Chapter 12

4742 Words
Sesampainya di rumah, Dee segera melompat turun dari motor Hendrick dan berlari menuju pintu, dibukanya helm dan diletakkannya di atas meja teras lalu buru-buru dibukanya pintu depan. Hendrick bergegas memarkirkan motornya dan segera mengejar Dee yang sudah masuk ke dalam rumah. "Dee..." panggil Hendrick saat sudah ada di dalam rumah Dee, tapi dia tak melihat Dee dimanapun, lalu terdengar suara pintu ditutup dari arah kamar Dee. Perlahan Hendrick menghampiri kamar Dee dan mengetuk pintunya. "Dee... Aku minta maaf, tolong jangan seperti ini.... Aku salah, aku menyesal Dee, aku benar-benar menyesal." ucap Hendrick. Terdengar isakan dari dalam kamar Dee yang membuat Hendrick semakin kalut dan panik. "Dee, please open the door." bujuk Hendrick. "Leave me alone" seru Dee dari dalam kamar. "Aku ga akan pergi ninggalin kamu sebelum kita bicara." jawab Hendrick. "Ga ada yang perlu kita bicarakan Hend, please.... just leave me alone." pinta Dee di sela-sela isakannya. Hendrick menatap pintu kamar Dee, lalu dia memutuskan untuk duduk menunggu di ruang makan sambil memesan makanan untuk Dee. Hendrick mengusap kasar wajahnya, pikirannya kacau, dia tidak ingin hubungannya dengan Dee hancur, tapi dia telah mengacaukannya, seharusnya dia tidak melakukan itu pada Dee, seharusnya dia bisa lebih mengendalikan diri dari nafsu dan pikiran kotornya. "What should I do" desah Hendrick. "Aku ga ingin kehilangan Dee, aku ga ingin dia menjauhiku, aku hanya ingin mencintainya dalam diam, tapi kenapa malah seperti ini, aku mengacaukannya" gumam Hendrick menyesali perbuatannya tadi. Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya, Hendrick segera membukakan pintu dan menerima makanan yang dipesannya dari apilikasi, tak lupa dia memberikan 1 bungkus untuk drivernya. Hendrick membawa makanan itu ke meja makan, lalu mengambil piring dan memindahkannya ke dalam piring, setelah selesai diletakkannya piring berisi bubur ayam dan gelas berisi air di atas nampan, lalu dibawanya menuju kamar Dee. "Dee... Maaf aku masuk ya" Hendrick membuka pintu kamar Dee yang tidak terkunci, lalu masuk ke dalam. Dilihatnya Dee duduk meringkuk di atas tempat tidurnya sesekali terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya. Hati Hendrick terasa diremas-remas melihat Dee seperti itu. Perlahan Hendrick mendekati Dee, diletakkannya nampan yang dibawanya di atas meja belajar Dee, lalu Hendrick duduk di hadapan Dee. Disentuhnya tangan Dee dan diremasnya lembut. Dee yang terkejut karena sentuhan Hendrick, terlonjak dan memundurkan posisinya. "Dee, please...Don't be scare of me!" pinta Hendrick. "Mau apa? Siapa yang ijinkan kamu masuk?" tanya Dee dengan suara bergetar, Dee menggeser duduknya menjauh dari Hendrick. "Dee... Please, listen to me! I didn't do it on purpose, I do that because I was followed my feeling, I love you, I love you so so much, that is why I can't control myself." ucap Hendrick seraya menahan Dee agar tidak menjauhinya. Dee tercengang mendengar ungkapan perasaan Hendrick, dia tak percaya kalau Hendrick menyukainya. "Li-liar.... You are such a great liar!" desis Dee menatap Hendrick dengan mata nanar. "Aku ga bohong Dee, sumpah demi Allah, demi Rasulullah, aku suka kamu sejak kita masih kelas 1, atau mungkin sebelum itu aku sudah menyukaimu, tapi aku baru menyadarinya saat kita duduk di kelas 1 SMU. Dan ga hanya aku, tapi Freddy juga menaruh rasa yang sama, tapi kami memutuskan untuk memendam perasaan kami berdua, sampai pada akhirnya aku dan Freddy sepakat untuk mengungkapkan perasaan kami padamu, apapun hasilnya, siapapun yang kau suka kami akan terima itu Dee, tapi kumohon, maafkan aku, tadi aku benar-benar hilang kendali, perempuan yang selama ini kucintai ada dalam jarak sedekat itu aku jadi gelap mata, I... I feel the urge to kiss you, I'm really sorry." Hendrick membungkukkan tubuhnya di hadapan Dee yang hanya terdiam membisu. Hening beberapa saat, Hendrick mulai frustasi, "Dee... say something!" Hendrick mengangkat wajahnya, dilihatnya Dee sedang menatap dirinya dengan tatapan bingung. "Why do you love me?" tanya Dee. "Is loving someone need a reason?" Hendrick balik bertanya. "No.... Because when I realise my feeling towards you, I also can't find a reason" gumam Dee. Hendrick membelalakkan matanya. "Dee... kau bilang.... kamu...." Hendrick tergagap saking terkejutnya mendengar ucapan Dee. "...." Dee terdiam, malu. "You've heard wrong" ucapnya sambil memalingkan muka. "I'm not... say it again!" pinta Hendrick dengan semangat. "No!" jawab Dee pendek sambil menghindari tatapan Hendrick. "Kamu imut kalau malu-malu kaya gini, aku suka," bisik Hendrick seraya membelai pipi Dee dan tentu saja wajah Dee langsung memerah. "Non sense!" seru Dee. Tiba-tiba Hendrick meraih bahu Dee dan menyandarkan kepalanya di sana. "I love you... I love you so much" bisik Hendrick. "Hend... please jangan gini!" balas Dee, jantungnya berdetak kencang, bahagia karena perasaannya bersambut. "Aku bahagia Dee, aku sudah membayangkan kau akan menolak perasaanku, aku ga menyangka kalau perasaanku akan berbalas" Hendrick mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Dee. "Aku belum bilang apa-apa" sahut Dee. "Then say it!" Hendrick melepas pelukannya dan menatap Dee lekat-lekat. "I won't!" sahut Dee keras kepala. "Say it, please!" pinta Hendrick. "I love you" bisik Dee lirih. "I love you too" balas Hendrick sambil mencium kening, kedua pipi, dan hidung Dee. "Dee... May I kiss you?" tanya Hendrick, nafasnya mulai tidak teratur. "A-aku belum pernah cium bibir" sahut Dee tertunduk malu. "Neither I, Dee... This will be my first kiss too." balas Hendrick seraya mendekatkan bibirnya ke bibir Dee. Lalu perlahan dikecupnya bibir Dee, sekali... dua kali dan akhirnya Hendrick memagut bibir Dee dengan lembut, tangannya menahan leher dan pinggang Dee sementara Dee hanya bisa meremas selimut karena merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan. Tiba-tiba Hendrick menghentikan ciumannya, lalu memeluk erat Dee. "Kita harus berhenti kalau tidak ingin kebablasan" ucap Hendrick dengan suara serak. Dia mati-matian menahan gairahnya, dia harus menahan diri, mereka masih SMU dan belum menikah, dia juga tidak mau merusak kepercayaan orang tua Dee dan sahabat-sahabatnya. Dee menundukkan kepalanya, malu. Hendrick mengecup kening Dee. "Makan dulu, aku sudah pesan bubur ayam, mungkin sudah dingin, kita panaskan dulu ya." ucap Hendrick seraya menarik Dee untuk turun dari tempat tidur. "Kita ga boleh lama-lama di dalam kamar, banyak setannya" gurau Hendrick. Diambilnya nampan di atas meja belajar Dee dan membawanya keluar. Dee mengangguk dan berjalan mengikuti Hendrick dari belakang. Hendrick memanaskan bubur ayam dalam microwave, sementara Dee menyiapkan dua cangkir teh panas. Hendrick terlihat bahagia, gadis yang dia cintai selama ini membalas perasaannya, apa ini artinya Dee sekarang jadi pacarnya? Hendrick tersenyum lebar, tapi kemudian dia teringat Freddy. Apa yang harus dia katakan? "Hend, ayo makan!" ajak Dee yang sudah membawa nampan berisi 2 mangkuk bubur ayam dan 2 cangkir teh panas. Hendrick mengambil nampan dari tangan Dee dan membawanya ke meja makan. Mereka makan dengan tenang tanpa kata, sesekali Hendrick menyuapkan bubur ke mulut Dee atau sekedar membersihkan bubur yang menempel di sudut bibir Dee. Selesai makan, Dee segera membereskan meja dan mencuci pirong bekas mereka makan, sedangkan Hendrick menunggu sambil duduk di ruang tamu. Setelah selesai mencuci piring, Dee menyusul Hendrick ke ruang tamu. "Hend" panggil Dee, lalu Dee duduk di sebelah Hendrick. "Hm? Kenapa jauh gitu duduknya?" tanya Hendrick yang melihat Dee duduk dengan jarak 1 meter darinya. Hendrick bangkit, lalu berpindah tempat tepat di samping Dee. Direngkuhnya bahu Dee dan dikecupnya kening Dee. "Dee... Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Hendrick sambil menyandarkan kepalanya di kepala Dee. "Jangan membuatku malu, Hend!" jawab Dee sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan Hendrick. "Would you be my girlfriend?" tanya Hendrick lagi. "Tapi, bisakah kau berjanji untuk bersikap biasa saja di depan yang lain? Ma-maksudku, hubungan kita... " pinta Dee. "I know, I promise... Terima kasih Dee" jawab Hendrick seraya mengecup kening dan pipi Dee. Lalu perlahan Hendrick mencium bibir Dee dengan lembut. "Hend, please.... Jangan gini, I feel weird, badanku terasa panas." ucap Dee sambil mendorong d**a Hendrick. "Maaf, sepertinya kita ga boleh berduaan kaya gini deh." ucapnya dengan nafas yang terengah-engah. "Kita keluar aja yuk, ke Gramedia, katanya ada komik yang kau cari" ajak Hendrick. "Boleh, kita ajak yang lain ya?" pinta Dee, dia masih merasa aneh dengan status hubungannya bersama Hendrick. "Dee... This is our first date..." jawab Hendrick. "Ah, ok...." balas Dee malu-malu. "Aku cuci muka dan ganti baju dulu ya" sambung Dee. "Iya, ga usah dandan ya, aku ga mau kamu dipelototin cowok-cowok di sana nanti." sahut Hendrick yang hanya dibalas juluran lidah oleh Dee. Setelah mencuci muka, Dee mengoleskan sedikit sunscreen dan sedikit bedak di wajahnya, lalu mengoles tipis bibirnya dengan lip tint warna baby pink, setelah itu Dee memakai manset polos lengan panjang warna hitam dan oversize kemeja pendek warna baby blue dan mengikat ujung kemeja membentuk simpul tepat di bawah d**a. Dee hanya menggerai rambutnya, dia hanya membawa tali rambut yang dia kenakan di pergelangan tangan bersama dengan jam tangan kesayangannya. Setelah siap, Dee segera keluar dari kamar dan menghampiri Hendrick yang menunggunya di teras. "Yuk!" ajak Dee sambil mengunci pintu. Hendrick menatap lekat ke arah Dee. "Aku bilang ga usah dandan, tapi kenapa malah dandan secantik ini?" omel Hendrick. "Katanya our first date, ya lumrah lah kalau aku dressed up, harus seimbang dong, masa cowoknya ganteng tapi ceweknya kumal" sahut Dee kesal, "Nanti cewek-cewek yang lihat kamu bakal kesenangan trus lomba-lomba goda kamu!" gerutunya sambil meraih helm di meja, lalu bergegas berjalan menuju motor Hendrick. "Cemburu?" tanya Hendrick sambil mengejar Dee, dia tersenyum geli melihat wajah cemberut Dee. "Ngga, cuma ga suka aja, kamu boleh dilirik cewek masa aku ga boleh dilirik cowok" jawab Dee asal. "Say that again!" gumam Hendrick marah. "Ga mau! Jadi jalan ngga? Kalau engga aku telepon Freddy, biar aku pergi sama Freddy!" ancam Dee sambil mengambil ponselnya dari dalam tas selempangnya. "Don't you dare!" seru Hendrick. "Try me then!" balas Dee sambil mencari kontak Freddy di phone booknya. "Deeee...." rengek Hendrick. "Apa?" tanya Dee kesal. "Aku ngalah, sudah jangan hubungi Freddy, ok?" pinta Hendrick. "Hehehe... ok!" jawab Dee sambil tersenyum menang. "Yuk, berangkat, keburu siang, pegangan ya!" Hendrick menjalankan motornya perlahan setelah Dee naik. Jalanan kota menuju arah Gramedia terbilang padat, sehingga mereka memakan waktu lebih lama dari normal hanya 30 menit, mereka menempuh ya selama 45 menit. Setelah memarkir motornya di basement, Hendrick menggandeng tangan Dee memasuki toko buku terbesar di Jogja itu. Mereka langsung berjalan menuju deretan komik Jepang, Dee mencari-cari komik karya penulis favoritnya, Kyouko Hikawa. Hendrick membantu Dee mencari di rak lain, dan dia menemukan komik dari pengarang itu tapi dengan judul lain. "Dee, ini ada karya Kyouko, tapi judulnya lain, kelihatannya cetak ulang deh." seru Hendrick sambil mengamati komik itu. "Apa judulnya?" tanya Dee sambil menghampiri Hendrick. "Harmony" jawab Hendrick. "Ah, sudah punya.... kalau ada sih Mr. Friday sama yang aku cari ini Fairy Tale Motive Brocade seri 5" gumam Dee. "Iya deh aku bantu cari" jawab Hendrick mulai mencari lagi. "Kenapa sih kok suka banget sama karya Kyouko?" tanya Hendrick sambil membolak-balik buku yang ada di etalase. "Cerita sama artnya bagus. Kamu tau kan yang Dunia Mimpi? Male leadnya kan ganteng, cool gitu, tapi romantis.... Hehehe..." jawab Dee sambil membayangkan tokoh utama dari komik favoritnya itu. "Dih, gambar 2D doang gitu dibilang ganteng!" gerutu Hendrick. "Biarin lah, karakternya kan idola cewek banget tuh, tinggi, tegap, six pack, brave, gentle, romantis.... Ah, semua deh, perfect banget." oceh Dee, sampai dia tak menyadari kalau Hendrick sudah ada di sampingnya. Hendrick memegang pipi Dee lalu memalingkan wajah Dee ke arahnya, lalu CUP, kecupan ringan mendarat di bibir Dee. De membelalakkan matanya lalu melihat sekeliling, untungnya tak ada orang di sekitar mereka. "Hendrick!" bentak Dee kesal. "Apa?" balas Hendrick acuh tak acuh sambil melanjutkan mencari buku. "Jangan sembarangan deh, di tempat umum gini!" omel Dee setengah berbisik. "Suruh siapa suka sama karakter di komik? Aku aja ga cukup?" gerutu Hendrick. "Ya Allah... Cemburu? Really? Over the 2D character?" tanya Dee sambil terkekeh. "You are unreasonable!" Dee menghela nafas panjang. "Because I love you so much." Hendrick menatap tajam ke arah Dee. "Aku sudah ga tahan lihat keakrabanmu sama Tony, Freddy, Yetnu juga Lucky, sekarang ditambah tokoh dalam komik, mau bunuh aku karena cemburu?" tambah Hendrick. "Ok ok... aku ga mau debat, terserah kamu aja, tapi aku ga mau kamu cium-cium di tempat umum gini" Dee akhirnya mengalah. "Kening?" tawar Hendrick. "NO!!! Atau aku akan langsung balik!" ancam Dee. "Iya deh iya." jawab Hendrick menyerah. Setelah lebih dari 45 menit mereka mencari komik favorit Dee, akhirnya mereka menemukannya, lalu mereka beranjak menuju ke barisan buku-buku dan modul pelajaran. Setelah puas memilih-milih, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti berbelanja dan segera membayar di kasir. Waktu sudah menunjukkan pukul 11:45, Hendrick mengajak Dee menunaikan sholat Dhuhur di mushola yang tersedia di sana. Selesai sholat Dhuhur, Dee memeriksa ponselnya dan melihat ada pesan w******p dari sang ibu yang menanyakan sudah makan atau belum, dan memintanya untuk tidak menunggu kepulangan ibu, bapak dan adik-adiknya, karena mereka akan pulang besok selepas subuh. Setelah membalas dan memastikan agar kedua orang tuanya tidak khawatir, Dee memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang kecil miliknya dan bergegas keluar dari musholla. Tampak Hendrick sudah menunggunya sambil bersandar di dinding sambil menatap ponselnya dan tersenyum-senyum. Terlihat banyak cewek yang lalu lalang memperhatikan Hendrick sambil tertawa cekikikan. "What the hell are they laughing at?!" gerutu Dee kesal. Tapi karena melihat Hendrick yang masa bodoh, dia sedikit bernafas lega. Sampai akhirnya ada seorang cewek yang nekad mendekati Hendrick dan menyentuh lengan Hendrick yang kokoh, Dee langsung meradang dan menghampiri mereka dengan nafas memburu. "Hai, boleh kenalan?" tanya cewek itu sambil menyentuh lengan Hendrick. Hendrick yang kaget karena disentuh orang tidak dikenal buru-buru menarik lengannya untuk menghindari sentuhan yang lain. "...." Hendrick hanya mengernyitkan keningnya tanda tidak suka. "Aku Mella, kelas 3 SMU Jogja, kamu siapa?" ucap cewek itu sambil terus mendekati Hendrick yang juga menghindari cewek itu. Dee yang kesal, buru-buru mengeluarkan tissue basah lalu menghampiri Hendrick dan menarik lengannya. "Dia pacarku, ada keperluan apa?" ucap Dee sambil melap lengan Hendrick yang tadi disentuh oleh cewek bernama Mella. Hendrick yang tadinya berwajah dingin, langsung berubah ketika melihat Dee uring-uringan. Cewek bernama Mella memandang Dee dari ujung rambut ke ujung kaki, lalu dia akhirnya meminta maaf, "Sorry, aku kira tadi dia sendiri, makanya aku ajak kenalan, ternyata sudah punya pacar, maaf ya" Mella langsung melangkah pergi meninggalkan Dee dan Hendrick, "Ceweknya imut banget, kaya anak di bawah umur, tapi cantik, kalah banyak aku" batinnya. Sepeninggal Mella, Dee melepas kasar lengan Hendrick lalu membuang tissue basah bekas melap tangan Hendrick ke tempat sampah di sana. Lalu tanpa ba bi bu, Dee berjalan meninggalkan Hendrick yang masih tersenyum-senyum melihat tingkah imut Dee yang terbakar cemburu. Saat Dee sudah agak jauh, Hendrick buru-buru mengejarnya, dan setelah Dee berada di dekat jangkauannya, Hendrick meraih pinggang Dee dan berjalan di sampingnya. "Ngambek?" goda Hendrick. "Ngga tuh! Kirain ga nyusul aku, kirain mau kejar tuh cewek, padahal aku sudah siap-siap panggil back up teman ngedate." balas Dee kesal. "Who???" tanya Hendrick. Dee diam saja, hanya menunjukkan ponselnya dan di sana tampak chatnya dengan Freddy yang spontan membuat Hendrick meradang. "Freddy Freddy Freddy terus, suka sama dia?" tanya Hendrick yang sudah benar-benar kesal. "Enggak, tapi setidaknya Freddy ga terlalu menarik perhatian cewek-cewek gatel." jawab Dee santai. "Siapa bilang? Karena sifat pemalunya itu Freddy banyak digandrungi cewek-cewek di sekolah maupun di luar sekolah, kamu aja yang ga tau." sahut Hendrick semakin kesal. "Ya biar aja, dia juga bukan pacarku, sekalipun dia didekati cewek sedunia aku ga akan mati karena cemburu!" balas Dee yang juga kesal. "Jadi beneran cemburu?" goda Hendrick sambil tersenyum girang. "Non sense!" jawab Dee sambil berlalu meninggalkan Hendrick, tapi dengan gesit Hendrick meraih tangan Dee dan menahannya. "Ngomong jujur kalau ga aku cium sekarang, di sini" ancam Hendrick sambil menyentuh bibir Dee. "Coba aja, sekali nekad cium, aku langsung telepon Freddy!" Dee mengancam balik. "Aaaargh... Ok ok..." ucap Hendrick frustasi. Dee melepaskan tangan Hendrick dan buru-buru melangkah menuju motor Hendrick dan menunggu Hendrick menyusulnya. Setelah Hendrick tiba di sampingnya, tiba-tiba Dee menarik kerah kaosnya dan mengecup bibir Hendrick dengan cepat, "Yes, I'm jealous, I hate when other girls try to get close to you, I hate you being touched by other girls, I hate it!!!" ucap Dee tepat di depan wajah Hendrick. "I know" jawab Hendrick sambil meraih tengkuk Dee dan mulai mencium lembut bibir Dee. "Kamu imut kalau cemburu" ucap Hendrick melepas ciumannya, nafasnya memburu. "Kita ga boleh sering-sering begini Dee, aku takut nanti kebablasan" bisik Hendrick, "Kita kebablasannya nunggu kamu setelah jadi istriku ya" sambungnya. Wajah Dee langsung memerah, dia teringat obrolan semalam tentang Hendrick yang akan membuat istrinya o*****e berkali-kali, walau Dee sendiri tidak begitu paham arti dari orgasm. "Jangan ngelantur!" gumam Dee. "Hehehehe...." Hendrick terkekeh melihat wajah Dee yang seperti kepiting rebus. "Makan siang yuk!" ajak Hendrick. "Masih kenyang ah, nanti aja." jawab Dee. "Ya udah, kalau gitu kita pulang?" tanya Hendrick. "Boleh, tapi ibu sama bapak pulangnya baru besok subuh" jawab Dee. "Sendiri lagi di rumah? Ya udah aku temani." sahut Hendrick. "Ngga usah!" seru Dee. "Kenapa?" "Ga ada orang di rumah, nanti kamu gitu-gitu...." gumam Dee lirih. Hendrick tertawa mendengarnya. "Ya engga lah Dee, aku ga sebejat itu. Kamu tenang aja! Kalau perlu kita panggil yang lain buat ke rumah temani kamu." usul Hendrick. "Ga usah, kudengar Freddy lagi sibuk buat persiapan kegiatan Pramuka dan PMR, kasihan, capai dia." ucap Dee. "Tau banget sih jadwal Freddy?" omel Hendrick. "Semua tau kali Hend, ga cuma aku, wong yang kasih tau itu malah mas Tony sama Yetnu, kamu aja yang kebangetan ga peduli sama Freddy." Dee balas mengomel. "Ya wes ya, maaf... Yuk pulang aja!" ajak Hendrick sambil memakaikan helm di kepala Dee, lalu mengeluarka motornya dari barisan parkiran motor dan menaikinya. Setelah Dee naik, Hendrick melajukan motornya dengan kecepatan sedang. "Hend, mampir pasar Kranggan yuk, beli apa gitu, buat makan siang atau makan malam nanti" ajak Dee. "Beli aja lah Dee, aku ga mau kamu cape-cape. Kan tadi habis berenang." larang Hendrick. "Boros tau, kamu tuh kost di sini, yang hemat dikit, kasihan papa mama lah, uangnya dihambur-hambur." omel Dee. "Tapi aku ga mau kamu cape!" balas Hendrick. "Ya kita beli bahan buat makan malam aja, siang kita beli kue-kue di pasar, tiba-tiba aku pengen makan lupis sama nasi kucing." bujuk Dee. "Ya udah, kalau masaknya buat malam." Hendrick akhirnya mengalah. Lalu Hendrick mengambil jalur untuk melakukan u-turn dan mengarahkan motornya ke pasar favorit Dee. Sesampainya di pasar Kranggan, Dee langsung melompat turun dari motor dan melepas helmnya dan memberikannya pada Hendrick, lalu dia bergegas masuk pasar ke bagian seafood. Hendrick hanya geleng-geleng kepala, heran karena Dee kelihatan bahagia walau hanya belanja di pasar, tidak seperti perempuan lain yang lebih suka ke mall atau salon. Hendrick berjalan menyusul Dee agar tidak kehilangan jejaknya, karena bete banget kalau cari seseorang di antara kerumunan orang banyak. "Dee, pelan-pelan aja, ga usah lari!" seru Hendrick tapi tak dipedulikan oleh Dee yang terus berlari kecil ke arah los penjual seafood. Sampai di salah satu stall seafood yang masih terbilang lengkap, Dee berhenti dan melihat-lihat. "Mau beli apa mba, kebetulan ini baru pada datang, jadi masih segar-segar" ucap mas-mas penjual sambil menawarkan dagangannya. "Ada ikan tenggiri ga mas?" tanya Dee sambil mencari-cari ikan tenggiri. "Ada ini mba, sekilo 42 ribu, lumayan gede ikannya" jawab mas penjual sambil terus memandangi Dee. Hendrick yang sudah dari tadi melihat hal itu langsung mempercepat langkahnya menghampiri Dee dan buru-buru merangkul bahunya. "Mau masak apa?" tanya Hendrick. "Tekwan, mau?" jawab Dee yang langsung balik bertanya. "Apa aja asal masakanmu pasti mau" jawab Hendrick sambil mengusap kepala Dee. "Istrinya to mas? Kirain masih single ini mbanya, imut banget soalnya kaya anak di bawah umur" gurau mas penjual seafood. "Bu..." "Iya, istri saya ini, masih pengantin baru, memang banyak yang ngira kalau istri saya ini masih di bawah umur." jawab Hendrick memotong perkataan Dee yang membuat Dee melotot ke arahnya. "Oooo.... Tapi pantes kok pantes, semoga segera dikasih momongan ya" sahut mas seafood sambil mengacungkan ibu jari ke arah mereka. "Mau berapa kilo mba tenggirinya?" "Tiga kilo mas." jawab Dee sambil masih melotot ke arah Hendrick dan Hendrick hanya membalasnya dengan nyengir kuda yang membuat Dee tambah kesal. "Ini mba, 120 ribu aja, mau nambah apa lagi?" ucap masnya setelah selesai menimbang ikan tenggiri pesanan Dee. "Udangnya dong mas, yang jerbung 1kg aja" "Oke mba, ini sekilo 80ribu ya, jadi semua 200ribu mba" sahut mas seafood yang dengan cekatan menimbang udang yang sebagian masih bergerak-gerak. Hendrick membuka dompetnya dan berniat membayar, tetapi Dee sudah mengulurkan dua lembar uang 100 ribuan kepada mas penjualnya, lalu menerima bungkusan ikan dan udang dengan senyuman manisnya. Hendrick buru-buru menarik Dee meninggalkan tempat itu, dia tak suka Dee terlalu ramah ke lelaki lain. Bikin panas hati aja. Hendrick mengambil plastik berisi ikan dan udang dari tangan Dee, karena dia tau kalau 4kg itu tidak ringan. Lalu dia celingukan mencari penjual tas belanja, setelah ketemu, Hendrick segera mengajak Dee untuk membeli 1 tas belanja yang terbuat dari anyaman plastik, lalu meletakkan seafood belanjaan di dalamnya. Mereka melanjutkan belanja membeli bunga sedap malam, jamur dan lainnya, tak lupa Dee membeli lupis di warung langganannya dan nasi kucing di angkringan depan pasar. Setelah semua lengkap dibeli, merekapun kembali menuju rumah Dee. Sesampainya di rumah, Dee segera berganti pakaian dan mencuci tangan dan kakinya, sementara Hendrick membantu mengangkat barang dan belanjaan ke dalam rumah, baru setelahnya dia membasuh tangan dan kakinya, lalu Hendrick bergegas ke ruang makan, terlihat Dee sedang meletakkan piring berisi nasi kucing, gorengan, sate telur puyuh, sate usus dan sate ati, juga ada kue lupis dan juga es cincau yang tadi dibelinya di pasar. "Makan dulu, Hend" ajak Dee begitu melihat Hendrick menghampirinya. "Hmmm.... Dee, kamu sadar ga kalau sekarang ini kita sudah kaya suami istri?" goda Hendrick sambil tersenyum nakal ke arah Dee. "Ngawur!" sahut Dee kesal, tapi wajahnya tersipu malu. "Hehehehehe... Lulus SMU aku bakal minta papa mama buat melamar kamu deh, biar bisa cepat kuhalalin." ucap Hendrick serius. "Aku ga mau, aku masih ingin sekolah dan kerja." sahut Dee cepat. "Kan bisa kita nikah tapi tetap kuliah dan kerja, aku ga akan larang kamu" bujuk Hendrick sambil menyuapi Dee dengan nasi kucing lauk sambal teri kesukaannya. "Hend... baru berapa jam kita jalan berdu, jangan ngomongin soal itu ah!" jawab Dee tertunduk malu. "Hmmmm.... Tapi itu memang sudah masuk dalam rencana hidupku Dee, kalau seandainya kamu terima aku, memang aku berencana segera menikah denganmu setelah lulus nanti, kuliah dan kerja saat kita sudah menikah, lalu punya anak" gumam Hendrick. "A-anak? Punya anak kan harus... harus...." ucap Dee gugup. "Ya makanya kalau mau 'itu' kita kan harus halal dulu." jawab Hendrick sambil tersenyum menggoda. "I-itu apa?" tanya Dee menatap horor ke arah Hendrick. "Ya hubungan suami istri to Dee, kalau mau punya anak kan begitu prosesnya?" seringai Hendrick sambil mengedipkan sebelah matanya. "Noooo... Ga mau.... Aku ga mau kau buat or... Orgasm berkali-kali, aku ga mau!" seru Dee sambil melompat berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena malu. "Ya harus to... Kok kamu masih ingat kata-kata itu? Kepikiran ya?" Hendrick semakin menggoda Dee. "Ma-mana ada... Stop it!" Dee buru-buru meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamarnya. "Hah... malah masuk kamar, tempat paling bahaya... Ck... mungkin aku kebablasan menggodanya" gumam Hendrick seraya membereskan bekas mereka makan dan mencucinya, lalu setelah membasuh kedua tangannya, Hendrick menyusul Dee ke dalam kamar. "Dee... aku masuk ya" perlahan Hendrick membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar Dee, dia sengaja tidak menutup pintu kamar. "Ma-mau apa?" tanya Dee. "Mau ajak keluar kamar, di kamar ga baik kalau berduaan, banyak setannya... Yuk keluar, aku bantuin masak" ajak Hendrick lembut sambil meraih tangan Dee. "Janji ga ngomongin nikah lagi?" pinta Dee "Iya janji, kita omongin kalau sudah waktunya aja, ok?" bujuk Hendrick "Hmmm.." jawab Dee yang segera turun dari tempat tidurnya. Dee berdiri di hadapan Hendrick, menatap lekat padanya, "Hend, I love you so much since we're still at junior high school, but talking about marriage now is too early for us. Aku juga ingin menikah dan punya anak nantinya, tapi itu nanti, ga dalam waktu dekat ini" ucap Dee. "I know, I'm sorry.... I just feel that I can't live for long time without you by my side, Dee" balas Hendrick lirih, direngkuhnya pinggang Dee dan dengan perlahan Hendrick mendaratkan bibirnya di atas bibir Dee, lalu memagutnya. Dee merasa tersengat listrik ribuan volt tiba-tiba membuka mulutnya dan membuat Hendrick semakin memperdalam ciumannya. Dee mencengkeram erat baju Hendrick untuk menahan gejolak aneh dalam dirinya, sedangkan Hendrick semakin merapatkan tubuh Dee dengan tubuhnya. Dan setelah mereka sama-sama kehabisan oksigen, Hendrick melepaskan ciumannya. "We can't be like this, it's dangerous, that is why we need to get married soon!" gumam Hendrick sambil mengatur nafasnya yang memburu, diusapnya bibir Dee dengan ibu jarinya. Dee melepaskan cengkeramannya dari baju Hendrick, lalu dengan lembut menyentuh pipi Hendrick. "I love you" ucap Dee sambil menatap mata Hendrick dengan penuh cinta, lalu dengan cepat Dee mengecup bibir Hendrick dan secepat kilat dia melarikan diri keluar dari kamar. "Dee....!!!" seru Hendrick yang segera berbalik arah, namun pada saat dia akan melangkah ada rasa tidak nyaman, Hendrick melirik ke bawah, dan benar saja.... "Hah.... Memang kudu cepat-cepat nikah lulus SMU ini, nahan setahun lagi..." desah Hendrick yang dengan susah payah berjalan menuju kamar mandi. "Dee, boleh pinjam handuk?" tanya Hendrick sebelum masuk kamar mandi. "Hah? Boleh... mau mandi?" sahut Dee seraya mengambilkan handuk untuk Hendrick. "Iya, gerah ini" jawab Hendrick menutupi gelisahnya. "Nih, aku di dapur ya" ucap Dee sambil menyerahkan handuk pada Hendrick. "Hmm... Thanks Dee, masaknya tunggu aku ya, aku bantuin" ujar Hendrick sebelum menutup pintu dan dibalas senyuman oleh Dee. Dee melangkah menuju dapur, dipakainya apron warna hitam lalu dengan cepat Dee membersihkan ikan tenggiri dan udang yang dibelinya tadi. Dengan cekatan Dee memisahkan daging ikan dari tulang dan duri-duri kecilnya lalu memasukkannya ke dalam chopper bersama dengan bahan lain. Setelah menjadi adonan halus, Dee mematikan chopper dan segera membuat kaldu udang untuk kuah tekwan menggunakan panci besar milik sang ibu. Dee melirik ke arah jam dinding, sudah hampir ashar dan Hendrick belum keluar dari kamar mandi padahal sudah lebih dari 20 menit. Setelah membuat kaldu udang, merendam jamur dan bunga sedap malam, Dee melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, perlahan diketuknya pintu kamar mandi. "Hend, sudah hampir ashar lho!" panggil Dee. Perlahan pintu kamar mandi terbuka, Hendrick keluar dengan rambut basah dan wajah yang memerah. "Kamu ga apa-apa?" tanya Dee cemas melihat kondisi Hendrick, ditambah nafas yang tak teratur membuat Dee semakin khawatir, disentuhnya wajah Hendrick dengan lembut. "Dee... Don't touch me first ok, I need to calm myself down" ucap Hendrick sambil menahan tangan Dee agar tak lebih menyentuhnya. Hampir setengah jam Hendrick mendinginkan pikiran dan hasratnya tapi tak berhasil, kalau Dee menyentuhnya lagi, dia bisa gila. "Kenapa Hend? Jangan bikin takut." Dee semakin cemas menatap Hendrick. "Just leave me alone first, I don't want to harm you. Boleh aku di kamarmu sebentar?" pinta Hendrick. "Bo-boleh, aku ambilkan sarung dan sajadah ya, kalau mau sholat sekalian, sudah adzan ashar!" sahut Dee sambil bergegas ke kamar tamu dan mengambil sarung Yetnu untuk dipakai Hendrick. "Hend, ini sarung dan sajadahnya!" Dee menguluekan sarung dan sajadah ke arah Hendrick, dan Hendrick menerimanya. "Aku tinggal ya, kalau memang ga enak badan tidur aja ngga apa-apa, nanti kalau sudah matang masakannya aku bangunin" ucap Dee sambil membelai tangan Hendrick dan membuat Hendrick menahan erangan yang nyaris keluar dari mulutnya. Sepeninggal Dee, Hendrick buru-buru menutup kamar dan menguncinya. Dia merasa sangat tersiksa karena gairahnya tak kunjung padam walau sudah mandi air dingin tadi. "Damn it, should I release my desire here? Aku ga tahan lagi, it's killing me." gumam Hendrick gelisah, seluruh tubuhnya terasa sakit, dia tidak ingin melepas hasratnya di rumah Dee tapi dia sudah tak tahan dengan sakitnya. "I'm sorry Dee" lenguh Hendrick seraya membebaskan tahanan kecil yang sudah dari tadi memberontak ingin keluar. Akhirnya di tengah desahan panjang Hendrick menyebut nama Dee dengan bergetar ,"Aaah... Dee..." Setelah lega, Hendrick mengatur nafasnya dan membersihkan bekas-bekas yang ada. Lalu keluar kamar Dee dengan cepat menuju kamar mandi untuk mandi lagi. Setelah 10 menit, Hendrick keluar dari kamar mandi dan berpapasan dengan Dee yang baru selesai sholat Ashar. "Mandi lagi Hend? Sudah enakan?" tanya Dee heran lalu menatap rambut basah Hendrick. "I-iya, sudah...." jawab Hendrick gugup. "Hend... Jangan bilang kalau kamu.... Itu...." tanya Dee malu-malu sambil menunjuk bagian bawah perut Hendrick. "Ah, Dee... I-itu... Ta-tadi a-aku...." Hendrick malu bukan main karena ketahuan oleh Dee. "Why?" tanya Dee bingung. "Because of you!" jawab Hendrick, "We should not kissing too deep, or else it will suddenly up" gumam Hendrick lirih. "Oh... I get it" sahut Dee buru-buru menyingkir dari hadapan Hendrick dengan wajah seperti udang rebus. Untuk menutupi panik dan malunya, Dee langsung menyibukkan diri di dapur, sedangkan Hendrick melaksanakan sholat ashar dan memohon ampun atas perbuatannya tadi, dia tahu itu dosa tetapi tetap melakukannya. Hendrick berjanji untuk tidak terlalu sering menghabiskan waktu hanya berdua dengan Dee, or else it would turn a happiness into a disaster. Chapter 12 ~end~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD