Dariel kembali ke rumah sakit untuk menemui istrinya – Jasmine. Dariel masih belum berani untuk mengatakan kepada Jasmine tentang dirinya yang akan menikah lagi dengan wanita yang sudah Mommy-nya bayar.
‘Gimana ini? Gimana cara ngomongnya,’ gumam Dariel.
Jasmine menyambut suaminya dengan senyuman, dia senang ketika suaminya kembali lagi.
“Sayang ... ada apa? Kenapa tadi buru-buru pergi?” tanya Jasmine.
Huh!
Dariel menghela napas pelan, dia duduk di tepi ranjang pasien yang ukurannya pas untuk satu orang.
Jasmine juga ikutan duduk di atas ranjang, dia tidak lagi rebahan.
“Kenapa? Ada masalah?” selidik Jasmine, dia merasa suaminya lagi tidak baik-baik saja.
Dariel menatap Jasmine, matanya sudah berkaca-kaca. Sungguh ... ini pilihan yang sulit, Dariel tidak mau menyakiti perasaan Jasmine, tapi disisi lain Dariel juga tidak mau menyesal seumur hidup karena tidak memenuhi permintaan Daddy Dave yang meminta cucu.
“Kenapa kamu sedih, Sayang? Katakan padaku?” Tangan Jasmine menyentuh wajah Dariel.
Lekas, Dariel langsung memeluk tubuh Jasmine erat, air matanya menitik begitu saja.
Jasmine membalas pelukan dari Dariel, mengelus punggung suaminya.
“Kalau kamu belum siap cerita, gak apa-apa, aku enggak akan maksa kamu, Sayang,” ucap Jasmine.
Di tempat lain.
Ternyata Tuan Dave hanya pura-pura saja, dia tidak jatuh di dalam kamar mandi bahkan tensi darahnya dan kolesterolnya lagi normal.
“Kenapa kamu sampai melakukan ini, Retha?” tanya Tuan Dave, sebenarnya dia tidak mau sampai berbohong seperti ini kepada putranya – Dariel. Namun sang istri – Retha selalu mendesaknya.
“Dad, ingat ya! Kita ini sangat membutuhkan pewaris loh. Kalau bukan Dariel yang bisa memberikan cucu untuk kita, siapa lagi? Kita cuman punya Dariel, jadi dia harus kasih kita cucu, calon pewaris Ethelwyn. Berhubung si Jasmine – menantu kita tidak bisa memberikan Dariel keturunan, Dariel masih bisa taruh benihnya di rahim wanita lain,” papar Nyonya Retha.
“Tapi ... kasihan Jasmine, Retha, dia pasti tidak mau dimadu,” ucap Tuan Dave. Dia masih memikirkan perasaan Jasmine, Tuan Dave sudah menganggap Jasmine lebih dari sekedar menantu.
“Kalau Jasmine tidak mau dimadu, dia tinggal pergi saja dari kehidupan Dariel. Gampang’ kan?”
Tuan Dave tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain berharap Jasmine mau menerima keputusan Dariel yang akan menikah lagi.
Di rumah sakit.
“A – apa? Menikah lagi?” Tubuh Jasmine langsung lemas mendengar tentang niat suaminya yang akan menikah lagi.
Ini lebih menyakitkan dari kabar kemarin, tentang dirinya yang tidak punya rahim lagi. Air mata Jasmine keluar begitu saja, hatinya benar-benar sangat sakit sekali.
Baru saja dua hari yang lalu dirinya mendapatkan kabar duka atas kehilangan calon buah hatinya, dan juga rahimnya harus terpaksa diangkat, kini kabar duka kembali datang, tentang niat suaminya yang akan menikah lagi.
“Maaf, Sayang, bukan bermaksud aku untuk menyakiti perasaan kamu. Tapi ... aku tidak punya pilihan lain lagi. Ini permintaan dari Daddy, kamu tahu sendiri’ kan, Sayang? Daddy sering sakit, aku tidak mau menyesal karena tidak memenuhi permintaan Daddy di sisa waktunya,” ucap Dariel, berharap Jasmine mau mengerti.
“Keluar, Dariel! Keluar!” bentak Jasmine, “aku pengen sendiri. Jadi tolong ... keluar!” Jasmine terisak, dia sama sekali tidak sudi menatap suaminya lagi.
“Sayang... aku – “
“Keluar!” usir Jasmine nada tinggi sembari menunjuk kearah pintu.
“Oke, aku akan memberikan kamu waktu sendiri. Percayalah ... Jasmine. Aku hanya mencintai kamu, aku tidak peduli dengan kekurangan kamu. Aku melakukan ini karena terpaksa. Meskipun aku punya istri yang dirahasiakan statusnya, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Menikahinya hanya karena permintaan Mommy dan Daddy,” ucap Dariel terlihat sedih ketika tangannya tidak bisa merangkul Jasmine yang lagi menangis sesegukan, sakit hatinya ketika jari tangannya tidak bisa mengusap air mata Jasmine yang sedari tadi terus mengalir.
“KELUAR, DARIEL!” lagi, Jasmine mengusir Dariel.
Dariel mengangguk. Lekas, dia segera keluar dari ruangan tersebut.
“Aaarrrgggh!”teriak Jasmine.
Dariel masih berdiam diri di depan pintu, air matanya keluar begitu saja tak bisa Dariel seka.
Ting
Ada satu chat masuk, dari Mommy Retha.
[Jangan lupa nanti malam. Akan Mommy Share lokasinya]
Dariel tak membalas chat dari Mommy-nya, perasaannya lagi kacau ketika Jasmine marah padanya.
Di ruang ICU masih di rumah sakit yang sama. Evellyn menangisi sang – adik yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuh adiknya tersebut. Evellyn mencium kening Cristine, mencium sebelah tangan Cristine yang tengah ia genggam.
“Malam ini, Kakak mau nikah, Dek. Kakak minta doa restunya, ya. Meskipun pernikahan ini hanya pernikahan status saja, bahkan status Kakak akan dirahasiakan. Jadi ... mereka tidak akan tahu status Kakak yang sudah menjadi seorang istri.”
Bukan pernikahan seperti ini yang Evellyn harapkan. Tentu saja Evellyn mengharapkan menikah dengan pria yang mencintainya, dan dia pun mencintainya, bukan pernikahan paksa seperti ini yang hanya sekedar untuk memberikan keturunan. Evellyn merasa ragu, apakah dia bisa melakukan tugasnya dengan baik, seperti permintaan Nyonya Retha.
Evellyn belum pernah merasakan jatuh cinta, atau menjalin hubungan dengan pria manapun, tentu saja dia pasti akan terlihat kaku.
“Doakan Kakak ya, Cristine. Semoga Kakak bisa,” ucapnya lirih.
Evellyn kembali mencium tangan adiknya, dia harus segera pergi ke tempat yang sudah disediakan oleh wanita paruh baya yang sudah membayarnya.
Sudah menjelang petang, Jasmine masih belum mau bicara dan ketemu dengan Dariel. Dengan setianya Dariel masih menunggu Jasmine di depan pintu ruang rawat, di dalam sana Jasmine di temani oleh Mamanya.
Lagi-lagi, Dariel mendapatkan chat dari Mommy-nya, dia diminta untuk segera ke tempat yang sudah di share, masih di kota Paris.
Dariel menghembuskan napas berat, dia benar-benar bingung apakah harus pergi kesana atau tidak? Pasalnya, Jasmine – istri pertamanya belum memberikan izin.
Dariel memberanikan masuk, sebelum pergi ke tempat itu, dia harus memastikan dulu mendapat izin dari Jasmine.
“Ma, suruh dia keluar! Jasmine tidak mau melihat dia, Jasmine tidak mau bicara dengan dia!” Jasmine sampai membelakangi Dariel.
“Dariel, baiknya kamu pergi. Jasmine tidak mau ketemu denganmu. Jika kau ingin menikah lagi, pergilah ... tidak usah mempedulikan perasaan Jasmine. Mama tidak akan mencegah keputusan kamu, karena faktanya Jasmine – putri Mama tidak bisa memberikan kamu anak,” ucap Mamanya Jasmine.
“Dariel tidak akan pergi jika memang Jasmine tidak mengizinkan. Dariel akan menentang permintaan terakhir Daddy demi Jasmine!” ucap Dariel serius.
“Kau tidak peduli dengan kesehatan Papamu, Dariel?” tanya Mamanya Jasmine.
“TIDAK! Yang Dariel pikirkan saat ini adalah tetap ingin mempertahankan rumah tangga Dariel dengan Jasmine. Tidak masalah kelak Dariel akan dihantui rasa bersalah, yang penting hubungan Dariel dengan Jasmine baik-baik saja.”
Jasmine diam namun air matanya kembali mengalir hingga tangisnya yang terisak pun terdengar oleh Dariel.
“Aku mencintaimu Jasmine. Aku sedih ketika kamu meragukan ku, padahal aku sudah katakan alasannya, aku menikah lagi bukan karena ingin meninggalkanmu dan berpaling darimu, tapi karena keadaan yang mendesak.”