HMIR ~ 0004

1116 Words
“Apapun alasannya, aku tetap tidak mau dimadu. Kalau kamu mau menikah lagi, silahkan. Aku tidak melarang, tapi ... maaf, aku mundur menjadi istrimu,” ucap Jasmine yang masih membelakangi Dariel. “Ya Tuhan .... “ Dariel mengusap wajahnya secara kasar. “Kalau gitu, aku memilih untuk mempertahankan kamu,” ucap Dariel tegas. Jasmine memutar tubuhnya, dia menatap Dariel yang terlihat frustasi. Sedari tadi, ponsel Dariel berdering, ada telepon masuk dari Nyonya Retha. Namun, Dariel abaikan. “Terus ... gimana dengan permintaan terakhir Daddy Dave, Dariel? Kamu jangan jadi anak durhaka hanya karena aku. Dariel ... aku wanita tak sempurna, baiknya kamu turuti permintaan Daddy Dave dari pada kamu menyesal,” ucap Jasmine lirih. Dariel tertunduk, tubuhnya lemah. Kedua lututnya menyatu dengan lantai, kedua tangan Dariel memegang kedua tangan Jasmine. “Lebih baik, aku menjadi anak durhaka, dibandingkan aku harus kehilangan kamu, Jasmine.” Dariel menatap nanar sang – istri, menaruh harap Jasmine bisa menarik ucapannya tersebut, Jasmine tetap bertahan dengannya. Selain itu, Dariel berharap Jasmine mau memberikan dia izin menikah lagi. Jujur saja, Dariel tidak mau menjadi anak durhaka. Apalagi ini permintaan terakhir dari Daddy Dave, Dariel masih mengingat dengan jelas raut wajah Daddy Dave saat mengatakan permintaannya tersebut, terlihat sangat memohon, dan di matanya terlihat penuh harapan bisa menimang cucu di sisa waktunya. “Dariel .... “ Kedua tangan Jasmine yang sekarang memegang kedua tangan Dariel, “aku tidak mau gara-gara aku, kamu tidak bisa memenuhi permintaan terakhir Daddy Dave yang nantinya kamu akan menyesal. Maka aku putuskan ... aku – “ Lidah Jasmine mendadak kelu, rasanya berat untuk mengatakan itu kepada Dariel. “Katakan, apa keputusan kamu, Sayang? Jangan katakan kau ingin menyerah dan pergi meninggalkan aku?” Dariel geleng-geleng kepala. Bahkan sampai menciumi tangan Jasmine. “Bukan seperti itu, Dariel.” “Lantas?” tanya Dariel masih menatap Jasmine. Mamanya Jasmine sudah keluar sejak tadi, beliau membiarkan Jasmine dan Dariel bicara berdua menyelesaikan masalah tersebut. “Aku – “ Jasmine menghela napas berat, bahkan air liurnya terasa sulit untuk ia telan saking pahitnya keputusan yang akan Jasmine katakan kepada suaminya. Dariel masih menunggu keputusan Jasmine dengan sabar, dia tidak akan bertanya lagi. Dariel menunduk tak lagi menatap Jasmine, takutnya Jasmine mengambil keputusan kalau dia tidak mau bertahan lagi dengannya. “Aku memberikan izin untuk kamu menikah lagi, Dariel.” Deg Dariel langsung menatap Jasmine, terlihat air mata Jasmine yang mengalir deras, bahkan napas Jasmine terlihat sesak. “Terus gimana dengan pernikahan kita? Apakah kau menyerah?” tanya Dariel memastikan. Jasmine menggeleng dengan pasti. Jasmine mencoba mengukir senyum meskipun sangat sulit untuk tersenyum. “Aku akan tetap bertahan dengan kamu, Dariel. Pergilah ... bukannya kau akan menikah malam ini? Kamu jangan cemaskan aku,” ucap Jasmine semakin sesak dadanya namun ia berusaha untuk tegar, “ada Mama di sini. Dan satu lagi, aku tidak akan pergi darimu. Asalkan kamu berjanji padaku, kau tidak akan pernah berpaling dariku dan tetap menjadikan aku istri satu-satunya, kau harus ingat ... kamu menikahinya karena satu alasan, demi mendapatkan keturunan.” Dariel lega mendengarnya. Meskipun dia sangat berat sekali meninggalkan Jasmine malam ini. Apalagi dengan perasaan Jasmine yang lagi rapuh, dan pasti sangat membutuhkannya. “Pergilah ... menikahlah dengan wanita yang sudah Mommy Retha bayar,” ucap Jasmine, dia mengusap air matanya lalu kembali tersenyum. “Baik! Makasih atas pengertiannya, Sayang,” ucap Dariel seraya mengecup kening Jasmine. Dariel pun pergi. Ketika Dariel pergi, Jasmine menangis terisak sampai sesenggukan. *** Evellyn sudah menggunakan gaun pengantin peninggalan Ibunya. Evellyn terlihat cantik dengan balutan make up pengantin di wajahnya. Evellyn tersenyum namun hatinya menangis, harusnya dia menggunakan gaun pengantin ini ketika dia menikah dengan pangeran impiannya. Bukan pernikahan paksa, apalagi sampai mempertaruhkan harga dirinya, menukar rahimnya dengan uang. ‘Pasti Tuan Dariel akan menganggap aku wanita yang tidak punya harga diri. Jangan sampai Tuan Dariel tahu alasanku yang terpaksa menerima tawaran Nyonya Retha, aku tidak mau mendapatkan belas kasihan darinya. Lagian, tidak penting juga. Tugasku malam ini, menikah dengannya. Lalu, aku menggodanya agar dia mau menyentuhku. Tapi ... apakah aku bisa? Tuan Dariel sangat dingin, jarang sekali aku melihat dia tersenyum tulus. Di kantor saja, dia selalu memamerkan wajahnya yang sangar,’ monolog Evellyn dalam hati sembari menatap dirinya di pantulan cermin. ‘Maafkan aku, Nona Jasmine, terpaksa aku harus melakukan ini, terpaksa aku harus menjadi orang ketiga. Sebenarnya ... aku masih penasaran, alasan Nyonya Retha apa? Kenapa dia sangat menginginkan Tuan Dariel dan Nona Jasmine pisah? Ah ... entahlah, bukan urusan aku. Sekarang yang harus aku pikirkan, bagaimana caranya agar Tuan Dariel mau melewati malam pengantin denganku?’ Otak Evellyn tengah berpikir keras, dia tidak mau sampai gagal. Sebab di dalam surat kontrak yang tertera, jika Evellyn gagal maka dia harus membayar sejumlah uang yang sudah ia dapatkan dari Nyonya Retha berkali-kali lipat. Selain Evellyn harus merelakan anaknya kelak, dan jangan pernah mengakui anak itu, Evellyn harus berperan sebagai night butterfly woman, harus bisa membuat Dariel jatuh cinta padanya. ‘Sepertinya aku harus menjaga hati. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Tuhan ... kenapa takdirku mengenaskan seperti ini?’ Klek Terdengar suara pintu terbuka. Yang datang adalah Nyonya Retha. “Apakah kau sudah siap, Ellyn? Dariel sudah datang.” Deg Jantung Evellyn berdegup lebih cepat dari biasanya, tubuhnya mulai panas dingin. Evellyn mengangguk dengan pasti. Siap ataupun belum siap, Evellyn harus tetap siap. Evellyn sudah siap dengan kepahitan yang akan didapatkan malam ini. Nyonya Retha tersenyum simpul, sesuai dengan rencana yang sudah dia siapkan dengan matang. Menjerat Evellyn kedalam permainannya, dan membuat Jasmine kehilangan rahimnya. Tidak ada senyuman yang Dariel ukir di bibirnya, sorot matanya terlihat tajam. Napas Dariel mulai kembang kempis, tak sabar dirinya ingin segera melihat wujud wanita bayaran yang tak punya harga diri itu. Dariel menunduk, dia duduk disebelah Tuan Dave, kedua tangannya mengepal. Tap, tap, tap ... Terdengar suara langkah kaki, tentu saja itu suara langkah kaki Evellyn dan Nyonya Retha. Tuan Dave terkesima sampai pangling dan hampir tidak mengenali Evellyn. “Jadi ... Ellyn, calon istri rahasia Dariel?” Kepala Dariel langsung terangkat, dan Evellyn langsung menunduk. Dia belum siap melihat sorot mata yang tajam itu. ‘Dia - ? Astaga ... wanita ini yang akan jadi istriku? Tak disangka, dibalik wajahnya yang lugu terlihat polos ternyata murahan. Cih!’ “Jadi dia wanita murahannya, Mom? Berapa nominal yang sudah Mommy keluarkan buat bayar dia?” Dariel berdiri tegak berhadapan dengan Evellyn, tatapannya masih terlihat bengis. “Kau tidak perlu tahu berapa banyak nominal yang Mommy keluarkan. Yang terpenting ... kamu dan dia menikah,” ucap Nyonya Retha. Dariel tersenyum kecut, “dasar murahan!” bisiknya ketika berjalan melewati Evellyn. Jangan ditanya tentang perasaan Evellyn, rasanya Evellyn ingin teriak mengatakan kalau dia tidak serendah itu. Namun, Evellyn tahan. Air mata yang hendak mau jatuh pun, ia seka buru-buru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD