Sementara di dapur, wajah Dee masih terasa panas, dia membayangkan apa yang dilakukan Hendrick di kamarnya tadi.
"Ya Allah, jagalah iman kami" batin Dee.
Untuk mengenyahkan bayangan apa yang Hendrick lakukan di kamarnya, Dee buru-buru membuat bola-bola tekwan dan merebusnya ke dalam kaldu udang, sementara di kompor lain, Dee merebus bahan sambalnya.
Setelah memasukkan semua bola-bola tekwan ke dalam kuah tekwan, Dee menyiapkan tiga buah thermal lunch box dan satu buah thermal container di atas meja dapur.
Lalu Dee memasukkan semua bahan yang tersisa dan mencoba rasa dari masakannya, setelah dirasa pas, Dee mulai menuangkan tekwan ke dalam satu persatu thermal box dan container yang sudah disiapkan tadi. Memasukkan sambal dan jeruk nipis ke dalam cup kecil lalu Dee bergegas mengambil ponselnya dan memesan empat kurir dari aplikasi ojek online.
Hendrick yang baru selesai sholat Ashar melihat ada banyak thermal container di atas meja.
"Apa ini Dee?" tanya Hendrick penasaran.
"Tekwan" jawab Dee sambil mengutak atik ponselnya.
"Untuk siapa? Banyak amat?"
"Yang besar itu buat Uti sama Akung, kan bapak ibu di sana, yang orange itu buat mas Tony, pasti dia jajan karena bude ga di rumah, yang merah buat kak Lucky sama kak Dika, yang hijau ini buat Freddy, dia kan suka banget sama tekwan, jadi aku bawain agak banyak." jelas Dee.
"Freddy... Freddy... yang diingat." gerutu Hendrick.
"Ck... apaan sih, Freddy kan temanku, wajar dong kalau aku tau apa kesukaan dia." omel Dee. "Aku tau kok kesukaan semua orang, kamu suka martabak Aceh sama chiffon cake, mas Tony suka brownies sama rendang kacang merah, Yetnu suka nasi uduk sama kue koja, Freddy suka banget sama bakwan jagung dan tekwan, kak Lucky apa aja suka sih asal masakanku, mau batu digoreng kasih garam juga pasti dia makan." sambung Dee panjang lebar.
"Sorry... I got jealous so easily" ucap Hendrick.
"Freddy itu teman baik kita, jangan cemburu ga jelas gitu" sahut Dee.
Tak lama keempat kurir pesanan Dee datang, lalu Dee menyerahkan thermal box pada masing-masing kurir dan juga nasi box dengan lauk udang sambal dan plecing kangkung pada masing-masing driver untuk makan malam mereka.
Setelah semua kurir pergi Dee mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Lucky, Yetnu, Tony dan Freddy.
Tak berselang lama, satu persatu dari mereka membalas pesan dari Dee.
Lucky : "Terima kasih adik kesayangankuuuu."
Yetnu : "Thanks ya sepupuku yang paling cantiiiik."
Tony : "Makasih ya Dee, tau aja kalau mas kelaparan, hehehehehe."
Freddy : "Makasih bidadari kesayangankuuuu, tau aja nih kalau aku suka banget sama tekwan, kebetulan lagi ga enak badan, pengen seger-seger"
Dee tersenyum membaca balasan dari mereka, tapi kemudian dia terpaku menatap pesan Freddy, dan tanpa pikir panjang Dee langsung menelepon Freddy dan begitu sambungan pertama berbunyi langsung diangkat oleh Freddy.
Freddy : "Ya Dee...?"
Terdengar suara serak Freddy dari seberang.
Dee : "Ngga, cuma pengen tau aja, kamu kenapa?"
Freddy : "Tau nih, tadi pagi tiba-tiba aja demam sama pening kepala, kelihatannya gara-gara aku semalam balik dari jalan langsung mandi air dingin."
Dee : "Ceroboh banget sih! Kenapa ga masak air dulu buat mandi?"
