Ting Tong.
Terdengar bunyi salah satu aplikasi chat dari ponsel yang tergeletak pasrah di nakas sisi ranjang. Dengan mata terus tertuju ke layar laptop yang sedang menayangkan film yang sedang ditonton. Tangan gadis cantik bernama Clara bergerak mengambil ponsel berwarna rose gold tersebut.
Jari jempolnya bergerak menggeser ke kanan layar ponsel yang langsung menampilkan wallpaper . Ya katakan saja Clara narsis tapi apa salahnya memajang foto diponsel sendiri. Clara membuka aplikasi berwarna hijau sebelumnya — melihat siapa yang mengirimi pesan saat malam-malam begini.
Jevan Jarendra menambahkan kamu sebagai teman
Dahi gadis manis itu mengernyit. Kedua alisnya menyatu. Mulutnya bergumam menggantikan nama depan seseorang yang sudah ditambahkannya menjadi teman. Enak saja ia dengan mudah mengundang Clara berteman, memangnya Clara mau berteman berteman?
Jevan Jevan Jevan
Nama itu tak asing. Seperti pernah ia dengar sebelumnya tetapi di mana? Ya otak Clara memang lemot jadi harap maklum saja. Clara masih melanjutkan ingatan tentang nama 'Jevan' di semua file yang ada diotaknya hingga akhirnya membulat, mulutnya terbuka dramatis seperti difilm-film yang refleks langsung ditutup dengan tangan. Jevan? Adiknya kak Jasmine? Adik iparnya Dirga? Si cowok es krim? Si cowok keren itu?
Buru-buru langsung Clara mengklik fotonya karena penasaran. Tapi s**l, foto profilnya hanya berupa tulisan 'Jangan kepo sama foto gue!' Putih dan Merah.
Kampret!
Sok ganteng!
Sombong!
Umpatan-u*****n yang disetujui Clara disetujui. Aplikasi ini memuat foto profil gunanya untuk memasang foto agar bisa dikenali dengan orang lain, teman lama, saudara bahkan mantan pacar, apa yang dilakukan cowok satu ini. Foto profilnya membuat naik darah. Sok ganteng! Tak ingin makin penasaran dan teka-teki misteri teka-teki begini. Jemari tangan Clara langsung lincah mengetikkan sesuatu di kolom pesan,
clarasmith: Jevan? Saudara laki-laki Jasmine?
Delivered. Oke bagus. Clara memandangi layar ponsel berharap pesannya segera dibalas. Lama ia memandangi layar ponsel sampai matanya pegal tapi tak ada balasan apapun darinya. Bahkan tanda pesan sudah dibaca pun tak ada. Clara keluar dari aplikasi chat tersebut lalu meletakkan kembali ponsel di nakas dan menonton film yang entah sudah sampai mana.
Matanya terus menonton film tetapi sesekali melirik manja ke arah ponsel yang terlihat tenang-tenang saja—tidak ada tanda-tanda pesan masuk. Ini cowok beneran tidak membalas pesan Clara? Gadis dengan kaus putih itu menyambar ponsel mengecek pesan, siapa tahu sinyal ponselnya yang memang sedang bermasalah sehingga tidak ada bunyi pesan masuk. Ya mungkin sinyalnya yang sedang jelek.
Mulutnya terbuka menganga begitu melihat tulisan 'Read' di sisi kiri pesan yang tadi ia kirim. Read berarti baca dan itu artinya pesannya sudah dibaca tetapi tidak dibalas. Demi Tuhan, sepertinya Clara memang tak salah mengumpati kata-kata itu padanya.
Dia sombong!
Malas, sebal dan sudah pasti kesal Clara letakkan kembali ponsel di nakas. Mematikan laptop dan bersiap-siap untuk tidur dengan rasa kesal yang menggunung dihatinya. Dia pikir dia siapa, mengabaikan Clara begitu saja. Apa dia tidak tahu siapa Clara?
Seharusnya dia berbangga hati karena Clara mengirim pesan lebih dulu karena seorang Clara Smith sangat jarang sekali mengirim pesan pada cowok duluan terlebih lagi cowok tersebut baru saja menambahkannya sebagai teman. Kalau bukan karna dia Jevan jangan harap Clara akan seperti ini.
Ting tong.
Baru saja Clara akan memejamkan mata ketika terdengar suara chat masuk dalam ponsel. Matanya langsung terbuka sempurna dengan gerakan tangan yang langsung menyambar ponsel,
Jevan Jarendra: hm
Clara langsung mengubah posisinya menjadi duduk. What? Hanya 'hm'? Dua huruf saja? Tuhan, terbuat dari apa cowok satu ini. Clara mengirim pesan dari tadi, diabaikan terlebih dulu sebelum akhirnya dibalas dan ternyata setelah dibalas hanya dengan dua huruf—h dan m—hm.Tak bisa dibiarkan, Clara kembali mengetikkan sesuatu. Tak peduli waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan itu artinya di Indonesia masih pukul sebelas. Sekalian saja Clara ganggu dia agar tidak bisa tertidur cepat.
clarasmith: lo nambahin gue jdi temen?
Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dijawab. Sudah jelas ia menambahkannya sebagai teman masih saja bertanya. Ah biarkan saja. Clara hanya ingin mengganggu dirinya.
Jevan Jarendra: kepencet
Gadis itu menghela nafas sekali membaca balasan pesannya. Sabar.
clarasmith: tau id line gue drimana?
Oke. Ini pertanyaan klasik sekali.
Jevan Jarendra: nongol sndiri
Mata Clara nyaris keluar dari tempatnya. Rasa-rasanya id Clara itu seperti jin yang tiba-tiba nongol sendiri di ponselnya. Sabar sabar.
clarasmith: lo nambahin gue sbgai tmen itu artnya lo knal gue kan? Msih inget gue?
Dua menit berselang~
Jevan Jarendra: gk
Cukup. Sudah cukup kesabaran Clara menghadapi pria seperti Jevan ini karena stok kesabaran Clara tidak banyak. Kalau memang tidak mengenal kenapa menambahkan sebagai teman. Dasar sok ganteng!
Ia menutup aplikasi chat lalu menon-aktifkan ponsel. Meletakkan benda pipih tersebut di nakas dan merebahkan tubuhnya sambil menarik selimut. Berharap malam ini ia tidak akan bertemu dengan seorang cowok es krim macem Jevan bahkan dalam mimpi sekali pun.
Anak laki-laki es krim malam!