudah. Terlebih lagi Aello termasuk salah satu anak yang kritis.
Jevan menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Clara dan Aello yang sedang bermain basket. Matanya terus memandang gadis itu yang bergerak lincah dengan bola di tangannya.
Boleh juga permainannya, batin Clara berkata.
Ia masih terus memandang ke arah Clara yang sedang mendrible bola lalu melemparnya ke arah ring. Bola yang seharusnya masuk ring malah memantul ke tepian ring hingga akhirnya bola berwarna oranye itu membentur kaca spion motor yang terparkir dekat dengan ring basket.
Mata Clara langsung membulat begitu bola tersebut mengenai spion motor. Mulutnya terbuka tetapi tidak mengeluarkan suara. Ia berjalan mendekati motor tersebut. Matanya makin membulat saat melihat kaca spion tersebut yang retak.
"Ael ini motor papa?" Tanyanya pada Aello. Setau dirinya, Dirga tak pernah memiliki motor seperti ini.
Aello menggelengkan kepala lalu menunjuk ke arah Jevan yang ternyata sedang menatapnya. Lipatan tangan di dadanya sudah terlepas.
Mampus gue, batin Clara
Clara belum menoleh ke arah telunjuk Aello tetapi ia tahu kalau telunjuk itu mengarah ke Jevan. Ia menelan ludahnya susah payah, merutuki kebodohan dirinya bersamaan dengan debaran jantungnya yang diatas normal.
Ia menginginkan kesan yang bagus dan indah saat bertemu Jevan tetapi kenapa malah kesan buruk seperti ini yang ia torehkan pada pertemuan keduanya dengan Jevan. Tolong siapapun orangnya tenggelamkan saja Clara ke rawa-rawa disaat seperti ini.
"Ma-af" ia memberanikan diri menatap ke arah Jevan. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jevan menghela nafas sebelum akhirnya membalikkan badan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Clara langsung berlari mengejar Jevan. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah sambil terus membuntuti Jevan,
"Je.. maafin gue. Gue gak sengaja, gue ganti deh ya. Please maafin gue" ia masih terus membuntuti Jevan yang berjalan ke arah ruang tengah
Gerakan tangan Jevan yang hendak mengambil jaket kulitnya berhenti saat Clara masih saja terus mengikutinya, ia menghela nafas lagi lalu membalikkan badannya.
Racauan permintaan maaf Clara terhenti saat wajahnya bertabrakan langsung dengan d**a bidang Jevan. Seakan lupa dengan semuanya Clara malah memejamkan matanya lalu menghirup dalam aroma parfum khas milik Jevan yang masih sama saat pertama kali ia menciumnya ketika rebutan es krim dulu.
Aroma parfum yang bercampur dengan keringat membuat wanginya cukup memabukkan Clara hingga ia lupa dengan apa yang baru saja terjadi. Jevan. Pria itu menundukkan kepalanya dengan alis bertautan dan dahi mengernyit menatap Clara yang masih betah menempatkan wajah di dadanya.
"Ehem!" Ia berdehem keras
Gadis itu langsung membuka mata dan menarik wajahnya. Ia kembali berdiri normal, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga lalu berdehem untuk menutupi kegugupannya. Lagi-lagi Clara merutuki kebodohannya sendiri. Ah ingin sekali rasanya Clara membenturkan kepalanya ke tembok.
"Kak, aku mau pulang"
Belum sempat Clara berucap Jevan sudah lebih dulu mendahuluinya. Ia berkata pada Jasmine yang entah sejak kapan berada di sana. Semoga saja Jasmine tidak melihat apa yang dilakukan Clara barusan.
"Aku juga kak. Mau pamit pulang" sambar Clara
Mendengar ucapan Clara, Jevan menoleh ke arahnya. Ia menatap Clara, seakan matanya berbicara 'lo ngikutin gue?'. Clara balas menatap Jevan dengan mengedikkan dagu seakan bertanya 'apa?'. Ia sendiri merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.
"Yaudah kalo gitu kalian barengan aja" ucap Jasmine
Sontak mereka berdua menoleh ke arah Jasmine.
"Gak. Gak usah kak. Aku naik taksi aja" tolak Clara cepat dengan gerakan tangannya. Walaupun dalam hati sebenarnya ingin sekali rasanya ia menyetujui ucapan Jasmine.
"Naik taksi sore begini bakalan lama loh Ra nyampenya. Bareng Jevan aja, ya kan Je?"
***
Akibat paksaan dari Jasmine akhirnya mereka--Jevan dan Clara pulang bersama. Sebenarnya memang hal ini yang ditunggu-tunggu oleh Clara. Sekarang ini ia sudah duduk diboncengan belakang motor Jevan yang sedang melaju di jalanan kompleks perumahan Jasmine.
Sejak tadi ia tidak bisa menormalkan bibirnya yang terus saja membentuk senyuman. Matanya terus menatap ke arah punggung lebar Jevan yang berada tepat di depannya. Mungkin akan sangat menyenangkan jika ia merebahkan kepalanya di sana.
Tetapi sebetulnya Clara ingin sekali memukul keras kepala pria tampan yang terlapisi helm ini. Bukannya apa sejak tadi ia terus saja diam tak ada niatan sedikit pun untuk mengajaknya berbicara setidaknya untuk berbasa-basi. Menanyakan alamat mungkin.
Clara berdehem berniat untuk memulai pembicaraan. Hanya untuk basa-basi sebenarnya tetapi siapa tahu bisa jadi pembicaraan yang panjang,
"Sampe depan komplek aja biar nanti gue naik taksi di sana" ucap Clara
Cukup lama ia menunggu tanggapan dari Jevan. Tetapi apa yang didapat hanya keheningan dan kalau disebuah film disaat-saat seperti ini sudah terdengar suara jangkrik yang menanggapi ucapannya.
Sebenarnya Jevan ini tuli atau bisu sih?
Belum selesai Clara mengumpat untuk Jevan dalam hati. Motor yang ditumpanginya sudah berhenti, ia melihat sekeliling dan benar. Jevan tidak tuli tetapi ia bisu buktinya ia menurunkan Clara di pinggir jalan seperti ini tepat di depan kompleks.
Ia pikir Clara ini cabe-cabean diturunin di pinggir jalan. Tetapi itu bukan salahnya juga sih karena tadi Clara yang meminta walaupun sebenarnya itu hanya basi-basi tetapi sepertinya Jevan tak pernah mengenal istilah basa-basi.
Clara sudah turun dari motor Jevan dengan perasaan tak rela. Ia berdiri di sisi motor Jevan, refleks tangannya memegang lengan pria itu saat melihat Jevan hendak melajukan kembali motornya. Jevan menatap Clara dengan tatapan bertanya, gadis itu melirik ke arah kaca spion Jevan yang retak karena ulahnya tadi.
"Kacanya? Biar gue ganti ya"
"Gak usah" jawab Jevan
"Tapi kan Je—“
Ia tak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tak ingin dibantah Jevan yang ditujukan padanya. Jevan melirik ke arah lengannya yang masih terdapat tangan Clara di sana. Mengerti dengan maksud pria itu, Clara langsung menarik tangannya.
"Makasih buat tumpangannya. Maaf buat yang tadi"
"Hm" hanya itu balasan dari Jevan setelahnya ia langsung melajukan kembali motornya meninggalkan Clara yang masih berdiri dipinggir jalan menatap ke arahnya.
"Setidaknya pamit dulu kek baru pergi" gerutunya sebal lalu melepaskan sepatunya berniat untuk menimpuk Jevan.
Kalau tidak ingat sepatunya berharga mahal Clara sudah menimpuk pria itu tetapi beruntung ia ingat dengan harga sepatunya yang tidak murah dan mengurungkan niatnya menimpuk Jevan.
Sikapmu membuatku makin penasaran.