Freddy : "Hey... Hey... Slow Dee... Jangan ngamuk ah, masa bidadari keluar taringnya."
Dee : "Jangan bercanda deh!"
Hendrick memperhatikan Dee, dia penasaran, siapa yang ditelepon Dee.
Terlihat wajah Dee yang begitu cemas.
Freddy : "Aku ga apa-apa, kamu tenang aja sih, sudah minum obat juga. Cuma pengen makan yang panas, pedas dan seger. Kebetulan banget kamu kirim tekwan, jadi berasa kaya suami yang dikirimi makan malam sama istri karena lembur, heheheheh"
Dee : "Apaan sih Fred, ga mutu banget candaannya! Ya udah itu nanti dimakan sama om dan tante ya, salam buat mereka sama buat kak Maya."
Freddy : "Iya deh, nanti begitu sampai langsung aku foto buat aku pamer, hehehehe... Yang lain juga dapat?"
Dee : "Iya, semua... tapi karena aku tau kamu suka banget sama tekwan aku bawain lebih banyak."
Freddy : "You are the best Dee....Muuuach...Muuuach!"
Dee : "Apaan sih, geli tau?! Ya udah, istirahat lagi, cepat sembuh ya, ketemu di sekolah besok pagi, bye Fred!"
Freddy : "Bye, thanks Dee!"
Dee pun menutup teleponnya, betapa terkejutnya dia, ternyata Hendrick sudah duduk di sampingnya.
"Freddy?" tanya Hendrick datar.
"Hmmm... Dia sakit." jawab Dee yang menunduk menatal ponselnya.
"Khawatir?" tanya Hendrick lagi dengan nada yang masih datar.
"Iyalah, namanya juga sahabat." jawab Dee lagi mulai agak tak nyaman dengan pertanyaan Hendrick.
"I can send you there to see him whether he is fine or not." Hendrick menatap Dee dengan tatapan marah.
"What are you trying to say?" balas Dee sambil menatap tajam ke arah Hendrick.
"Kamu bisa kesana buat rawat dia, aku antar." sahut Hendrick mulai menahan geram.
"Can you please trust me a little? Freddy itu teman kita, dia sakit, wajar kan kalau khawatir? Seperti dulu waktu kamu kena demam berdarah, kami semua khawatir dan gantian jaga kamu di rumah sakit. Lupa?" Dee mulai emosi, ga tahan dengan rasa cemburu Hendrick pada Freddy.
"Freddy sudah ada ayah dan ibunya juga kak Maya, so why should I go there? Aku sudah bilang kalau aku suka kamu, apa ada alasan bagus buat aku duain kamu sama Fre.... Hmp!!!" belum habis Dee bicara, Hendrick sudah mencium bibir Dee dengan tiba-tiba.
"I'm jealous Dee... Caramu bicara ke Freddy penuh perhatian gitu, cowo mana yang ga cemburu lihat pacarnya ngomong lembut ke cowok lain?" gumam Hendrick seraya menyandarkan kepalanya di bahu Dee.
"He is our friend, stop being jealous and rude to him, ok?" pinta Dee.
"But he also love you!" sahut Hendrick.
"Freddy ga bilang apapun ke aku jadi anggap aja aku ga tau, he is my bestie." Dee akhirnya membuat Hendrick terdiam.
Dee memang lebih terbuka pada Freddy, bahkan Tony dan Yetnu juga mengetahui hal itu. Mungkin karena sejak SMP mereka selalu duduk bersebelahan dan baru terpisah saat mereka masuk bangku SMU karena berbeda kelas. Dan mungkin juga karena sikap Freddy yang santai dan selalu bisa bikin Dee tertawa, walau kadang kegilaannya bikin Dee mengamuk, tapi Freddy akan dengan mudah membuat Dee tersenyum lagi. Dan mereka tidak pernah bisa marahan, lebih tepatnya Dee ga akan tahan marah pada Freddy lebih dari 5 menit. Hal ini lah yang bikin Hendrick cemas.
"Why'd put a long face?" tanya Dee melihat Hensrick yang cemberut.
"Still jealous?" sambung Dee.
Hendrick tiba-tiba memeluk Dee dengan erat. "Aku ga mau kehilangan kamu"
"I won't go anywhere least you leave me, but I'm still gonna catch you." sahut Dee dan dia pun membalas pelukan Hendrick.
"I love you Dee!" bisik Hendrick.
"I love you more, Hend!" balas Dee.
Sore itu, mereka berdua menunggu adzan maghrib di ruang tamu.
Dee merebahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Hendrick yang baru saja dari kamar mandi menghampiri Dee, mengangkat kaki Dee dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Capek?" Hendrick meminjat kaki Dee dengan lembut.
"Nggggh...." Dee melenguh tiba-tiba karena sentuhan Hendrick di kakinya.
"Don't do that, I felt weird, Hend. Kalau kakiku di pegang rasanya aneh, langsung merinding." ucap Dee sambil meremas bantal sofa, wajahnya memerah dan terlihat.... Sexy...
Hendrick buru-buru menghentikan pijatannya lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak sanggup melihat wajah Dee yang seperti itu, terlalu menggoda.
"Maaf, aku ga tau, kukira kamu capek Dee, jadi aku coba pijat." ucap Hendrick sambil berusaha menenangkan diri.
"Ng-ngga apa-apa, Hend." sahut Dee sambil bangkit dan masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
"A-aku ambilkan air." Hendrick berdiri dan bergegas menuju dapur mangambil air minum.
Dee bangkit untuk duduk saat Hendrick memberinya segelas air.
"Maaf ya Dee, aku nggak tau kalau kakimu itu se-sensitif." gumam Hendrick.
"Ngga apa-apa, aku juga baru tau ini." jawab Dee tertunduk malu.
TRING!!! TRING!!! TRING!!!
Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi berulang kali manandakan adanya teman yang mengupdate sosial media.
Hendrick membuka ponselnya dan melihat pemberitahuan, ternyata keempat sahabatnya sudah memposting sesuati di IG mereka, Hendrick lantas membuka IG dan langsung dibuat panas karena postingan Freddy.
Di sana tampak tekwan pemberian Dee sudah dipindah dalam mangkuk kaca besar dan Freddy berpose memeluk mangkuk kaca itu. Dalam captionnya tertulis "Terima kasih bidadari kesayanganku, tau aja nih ayang Freddy lagi ga enak badan, mana dikirimi tekwan kesukaan ayang tambah dikirimi pelukan hangat gini, ayang bisa cepat sembuh" yang diakhiri dengan emoji hati.
Postingan itu mengundang gelak tawa teman-teman Freddy yang spontan mengirim emoji muntah atau eneg. Hendrick dengan emosi buru-buru mengetik komentar.
"Ayang pale lu peyang!" diakhiri dengan emoji marah.
Tak menunggu lama Freddy membalas komentar Hendrick
"Dee memang kalau panggil aku ayang, mau protes?"
Hendrick yang geram melempar ponselnya ke meja.
"Kenapa Hend?" tanya Dee heran.
"Kamu kalau panggil Freddy pakai sebutan apa Dee?" tanya Hendrick emosi.
"Ya Freddy lah, memang apa?" Dee semakin heran.
"Jangan bohong, lihat postingan Freddy!" bentak Hendrick.
Dee yang baru pertama dibentak Hendrick langsung kaget dan sakit hati.
"Kamu bentak-bentak aku, memang apa salahku? Kalau karena postingan Freddy, bisa ga tanya baik-baik? Aku sama Freddy ga pernah tu sampai panggil pakai sebutan seperti itu. Kamu kaya ga kenal dia saja. Tapi ya bagus deh, cuma gara-gara itu kamu bentak-bentak aku, dan aku jadi tau seberapa besar kepercayaanmu ke aku." ucap Dee sedih, dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hendrick yang termenung mendengar perkataan Dee.
Hendrick mengusap kasar wajahnya, dia memang gampang emosi. Lalu dia berdiri dan menyusul Dee.
Dee masuk ke dalam kamar dan mempersiapkan buku yang harus dibawa besok. Tiba-tiba Hendrick memeluknya dari belakang.
"Sorry Dee..." bisik Hendrick.
"It's fine... Hubungan yang tidak dilandasi kepercayaan ga akan lama, Hend... Kalau kamu mau hubungan kita hanya seumur jagung, ya terusin aja seperti itu, aku ga apa-apa." sahut Dee pilu.
"Dee, aku ga ingin seperti itu." Hendrick mempererat pelukannya.
"Ini baru sehari Hend, tapi sudah berapa kali kita ribut karena Freddy? Baru sehari saja rasanya sudah capai." ungkap Dee sambil tetap menyiapkan buku-bukunya.
"Maaf Dee... "
"It's fine." jawab Dee dingin.
"I love you!" bisik Hendrick.
"I know, I love you more than you do!" balas Dee, "Tapi apa gunanya mencintai kalau tidak mau mempercayai Hend?" sambung Dee.
"I trust you, but not Freddy." sahut Hendrick.
"Kalau kamu percaya aku kenapa kau lampiaskan marahmu ke aku? Ibu sama bapak yang merawat aku dari kecil aja ga pernah bentak-bentak aku!" balas Dee getir.
"Dee... aku minta maaf" Hendrick membalikkan tubuh Dee agar menghadap ke arahnya, perlahan diciumnya bibir Dee dengan lembut.
"I'm sorry... I won't do that again." bisik Hendrick, lalu diciumnya lagi bibir Dee dengan lebih lembut, tanpa sadar Dee membuka mulutnya, Hendrick pun memagut bibir Dee lebih dalam. Mereka tidak berhenti sampai saat Dee mengeluarkan lenguhan lirih, mereka menghentikan ciuman mereka.
"I love you Dee!" bisik Hendrick sambil memeluk tubuh Dee.
"I love you too!" Dee membalas pelukan Hendrick.
Hendrick mengajak Dee keluar dari kamar, lalu mereka kembali duduk di sofa, Dee mengomentari postingan teman-temannya di IG sambil tersenyum-senyum.
Tiba-tiba ponsel Hendrick berdering, terlihat di layar kalau ID pemanggil adalah mamanya.
"Assalamu'alaikum, mama." Hendrick mengangkat telepon dari mamanya.
"Iya ma, maaf... Hendrick lagi ada di rumah Dee..... Iya, berdua, temani Dee aja karena sendirian.... Ehem... Ya enggak lah ma.... Iya ma iya... wa'alaikumsalam" Hendrick menutup teleponnya.
"Mama?" tanya Dee.
"Iya... Mama titip salam buat kamu." jawab Hendrick sambil memeluk bahu Dee.
"Wa'alaikumsalam... mama sama papa sehat?" tanya Dee lagi.
"Alhamdulillah sehat.... Dee...."
"Ya?"
"Kemungkinan libur kenaikan kelas ini aku balik ke Aceh." gumam Hendrick.
"Oh... ya ga apa-apa kan? Sudah hampir 2 tahun kamu ga pulang." balas Dee sambil menyandarkan kepalanya di bahu Hendrick.
"Kamu ikut ya? Aku ga tahan jauh-jauh dari kamu, makanya 2 tahun ini aku ga balik." pinta Hendrick.
"Ya ga mungkin lah Hend, ga akan bapak kasih ijin." jawab Dee.
"Aku mintakan ijin deh." bujuk Hendrick lagi.
"Percuma... Ga akan kasih ijin, kecuali ada salah satu dari kak Kiki, Yetnu atau mas Tony yang ikut, kalau aku sendiri itu mustahil." jawab Dee.
"Ck.... aku ga mau ajak mereka!" gerutu Hendrick.
"Ya udah sih, balik sendiri, lagi pula kan ga lama!"
"Seminggu Dee... lama!" rengek Hendrick.
"Kan bisa video call, ga usah bingung sih." bujuk Dee.
"Ck... kan lain!" gerutu Hendrick.
"Apaan sih, ngambek gitu ga lucu tau!" omel Dee.
"Biarin!" Hendrick memeluk erat tubuh Dee dan menghirup aroma tubuh Dee dalam-dalam.
"Ngapain sih Hend, lepasin ih... Nanti bingung mandi keramas lagi!" Dee mendorong tubuh Hendrick.
"Makanya ayo kita nikah setelah lulus SMU, biar aku ga bingung lagi!" Hendrick menyeringai lebar.
"Here we go again" sahut Dee jengah.
"Iya deh iya... ga ngomongin itu lagi!" balas Hendrick.
Tak lama sayup terdengar suara adzan Maghrib dari masjid di komplek perumahan.
"Jamaah yuk!" ajak Hendrick.
"Ayo!" Dee bangkit dari duduknya dan mereka berjalan menuju tempat wudlu.
Setelah sholat Maghrib, Hendrick memutuskan untuk mengaji sebentar sedangkan Dee berjalan menuju dapur untuk memanaskan dan menyiapkan makanan untuk makan malam.
Hendrick selesai mengaji sesaat setelah Dee selesai menata meja.
"Yuk, makan!" ajak Dee yang dibalas anggukan oleh Hendrick.
Dee mengambilkan nasi untuk Hendrick dan menyendokkan tekwan ke dalam mangkuk berisi nasi, didekatkannya mangkuk kecil berisi sambal dan jeruk nipis.
"Makasih Dee!" Hendrick meremas tangan Dee yang ada di atas meja.
"Sama-sama, cepetan dimakan, mumpung masih panas." Dee mengambil mangkuk dan menuangkan tekwan ke dalamnya
"Nggak pakai nasi?" tanya Hendrick.
"Nggak, ntar tambah gemuk." jawab Dee.
"Haaah... Sudah kubilang kamu itu nggak gemuk Dee, makan nasi lah, dikit aja!" bujuk Hendrick.
"Nggak ah... Udah deh, makan aja, nih... aaaa.. ." Dee menyuapkan nasi ke mulut Hendrick sebelum lelaki itu ngomel lagi. "Enak?" tanya Dee.
"Banget, apalagi disuapi sama kamu, double enaknya." gombal Hendrick.
"Dih.... mulai...!" gerutu Dee jengah.
"Hehehehe..."
Mereka berdua makan dengan khidmat, sesekali mereka saling suap dan bercanda. Setelah selesai makan dan membereskan meja, Dee meminta Hendrick duduk di ruang tamu, sementara dia mencuci piring. Hendrick hanya bisa menurut karena Dee menolak dibantu. Lalu setelah mencuci piring mereka berdua sholat isya berjamaah.
Selesai sholat, Dee menyiapkan dua gelas minuman dingin dan mengeluarkan chiffon cake yang tadi sempat dibuatnya, memasukkannya ke dalam kotak cake dan menaruhnya di atas meja makan, lalu dia membawa nampan berisi minuman dingin dan toples berisi kue bawang ke ruang tamu.
"Apa lagi sih Dee, kamu nyuruh aku gendut?" tanya Hendrick melihat Dee membawa camilan dan minuman ke ruang tamu.
"Nggak lah!" jawab Dee yang langsung berbalik ke ruang makan untuk mengambil chiffon cake.
"Ini... Janjiku waktu itu." Dee meletakkan chiffon cake di atas meja tamu.
"Apa ini?" tanya Hendrick sambil membuka kotak kue di depannya, yang lalu membeliakkan matanya tak percaya.
"Dee.. Aku sudah berulang kali bilang ga mau kamu kecapaian, kok malah bikin ini itu?" Hendrick merengkuh pinggang Dee dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Kalau sudah hobby ga kerasa capai, Hend... Lagian kan buat kamu, malah bahagia jadinya." Dee menatap lekat mata Hendrick.
"Terima kasih Dee... Aku nggak akan bisa berhenti mencintaimu!". Hendrick memeluk erat tubuh Dee dan menenggelamkan wajahnya di celah leher Dee.
"Jadi jangan berhenti, teruslah mencintaiku, Hend!" Dee membalas pelukan Hendrick.
Selang beberapa saat Dee melepaskan pelukannya, "I love you!" Dee mengecup ringan bibir Hendrick dan buru-buru bangkit dari pangkuan Hendrick lalu berlari menuju kamar.
Hendrick terkekeh melihat tingkah Dee, lalu perlahan dia melirik ke bawah dan mendesah panjang.
"Haaaaaah.... Lagi!!!" gerutunya sambil mengusap wajahnya dan tersenyum getir.
Dee keluar dari kamar membawa komik yang dibelinya tadi.
"Baca komik? Ngga belajar buat besok?" tanya Hendrick.
"Lagi ga ingin baca buku pelajaran." jawab Dee sambil menaikkan kakinya ke atas sofa.
"Dasar!" Hendrick tersenyum melihat tingkah pacarnya.
"Dee, nanti kalau aku tinggal pulang, kamu gimana?" tanya Hendrick sambil menghampiri Dee lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Apaan sih Hend, aku bisa duduk sendiri ih!" omel Dee kesal dan berusaha turun dari pangkuan Hendrick.
"Sssst.... STOP!!! Jangan gerak, sebentar aja sampai aku pulang nanti." pinta Hendrick.
"Apaan sih!" gerutu Dee tidak nyaman.
"Aku kan sebentar lagi pulang Dee." bisik Hendrick seraya memeluk Dee. "Kamu di rumah sendiri nggak apa-apa?" gumam Hendrick sambil mempererat pelukannya.
"Apaan sih, biasanya juga sendirian nggak kenapa-kenapa... Lebay ih." Dee menepuk-nepuk punggung Hendrick.
"Aku takut nanti kamu tiba-tiba kangen aku." Hendrick mengusapkan wajahnya di leher Dee.
Mulut Dee berkedut.
"Ngadi-ngadi deh... Baru juga ketemu." Dee terkekeh geli.
"Ya kali aja Dee, namanya juga baru jadian... Kamu ke kamar aja aku rasanya sudah kangen, gimana kalau aku pulang coba?" Hendrick kembali mengusapkan wajahnya ke leher Dee sampai Dee merinding selain karena dengar ucapan Hendrick yang lebay dan alay.
"Geli ih... Kaya bukan Hendrick aja bahasanya!" Dee mendorong bahu Hendrick untuk melepas pelukannya tapi tak berhasil.
"Kan bucin Dee...!" Hendrick melonggarkan pelukannya dan mengecup leher Dee.
"HEND...." pekik Dee yang kaget karena ciuman di lehernya.
"Hehehehehe.... Gemesnya lihat wajahmu yang merah malu-malu gitu!" Hendrick kembali memeluk erat Dee.
"Haaaah.... Aku nggak ingin pulang Dee..." desah Hendrick.
"Ngawur, bisa digrebek tau! Semalam aja ngatain Freddy c***l, lah ini sendirinya juga sama!" omel Dee, "Lagian kita juga sudah seharian jalan, besok juga ketemu di sekolah kan?" sambung Dee sambil mengusap kepala Hendrick.
Sebetulnya posisi mereka yang ambigu bikin Dee nggak nyaman, tapi berhubung Hendrick ingin manja, mau ga mau ya pasrah aja.
"Haaaah.... Lulus masih 1 tahun, kuliah paling ngga 4 tahun, kerja 1-2 tahun... lama amat nunggu kamu mau dihalalin Dee..." gerutu Hendrick sambil mendramatisir.
Dee menghela nafas panjang.
"Segitu pengennya kamu nikahi aku Hend?" tanya Dee.
"Aku cuma nggak ingin jauh dari kamu, kalau kita udah nikah kan nggak perlu jauh-jauhan, tinggal sama-sama, bisa temani kamu terus, bisa lihat kamu terus.... Kalau belum nikah kan gini... Kalau jam malam habis kudu pisah, ketemu paling di sekolah, kalau sekolah bubar ya balik rumah masing-masing, nunggu besok lagi buat ketemu. Untung aja ini bapak sama ibu nggak di rumah, jadi bisa seharian sama kamu, lha kalau di rumah kan ya paling cuma sejam dua jam.... Haaaaah... bete banget!" rajuk Hendrick semakin menjadi dan membuat Dee speechless.
"Lebay ah... Nggak segitunya kali!" Dee bingung menghadapi Hendrick yang out of the box gini.
"Itu belum ketambah si rese Tony, Yetnu sama Freddy, nah sekarang ada lagi itu Lucky... Asem bener...." runtuk Hendrick non stop.
Dengan gemas Dee menangkup pipi Hendrick dan mengecup hidungnya.
"Tapi kan yang bisa begini sama aku cuma kamu?" Dee ternsenyum manis lalu mengecup lembut bibir Hendrick.
"Love you, Hend!" Hendrick tertegun mendapat perlakuan seperti itu dari Dee, lalu secepat kilat direngkuhnya leher Dee dan dengan perlahan dan lembut, Hendrick memagut mesra bibir Dee.
Tak berapa lama, Hendrick melepaskan ciumannya, mengatur nafasnya lalu memeluk erat tubuh Dee.
"I'm addicted to your lips!" bisik Hendrick yang membuat Dee merasa wajahnya terbakar.
"Jam 20:00 aku pulang ya Dee, nggak apa-apa kan?" tanya Hendrick lirih.
"Iya... Nggak apa-apa, pulang aja." jawab Dee.
"Yah... Langsung diiyain.... Basa-basi dilarang pulang kek apa kek gitu.... Ini langsung iya aja!" Hendrick membenamkan wajahnya di lekukan leher Dee.
"Eh ini cowok.... Kok jadi alay gini sih Hend, geli tau?" Dee mendorong bahu Hendrick agar menjauh darinya, tapi pelukan Hendrick malah makin erat dan membuat Dee susah bergerak.
Akhirnya Dee hanya pasrah membiarkan Hendrick memeluknya.
Pukul 20:00 dengan berat hati Hendrick melepaskan pelukannya dan menurunkan Dee dari pangkuannya.
"Aku pulang dulu Dee, kalau ada apa langsung hubungi aku ya, sayang." Hendrick bangkit dari duduknya, diikuti Dee yang juga bangkit mengambil jaket Hendrick dan membantu Hendrick memakainya.
"Hati-hati ya, langsung pulang, ga usah mampir kemana-mana!" sahut Dee.
"Hmmmm.... " Hendrick memeluk Dee sekali lagi dan mencium keningnya, "Goodnight Dee!"
"Goodnight Hend!" balas Dee sambil mengantar Hendrick keluar.
"Masuk aja, gerbang aku yang kunci!" seru Hendrick.
"Hmmm...." Hendrick keluar dari halaman dan mengunci pintu pagar, lalu Dee perlahan masuk rumah dan mengunci pintunya.
Hatinya berdebar tak percaya jika hari ini dia dan Hendrick berubah status dari sahabat menjadi kekasih. Ditambah seharian ini dia menghabiskan waktu bersama Hendrick. Wajah Dee memerah panas mengingat apa saja yang tadi mereka lakukan. Untung saja mereka masih diberi kesadaran untuk tidak berbuat sesuatu yang fatal.
Sementara itu Hendrick menjalankan motornya perlahan meninggalkan rumah Dee dengan berat hati.