Chapter 14

4237 Words
Sesampainya di kost, Hendrick langsung memasukkan motornya ke teras dan masuk ke dalam. Diambilnya ponsel dari dalam tas selempang kecilnya, lalu segera mengirim pesan untuk Dee, memberitahukan kalau dia sudah sampai kost. Setelah mengirim pesan, Hendrick segera melepas kaosnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekeluarnya Hendrick dari kamar mandi, ponsel Hendrick berbunyi, segera dibukanya notifikasi pesan yang muncul. "Selamat tidur Hend, love you!" bunyi pesan dari Dee diakhiri emoji smooch. "Selamat tidur my sweetheart, love you more!" balas Hendrick yang juga diakhiri emoji smooch. Seulas senyum terukir di bibir Hendrick... Aaaaah.... begini amat rasanya kasmaran ya.... Hendrick merebahkan dirinya di kasur dengan bertelanjang d**a, menatap langit-langit kamarnya, terlintas di bayangannya apa saja yang dia lakukan bersama Dee tadi. Hendrick senyum-senyum sendiri seperti orang gila mengingat apa saja yang telah dia dan Dee lakukan berdua. Aaaaah.... Tersiksanya jadi anak sekolah.... Gerutunya seraya bangun dari rebahannya dan menatap ke bawah. Haaaaaah.... Bangun lagi....Tidur ah.... Omel Hendrick frustasi. ●●●●● Esok harinya, setelah sarapan, Dee bergegas berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena masih sangat pagi. "Ibu, bapak, berangkat dulu ya... Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam, hati-hati." balas ibu dan bapak bersamaan. Setelah menutup gerbang, Dee memasang headsetnya dan melangkahkan kakinya menuju sekolah. Tadinya Hendrick berniat menjemputnya, tapi Dee menolak, karena selama ini selain Tony, tak ada orang lain yang menjemputnya. Jadi dia tak ingin menimbulkan gossip di sekolah. Pagi ini dia juga mendapat pesan dari Freddy yang memberi tahu kalau hari ini Freddy ijin karena sakit. Jadi sehabis subuh tadi, Dee membuatkan minuman rempah untuk dikirimkan ke Freddy pakai kurir sebelum berangkat tadi. Sesampainya di sekolah, Dee langsung berjalan menuju kelasnya, tapi di depan kelas 2.3, Lucky menghadangnya. "Dee, sini sebentar!" Lucky mengajak Dee ke lorong yang berada di sela kelas 2.2 dan 2.3. "Ada apa kak?" tanya Dee bingung. "Semalam Hendrick ke rumah?" tanya Lucky. "Ahh... Iya, habis antar Dee ke Gramedia, dia main sebentar di rumah, kenapa?" tanya Dee. "Nggak kenapa-kenapa, karena semua ada kiriman tekwan, cuma dia yang nggak ada. Kalau logikanya kamu suka dia, nggak akan lah kamu nggak kirimi dia....Kan?" analisa Lucky. "Haish.... Ngawur!!! Sudahlah, aku ke kelas dulu!" omel Dee yang langsung buru-buru menuju kelasnya. "Hehehehe.... malu dia karena ketebak!" kekeh Lucky. Dee masuk ke dalam kelas, dia melihat meja Tony yang masih kosong, artinya dia belum datang, Sedangkan Hendrick sudah duduk tenang membaca buku di bangkunya. Gugup, Dee berjalan menuju mejanya. "Hi, pagi Hend!" sapa Dee. Hendrick mengangkat kepalanya dan menatap mata Dee lalu melemparkan senyuman manisnya, tanpa menjawab salam Dee. Dee tidak terlalu mempermasalahkannya, dia langsung duduk di bangkunya. Hari ini karena jam pertama adalah pelajaran olah raga, Dee sengaja mengikat rambutnya berbentuk cepol di atas kepala, sehingga tampak leher jenjangnya yang putih bersih. "Pagi, sayang....!" bisik Hendrick di telinga Dee, kemudian dengan cepat dan lembut, Hendrick mengecup leher Dee yang membuat Dee memekik tertahan karena kaget. Teman-teman yang sudah ada di kelas langsung memandang ke arah Dee. "Aaaaahahahaha.... Sorry, jariku tertusuk jarum jangka." ucap Dee sambil tertawa sumbang. kawan-kawannya berOh ria, lalu kembali pada aktifitas masing-masing. "Hendrick, ini di sekolah! Bisa nggak sih tahan diri?" omel Dee setengah berbisik. "Nggak bisa, suruh siapa pamer leher di depanku?" sahut Hendrick sambil tersenyum nakal. Dee menggigit bibir bawahnya karena gemas. "Mau kucium di sini?" tanya Hendrick sambil mendekatkan wajahnya ke arah Dee. Matanya lekat menatap bibir Dee. "Ja...Jangan macam-macam!" Dee terpaku, seperti terhipnotis mata hitam Hendrick. "Jangan gigit bibirmu! Aku tak peduli ini di kelas dan semua akan lihat, aku nggak tahan lihat kamu gigit bibir seperti itu Dee.... You look so sexy!" bisik Hensrick tepat di depan wajah Dee yang memerah. "Pagi semuaaaa!" teriak Tony yang baru masuk kelas. "Pagi Tooon!" balas kawan-kawannya. "Malasnya hari senin.. Mana upacara sama olah raga pulak di jam pertama." omel Tony sambil berjalan ke mejanya. "Dee... Kesayangankuuuu!" seru Tony sambil memeluk bahu Dee. "Tumben jam segini baru datang, mas?" tanya Dee tanpa berusaha melepas pelukan Tony, karena hal ini sudah biasa buat mereka. "Ho.oh... Tadi sebelum berangkat Vina telepon, jadi ya.... Hehehehehe...." jawab Tony cengegesan. "Dih yang pagi-pagi ditelepon pacar!" goda Dee. "Vina minta aku ke sana liburan kenaikan kelas ini, ikut ya Dee, rame-rame!" bujuk Tony. "Wah, mauuu!! Kebetulan aku sama Freddy pernah ngobrolin liburan habis acara camping sekolah, ya udah ke mba Vina aja!" seru Dee gembira. "Eh, tapi Hendrick nggak bisa ikut mas, katanya mau balik Aceh!" tambah Dee sambil memandang Hendrick. "Aku nggak balik nggak apa-apa Dee." sahut Hendrick. "Mana bisa gitu???" seru Dee dan Tony bersamaan. Tony melepas pelukannya, lalu duduk di bangkunya. "Kamu sudah 2 tahun nggak balik, nggak kasihan mama papa yang kangen kamu?" tanya Tony. "Iya, liburan masih bisa lain waktu." sambung Dee. "Tapi kan Dee...." bujuk Hendrick. "Kan kita ada acara camping juga, masih bisa rame-rame camping sebelum balik kan?" Dee mengedipkan matanya ke arah Hendrick. "Hah... Ya deh!" jawab Hendrick lesu. Bel tanda masuk berbunyi, para siswa menghambur keluar untuk mengikuti upacara bendera. "Dee, mas duluan, ini mendadak dipanggil pak Danang!" seru Tony yang langsung melesat pergi. Satu persatu siswa kelas 2.4 keluar menuju lapangan upacara, di dalam kelas hanya tinggal Dee dan Hendrick. Hendrick beranjak dari duduknya dan menghampiri Dee lalu membantu Dee berdiri. Tanpa diduga, Dee melingkarkan tangannya di leher Hendrick, menatap bola mata Hendrick yang indah. "Liburan ini pulanglah dulu ke Aceh, tahun depan, minta papa dan mama datang ke rumah buat lamar aku... Semalam aku sudah berpikir, nggak ada salahnya kita menikah muda.... Kan?" ucap Dee manja. "Su... sungguh?" tanya Hendrick tak percaya. "Hmmmm.... I love you!" Dee berjinjit dan mengecup lembut bibir Hendrick. Tapi saat Dee hendak melepas ciumannya, Hendrick malah menahan leher Dee dan memperdalam ciumannya. Mereka berciuman sampai terdengar peringatan terakhir untuk segera berkumpul mengikuti upacara. Dengan berat hati Hendrick melepaskan bibir Dee, diusapnya bibir Dee yang membengkak dengan ibu jarinya. "I love you, dear.... Really love you!" bisik Hendrick. Mereka berjalan beriringan menuju lapangan bersama beberapa siswa yang baru keluar dari kelas masing-masing. "Kamu agresif juga ternyata, sayang!" bisik Hendrick di telinga Dee. "Get lost!" gumam Dee malu. "Pulang sekolah ke kost ku mau?" tanya Hendrick. "Nggak mau.... " jawab Dee cepat. "Kenapa?" tanya Hendrick. "Lihat deh wajahmu, Hend.... m***m banget dilihatnya. Terus yang dibawah itu dikondisikan, masa iya dibiarin benjol gitu?" jawab Dee sambil menunjuk benjolan di celana Hendrick. "Oh... Shitt!!" umpat Hendrick yang langsung berlari ke toilet pria. Dee tersenyum geli, dia menunggu Hendrick di luar toilet, tak sampai 2 menit, Hendrick sudah keluar walau masih terlihat tidak nyaman. Dee menatap kasihan pada Hendrick. "Sakit ya?" tanya Dee. "It's ok... Masih bisa tahan!" jawab Hendrick. "Aku sudah bilang ibu, pulang sekolah mampir kosmu dulu, tapi nggak aneh-aneh lho ya!" Dee berjalan mendahului Hendrick dengan wajah memerah sampai telinga dan leher. Mereka tiba di lapangan tepat saat peluit berbunyi dan komandan kelas mengatur barisan siswa masing-masing kelas. Tony menatap curiga ke arah mereka berdua. "Kok baru sampai?" tanya Tony. "Malas mas, panas... Hari ini badanku agak capek!" jawab Dee yang tidak sepenuhnya bohong, badannya memang pegal-pegal sehabis berenang kemarin. "Kecapean?" tanya Tony sambil memijat pundak Dee dengan terampil. "Mungkin... Aah... iya situ mas, aaah..." Dee menikmati pijatan Tony. Dia memang suka kalau Tony memijat pundaknya, tekanannya selalu pas di setiap titik. "Ck.... Sudah... Sudah... Ini lapangan, bukan panti pijat!" Hendrick menarik Tony untuk menghentikan pijatannya di bahu Dee. Tapi memang dasar Tony, bukannya berhenti malah nekad memeluk leher Dee dan menumpukan dagunya di kepala Dee. "Ngapain sewot sih? Biasanya juga nggak masalah?" goda Tony. Dee memijat keningnya, mendadak pening melihat tingkah Tony dan Hendrick. "Mas, wes ta lah.... Mau mulai ni lho upacaranya, sana jauh-jauh!!!" omel Dee sambil menyingkirkan tangan Tony. "Isin tau mas, dilihatin anak-anak lain!" Dee bergeser menjauh dari Tony. "Cih... Gayamu Dee!" Tony meraih pipi Dee dan mencubitnya gemas. "Dasar jelek!" geram Dee. "Yang penting Vina mau!" balas Tony. "Ya lah mau, kepaksa soale dipepet terus." ejek Dee. "Perjuangan itu namanya Dee... Perjuangan." sahut Tony. "Halah... Kalau mba Vina nggak mas Tony sosor duluan juga gak kira mau." Dee menjulurkan lidahnya ke arah Tony. "Dasar bocaaaah!!!!" Tony kembali mencubit pipi Dee, tapi kali ini lebih keras sampai Dee memekik kesakitan, alhasil Tony dan Dee disuruh berdiri di tengah lapangan oleh Kepala Sekolah yang kebetulan jadi inspektur upacara. Berdirinya mereka di tengah lapangan membuat Bu Tuti dan Bu Afi malu bukan kepalang, secara Dee dan Tony adalah anak dari guru yang mengajar di sekolah ini. Dee dan Tony hanya nyengir kuda ketika dipelototi ibu masing-masing, dan mereka mau nggak mau harus dengar wejangan dari Kepala Sekolah di saat itu juga, di depan seluruh siswa SMU 2. Bisa kebayang malunya. Dee menoleh ke arah Tony yang juga kebetulan sedang menatapnya kesal. Dee menggerak-gerakkan bibir tanpa suara 'Asem banget, gara-gara mas Tony jadi malu kaya gini!' Dee mendengus kesal. 'Eh, curut.... kalau Dee gak bikin mas kesal ya ga kira lah kaya gini!" Tony tak mau kalah. 'Jelek!' Dee menjulurkan lidahnya, memulai perang lagi. 'Bocaaaaah!!!" Gemas, tangan Tony maju menarik hidung Dee dengan keras. "Aaaaaahhhh... Apaan sih mas? Beraninya main tangan, dasar jeleeeeek!!!" pekik Dee tanpa sadar. "Sukurin! Kualat!" ledek Tony. "TONY.... DIANEEEE!!!" seru Kepala Sekolah menyadarkan Dee dan Tony, yang seketika menatap horor ke arah barisan guru. Ternyata Bu Tuti dan Bu Afi dengan langkah bak gajah mengamuk, menghampiri mereka berdua. Tanpa aba-aba Bu Tuti menarik telinga Dee. "Aw... Aw... Bu, sakit.... sakiiit.... aduduh" seru Dee saat sang ibu menarik telinganya untuk membawanya ke ruang BK. Sama halnya dengan Bu Afi yang juga menarik telinga Tony. "Adududuh.... Bu, yang bener dong, Tony laporkan ke KPAI.. Aaaah.... Nggak bu, guyon... guyon.... Ampun buuuu!" rengek Tony. Seluruh siswa SMU 2 terbahak-bahak lihat lawakan gratis itu. Sementara ketiga sahabat mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Walau Tony dan Dee itu seperti kakak adik, tapi kalau sudah ribut, konyolnya nggak ketulungan, dan ketomboyan Dee meningkat 1000 kali lipat dan urat malunya selalu putus, hahahahaha. Selesai upacara, semua siswa kembali kr kelas masing-masing, kecuali Dee dan Tony, mereka masih terkurung di dalam ruang BK untuk menerima wejangan dan omelan dari Guru BK dan juga dari ibu mereka masing-masing. Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka diperbolehkan kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, semua teman mereka mentertawakan penampilan mereka berdua yang seolah baru saja kehilangan jiwa mereka. Dee mendengus kesal sambil menatap Tony. "Kalau bukan gara-gara Mas Tony iseng, ga bakal aku dengar ceramah kenegaraan ibu, BLERGH.... bikin mual aja!!!" gerutu Dee. "Enak aja, siapa suruh ngatain aku?" bantah Tony. "Mana ada ngatain, orang nyata aslinya mas jelek!!" Dee mulai ngotot. Teman-teman sekelas mereka terkekeh... Here we go again... Ronde kedua dimulai. Tony meraih pinggang Dee, memeluknya dari belakang dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain mulai usil menggelitik leher Dee yang terbuka. "Nggggh...." lenguhan keluar dari mulut Dee, beberapa siswa cowok yang mendengar lenguhan Dee spontan menoleh ke arah Dee yang masih berada di pelukan Tony. Mereka menatap Dee dengan tatapan sulit diartikan dan menelan ludah dengan susah payah. Hendrick yang menyadari tatapan lapar teman sekelasnya pada Dee, buru-buru menarik Dee dari pelukan Tony, lalu dengan cepat dia mengambil tas kecil Dee yang berisi pakaian olah raga, kemudian dia menarik Dee keluar kelas. Dee yang tangannya di tarik paksa merasa kesakitan. "Hend, sakit!!!" rintih Dee. Hendrick tak menghentikan langkahnya, dia terus menarik Dee sampai mereka tiba di salah satu sudut mati di dekat laboratorium fisika. "Dee.... Bisa nggak sih jangan bercanda berlebihan sama Tony?" marah Hendrick. "Apa yang berlebihan? Bukannya tiap hari juga gitu?" helah Dee. "Dee, kamu sekarang pacarku, tolonglah batasi sedikit kedekatanmu sama Tony.... Please.... Biarpun kalian tumbuh sama-sama, tapi kalian itu orang lain, tak ada ikatan darah. Oke lah kalau itu Yetnu atau Lucky, tapi kumohon, jangan Tony atau Freddy!" Hendrick memeluk tubuh Dee erat. "Sorry, won't do that again!" jawab Dee lirih. Hendrick menyusupkan kepalanya di celah leher Dee. "Kenapa Tony tahu kelemahanmu ada di leher? Kau tahu, Dee.... lenguhanmu tadi membuat teman-teman lelaki menatap lapar ke arahmu, aku nggak suka!" Hendrick mengecup leher Dee, lalu dengan sengaja menjilatnya perlahan. "So sweet!" gumamnya masih terus menjilati leher Dee. Dee hanya bisa mendesah, tubuhnya bergetar, nafasnya mulai memburu. "Aaaahmmm.... Hend.... Stop.... Aaaaah...I felt weird.... Oooh..." Desah Dee yang bukan membuat Hendrick berhenti tetapi malah menggila. "It's delicious...." Hendrick terus menjelajahi leher jenjang Dee. Setelah puas bermain di leher, Hendrick menarik tengkuk Dee dan menciumnya dengan rakus. Geleyar aneh menjalari d**a mereka berdua saat Hendrick memaksa lidahnya masuk ke dalam mulut Dee dan mengajak lidah Dee bergelut mesra. Mereka terus berciuman sampai tanpa sadar tangan Hendrik sudah berhasil membuka kancing seragam Dee, dan tangannya berhasil menyusup masuk dan meremas lembut p******a Dee yang membuat Dee mengeluarkan erangan lirih. Hendrick yang sudah tidak bisa menguasai pikirannya, nekad menyusupkan tangannya ke dalam bra putih yang Dee pakai, dengan lembut ditekannya p****g Dee menggunakan telunjuk dan ibu jarinya. Sentuhan Hendrick di putingnya membuat Dee tersentak dan sadar, buru-buru dia memalingkan wajahnya, menghentikan ciuman mereka. "Hend... se-sebaiknya kita berhenti...." pinta Dee sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Ah.... Iya.... Maaf!" Hendrick melepas pelukannya dari Dee. "Hend.... Aaah... Stop.... Ta-tangan....aaaah..." erang Dee, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca seperti menahan sesuatu, ternyata tangan Hendrick masih bermain dengan p****g Dee tanpa mereka berdua sadari. "Hah? Oh.... Maaf Dee... Maaf...!" Hendrick buru-buru menarik tangannya dan merapikan baju dan rambut Dee. Wajah Dee terasa panas mengingat apa yang barusan mereka lakukan. Bercumbu? Di sekolah? Aaaargh.... pekik dalam hati. "A-aku ganti baju dulu Hend." Dee berlari secepat kilat menuju toilet untuk memakai pakaian olah raga. "Ah.... Dee...!" Hendrick berniat mengejar, tapi tiba-tiba dia merasakan sang junior yang mengeras dan membuatnya tak nyaman bergerak. "DAMN IT!!!" umpat Hendrick, mau tak mau dia hanya bisa berjalan perlahan sambil berharap satria kecilnya ini relaks. Dee melangkah tergesa ke arah toilet wanita untuk mengganti seragamnya dengan pakaian olah raga. Beberapa temannya sudah selesai berganti pakaian. "Diane, kamu demam ya? Mukamu merah banget!" tanya Lusi. "Enggak, kepanasan aja tadi!" jawab Dee gugup, lalu buru-buru masuk ke dalam cubicle toilet untuk menenangkan diri dan berganti pakaian. Dee berusaha mengatur nafasnya perlahan. Setelah mulai tenang, Dee membuka kancing seragamnya satu per satu, lalu melepas kemejanya untuk menggantinya dengan kaos olah raga, tapi betapa terkejutnya Dee setelah melihat kalau setengah bagian dari p******a kirinya tidak sepenuhnya tertutup bra, bahkan putingnya malu-malu menyembul keluar. Dee buru-buru membetulkan branya dan segera memakai kaos olah raganya. Setelah itu Dee terduduk lemas di kloset dan mulai terisak. Ya Allah... Apa yang telah dilakukannya? Seberapapun bergairahnya mereka, tak seharusnya Hendrick.... Ah tidak, tak seharusnya dia dan Hendrick terhanyut oleh nafsu. "Diane, ayo cepetan, sudah waktunya nih, Pak Danang udah tiup peluit pertama!" Panggil teman Dee yang bernama Nancy. "Ehem, iya Nan, duluan aja, sebentar lagi kelar, perutku lagi nggak enak ini!" jawab Dee sembari menghapus air matanya. Lalu Dee buru-buru memakai celana olah raganya. Sebelum keluar dari toilet, Dee melipat rapi seragamnya, lalu mencuci wajahnya yang penuh bekas air mata. Dee keluar toilet setengah berlari menuju kelas untuk menyimpan seragamnya, dia berpapasan dengan Hendrick dan Tony. "Dee.... Kita tunggu di sini!" seru Tony. "Duluan aja mas, aku masih ada perlu!" sahut Dee tanpa menoleh. Buru-buru Dee meletakkan seragamnya di laci meja dan langsung melesat keluar ke arah berlawanan dengan Tony dan Hendrick. "Dee, kita volley lho di lapangan belakang!!" teriak Tony. "TAU!!!" balas Dee tanpa menghentikan langkahnya. "Heih, ngapain sih tu anak?!" gerutu Tony, dia mengerutkan keningnya lalu menatap curiga pada Hendrick. "Apa?" tanya Hendrick gugup mendapat tatapan curiga dari Tony. "It has something to do with you.... Am I right?" tanya Tony. "Kok bisa?" Hendrick makin gugup. "Kalau bukan kamu, trus siapa? Kamu yang bawa Dee keluar tadi kan? Trus kamu balik sendiri dari arah laboratorium, Dee juga tadi lari dari arah sana. What the hell are you doing to her???" Tony mencekal bahu Hendrick. "It's nothing, I-I just jealous, I told her to not too close to you, you are not even a relatives." "Hah.... Seriously?" Tony tersenyum mengejek. "Ya... Salah?" Hendrick masih gugup. "Hah.... Really? After all this years, kamu kira aku nggak tau antara kau jujur atau nggak? I'll gonna find out!" Tony melangkahkan kakinya dengan kesal. Bisa-bisanya Hendrick berbohong. Pasti ada sesuatu antara mereka. Di lapangan volley, Dee sudah duduk bersama teman-teman sekelasnya. "Hah, aku benci volley!" gerutu Rina, "Malas lompat-lompat, keberatan d**a!" tambahnya, teman-teman yang mendengarnya tergelak. "Halah, segitu aja berat, punya Diane kelihatannya lebih berat deh, tapi bisa tuh dia lompat tinggi!" sahut Nancy sambil meremas d**a Dee dari belakang. "Aaaah!!!" jerit Dee kaget. "Apa-apaan sih, Nan.... m***m!!!" omel Dee sambil melindungi dadanya dengan tangan. "Gila, Diane.... Such a waste, bodymu semlohay gitu kenapa ditutupin sih? Seneng banget pakai kaos kedodoran gini!" ucap Nancy seraya mengangkat bagian belakang kaos Dee, sehingga mengekspose punggungnya. "Kyaaaaa.... Nancy!!!" pekik Dee. Cowok-cowok yang tak sengaja melihat punggung halus Dee sontak bersorak dan bersiul riuh. Tony yang baru sampai di sana dan melihat itu langsung berteriak ke arah Nancy. "Whoi, Nancy.... Jaga tanganmu!!!" " Apaan sih, Ton, dikit doang juga, lagian mulus banget lho kulit Diane, hahahahaha..... whoops.... hahahahah.... nggak kena!!!" Nancy terbahak setelah berhasil mengelak dari lemparan bola volley dari Tony. "Dee, jauh-jauh dari Nancy, dia naksir kamu, awas digerayangi dia nanti!" teriak Tony yang langsung disambut sorakan teman-temannya. Sedangkan Dee langsung tersipu mendengar kata digerayangi, dia teringat kejadian saat Hendrick menyentuh payudaranya tadi. "Sembarangan mulutmu Ton, aku doyan pisang, nggak doyan serabi!!" balas Nancy yang langsung disoraki teman-temannya. "Kenapa, Nan? Serabi kan enak?" tanya Dee polos, dan teman-temannya langsung terdiam beberapa saat, lalu kembali tergelak karena kepolosan Dee. "Wakakakakaka.... Ampun deh Diane, umurmu berapa sih, hahahahaha....???" Nancy mengusap air matanya yang keluar karena tertawa terbahak-bahak. "Ya 17tahun kan, kita kan cuma selisih 1 tahun?" jawab Dee bingung. "Hahahahaha.... Kamu tuh temenan sama Tony, Freddy, Hendrick dan Yetnu, tapi beginian kamu nggak tau? Wkakakakakak..... ajarin Diane, Ton, biar nggak polos-polos amat!" gelak Nancy , teman-teman yang lain pun ikut tertawa, kecuali Hendrick. "Enak aja, biar Diane polos, malah imut! Lu aja kali Nan, dewasa sebelum waktunya!" sahut Tony sambil menoyor kepala Nancy. "Apaan sih kalian itu? Pisang, serabi? Kalau aku sih suka dua-duanya." Dee menimpali dengan polos. Teman-temannya kembali tergelak. "Aaaah.... Wes wes wes.... Jangan gaul sama Nancy, rusak nanti kamu Dee, diracuni pisang nanti otakmu!" Tony menarik Dee menjauhi Nancy. "Yah, mulai deh.... Mode induk ayamnya sudah ON!!!" celetuk Nancy, Tony langsung melempar bola ke arahnya, beruntung Nancy bisa mengelak, dan dia pun tertawa. Tak berapa lama pelajaran olah raga dimulai, setelah penilaiian cara smash bola, Pak Danang membebaskan siswa siswinya bertanding sampai jam istirahat pertama. Cewek-cewek akhirnya memutuskan untuk bertanding. Dee satu regu bersama Nancy, Fani, Lusi, Silvia dan Eka. Sedangkan regu lain beranggotakan Intan, Tria, Melly, Tina, Lenny dan Erni. "Ada rewardnya dong, nggak seru tanding nggak ada reward." usul Melly. "Sip, boleh tuh.... Yang kalah traktir yang menang!" usul Tina. "Ah, biasa banget rewardnya, yang lebih kece dong!" tantang Nancy. "Ya udah, yang kalah beliin barang yang diinginkan anggota tim pemenang, tapi ga boleh lebih dari 50ribu ya!" sahut Tina. "Gimana yang lain? Setuju?" Tanya Nancy. "Setujuuu!!!" jawab anggota kedua tim. " Ok nggak Diane?" tanya Nancy. Dee mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Sebetulnya Dee tidak terlalu ingin bertanding, tapi demi mengalihkan pikirannya yang kacau karena kejadian di sudut Lab Fisika tadi, Dee mau tak mau ikut bertanding. Setelah mengundi siapa yang serve duluan, kedua tim menempatkan anggota di posisi yang ditentukan. Dee dan Nancy yang terkenal sebagai pemain basket ditempatkan sebagai smasher. Keduanya sama-sama memiliki tinggi hampir 170cm. Hari ini lumayan terik, walau masih terbilang pagi. Dee benci kepanasan, dia memandang sekeliling mencari kawannya yang memakai topi. "Nugie, pinjam topimu sini, panasnya nggak nahan!" teriak Dee. "Aaah.... Siap sayaaaang.... Nih!" Nugie berlari ke arah Dee dan menyerahkan topinya. "Sayang sayang pale lu!" omel Nancy. Dee menerima topi Nugie, lalu melepas cepol rambutnya dan melipatnya ke dalam topi. Lalu dengan cuek, Dee menggulung lengan kaos sampai ke ketiaknya. Diambilnya karet pengikat rambunya tadi untuk mengikat ujung kaosnya sampai ke bawah d**a, dan melipatnya ke dalam. Mata Hendrick terbelalak melihat Dee yang dengan cueknya mengekspose kulit perut dan pinggangnya. Lain halnya dengan siswa lelaki yang bersiul girang. Intan menatap sinis ke arah Dee. "Mau main volley apa mau godain cowok?" sindirnya. "Serve!!" teriak wasit. Lusi melakukan serve pertama, karena saat pengundian tadi, tim Dee yang menang. Pertandingan berlangsung sengit, gara-garanya Intan sengaja mengarahkan smash bola ke Dee. Walau Dee bisa menerima dan mengembalikannya dengan baik, Intan akan kembali menyerang Dee. Fani yang memperhatikan hal itu meminta time out dan berteriak ke Intan. "Whoi Tan, gue tau lu nggak suka sama Diane, tapi sportif dikit nape lu, dari tadi nyerang Diane terus!" bentak Fani yang asli Betawi. "Eh, jangan sembarangan Betawi, kalau dia ga bisa main ya keluar aja lah!" bantah Intan. "Fan, aku ok kok, lagian cuma game doang, skor kita juga unggul." Dee menepuk bahu Fani. "Kamu tuh ya...." ucap Fani gemas. Permainan dilanjutkan, dan Intan masih saja menarget bola ke arah Dee. Teman-teman timnya pun kesal karena skor tertinggal jauh. Akhirnya peluit di bunyikan setelah 1 set permainan dimenangkan oleh tim Dee dengan skor 25-18. Tim lawan menatap jengkel ke arah Intan, lalu satu persatu menyalami anggota tim Dee. "Kalian tulis barang yang ingin kalian beli, kita langsung beliin!" ucap Lenny. "Okay, makasih sebelumnya, ya!" seru Nancy. "Diane, sorry ya, kita nggak ngira Intan ngincar kamu, padahal cuma game suka-suka, kok malah dijadiin ajang balas dendam, mentang-mentang dia anak e orang berduit!" ucap Tina. "Santai, Tin... kan sudah biasa dia begitu!" jawab Dee. "Mandi yuk, lengket berdebu nih badan, nggak enak banget!" ajak Nancy. "Ayo!" sahut mereka bersamaan. "Nugie, thanks topinya ya bro!" Dee mengembalikan topi Nugie. "Sama-sama, Diane..." balas Nugie sambil menatap perut datar Dee. Sruuut!!! Tiba-tiba Hendrick datang dan berdiri di antara Nugie dan Dee, lalu dengan cepat melepas ikatan di kaos Dee. "What are you looking at?" Hendrick menatap Nugie dengan tatapan membunuh. "Ahahahaha.... I gotta go, bye!!!" Nugie lari secepat kilat, takut dengan tatapan mata Hendrick. "Dee, kenapa ekspos perut kamu?" marah Hendrick. "Like I've never did before." jawab Dee santai. "I know, but now you are my girlfriend!" bisik Hendrick. "Sorry... bisa tolong lepas nggak? Aku mau mandi." pinta Dee, dia masih tak bisa menatap Hendrick setelah kejadian tadi. "Do you mad at me?" tanya Hendrick cemas. "Nggak, aku marah pada diriku sendiri, please Hend, lepaskan tanganku, aku mau mandi!" pinta Dee lagi. Dengan berat hati, Hendrick membiarkan Dee melangkah meninggalkannya. Tapi dengan cepat, Hendrick mengejar Dee dengan langkah lebar. "Pulang sekolah kita bicara, ok?" bujuk Hendrick. "Ok!" jawab Dee pendek. Setelah mandi dan berganti pakaian, Dee melangkahkan kakinya ke kantin bersama Tony dan Hendrick. "Dee... Do you have something yo need to tell me?" tanya Tony penuh selidik. "Tentang apa?" Dee balik tanya. "Kamu dan Hendrick?" sahut Tony. "Apa yang harus diomongin?" tanya Dee malas. "Ada sesuatu kan? Kamu sejak awal pelajaran olah raga sama sekali nggak mau menatap Hendrick, ya kan Rick?" Tony meminta pengukuhan dari Hendrick. "Hah?" tanya Hendrick bingung, karena dia tidak mendengarkan ocehan Tony, dia asyik menatap wajah Dee. "Kok 'HAH'? Ah.... Kalian bikin aku frustasi!!!!" pekik Tony. "Aku pengen makan siomay sama gado-gado!" gumam Dee. "Hiiiiih!!!!! Bocah ngeselin!!!" omel Tony sambil menjitak kepala Dee dan Hendrick, lalu pergi meninggalkan mereka dan masih tetap mengomel. "Yaaaa.... Mas Tony!!!! Sakit tau???? Dasar Gila!!!!" pekik Dee kencang. Tony hanya mengacungkan tinjunya tanpa menoleh ke belakang. "Haish... my forehead!!!" gerutu Dee menggosok bekas jitakan Tony. "Coba lihat!" Hendrick menyingkirkan rambut Dee yang menutupi keningnya, lalu meniup bekas jitakan Tony. "You don't have to!" Dee memalinglan wajahnya dan berniat meninggalkan Hendrick, tapi Hendrick menahan tangan Dee. "Dee, aku tau aku salah, tapi tolong lah, jangan begini, please!" pinta Hendrick, diremasnya tangan Dee yang ada digenggamannya. "Hend, aku bukannya marah, aku malu, seharusnya aku bisa menahanmu agar tidak menyentuhku, tapi malah berkali-kali aku ikut terhanyut." gumam Dee. "Itu salahku Dee, seharusnya aku menjagamu, bukan merusakmu, maafkan aku, sayang!" sahut Hendrick lirih. "Sa-sayang? Ini di sekolah, jangan asal sebut sayang!" omel Dee gusar. "Iya, iya.... ke kantin yuk, aku lapar!" ajak Hendrick sambil menarik tangan Dee pelan. Sesampainya di kantin, Yetnu, Lucky dan Tony sudah tampak mengantri. "Dee... Sini!" panggil Lucky. Dee buru-buru melepas pegangan tangan Hendrick, dan tentu saja membuat Hendrick kesal. "Kak... Pesankan siomay tanpa pare sama gado-gado ya, minumnya jus alpukat sama jus jeruk tanpa es dan gula!" ucap Dee girang saat sudah ada di sebelah Lucky yang melongo mendengar pesanan Dee. "Mau pesan itu semua? Bisa habis?" tanya Lucky. "Lapar, tadi sarapan cuma telur sebiji doang!" jawab Dee, " Aku tunggu di bangku yaaa.... Eh, bayarin ini sekalian!" Dee mencomot dua bungkus roti sisir dan satu kotak s**u UHT ukuran 160ml. Bibir keempat sahabatnya berkedut, emejink nih cewek, makannya banyak banget. "Gila tuh sepupu... Bisa makan segitu banyak tapi body nggak ada lemak-lemaknya sama sekali!" Yetnu geleng-geleng kepala. "Lemaknya lari ke d**a sama p****t!" dengus Lucky. "Kok tau?" tanya Hendrick kaget. "Ya tau lah, sepupuan kok nggak tau, aneh kamu tuh Rick!" jawab Tony. "Makanya banyak cowok nggak jelas yang naksir Dee gara-gara wajah sama bodynya!" gerutu Tony kesal. "Nape lu yang kesel Ton?" tanya Lucky. "Biar ngeselin dan tomboy ga ketulungan, dia udah ku anggap adikku, jadi wajarlah kalau aku nggak suka dia didekati cowok nggak jelas!" omel Tony. "Ehem.... kalau sebelahmu itu gimana?" tanya Yetnu sambil melirik Hendrick yang terlihat gusar. "Ngapain Rick?" tanya Lucky yang melihat kegusaran Hendrick. "Tolong pesankan aku lontong sayur dan es teh tawar, Dee lagi diganggu kakak kelas!" jawab Hendrick yang segera melesat ke arah Dee. "What the fuck.....!!!!! Nu... Pesankan punyaku dan Tony sekalian!" Lucky dan Tony segera melangkah meninggalkan Yetnu, yang memang kalem dan tidak bisa berkelahi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD