Chapter 15

4447 Words
ADULT ALERT 18++ Dee duduk di bangku yang terletak di sudut kantin, bangku favorit mereka karena dekat dengan jendela yang selalu terbuka. Mulutnya asyik mengunyah roti sisir dan menyeruput s**u UHT rasa ketan hitam, sambil mengirim pesan ke Freddy menanyakan keadaanna. "Hai, Diane... Sendirian? Nggak sama bodyguard?" sapa seorang cowok yang tiba-tiba duduk di sampingnya dan merangkul bahunya. "Apa-apaan ini?" Dee buru-buru menyingkirkan tangan cowok itu. "Hey, jangan keterlaluan, nanti dilaporin ke Bu Tuti, habis kamu Ghan!" seru seorang cowok yang datang diikuti 2 orang temannya. Dee terkepung, sedikit takut tapi berusaha tidak panik. "Kenalin, aku Ghani!" ucap cowok di samping Dee, walau berwajah tampan, Dee merasa jijik karena kelakuannya. "Dia Erwin, itu Bayu dan yang gondrong itu Doddy." Ghani memperkenalkan ketiga temannya yang sudah duduk mengelilingi meja. Dee menggeser kursinya menjauh dari Ghani. "Ada keperluan apa?" tanya Dee yang mulai cemas melihat arah tatapan mata Ghani yang terpusat di dadanya. "Kita ini kan kelas tiga, sudah mau wisuda, Sabtu besok kelas IPS mau adakan pesta kelulusan, karena kelas 3 IPS 4 siswanya cowok semua, jadi kita memutuskan ngundang beberapa adik kelas yang jadi kembang sekolah, salah satunya kamu, Diane!" jawab Ghani sambil mencolek dagu Dee yang langsung ditepis kasar oleh Dee. "Maaf, saya nggak tertarik dan lagi kalau mau ajak saya, silakan minta ijin ke ibu sama bapak saya dulu!" sahut Dee masih dengan nada sopan. "Halah, nggak usah bilang bapak ibumu, langsung datang aja, nggak akan rugi, banyak cowok yang bisa diajak main juga!" bujuk Ghani sambil meraih tangan Dee, matanya masih terpusat pada p******a Dee. "Kak, tolong lepas!" Dee menarik tangannya, tapi kalah tenaga dengan Ghani, sekali hentakan, tubuh Dee melayang bediri lalu jatuh ke pangkuan Ghani. "Lepas.... Lepas....Let go of me!!!" pekik Dee. Beberapa anak di kantin sempat memperhatikan, tetapi karena pengganggu adalah kakak kelas, mereka lebih memilih diam. "Oh SHITT.... Bokongnya mantep bener!" ucap Ghani yang menahan pinggang Dee lalu menggosokkan sesuatu yang keras di p****t Dee. Desisan keluar dari mulut Ghani. "Ouh.... bener-bener enak digesek!" desis Ghani yang membuat teman-temannya menelan ludah. Mendapat perlakuan seperti itu Dee menjerit histeris dan menangis ketakutan, seumur hidup baru kali ini dia dilecehkan. "LET HER GO, YOU SCUMBAG!!!!" bentak Hendrick yang tiba-tiba datang, lalu dia menarik Dee dari pangkuan Ghani dan dengan membabi buta dia menghajar Ghani habis-habisan, teman-teman Ghani tak berani membantu melihat brtapa kesetanannya Hendrick. Dee menangis di pelukan Lucky, sedangkan Tony berlari memanggil guru BK, sementara Yetnu tak jadi memesan makanan, dia hanya membeli air mineral lalu berlari ke arah Dee dengan cepat. Hendrick terus memukuli wajah Ghani sampai Ghani berteriak minta ampun baru Hendrick berhenti. "Jangan coba-coba kau ganggu dan kau sentuh Diane, kalau kau tak ingin berakhir mengenaskan!" ancam Hendrick dingin, lalu Hendrick menginjakkan kakinya pada kemaluan Ghani hingga membuat Ghani memekik kesakitan lalu pingsan. Lucky menatap horor ke arah Hendrick. Dee masih menangis di pelukan Lucky, tubuhnya gemetaran karena takut. Hendrick menghampiri Dee dan Lucky. "Dee... sayang... Tenang, sudah nggak ada apa-apa, tenanglah, minum dulu!" Hendrick mengambil air mineral dari tangan Yetnu, saat akan meminumkannya pada Dee, tiba-tiba Dee jatuh terkulai lemas. "Dee... Ade... Diane!!!" pekik Lucky histeris. "Dee... Sayang... Sayang!" Hendrick dengan cepat meraih tubuh Dee dan menggendongnya lalu secepat kilat berlari menuju UKS. Tepat saat itu Tony datang bersama guru BK yang terkejut melihat keadaan Ghani. Lucky dan Yetnu segera berlari menyusul Hendrick, begitupun dengan Tony. Sementara Guru BK dibantu beberapa orang siswa membawa Ghani ke UKS untuk dirawat sementara sembari menunggu ambulance datang. Setelah memastikan Dee di ruang UKS mendapat pertolongan pertama, Lucky bersama Yetnu pergi ke ruang guru untuk memberi tahu Bu Tuti. Dengan panik, Bu Tuti berlari ke ruang UKS. Melihat kondisi Dee yang pucat seputih kapas, Bu Tuti menangis pilu. Lucky pelan-pelan menceritakan kejadian yang dialami Dee di kantin tadi, lalu dia, Yetnu dan Tony berulang kali meminta maaf karena tidak bisa menjaga Dee dengan baik. "Di mana anak itu?" tanya Bu Tuti. "Ya Tante?" tanya Lucky tak paham. "Di mana anak yang sudah kurang ajar sama anak Tante?" tanya Bu Tuti menahan geram. "Di rumah sakit Tante, Hendrick hajar dia habis-habisan sampai pingsan.." jawab Lucky. "Di mana Hendrick?" tanya Bu Tuti saat tak menemukan keberadaan Hendrick. Sementara itu Hendrick berada di ruang BK, tak ada luka di wajahnya sama sekali, tapi buku-buku tangannya terkelupas karena memukul Ghani sekuat tenaga. "Haaah.... Kenapa kamu pukuli Ghani sampai seperti itu? Tidakkah itu keterlaluan?" tanya Pak Puji Guru BK. "Jadi menurut bapak, saya keterlaluan? Lalu apa sebutan buat anak kelas 3 itu yang sudah melakukan pelecehan pada Diane?" tanya Hendrick seraya menatap dingin ke arah Pak Puji. "Maksud bapak, daripada memukulinya, kan lebih baik dibawa ke ruang BK untuk dihukum." jawab Pak Puji. "Hukuman apa yang bisa diberikan pada siswa kelas 3 yang seminggu lagi akan wisuda? Skors? Pengurangan nilai? Atau dikeluarkan? Pengumuman kelulusan mereka bahkan sudah keluar seminggu yang lalu pak!" sahut Hendrick. "Ehem....!" Pak Puji tebatuk canggung. "Hendrick..." Bu Tuti masuk ke Ruang BK untuk menemui Hendrick. "Kamu ndak apa-apa?" tanya Bu tuti sembari memeriksa Hendrick. "Saya nggak apa-apa bu, maafkan Hendrick yang ngga bisa jagain Diane dengan baik, seharusnya tadi Hendrick temani Dee duduk jadi Dee nggak akan diganggu. Maafkan Hendrick ya bu." Hendrick menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia benar-benar menyesal terlambat melindungi Dee. "Hendrick ndak salah, ibu berterima kasih karena Hendrick yang pertama tau dan nolong Diane tadi." ucap Bu Tuti tulus. "Pak Puji, mohon untuk hukuman Ghani dan teman-temannya didiskusikan dengan kepala sekolah, saya tidak terima anak saya dilecehkan seperti itu." pinta Bu Tuti geram. "Baik bu, nanti saya diskusikan dengan tim BK dan kepala sekolah." balas Pak Puji. Tak lama mereka keluar dari Ruang BK, Bu Tuti meminta Hendrick menjaga Dee sampai sadar, dan mengantarnya pulang setelah sadar nanti, karena beliau harus kembali mengajar, masih ada 6 jam pelajaran Bahasa Indonesia yang harus diisi. Sementara Lucky, Tony dan Yetnu kembali ke kelas masing-masing. Tony membantu menguruskan ijin meninggalkan pelajaran untuk Hendrick dan Dee, lalu mengantar tas sekolah mereka ke ruang UKS. Hendrick duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang perawatan. Dibelainya wajah Dee yang pucat pasi. "Sayang.... Sadarlah, maafkan aku yang nggak bisa jagain kamu dengan baik... Sadar lah Dee...!" Hendrick menggenggam erat tangan Dee dan menciuminya. Dee tak bergeming, belum juga sadarkan diri. Tiba-tiba Hendrick melihat air mata mengalir di sudut mata Dee, cepat-cepat Hendrick mengambil tissue dan mengusapnya perlahan, tetapi air mata itu semakin deras mengalir dan Dee terisak kencang. "AAAAAAH.... LEPAS... LEPASKAN.... LEPASKAAAAN!!!" pekik Dee yang tiba-tiba terbangun. Nafasnya tersengal-sengal, air matanya mengalir semakin dera. "Sayang... Sayang... Tenang, ini aku, tenang ya sayang...!" Hendrick perlahan duduk di tepian ranjang perawatan dan memeluk Dee dengan erat. "Heeend... Hendrick... Aku takut, orang itu... dia... aku jijik Hend... Aku takut...!" isak Dee dalam pelukan Hendrick. "Jangan takut, Dee... Sudah ada aku, maaf tadi aku telat datang... Maafkan aku ya sayang!" Hendrick menepuk-nepuk punggung Dee dan mengecup keningnya berulang kali. "Kalau sudah tenang, aku antar kau pulang, tadi ibu minta aku buat antar kamu pulang." sambung Hendrick. "A-aku mau pulang sekarang Hend." sahut Dee lirih. "Ya sudah, aku antar, jangan nangis lagi ya, aku temani sampai ibu pulang." Hendrick membantu memakaikan sepatu Dee dengan sabar, membawakan tasnya lalu menggandengnya perlahan ke arah gerbang sekolah. "Tunggu sini ya, aku ambil motor dulu!" pinta Hendrick. "A-aku ikut!" Dee, menahan tangan Hendrick. "Hmmm... iya deh, ayo!" Hendrick meremas lembut tangan Dee dan menggandengnya ke tempat parkir motornya. "Tunggu, aku keluarin motor dulu." Hendrick mengambil kunci motor dari seku seragamnya dan mulai mengeluarkan motornya. "Nggak pakai helm nggak apa-apa kan? Aku nggak bawa helm cadangan!" tanya Hendrick. Dee hanya mengangguk pelan. "Nah, naik kalau gitu, kita pulang!" Hendrick tersenyum ke arah Dee. Setelah Dee naik, Hendrick menjalankan motornya perlahan menuju rumah Dee. Tak sampai 5 menit, mereka tiba di rumah Dee. Hendrick turun dari motor, membuka gerbang dan memasukkan motornya ke halaman rumah, lalu membantu Dee turun. "Terima kasih, Hend!" "Sama-sama, sayang!" Hendrick mengusap kepala Dee dengan lembut, "Masuklah dulu, aku keluar sebentar beli makan ya, tadi kan nggak jadi makan!" Hendrick kembali naik ke atas motornya, tapi Dee menahannya. "Hend, di sini saja, jangan kemana-mana!" pinta Dee mengiba. "Kamu belum makan tadi, sayang!" sahut Hendrick. "Pesan makanan lewat online saja, ya Hend!" bujuk Dee. "Iya deh, masuk dulu, aku kunci pagar dulu." Hendrick menutup pintu pagar dan menguncinya. Dee membuka pintu rumah lalu setelah melepas sepatunya, Dee melangkah masuk, disusul Hendrick yang membawakan tasnya. Setelah meletakkan tas mereka di sofa, Hendrick berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan membasuh muka, sedangkan Dee masuk ke kamar mengambil handuk karena ingin mandi, dia merasa tubuhnya kotor karena disentuh Ghani. "Mau mandi?" tanya Hendrick. Dee hanya mengangguk lemah. "Badanku kotor Hend, orang itu sentuh aku semaunya, dia juga menggesek... Hiks!" Dee terisak, merasa sangat kotor dan dipermalukan di depan orang banyak. "Kamu nggak kotor, sayang... " Hendrick mengecup ringan bibir Dee, "Mandilah, aku pesankan makanan." Hendrick mendorong tubuh Dee perlahan agar segera masuk ke kamar mandi. Setelah Dee masuk kamar mandi, Hendrick melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Dibukanya aplikasi ojek online dan memilih makanan untuk Dee. Hendrick memilih makanan kesukaan Dee, nasi Hainanse dan roasted chicken dari Chinese resto langganannya. Setelah selesai memesan, Hendrick menuju dapur dan mengambil air minum. Diliriknya jam dinding, sudah 15 menit Dee mandi dan tak kunjung keluar. Hendrick menghampiri kamar mandi dan mengetuknya perlahan. "Dee, sayang.... Sudah selesai belum mandinya?" tanya Hendrick. "Iya, sebentar lagi!" jawab Dee dari dalam "Aku sudah pesan makanan, sebentar lagi diantar, aku tunggu di ruang makan ya!" sambung Hendrick. "Iya, terima kasih." sahut Dee. "Sama-sama sayang!" Hendrick beranjak ke ruang makan, dan duduk di sana. Tak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu pagar. "Permisi, **Food!" seru seseorang dari luar. Hendrick beranjak dari kursi dan melangkah keluar, sekilas diliriknya kamar mandi, tampak pintu kamar mamdi sudah terbuka, dan pintu kamar Dee terlihat setengah tertutup, artinya Dee sudah selesai mandi. Buru-buru Hendrick keluar dan menerima pesanan makanan dari driver ojek online, tak lupa dia memberi satu bungkus untuk abang driver makan. Hendrick langsung masuk rumah dan mengeluarkan kotak-kotak makanan dan menatanya di meja makan. Setelahnya dia melangkah ke arah kamar Dee dan dibukanya perlahan pintu yang setengah tertutup. "Sayang, makanannya sudah sampai, ayo...." Kata-kata Hendrick terputus saat melangkah masuk ke dalam kamar, Dee yang hanya mengenakan hot pants tanpa atasan bahkan bra, berdiri di depan lemari tengah mencari kaos untuk dia pakai. p******a Dee yang terbilang besar tampak menggantung indah dan menggoda iman Hendrick. "Aaah.... Hend, nga-ngapain, ke-keluar dulu!" Seru Dee gugup sambil menutup dadanya, buru-buru dia mengambil baju secara acak. "Oh.... maaf, sayang.... aku kira kamu.... ah, aku tunggu di ruang makan!" Hendrick buru-buru keluar dan menutup pintu, sementara Dee langsung terduduk lemas di ranjangnya. "Aaaaah.... memalukan!!!" wajah Dee terasa panas, buru-buru dipakainya baju yang diambilnya tadi. Setelah menyisir rambutnya dan mengoles body lotions di kaki dan tangannya, Dee melangkahkan kaki keluar kamar. Di ruang makan, dia tak melihat Hendrick, lalu dia bergegas ke ruang tamu, tapi Hendrick juga tak ada di sana. Dee berjalan menuju kamar mandi dan terlihat pintu kamar mandi tertutup. Dee berniat mengetuk pintu kamar mandi, tetapi tiba-tiba terdengar suara erangan dan desahan samar dari dalam kamar mandi. "Oooh... Dee.... Aaaah.... Yes sayang.... oooh... oooh...ooooaaaaah.... Deee!!!" erangan Hendrick dari dalam kamar mandi terdengar jelas walau sangat lirih. Wajah Dee terasa terbakar, jantungnya berdebar kencang membayangkan apa yang dilakukan Hendrick di dalam kamar mandi. "Aaah.... Kenapa aku harus dengar!" Dee menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu berjalan menuju ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Diraihnya bantal sofa dan dibenamkan wajahnya dalam-dalam di sana. "Aaah.... Kenapa dia m***m banget sih, dikit-dikit tegang, dikit-dikit keras!" gumam Dee, wajahnya semakin memanas dan merah. Tak lama, Hendrick keluar dari kamar mandi dengan rambut dan baju yang lembab basah terkena air, karena tadi Hendrick mandi tanpa membawa handuk. Dee yang mendengar pintu kamar mandi dibuka, segera menoleh dan melihat Hendrick dalam keadaan basah, buru-buru berdiri dan berlari menuju kamar adik-adiknya untuk mangambil baju Yetnu yang ditinggal di rumahnya. Lalu Dee menarik tangan Hendrick masuk ke kamarnya dan mengambilkan handuk bersih. "Pakai ini, kenapa tadi nggak minta handuk?" Dee mengalungkan handuk dan mulai membantu Hendrick mengeringkan rambutnya dengan berjinjit. Sadar badannya terlalu tinggi untuk Dee, Hendrick sedikit menundukkan badannya sampai wajahnya sejajar dengan Dee. "Kenapa tiba-tiba mandi keramas?" gumam Dee. "Hmmm... Habis ngeluarin sesuatu, dari pada tersiksa!" jawab Hendrick lirih. "Ehem... Maaf, tadi... Aku dengar..." Bisik Dee sambil menundukkan kepalanya. "Hmmm.... Maaf, aku begitu lagi di sini." bisik Hendrick. "Ya, nggak apa-apa!" Dee mengangkat kepalanya, kini wajah mereka sangat berdekatan. Perlahan Hendrick merengkuh pinggang Dee, lalu dengan lembut Hendrick melumat bibir Dee yang selalu menggodanya. Dee mengalungkan tangannya ke leher Hendrick, lalu dengan lembut Hendrick mengeratkan pelukannya dan memperdalam ciumannya. Tak berapa lama, kamar Dee dipenuhi suara decapan bibir dan desahan keduanya. Mereka berciuman seolah tak ada hari esok lagi. Setelah beberapa saat, Hendrick melepas ciumannya dan mengurai pelukannya. Tetapi betapa terkejutnya dia melihat kaos yang Dee pakai menjadi basah dan menerawang, karena menempel pada tubuhnya yang tadi memakai baju yang basah sehabis mandi. Nafas Hendrick memburu, menatap Dee dengan lapar. "Dee... Sayang, ganti baju, pakai bra... cepat, sebelum... sebelum aku lepas kendali!" Hendrick menatap nanar p******a Dee yang tercetak jelas di kaos putihnya yang basah, p****g Dee nampak tegang mencuat seolah mengundang Hendrick untuk melahapnya. Tak berselang lama, bagian bawah Hendrick pun terbangun. Nafasnya semakin memburu, tak teratur. Dee menunduk menatap dadanya lalu ke arah celana Hendrick. Ah... membesar lagi... Batin Dee. Perlahan, Dee mendekati Hendrick, lalu menarik lehernya untuk menciumnya. "Dee... apa yang... Aaaah!!!" Hendrick mengerang saat tangan kiri Dee mengusap kejantanannya yang menegang. "Dee, stop sayang, aku nggak mau merusakmu!" desah Hendrick merasakan tangan Dee yang mengusap lembut kejantanannya di balik celana seragamnya. "A-aku, akan membantumu!" bisik Dee malu, nafasnya juga memburu, wajahnya memerah karena malu, seumur hidup dia belum pernah menyentuh alat kelamin pria. Dee mencium lembut bibir Hendrick. Perlahan Dee membuka ikat pinggang dan resleting celana seragam Hendrick. Dengan gemetar Dee menyusupkan tangannya ke dalam celana dalam Hendrick. "Ngggghaaaah.... Dee, sudah... Hentikan sayang, biar kulakukan sendiri.... Aaaah... Aaah...!" Hendrick berusaha menarik tangan Dee keluar dari celananya, tetapi Dee malah menyentuh dan mencemgkeram lembut kejantanan Hendrick yang membuat Hendrick seperti tersengat listrik ribuan volt. Dee menurunkan celana Hendrick sehingga kejantanannya benar-benar lolos keluar. Dee kaget melihat betapa besarnya milik Hendrick. Lalu dengan instingnya Dee mulai membelai dan mengurut kejantanan Hendrick dengan irama yang konstan, membuat Hendrick kelojotan dan mengerang habis-habisan. "Deee.... Aaaah... hentikan sayang, aaaaah... oh shitt... aaah...aah.... " Hendrick mencoba menghentikan tangan Dee, tapi gairah sudah mengalahkan kewarasannya, Hendrick membungkukkan tubuhnya, menciumi p******a Dee yang masih tertutup bajunya yang basah, perlahan dilahapnya p****g yang sedari tadi menantangnya, Hendrick memainkan lidahnya disana, membuat Dee merinding dan mendesah aneh, sementara tangannya masih terus bergerak membelai dan mengurut p***s Hendrick. Tiba-tiba, Dee mempercepat gerakan tangannya, Hendrick kaget, dia merasakan kalau sebentar lagi dia akan mencapai orgasm. "Oooh ... Sayang, faster.... Ahh... aaaah.... Dee... Sayang.... Ooooh... Aaah... Aaaaah.... Aaaaaaaaaah!!!" tubuh Hendrick menegang seiring erangan dan cairan kental yang keluar menyembur dari penisnya, menyembur kencang ke atas hingga mengenai tubuh Dee. Dee terkejut saat terkena cairan hangat itu, tapi belum sempat berkata apapun, Hendrick sudah melahap bibir Dee dengan rakus. "Terima kasih, sayang... Tapi ini tidak boleh terjadi lagi! Aku akan menjagamu sampai kita menikah nanti!" Hendrick memasukkan penisnya ke dalam celana, lalu mengambil handuk dan baju yang tergeletak di meja belajar Dee. Sesaat dia melirik ke arah p******a Dee, ada noda s****a menempel di sana. "Mandi dulu saja, maaf sudah mengotori tangan dan tubuhmu." ucap Hendrick seraya mengecup kening Dee. "Ah... Iya!" Dee mengambil handuknya. "Sayang, boleh aku menyentuhnya sekali lagi?" tanya Hendrick tiba-tiba. "A-apa?" tanya Dee bingung. "I-ini!" Hendrick menyentuhkan telunjuknya di p****g Dee yang masih mencuat. "I-ini? Ta-tapi jangan diapa-apain ya?!" Dee mendekatkan dirinya ke arah Hendrick. Perlahan Hendrick mengangkat kaos Dee. "Aah... kenapa diangkat?" tanya Dee kaget. "Sekali saja, aku ingin merasakannya!" pinta Hendrick dan tanpa aba-aba, Hendrick mulai menjilat dan menghisap p****g Dee dengan lembut, membuat Dee menggelijang dan mengerang tak jelas. "Ooh... Hend... Ah... ssshhh.... ah.... Hend... aaah... Oh.... Hend... a-aku harus buang air kecil!" rintih Dee, tapi Hendrick tak menggubrisnya. "Aaaaaaaaaaaaaah..... " tiba-tiba Dee mengerang panjang, dan dari bawah terlihat cairan putih bening mengalir dari balik hot pantsnya. 'Oh... Damn, she's a sexy squirter!" Hendrick menatap wajah Dee yang terlihat sangan sexy setelah orgasm. Hendrick melepaskan p****g Dee, lalu dengan erat memeluk tubuh Dee yang masih mengejang setelah orgasmnya. "Dee, you are so sexy!" bisik Hendrick. Setelah tubuh Dee relaks, Hendrick memapahnya ke kamar mandi dan membiarkan Dee mandi. Tak berapa lama, Dee keluar dari kamar mandi berbalut handuk, dan masuk ke kamar untuk berganti baju. Kemudian, Hendrick pun mandi lagi. Dee menghangatkan makanan yang dipesan Hendrick, karena sudah dingin. Hendrick keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar dan wajahnya tampak berseri-seri. Dee menundukkan kepalanya, wajahnya memerah mengingat kejadian tadi. Tiba-tiba kemaluan Dee terasa berkedut dan tak nyaman. "Ehem.... Makan Hend!" ajak Dee sambil mengambil air minum. "Iya, sini sayang!" Hendrick menarik tangan Dee untuk duduk di sampingnya. "Makasih ya tadi, I love you. Tanganmu benar-benar lembut." Hendrick mencium tangan kiri Dee. "Ja-jangan bikin aku malu. Aku kasihan aja lihat itu, sepertinya sakit kalau terus menggembung." jawab Dee sambil membuka kotak makanan di hadapannya. "Hmmmm... memang sakit." gumam Hendrick. "Sayang, kamu serius mau kalau tahun depan setelah lulus kita nikah?" tanya Hendrick. "Iya, daripada kita kebablasan terus, soalnya kamu sedikit-sedikit keras. Kasian. Ya kalau dilepasin sendiri, tapi siapa tau kamu nggak tahan malah cari perempuan buat bantu kamu, aku nggak rela." Dee merajuk manja. "Mana bisa sama perempuan lain, cuma kamu yang bisa bikin aku seperti itu sayang..." Hendrick menjilat telinga Dee. "Aaaah.... Hendrick, apaan sih?! Buruan makan!" Dee menjejalkan ayam ke mulut Hendrick. " Iya sayang!" Hendrick mengunyah ayam di mulutnya. "Sayang... " gumam Hendrick seraya mengunyah makanannya. "Makan dulu, bicara nanti. Stop panggil sayang-sayang, kelepasan di depan bapak ibu atau yang lain gimana?" gerutu Dee. "Nggak mau bilang sama bapak ibu?" tanya Hendrick kecewa. "Bilang, tapi jangan sekarang, sudah mau ujian penjurusan, aku nggak mau bapak sama ibu nagging tiap hari." Dee mengambil potongan roasted chicken dan memasukkannya ke dalam mulut. "Iya deh, sayang... Nurut calon istriku aja!" goda Hendrick. "Idih, apaan sih!" wajah Dee merona karena malu. "Bahagia deh, punya calon istri cantik, pintar urus rumah, urus suami, cerdas, badannya sexy, tambah super sensitif lagi. Kaget aku tadi, sayangku ini bisa orgasm hanya karena dimainin dadanya!" goda Hendrick membuat Dee semakin malu. "Ngomong apa sih Hend!" Dee menunduk malu, k*********a semakin berkedut mengingat besarnya p***s Hendrick dan cara Hendrick memainkan putingnya. "Dee, jangan buat wajah kaya gitu... Aku nggak tahan lihatnya!" Hendrick berusaha mengatur nafasnya saat melihat wajah Dee yang memerah dengan mata sayu dan bibir setengah terbuka, benar-benar mengundang gairahnya. "Dee, jangan tatap aku kaya gitu!" Hendrick memalingkan wajahnya, dia benar-benar bisa gila kalau Dee terus seperti ini. "Hend, I felt weird here... " gumam Dee seraya menunjuk celah pahanya. "Damn it, Honey.... Aku sebaiknya pulang Dee, aku benar-benar tak ingin merusakmu!" Hendrick mengepalkan tangannya lalu berniat beranjak pergi. "Don't leave me please!" pinta Dee lirih. "Dee, kalau aku terus di sini, mungkin akan terjadi sesuatu yang benar-benar merusakmu, aku nggak mau!" Hendrick buru-buru melangkahkan kaki keluar, setelah meraih tasnya, Hendrick membuka pintu depan. Tapi langkahnya terhenti mendengar isakan Dee dan langkah tergesa diikuti suara pintu tertutup. "Hah.... Baiklah, aku tinggal... Aku hanya akan memeluknya!" Hendrick menutup kembali pintu depan, dilemparkan tasnya ke atas sofa, lalu bergegas masuk ke dalam kamar Dee. "Sayang..." Tenggorokan Hendrick tercekat ketika memasuki kamar Dee, tampak Dee tengah duduk meringkuk di lantai di samping ranjangnya. "Sayang, maafkan aku.... Aku nggak akan pulang!" Hendrick mendekati Dee dan duduk disebelahnya. Dengan sekali gerakan, Dee sudah berpindah ke pangkuan Hendrick. "Aku akan temani kamu sampai ibu pulang, ya?!" bisik Hendrick di telinga Dee sambil memeluk pinggang Dee. Dee melingkarkan lengannya di leher Hendrick dan membenamkan wajahnya di lekukan leher Hendrick. "Maafkan aku ya sayang....!" Hendrick mengusap punggung Dee perlahan. "Hend, aku baru kali ini merasakan sesuatu yang aneh bergeleyar di sana, apakah buatmu itu terlihat menjijikkan?" gumam Dee di sela isakannya. "What??? Non sense!!! Aku nggak pernah merasa jijik ke kamu, Dee!" seru Hendrick. "Tapi kamu tadi mau pergi kan?" isak Dee semakin menjadi. Hendrick menghela nafas panjang. "Dee... Sayang.... Aku tadi mau pulang karena aku takut nggak bisa nahan diri, andai lelaki lain tau gimana wajahmu tadi... Aku yakin mereka akan langsung menerkammu. You look so sexy when you're h***y, dear....!" bisik Hendrick di telinga Dee. "Ho-h***y? Apa itu?" tanya Dee sambil menatap bingung setelah mengurai pelukannya. "Ah... h***y itu... gini... Anu... Ummmm..." Hendrick tergagap, bingung menjelaskan pada Dee. "Apa?" tanya Dee penasaran. "Jadi kaya aku kalau iniku bangun!" gumam Hendrick seraya menunjuk ke arah juniornya. "Ah.... Tapi aku nggak punya itu!" wajah Dee merona, lalu dia kembali memeluk leher Hendrick. "Iya, tapi kamu kan punya ini?!" jawab Hendrick yang tak sengaja menyentuh private area Dee. Seketika tubuh Dee menegang dan mulutnya mengeluarkan erangan lirih tepat di telinga Hendrick. "Dee... maaf, aku nggak sengaja" desah Hendrick saat merasakan juniornya kembali bangun. Dee semakin mengeratkan pelukannya, sementara Hendrick berusaha sekuat tenaga menenangkan juniornya. "Sayang.... !" Hendrick balas memeluk Dee sesaat, lalu perlahan mengurai pelukannya dan berdiri sambil mengangkat tubuh Dee. "Kita di luar aja yuk, di kamar banyak setannya!" ajak Hendrick, sambil melangkah keluar dengan Dee dalam gendongannya. "Se-sebetulnya kita... Kita bisa me-melakukannya.... A-aku nggak apa-apa...!" bisik Dee sambil menyembunyikan wajahnya. "Sayang, sudah kubilang, aku nggak mau merusakmu. Aku bisa tahan, kalau memang nggak bisa, aku masih punya tangan!" balas Hendrick meyakinkan Dee. "Tapi aku nggak tega lihat kamu tersiksa!" sahut Dee. "Kalau itu terjadi dan aku nggak bisa menahan diri, aku akan merasa bersalah seumur hidup, walau nantinya kita menikah. Sudahlah, aku nggak apa-apa. Atau kamu memang menginginkannya?" goda Hendrick. "Ah... Aku nggak tau, aku cuma merasakan ini berkedut bikin nggak nyaman!" Dee kembali menyembunyikan wajahnya yang merona di lekukan leher Hendrick. Hendrick mengangkat alisnya, lalu tersenyum. Imutnya... Memang polos banget sayangku ini. "Tahanlah dulu ya sayang, aku benar-benar tak berani menyentuhmu, aku takut ikutan h***y, nanti bahaya!" Hendrick mengelus punggung Dee. "A-aku bisa membantu!" sahut Dee setengah berbisik. "Sudahlah, kita seperti ini saja, sebentar lagi ibu pulang. Tahanlah, ya?!" bujuk Hendrick. "Uhm...." Dee bergerak tak nyaman di pangkuan Hendrick. "Haaah... sini!" Hendrick memutar tubuh Dee lalu memeluknya erat. "I love you, honey...!" Hendrick mengecup ringan bibir Dee, lalu menggendongnya menuju kamar. Dibaringkannya tubuh Dee di atas ranjang. "Tidurlah, atur nafasmu sampai tenang, aku temani di sini." bisik Hendrick. Lalu Hendrick duduk di tepi ranjang Dee. Dee memiringkan tubuhnya menghadap Hendrick, lalu dipeluknya pinggang Hendrick. "Terima kasih Hend!" gumam Dee. "Sama-sama, sayang!" sahut Hendrick seraya membelai kepala Dee dengan lembut sampai Dee tertidur. Hendrick menatap wajah Dee yang terlihat tenang dalam tidurnya. "I love you, honey!" bisik Hendrick. Lalu Hendrick menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, tak berapa lama matanya terpejam. Cukup lama mereka tertidur sampai tak menyadari kalau sudah waktunya jam pulang sekolah. Tony yang khawatir dengan kondisi Dee, langsung menelepon Hendrick begitu bel tanda sekolah usai berbunyi. Namun setelah 4kali menelepon tak ada jawaban, Tony bergegas menuju rumah Dee. Sesampainya di rumah Dee, Tony melihat motor Hendrick ada di halaman, sedangkan pintu rumah tertutup rapat. Jantung Tony berdebar, takut Hendrick melakukan sesuatu yang tidak pantas, buru-buru Tony melangkahkan kaki ke teras dan membuka pintu yang tidak terkunci.Tony mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, tapi tak melihat siapapu, suasana dalam rumah sunyi, karena Bu Tuti belum pulang, sementara adik-adik Dee ada di rumah pengasuh mereka, dan Pak Edi juga belum kembali dari bekerja. Tony melesat ke arah kamar Dee, dia tertegun di depan pintu kamar yang tak tertutup. Dilihatnya Dee tertidur pulas sambil memeluk pinggang Hendrick yang juga tertidur dengan bersandar di kepala ranjang. "Syukurlah, Hendrick tau batas!" gumamnya. Tak berapa lama terdengar suara Bu Tuti yang masuk rumah dan memberi salam. "Assalamu'alaikum!" "Wa'alaikumsalam, bulik!" balas Tony. "Diane dimana Ton?" tanya Bu Tuti. "Tidur di kamar bulik, ditemani Hendrick." jawab Tony. Bu tuti melangkahkan kakinya ke kamar Dee, sedikit terkejut, tapi tak lama seulas senyum terukir di bibirnya. "Mereka ada hubungan, Ton?" tanya Bu Tuti. "Sepertinya begitu, bulik. Apa bulik nggak setuju kalau mereka berhubungan?" tanya Tony hati-hati. "Setuju saja, asal Hendrick bisa jaga Diane baik-baik, bulik sih nggak masalah." jawab Bu Tuti, "Sepertinya Hendrick sangat menyayangi Diane... Nggak percaya rasanya, anakku yang tomboy ini bisa jatuh cinta dan dicintai!" gumam Bu Tuti. "Nggak ada yang nggak suka sama Dee, bulik!" sahut Tony. "Apa iya? Anak gadis yang hobby pencilakan gitu Ton!" Bu Tuti terkekeh. "Bulik jemput Tama sama Destri dulu ya, kamu makan malam di sini to?" tanya Bu Tuti. "Iya bulik, sudah pamit ibu tadi, ini Yetnu sama Lucky sudah jalan ke sini!" sahut Tony, sambil mengantar Bu Tuti keluar. "Makasih ya Ton, sudah bantu bulik jagain adikmu itu!" Bu Tuti memang selalu menyebut Dee sebagai adik Tony, karena dari kecil Tony selalu menganggap Dee adalah adiknya, begitupun Tama dan Destri. "Namanya juga mas to bulik, ya harus jagain adik." gurau Tony. "Iya juga ya.... Bulik jemput Tama sama Destri dulu, Hendrick sama Diane dibangunin, sebentar lagi ashar!" Bu Tuti melangkah keluar rumah menuju rumah mbah Darmo, pengasuh Tama dan Destri. Tony bergegas ke kamar Dee, pelan-pelan dia membangunkan Hendrick. "Rick, Hendrick... Bangun, sudah hampir ashar!" "Hah?" Hendrick segera membuka mata dan bingung saat melihat Tony. "Bangun, sudah hampir ashar!" seru Tony. Hendrick menegakkan tubuhnya, lehernya terasa pegal. "Ah... Dee masih tidur!" gumam Hendrick saat melihat tangan Dee yang masih memeluknya. Perlahan Hendrick mengangkat tangan Dee dan meletakkannya di atas ranjang, lalu perlahan dia bangkit dari ranjang Dee. "Dee dibangunin sekalian!" seru Tony lirih. "Biar saja dulu, sebangunnya, kasihan tadi nangis!" Gumam Hendrick sambil menarik Tony keluar kamar Dee lalu perlahan menutup pintunya. "Haish, apaan sih?" gerutu Tony saat sudah berada di luar kamar. "Jangan berisik, kasihan Dee, capai nangis!" sahut Hendrick yang melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi. "Haish.... dasar induk ayam!" gerutu Tony sambil melangkah menuju ruang tamu. "Baru aja datang?" tanya Hendrick yang sudah keluar dari kamar mandi. "Lumayan, bulik juga sudah balik." jawab Tony. "Hah? Bu Tuti sudah pulang? Beliau lihat...?" tanya Hendrick panik. "Lihat lah, pintu kebuka gitu!" jawab Tony. "Mati aku!" ucap Hendrick kebingungan. "Sejak kapan?" tanya Tony tiba-tiba. "Hah? Kapan apa?" Hendrick balik bertanya. "Hubunganmu dengan Dee? Kalian mau serius atau hanya senang-senang?" tanya Tony penuh selidik menatap tajam ke dalam mata Hendrick. "Kemarin.... Kami baru menyatakan perasaan masing-masing kemarin. Tentu saja kami serius, aku berencana melamar Dee saat lulus nanti dan langsung menikah!" jawab Hendrick serius. "Are you nuts?" bentak Tony. "Dee itu ingin kuliah di Kesehatan Masyarakat, ingin kerja juga, nikah setelah lulus... kamu mau menghalangi cita-cita Dee?" lanjut Tony emosi. "Dee setuju kok, kami tetap bisa kuliah dan kerja walau sudah menikah." jawab Hendrick yakin dan tegas. "Both of you just went crazy because of love! Unreasonable!!!" gumam Tony penuh emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD