Keluargamu
Namaku Zitha Lyn Anjani. Biasa dipanggil Zizi. Aku adalah anak kedua dari 2 orang bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak yang bernama Merry Lyn Sabrina. Umurku baru memasuki 17 tahun dan kakakku sudah menginjak 22 tahun.
Aku adalah orang yang suka menyendiri dan tidak suka keramaian. Karna itu aku tidak mempunyai banyak teman. Saat waktu luang, aku lebih suka duduk di perpustakaan dan membaca buku daripada duduk bersama teman-temanku dikelas.
Saat ini, aku tinggal disebuah rumah kontrakan sendirian. Kata kakak, mamaku sudah lama meninggal. Mama meninggal saat melahirkan aku. Itulah yang membuat papa sangat membenciku, bahkan sampai saat ini.
Setelah lulus SMA, kakak menikah dengan seorang lelaki pilihan ayah. Kata ayah, lelaki itu adalah anak dari temannya. Mereka sudah dijodohkan dari kecil. Bahkan saat mama masih ada. Aku sempat mencuri dengar obrolan ayah dan kakak 1 minggu sebelum keluarga lelaki itu datang untuk melamar kakak.
Setelah menikah, kakak pindah bersama suaminya dan tinggal di luar negeri. Tapi, sejak beberapa bulan yang lalu, entah mengapa dia tidak pernah lagi menghubungiku sampai saat ini. Mungkin dia sangat sibuk dengan urusan rumah tangganya.
Sejak menikah, kakaklah yang membiayai sekolahku dan juga memberikan uang bulanan padaku. Tapi sejak kakak tidak menghubungiku lagi, dia tidak lagi mengirimkan uang untukku.
Aku terpaksa mencari kerja sambilan untuk membiayai sekolah dan juga untuk makan sehari hari karna setelah kakak menikah, papa menghilang entah kemana dan meninggalkan aku sendiri.
Beberapa hari yang lalu, aku didatangi seorang kakek yang mengaku sebagai ayah dari ibuku. Dia datang bersama seorang lelaki yang yang mengaku sebagai pamanku, adik dari mamaku.
Mereka mengajakku untuk pulang ke kampung bersama mereka. Awalnya, aku sempat ragu untuk mempercayainya. Tapi setelah melihat beberapa foto yang ditunjukkan oleh kakek itu dan mendengarkan semua cerita darinya, akhirnya aku memutuskan untuk mempercayainya.
Dia memberikanku waktu untuk mengurus segala keperluan untuk pindah sekolah. Dia juga menyuruh pamanku untuk membantuku disini sampai semua urusanku disini selesai.
Aku merasa sangat bersyukur karna akhirnya aku bisa menemukan keluargaku, yang walaupun sebelumnya kami sama sekali tidak pernah bertemu. Walaupun ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan paman Wijaya, tapi aku langsung bisa merasakan bahwa dia sangat menyayangiku. Terlihat dari caranya memperlakukanku dan caranya berbicara padaku.
Kata Kakek, paman Wijaya adalah adik kesayangan dari mama. Dari kecil, mamalah yang selalu mengurus Paman, dan dari kecil mereka tidak pernah berpisah. Setelah mama menikah dengan ayah, barulah mereka berpisah.
Paman Wijaya membantuku dalam segala urusan. Mulai dari mengurus perpindahanku dari sekolah sampai membayar uang tunggakkan rumahku yang selama 3 bulan ini tidak bisa kulunasi.
Ya, aku sudah menunggak bayaran kontrakan selama 3 bulan. Dan sudah diperingatkan untuk membayarnya atau aku harus pergi dari rumah ini. Itu jugalah alasanku untuk mau menerima ajakan kakek Satria untuk pindah ke kampung.
Hari ini adalah hari terakhirku di Jakarta. Jadi aku memutuskan untuk mengajak paman untuk pergi menjiarahi makam mama dan sekalian pamit. Besok pagi-pagi sekali aku dan paman akan berangkat pulang ke kampung halaman mama.
Ketika malam menjelma, aku sama sekali tidak bisa tidur. Terbayang diingatanku tentang perremuanku dengan kakek Satria dan juga paman Wijaya beberapa hari lalu.
FLASHBACK ON
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu rumah diketuk mengejutkanku yang sedang asik belajar. Aku merasa agak heran karna selama aku tinggal sendiri, aku tidak pernah mendapat tamu.
Berbeda saat aku tinggal bersama ayah dulu. Setiap hari pasti ada tamu. Karna ayah dan teman temannya selalu minum dan mabuk mabukan dirumah.
Apa mungkin itu ayah? Aku membuka pintu dan menatap aneh karna ada dua orang lelaki yang berbeda generasi sedang berdiri didepan pintu. Mereka tersenyum ramah padaku.
Dari pakaian yang mereka kenakan, aku bisa tau bahwa mereka adalah orang berada. Tapi apa yang membawa mereka kesini?
Disebelah lelaki tua itu berdiri ibu kos yang punya rumah kontrakan ini. Dia memandangku sambil tersenyum.
"Maaf. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" aku bertanya pada mereka.
Lelaki tua itu terus saja tersenyum dan memandangku dengan pandangan yang sulit untukku jelaskan.
"apa kau tidak mengenal lelaki tua ini?" tanyanya sambil terus menatapku. Aku bingung mendengar apa yang diucapkannya. Bagaimana mungkin aku bisa mengenal mereka? Aku saja belum pernah bertemu dengan mereka.
Tanpa kuduga dia langsung memelukku sambil menangis. Aku semakin bingung dan berusaha untuk melepaskan pelukannya. Jangan jangan mereka ini adalah penjahat.
Lelaki tua itu melepaskan pelukannya karna aku yang terus meronta dari tadi dan atas bujukan dari lelaki datang bersamanya tadi. Aku merasa aneh dan juga tidak nyaman dengan kelakuannya.
"Wajahmu persis sekali seperti wajah ibumu. Hanya matamu saja yang mewarisi mata ayahmu" kata lelaki tua itu lagi sambil menghapus air matanya. Aku terdiam mendengar perkataan lelaki itu. Jelas saja, aku begitu kaget mendengar kata-katanya itu.
"Apa kalian mengenal mamaku? " tanyaku heran. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam fikiranku.
"Abah, bersabarlah. Biar aku yang menjelaskannya pelan-pelan." kata lelaki yang sekarang ku yakini adalah anak lelaki tua itu. Lelaki itu mengangguk sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Perkenalkan, nama paman adalah Wijaya Andri Satria. Sebelumnya, bisa paman tau? Kamu ini Merry atau Zitha?" tanya lelaki yang muda sambil tersenyum ramah. Dia merangkul lelaki tua yang disebutnya abah tadi.
" Saya Zitha." aku menjawab dengan ragu.
"Oh... Zitha, bisa paman dan kakek masuk?" tanyanya lagi. Aku masih merasa was-was. Tapi karna tidak tega melihat kakek yang sudah tua itu berdiri dan masih menangis, akhirnya aku mengijinkan mereka untuk masuk.
Ibu rumah kontrakan pamit setelah aku mengijinkan paman dan kakek itu masuk.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku mempersilahkan mereka untuk duduk di lantai. Karna memang dirumahku ini tidak ada bangku. Setelah itu aku pergi ke dapur untuk membuat air minum.
"Maaf saya cuma ada kopi. Silakan diminum." kataku sambil menghidangkan kopi pada mereka.
"terima kasih." kata mereka dengan senyum yang ramah.
Agak lama kami berdiam diri. Kurang lebih 20 menit, akhirnya paman Wijaya membuka suara untuk memulai perbualan.
"Zitha, dimana ayah dan kakak mu?"
"Maaf, bisa saya tau kalian siapa?" aku tidak terus menjawab, melainkan bertanya karna dari tadi aku sudah merasa penasaran sekali dengan mereka.
Bagaimana mereka bisa tau namaku dan juga kakakku? Juga bagaimana mereka bisa mengenal wajah mama dan ayah? Sungguh aku sangat penasaran dengan semuanya itu.
Paman Wijaya dan kakek itu memandangku dengan tatapan yang sulit untukku mengerti. Paman Wijaya tersenyum dan berkata.
"Kami adalah keluargamu"
TBC