Loving You | 1

2604 Words
Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas. Seorang gadis cantik baru saja keluar dari rumahnya saat sinar sang mentari hangat langsung menyapanya pagi ini. Sungguh cantik langit Perth pagi ini, membuat sebuah lengkungan senyum indah di wajah cantik Clara. Ia sudah keluar gerbang rumah dan mulai berjalan menyusuri jalanan. Pagi ini Clara berniat ke kampus untuk mengurus sesuatu setelah minggu lalu dirinya baru saja wisuda. Ya ia sudah lulus. Tetapi apalah arti lulus kalau sekarang Clara hanyalah seorang pengangguran. "morning Ben, morning Jean" sapanya pada salah satu tetangga. Mereka pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut tetapi sampai di usia mereka yang melebihi setengah abad mereka tetap saja terlihat romantis. Seperti disetiap paginya, mereka selalu menyempatkan untuk menikmati secangkir teh dan sarapan mereka di depan rumah bersama seperti sekarang. Membuat Clara selalu saja merapalkan doa, kelak ia juga ingin seperti mereka bersama dengan pasangan hidupnya. "morning Clara. You're so beautiful" jawab Jean tersenyum Clara tertawa sambil tersipu malu. Sepertinya Jean memang termasuk orang yang sangat jujur. Clara cantik? Jelas ia tau itu. Bahkan sebelum orang mengatakan itu Clara sudah mengetahuinya lebih dulu. Dilanjutkan langkahnya lagi setelah tadi menyempatkan waktu sebentar menyapa Ben dan Jean. Kini ia sudah berdiri di tepi jalan raya—menunggu taksi yang akan mengantarnya ke kampus. Sambil menunggu taksi lewat, Clara mengeluarkan ponsel dari saku ketika dirasakannya benda tersebut bergetar. Senyumnya mengembang sempurna saat membaca nama si penelpon yang meminta nya untuk video call. Kikan, sepupunya yang berada di Jakarta. "Morning Kikaaaan" seru Clara cukup kencang sambil melambaikan tangan ke arah kamera ponsel hingga membuat beberapa orang yang berada di sekelilingnya menoleh. Mungkin beberapa dari mereka berpikir kalau ia wanita gila yang teriak-teriak tidak jelas di pagi hari dan di pinggir jalan pula. Tak apalah, biarkan saja. Clara tak mengenal mereka dan mereka pun tak mengenal Clara. Jadi abaikan saja. "Claraaa. Miss you so much" terlihat gadis cantik itu yang masih bergelung di ranjangnya. Wajahnya masih menampakkan wajah khas bangun tidur. Ck anak ini tak jauh berbeda dengannya. Kalau saja Clara tidak ada urusan di kampus bisa dipastikan kalau ia pun sama dengan Kikan—masih bergelung di ranjang. "me too darling. Pasti belum mandi?" tanyanya dengan mata memicing Kikan menyengir "ini masih terlalu pagi untuk mandi. Baru jam tujuh" "oh my God Kikan. Liat dong, gue udah rapih, wangi dan beautiful gini.. and see bahkan di sini orang-orang udah terlihat sibuk walaupun hari masih sangat pagi" Diarahkan lagi kamera ponselnya ke sekeliling. Ke depan, ke belakang, samping kanan dan samping kiri tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang. Kikan malah tertawa "pengen ke Perth" ucapnya dengan wajah yang dibuat sedih "ayo dong ke sini. Gak bosen di Jakarta, macet terus" ledeknya sambil tersenyum Mendengar ledekannya, Kikan hanya mencebikkan bibir sambil mengubah posisinya menjadi duduk bersandar ke ranjang membuat kameranya goyang dan menampakkan gambar yang tidak jelas, "Ra, jadi handle perusahaan di Jakarta?" tanya Kikan setelah ia menemukan posisi nyaman dan kameranya kembali dalam posisi normal "belum tau. Kenapa emangnya?" "nanya aja tapi kalo misalkan jadi berarti lo bakalan jadi bos adiknya kak Jasmine" Clara mengerutkan dahi berusaha mencerna kalimat Kikan sebelum ia lanjutkan lagi dalam bentuk pertanyaan. Bos adiknya kak Jasmine. Adik kak Jasmine, tolong garis bawahi bagian itu. Setau Clara kak Jasmine hanya memiliki satu adik dan itu Jevan—cowok es krim yang beberapa hari lalu membuatnya naik darah karena berbalas chat dengannya. Berbalas chat dengannya sama saja menguji tingkat kesabaran Clara. "what? Jevan? Dia kerja di perusahaan keluarga gue?" tanyanya memastikan Di sana Kikan menganggukkan kepala tanda mengiyakan, "kemarin kak Jasmine bilang gitu. Dia nyebutin nama perusahaan lo tapi kayaknya kak Jasmine gak tau itu perusahaan punya keluarga lo.." "si tengil Dirga gak kasih tau emang?" "kak Dirga mana tau sih nama perusahaan lo. Nama penyakit nama obat dia hapal" Ia tertawa mendengar jawaban Kikan. Benar juga. Seorang Dirga mana tau tentang nama-nama perusahaan apalagi perusahaan milik keluarga Clara karena yang ada di otaknya hanya Jasmine, dua anaknya, nama penyakit dan nama obat-obatan yang sudah akrab sekali dengannya. "lo gak cerita kan ke kak Jasmine kalo itu perusahaan keluarga gue?" "gak. Biar nanti lo aja yang bilang ke kak Jasmine" Gadis itu mengangguk-anggukan kepala mengerti—mengabaikan Kikan yang masih memerhatikannya dari sebrang sana sebelum akhirnya suaranya kembali menyadarkan Clara, "Ra udahan dulu ya. Gue mau mandi. Bye, see you cantik" ia melambaikan tangan Clara tersenyum lebar dan ikut melambaikan tangan ke kamera "bye Kikan. Love you.. muach" Kikan tertawa saat melihatnya memonyongkan bibir seperti menciumnya sebelum akhirnya sambungan video call terputus Ponsel yang masih berada di dalam genggaman tangan, ia masukkan lagi ke dalam saku dan kembali mengedarkan pandangan mencari taksi yang sepertinya sejak tadi sudah banyak yang terlewati. Begitu dari jarak jauh dilihatnya bayangan taksi, ia maju selangkah dan menyetopnya. *** Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat Clara sedang santai di sofa ruang tengah dengan segelas jus melon yang sedang dinikmatinya di tangan kanan dan ponsel yang dimainkan di tangan kiri. Ia sedang membuka i********: miliknya sendiri, melihat satu per satu foto-foto yang pernah diupload sekaligus melihat berapa banyak love yang diterimanya dari setiap foto yang diupload. Senyumannya terbentuk tipis saat melihat banyaknya love yang diterima. Sepertinya kecantikannya banyak menyihir orang sehingga mereka berbaik hati memberikan love. Ibu jarinya masih lincah mengetul-ngetul layar ponsel saat pikirannya kembali teringat dengan ucapan Kikan pagi tadi. Apa benar yang dikatakan Kikan itu? ingin sekali Clara menyelidikinya dengan meminta data pegawai perusahaan yang ada di Indonesia pada papi tetapi nanti papi malah curiga. Ingin bertanya pada Jevan? Malas sekali rasanya mengingat betapa cuek dan singkatnya saat berbalas pesan dengannya beberapa waktu lalu. Tetapi tunggu rasa-rasanya ia sudah lama tidak melihat foto profil Jevan padahal seminggu yang lalu ia rutin memperhatikan foto profilnya—menunggu apakah dia mengganti foto profil atau tidak karena saking penasarannya. Katakan saja Clara terlalu kepo, ya ia memang kepo dan Clara mengakui itu. Ibu jarinya bergerak membuka aplikasi chat dan mencari kontaknya. Mata indahnya melebar begitu melihat foto profil Jevan yang sudah berganti. Bukan lagi tulisan menyebalkan yang membuatnya naik darah dan mengumpat kesal saat pertama kali melihatnya. Buru-buru ia klik foto tersebut dan pfftt— Jus melon hampir memuncrat keluar saat melihat sebuah foto yang sekarang terpampang nyata di layar ponsel Clara. Benar ini Jevan? Demi dewa dewi yang ada di dunia ini, dia tampan. Dia keren. Dia.. manis. Dia cool. Dan dia benar-benar tampan. Itu hanya sebuah foto candid biasa, Jevan berbalut pakaian hitam terlihat sedang bersandar ke tembok sambil tertawa. Tawanya itu yang terlihat tidak biasa, tawanya yang membuat matanya sedikit menyipit dan membuat ia makin terlihat manis. Sungguh, ini pertama kalinya Clara melihat Jevan tertawa seperti ini. Dan kacamata itu, sejak kapan Jevan menggunakannya? Seingat Clara, saat melihatnya pertama kali dulu ia belum menggunakan kacamata dan sekarang kacamata itu sudah bertengger manis di hidung mancungnya membuat si empunya juga semakin terlihat manis. Tuhan, aku ingin ke Indonesia. "Clara" Ia terlonjak kaget saat mendengar suara mami yang memanggilnya. Ditolehkannya kepala ke arah mami yang sedang berjalan menghampiri Clara. "kamu jadi ke Indonesia? Papi minta kamu buat handle perusahaan yang ada di sana" ucap mami begitu sudah duduk di sofa yang sama dengannya Pucuk dicinta ulam pun tiba ~ Clara tersenyum lebar dalam hati mendengar ucapan mami barusan. Sepertinya ikatan antara ibu dan anak itu memang sangat kuat, baru saja hatinya berteriak ingin ke sana dan sekarang mami sudah menanyakan hal seperti ini. Ah senangnya. "jadi kok mam" jawabnya semangat "semangat banget" senyum mami mengembang melihat semangat yang sepertinya sangat terlihat sekali. Dalam hati Clara berdoa semoga saja mami tidak curiga, "yaudah kalo gitu nanti mami bilang ke papi, kamu siap kan handle perusahaan yang ada di sana?" Handle perusahaan? Itu artinya Clara yang bertanggung jawab atas perusahaan tersebut dan sudah pasti ia akan menempati jabatan yang cukup tinggi di perusahaan. Dan di perusahaan itu ada Jevan. Clara bertindak sebagai bos dan Jevan sebagai bawahannya, sudah bisa dibayangkan bagaimana hubungan mereka nanti. Pasti Jevan akan membuat jarak dengannya. Ia pasti akan segan mendekati Clara karena ia bosnya. Mereka hanya akan bersikap layaknya seorang bos dan karyawan. Ah tidak. Tidak. Clara tidak ingin seperti itu. Clara tidak ingin memiliki hubungan antara bos dan pegawai dengannya. Ia ingin bisa dekat dengannya, ia ingin akrab dengannya. Clara ingin tau banyak mengenai dirinya dan ia ingin menjadi temannya bukan menjadi bosnya. Siapa tau hubungan yang awalnya hanya berteman bisa berlanjut ke hubungan yang ehem—lebih serius mungkin. Clara berharap. "mam" panggilnya pada mami sembari meletakkan jus melon dan ponsel ke meja—ia mencari posisi ternyaman sebelum melanjutkan ucapannya Mami yang tadinya menatap ke layar tv menoleh ke arahnya sekilas lalu menatap ke tv lagi seakan layar tv lebih menarik dibandingkan wajah cantik nan menawan putrinya ini. "kayaknya aku gak siap deh kalo harus handle perusahaan. Maksudnya gini loh, aku kan masih baru terus kayaknya gak enak aja tiba-tiba dateng ke perusahaan langsung jadi ibu bos.. kayaknya lebih enak kalo aku mulai dari bawah" "dari bawah? Maksud kamu jadi office girl?" Ya, kali Clara yang cantik begini jadi office girl, "bukan mam, jadi karyawan biasa gitu di divisi apa kek. Aku tuh kepengen karir aku menanjak dari yang awalnya karyawan biasa nanti naik naik naik baru jadi ibu bos ya walaupun itu di perusahaan sendiri" jelas Clara berharap mami luluh dengan rayuan mautnya. Mami tampak berpikir sambil menatap ke arahnya. Jangan sampai mami tau maksud terselubung dari keinginan putrinya ini. Clara ingin menjadi karyawan biasa karena ia ingin sama kedudukannya dengan Jevan. "oke mami setuju. Nanti mami bilang ke papi.. mami senang sama pemikiran kamu. Anak mami udah dewasa ternyata" mami mengelus rambutnya sayang dan Clara memeluknya dari samping. Thanks mam. Thanks sudah mengizinkan ku untuk pergi menemuinya dan berusaha dekat dengannya ~ *** Keesokan harinya, Clara baru saja dari lantai satu rumah berbicara dengan papi mengenai rencananya ke Indonesia sekaligus keinginannya menjadi karyawan biasa di perusahaan nanti. Dan untungnya, memang dasar ya kedua orang tua nya itu baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, papi menyetujuinya. Ah bahagianya Clara ~ Ia benar-benar bahagia mengetahui kalau besok ia akan langsung terbang ke Indonesia dan bertemu dengan Jevan—si cowok cuek yang entah kenapa malah membuatnya penasaran. Mungkin ini terdengar gila tetapi tak apa lah Clara tak peduli. Ia melemparkan tubuhnya ke tengah ranjang, menatap nyalang langit-langit kamar bercat putih. Senyumnya mengembang membayangkan bagaimana hari esok, ia akan bertemu Kikan, kak Jasmine, Dirga, Aello, Leca dan tentunya Jevan. Pasti mereka semua bahagia bertemu dengannya. Dan yang lebih membahagiakannya lagi kalau besok dan seterusnya Clara akan tinggal di sana. Yup ia akan menetap di Indonesia karena Clara akan bekerja di sana. Itu artinya lagi Clara mempunyai banyak waktu untuk bisa kenal lebih jauh dengan Jevan. Ah Jevan, rasanya Clara hampir gila hanya karena melihat fotomu itu. Terdengar suara deringan ponsel, ia mengubah posisinya menjadi miring sambil menyambar ponsel lalu kembali ke posisi semula. Astaga! Clara hampir saja melepaskan ponselnya sendiri saat melihat siapa yang menelponnya sekarang. Oh My God! Rasanya sebentar lagi akan turun hujan warna-warni. Ah tidak itu mustahil sama seperti apa yang terlihat di depan matanya. Jevan mengajak Clara video call. Tolong kalimat itu dibaca baik-baik, Jevan mengajaknya video call. Mustahil bukan? tetapi ini yang terjadi sekarang. Jevan kerasukan apa? Jevan makan apa sampai mengajak Clara video call? Ia langsung bangkit dari posisi rebahan, berdiri di depan cermin. Jemari tangannya bergerak merapihkan rambut yang sedikit berantakan lalu berpindah merapihkan kaos yang dikenakannya. Lalu tangannya berpindah menyentuh d**a kiri dimana terdapat jantungnya yang berdetak di dalamnya—jantung yang berdetak dua kali lebih cepat. Clara gugup. Gugup hanya ingin video call dengan Jevan. Ini konyol. Baru saja ia berniat ingin menerima panggilannya ketika tanpa sengaja matanya melihat pantulan bibirnya yang pucat di cermin. Buru-buru Clara mencari lipstick dan mengoleskan di bibir sexy-nya. Ia mencari tissue lalu mengelapnya sedikit agar tidak terlalu terlihat kalau ia baru saja menggunakannya dan agar warnanya juga terlihat lebih natural. Setelah oke, Clara menggeser ikon berwarna hijau dan memposisikan kamera ponsel di depan wajah dengan sebelumnya menghembuskan nafas terlebih dahulu. Sumpah, Clara sudah seperti ingin bertemu dengan orang penting dan rasa gugupnya menyamai saat ia akan mengikuti sidang skripsi kemarin. "ha—" "aunty Raraaaaa!" Baru saja ia akan menyapa ketika sebuah suara anak kecil yang sudah lebih dulu mendahuluinya. Seketika kebahagiaan Clara menguap begitu saja. Bunga-bunga yang tadinya sudah bermekaran cantik di dalam perut rasanya langsung mati tak bersisa. Kegugupan dan detak jantung yang tak normal pun langsung hilang entah kemana bahkan rasanya sekarang jantung ini berdetak lemah. Ini bukan Jevan, ini Aelloooo! Aello adalah anak Dirga, kakaknya Kikan yang menikah dengan kakaknya Jevan. Kemana sih sebenarnya yang punya ponsel itu sampai membiarkan si anak kecil ini menggunakan dan mengajaknya video call?! Ia tidak tahu kalau dirinya baru saja membuat Clara terbang tinggi ke awan lalu melemparnya ke laut begitu saja saat melihat wajah tanpa dosa Aello. Bukan karena Clara tak senang mengobrol dengan bocah ini tapi rasanya bukan Aello yang sedang ditunggunya sekarang tetapi Jevan. "hai Ael" ia memaksakan senyum "aunty lagi apa? Kok gak ke sini?" tanyanya polos Dasar anak kecil dikira jarak Perth dan Indonesia bisa dijangkau dengan naik sepeda. Pertanyaanmu itu loh Aello sungguh polos sekali—sangat mencerminkan sisi keanak kecilan. "aunty lagi di kamar. Nanti aunty ke sana.. Ael lagi apa? Kok pake hape om Jevan?" oke saatnya ia mengorek info dari si kecil Dirga ini untuk mengetahui dimana si empunya ponsel "aku lagi main ke rumah oma. Om Jeje lagi tidur jadi hapenya aku pake" Aello tersenyum lucu Clara mengangguk mengerti dan baru menyadari kalau Aello memang sedang bersandar ke kepala ranjang yang bisa dipastikan kalau itu kamar Jevan. Coba tolong Aello ganteng bisa digeser sedikit ponselnya supaya aunty-mu ini bisa melihat om Jeje yang sedang bobo tampan. "nih om Jeje" ucap Aello sambil cekikikan. Seperti bisa mendengar apa yang  diteriakkannya dalam hati. Dirga versi junior ini mengarahkan ponselnya ke depan wajah Jevan yang sedang tertidur pulas. Tetapi sayangnya entah karena Aello yang memang tidak bisa diam atau memang tangannya yang gemetar hingga gambar yang dilihat ngeblur—tidak menampakkan dengan jelas wajah tampan Jevan. Belum lagi Aello yang terlalu dekat memposisikan ponselnya dengan wajah Jevan hingga yang terlihat hanya pori-pori wajah Jevan. "Aello ayo makan dulu" terdengar suara teriakan seorang perempuan yang Clara yakini kak Jasmine yang memanggil Aello Seketika tampilan di layar menjadi tidak jelas ditimpali dengan suara grasak grusuk seperti sedang terjadi sesuatu. Bisa dipastikan kalau saat ini Aello sedang turun dari ranjang dan meletakkan ponselnya begitu saja hingga akhirnya layar ponsel menampakkan warna putih yang bisa Clara tebak itu warna cat langit-langit kamar Jevan. Kalau bocah itu sudah pergi seperti ini Clara harus mengobrol dengan siapa? Ingin dimatikan juga rasanya tidak rela. Ah andai saja Aello memposisikan ponselnya dengan benar terlebih dulu sebelum meninggalkan kamar, misalnya dengan menghadapkan ke wajah Jevan mungkin. Sayangnya Aello tidak peka. Baru saja akan mematikan video call ini saat layar ponsel yang awalnya berwarna putih berubah menjadi tidak jelas sebelum akhirnya menampilkan wajah tampan Jevan yang baru saja bangun tidur. Sepertinya dia terganggu dengan pergerakan Aello tadi. Seketika terpaku dengan wajah yang ada di layar ponselnya, ia menelan ludahnya sendiri menatap Jevan walaupun hanya lewat video call. Ia tampan walaupun baru bangun tidur seperti ini. Sungguh ia tampan. Jevan tampak mengerutkan dahi dengan kedua alis yang menyatu. Mungkin bingung kenapa ponselnya bisa terhubung video call dengan Clara seperti ini. "Siang Jevan—hai" sapa Clara yang terdengar sedikit kaku dengan senyuman yang bisa dipastikan juga terlihat kaku Tetapi apa yang didapat sebagai balasan sapaan ramahnya itu. Layar ponsel Clara berubah menjadi hitam lalu kembali menampilkan wallpaper. Kalian pasti tau kan apa maksudnya? Jevan mematikan sambungan video call. Jevan memutus sambungannya setelah mendapat sapaan dari Clara. Gadis itu masih melongo tidak percaya sebelum akhirnya lagi-lagi ia mengumpat untuknya, Sial! Kurang ajar!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD