Dini hari alarm Dee berbunyi pukul 4:00 pagi. Dee menggeliat bangun, lalu meraih ponselnya dan mematikan alarm. Dee bangkit dari tidurnya, mengerjapkan mata beberapa kali lalu melangkah ke dapur untuk memasak air panas, karena haidnya sudah selesai, jadi Dee harus mandi keramas.
Setelah mandi, Dee langsung mengambil air wudlu dan segera sholat subuh. Selesai sholat subuh Dee bergegas ke dapur untuk membuat bekal yang akan dibawanya berenang. Dee memutuskan untuk membuat egg sandwich dan cheese sandwich.
Dee memasukkan 8 potong sandwich ke dalam kotak makan, tak lupa dia mencuci dan mengepack strawberry dan pisang yang dibelinya kemarin dan juga membuat minuman panas yang dimasukkan ke dalam termos. Setelah selesai, Dee segera mengganti baju rumahnya dengan celana training warna hitam dan t-shirt putih. Tak lupa Dee juga memakai jaket sport warna hitam. Dee mengepang rambutnya lalu menggelungnya ke atas. Setelah selesai, Dee meraih tas sport dan ponselnya, lalu beranjak keluar dari kamarnya untuk menunggu Hendrick di teras rumah.
Dee mengunci semua pintu, dan dia duduk di kursi teras sembari memainkan ponselnya. Pukul 05:30 Hendrick tiba di depan rumah mengendarai motor hitamnya.
"Assalamu'alaikum Dee, maaf telat, sudah nunggu lama?." sapa Hendrick seraya membuka helmnya.
"Wa'alaikumsalam Hend, enggak, baru aja aku keluar ini... Lho, kamu kenapa kok kaya kurang tidur gitu?" tanya Dee cemas melihat wajah Hendrick yang kusut dan mata yang diliputi lingkaran hitam.
"Ga apa-apa, semalam aku ga bisa tidur" jawab Hendrick.
Ya, semalam Hendrick memang ga bisa tidur karena bayangan Dee sore kemarin terus menari-nari di kelopak matanya. Hendrick baru bisa tidur setelah jam 2 pagi, dan terbangun saat subuh tadi yang mengharuskannya mandi keramas sebelum sholat subuh, hahahaha....
"Kalau kurang tidur, baiknya ga jadi aja deh Hend, nanti kamu sakit." ucap Dee cemas.
"Ga apa-apa, udah biasa Dee, yuk jalan sekarang!" Hendrick meraih sport bag milik Dee dan menaruhnya di bagian depan motornya, lalu Hendrick memberikan helm kepada Dee untuk dipakainya. Setelah Dee menaiki motor, Hendrick menyalakan motornya dan menjalankannya perlahan.
Jarak antara rumah Dee dan GOR yang mereka tuju lumayan jauh, sekitar 20 menit perjalanan menggunakan motor.
Pukul 06:05 mereka sampai, tampak di GOR sudah ramai pengunjung, Hendrick menggandeng Dee menuju ke arah bangku di tepi lapangan dan meletakkan tas mereka di sana. Lalu mereka melakukan pemanasan sebelum lari.
Setelah selesai pemanasan, Dee melepaskan jaket lalu melipatnya dan meletakkannya di atas tasnya.
"Yuk!" ajak Dee sembari menarik tangan Hendrick.
"Sebentar" ucap Hendrick sambil berjongkok lalu dia membetulkan tali sepatu Dee yang terurai yang membuat Dee ternganga melihatnya.
"Hend, ga perlu begitu lah, aku bisa benerin sendiri lho" Dee ikut berjongkok.
"It's ok, ga tiap hari juga kan?" balas Hendrick seraya mengusap kepala Dee, lalu dia bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Dee berdiri.
"Thanks Hend..." ucap Dee.
"Anytime" balas Hendrick. "Yuk, kita lari beberapa putaran dulu baru setelahnya kita berenang" ajak Hendrick.
"Hmmmm... 10 putaran ya Hend" pinta Dee.
"No.... you still have your period, so that's a big no" jawab Hendrick.
"Engga kok, udah selesai tuh, baru subuh tadi bersih." sahut Dee malu-malu.
"But still no... 5 laps are more than enough"
"Annoying... Trus kapan aku kurusnya?" gerutu Dee kesal.
"Apa yang mau dikurusin coba? Lemak yang ada udah bener tempatnya, apa lagi yang mau dihilangin?" debat Hendrick, mereka sudah berlari 1/2 putaran.
"Bener tempatnya gimana?" tanya Dee bingung.
"Ya sudah pas lah, di situ dan di situ" jawab Hendrick seraya menunjuk d**a dan p****t Dee.
"...." Dee terdiam melihat Hendrick dengan santai menunjuk d**a dan pantatnya
"HENDRICK JENEEEEES!!!!" pekik Dee seraya memukul bahu Hendrick.
"Kamu mikir apa sih, m***m banget!" seru Dee sambil terus memukul bahu Hendrick, mukanya merah karena malu. Memang bisa dibilang d**a dan p****t Dee termasuk dalam golongan berisi, itu sebabnya dia selalu memakai baju oversize untuk menutupi d**a dan pantatnya.
"Aduh.... Aduh... Sakit, Dee... Aku bicara jujur kok, bukan m***m atau apa" Hendrick berusaha menghindari pukulan Dee.
"Ga sopan tau!" gerutu Dee, dia menghentikan pukulannya lalu berlari meninggalkan Hendrick.
"Ah.... Dee, kok ninggal sih" Hendrick mempercepat larinya menyusul Dee.
"Jangan marah dong Dee, maksudku bukan mau m***m, aku pikir badanmu itu sudah bagus, sudah proporsional, pas sama tinggi badan dan berat badan juga, jadi ga perlu diet buat ngurangi berat badan. Cukup olahraga aja biar sehat." jelas Hendrick.
"Tapi aku ga pede, makanya aku lebih nyaman pakai baju oversize." gumam Dee.
"Boleh aku jujur Dee?" tanya Hendrick.
"Ya... Jujur aja" jawab Dee.
"You have slim body, very good shape body, bisa dibilang sexy... Jadi kalau kamu berpenampilan pakai baju oversize dan celana hot pants itu.... Ehem... Ja-jadi kelihatan makin sexy." ucap Hendrick seraya memalingkan wajahnya yang memerah.
"What the hell do you talking about?" gerutu Dee, wajahnya juga memerah karena malu.
"A-aku cuma ngomong jujur. Ja-jadi, sebaiknya kamu kalau pergi-pergi jangan pakai baju seperti itu ya, aku ga tahan lihat kamu ditatap cowok-cowok dengan tatapan lapar seolah mau nerkam kamu." ucap Hendrick geram.
"Do you know, sekarangpun kau sudah jadi santapan mata cowok-cowok yang ada di sini, pengen rasanya aku congkel mata mereka satu-satu." matanya melotot ke arah para lelaki yang secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan memandangi Dee dengan tatapan lapar.
"Mana ada Hend, lagian aku juga ga cantik" ucap Dee. Mereka masih terus berlari.
"Cantik, kalau ga kan ya ga mungkin banyak yang kirim surat ke kamu"
"Hih.... gombal amat"
"Kok ga percaya amat, coba aja kamu ku tinggal, pasti deh langsung dikerumuni dowok-cowok yang ada di sini" omel Hendrick.
"Dih, halu banget sih" ucap Dee cuek.
"Ok, kutinggal kamu sendiri, aku mau lari 2 laps dulu, kamu lari pelan-pelan, ga usah nyusul aku, tapi kalau ada yang dekat-dekat teriak aja" sahut Hendrick seraya mempercepat larinya.
"Eh... Hend... Wait!" seru Dee, sambil berusaha berlari mengejar Hendrick, tetapi Hendrick terlalu cepat berlari.
"Ih, kenapa sih dia?" Dee memperlambat larinya dan mengatur nafas.
"Hai... boleh kenalan?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Hah? Oh... Boleh" jawab Dee datar, dia tidak suka sama orang asing.
"Aku Guntur, semester 1 fakultas Kedokteran UGM, kalau yang itu Candra dari fakultas Ekonomi UGM"
"Diane" jawab Dee pendek.
"Yang tadi pacar kamu?" tanya Guntur.
"Nope, best friend" jawab Dee singkat.
"Do you have a boyfriend?" tanya Candra.
"Not interest!"
"Why? Cewek secantik dan sesexy kamu ga punya pacar, unbelievable!" seru Guntur.
Dee mengernyitkan keningnya, harus banget ya punya pacar? Batin Dee.
"Mau ga kamu jalan sama kita berdua, kali aja jodoh sama salah satu dari kita?" tanya Guntur.
"Sorry, saya kesini buat olahraga bukan buat cari cowok, permisi!" Dee mempercepat lari ya meninggalkan Guntur dan Candra.
"She's hot!" gumam Guntur.
"Absolutely, I'm on fire just by looking at her" sahut Candra yang menatap Dee dengan pandangan penuh nafsu.
"Cih, apaan sih 2 orang itu, baru ketemu sudah ajak jalan" gerutu Dee sambil berlari, matanya mencari keberadaan Hendrick.
"Hey.... Sendirian?" tegur seseorang.
"No, sama teman" jawab Dee sedikit memper cepat larinya, 'mana sih Hendrick' batinnya.
"Aku Fian, namamu siapa?"
"Diane" jawab Dee pendek.
"Nice name, can I accompany you?"
Dee hanya diam tanpa menjawab, dia terus berlari sambil terus mencari keberadaan Hendrick. Dee merasa tidak nyaman harus ngobrol dengan orang asing, apalagi tatapan mereka ke arahnya begitu menakutkan.
Karena terlalu fokus mencari keberadaan Hendrick, Dee tidak begitu memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba saja dia tersenggol oleh seseorang yang berlari melewatinya.
Dee terhuyun ke arah Fian, dan dengan sigap Fian menangkapnya.
"Hati-hati" ucap Fian seraya mengusap punggungnya, seketika Dee merinding dan merasa takut.
"Thanks, but don't touch me" Dee menjauhkan dirinya dari Fian, tapi Fian malah meraih pinggang Dee dan menariknya mendekat.
"Lepas!" bentak Dee yang mulai panik.
"Ssst.... Sssttt.... Don't panic! Aku ga akan apa-apain kamu. " bisik Fian di telinga Dee.
Dee meronta ingin melepaskan diri tapi Fian terlalu kuat.
"Ikut aku jalan, aku jamin kamu bakal suka" sambung Fian.
"Let me go!" Dee masih terus meronta minta dilepaskan.
"Be my girlfriend" ucap Fian sambil mendekatkan wajahnya ke leher Dee.
"YOUR WISH!!!" teriak seseorang sambil menarik Dee dari pelukan Fian.
"Hend!"
"Sorry Dee, seharusnya aku ga ninggal kamu tadi!" Hendrick memeluk Dee dan menenangkannya.
"Oh.... See who is it...." desis Fian.
"Ternyata kamu!!" geram Hendrick.
"Pacarmu ternyata?" tanya Fian.
"None of your business, lebih baik kau pergi!" ucap Hendrick.
"Interesting, I shall take her away from you" sahut Fian.
"Your wish, I won't let you go if you dare to touch her!" ancam Hendrick.
"Ck, so serious.... mana tuh temanmu yang lain? Jadi dia yang namanya Dee? Hi Dee, nice to meet you" Fian mengulurkan tangannya ke arah Dee tapi segera ditepis Hendrick.
"She is so pretty, kau bukan pacarnya kan? Jadi ga salah dong kalau aku dekati dia?" tanya Fian sambil terus menatap ke arah Dee.
"Don't you dare!" ancam Hendrick.
"Try me!" balas Fian.
"See you soon, Dee!" ucap Fian sambil mengedipkan sebelah matanya lalu berbalik meninggalkan mereka berdua.
Dee gemetar takut, baru kali ini dia disentuh lelaki asing, rasanya menjijikkan.
"Dee, maaf.... Kamu ga apa-apa?" tanya Hendrick.
Dee hanya menggelengkan kepala, tapi Hendrick melihat kaki dan tangan Dee yang gemetaran, Hendrick geram melihatnya, ini semua salahnya, kalau saja dia tidak meninggalkan Dee untuk membuktikan ucapannya, taka akan lah Dee jadi seperti ini.
Hendrick membungkuk dan dengan satu gerakan Dee sudah berada dalam gendongannya.
"H-Hend... A-aku..."
"It's ok, I'm with you, don't be afraid, ok!" sahut Hendrick lembut.
Dee memeluk Hendrick dan membenamkan wajahnya di d**a Hendrick.
Hendrick melangkahkan kakinya menuju bangku tempat mereka meletakkan barang-barang mereka sebelum berlari tadi. Perlahan dia mendudukkan Dee di bangku, mengambil air mineral dari dalam tasnya, membuka tutupnya lalu menyerahkannya pada Dee. Tangan Dee masih gemetar saat akan menerima botol air itu. Hendrick membuang nafas perlahan, lalu dia duduk di samping Dee, merengkuh bahunya lalu membantunya minum.
"T-thanks Hend!" ucap Dee dengan suara lirih.
"Maaf ya Dee..." bisik Hendrick.
"Ga apa-apa Hend, aku cuma kaget dan takut, tiba-tiba dipeluk cowok yang ga ku kenal, jijik banget rasanya" jawab Dee, suaranya bergetar, menandakan dia masih shock dan takut.
"Jangan khawatir, aku di sini, aku ga akan biarkan siapapun menyentuhmu" sahut Hendrick sambil menepuk punggung Dee dengan lembut.
"Hmmmm..." Dee menyandarkan kepalanya ke bahu Hendrick.
"Joggingnya sudah dulu hari ini ya, kalau masih mood nanti kita berenang, kalau ga, ya kita mandi di shower room habis itu kita muter-muter ya" bujuk Hendrick.
"Iya" jawab Dee masih tetap bersandar di bahu Hendrick.
Perlahan Hendrick mengusapkan pipinya di kepala Dee, sambil masih menepuk-nepuk punggung Dee.
"Dia tadi siapa?" tanya Dee
"Kapten tim basket SMU sebelah" jawab Hendrick.
"Oh..."
"Dee....Sekarang kamu tau kan, kalau kamu benar-benar banyak yang suka?" tanya Hendrick.
"I don't think so... " sahut Dee.
"Kenapa?" tanya Hendrick.
"Kalau suka pandangan mereka ga akan seperti itu" jawab Dee.
"Seperti apa?" tanya Hendrick.
"Aku ga tau, tapi lain, ga seperti tatapan kalian ke aku, tatapan mereka bikin ga nyaman" jawab Dee bergidik ngeri.
"Sebetulnya selain karena kamunya cantik, bajumu juga, ehem.... Itu..." ujar Hendrick gugup seraya menunjuk baju Dee.
Dee menunduk menatap bajunya, ternyata.... "Se-sejak kapan?" Dee buru-buru mencari jaketnya dan segera memakainya.
"Aku juga baru sadar" Hendrick menunduk dan merapatkan kakinya.
"Aku ga tau kalau kena keringat kaos ini bakal nerawang" Dee menutup rapat jaketnya.
"Besok lagi dipakai di rumah aja, jangan dipakai buat keluar-keluar" ucap Hendrick yang dibalas anggukan kepala oleh Dee.
"Wanna grab something to eat?" tanya Hendrick seraya bangkit dari duduknya.
"Aku bawa bekal kok, makan itu saja" jawab Dee.
"Bukannya kemarin aku bilang ga usah masak?" tanya Hendrick kesal.
"Ga masak kok, bikin sandwich aja sama bawa buah, ga usah kesal gitu dong ekspresinya." bujuk Dee sambil mengeluarkan kotak bekal susun 3 dari dalam tasnya.
"Dee..." Hendrick kembali duduk dan memegang tangan Dee.
"Ya?" Dee mengerjapkan matanya.
"Kenapa kamu baik banget ke aku? Kamu ga takut kalau aku bakal baper atau suka kamu?" tanya Hendrick dengan suara lembut.
DEG... Jantung Dee berhenti berdetak.
"Ja-jangan bercanda deh Hend, dari dulu kan kita sahabatan, ga salah kan baik dan perhatian sama sahabat?" sahut Dee gugup.
"Dan ga salah juga kalau jadi suka sama sahabat sendiri kan?" gumam Hendrick.
"Itu jelas ga mungkin" elak Dee, sambil menyibukkan diri membuka kotak bekal yang dibawanya.
"Why not?" desak Hendrick.
"That is not necessary!" sahut Dee sambil menyuapkan sandwich ke dalam mulut Hendrick.
"Hmmmm... yummy" gumam Hendrick seraya mengunyah egg sandwich yang Dee suapkan ke mulutnya.
"Dee... semisal Freddy bilang ke kamu kalau dia suka kamu, gimana?" tanya Hendrick.
"Impossible" jawab Dee, "Freddy ga mungkin suka aku, dia kan memang sering bilang aneh-aneh tapi kan cuma candaan Freddy doang, lagian Freddy layak punya seseorang yang jauh lebih baik dari aku, begitu juga kamu dan yang lainnya Hend" jawab Dee sendu, dipandanginya cheese sandwich di tangannya.
"Really? But I think no other girls are better than you." gumam Hendrick lirih.
Mereka terdiam sambil memandangi orang yang berlalu lalang di lapangan GOR.
Setelah menghabiskan 2 potong sandwiches Dee mengajak Hendrick berenang.
Mereka berjalan menuju indoor pool, lalu berpisah di depan ruang ganti.
Dee memasuki ruang ganti wanita, setelah mengambil baju renangnya , Dee bergegas mencari cubicle kosong.
Dengan cepat Dee mengganti pakaian olahraganya dengan pakaian renang warna cream favoritenya. Lalu Dee memakai bathrobe warna nude untuk menutupi tubuhnya. Setelah selesai, Dee mengambil kacamata renang dan ponsel dari tasnya, lalu memasukkannya ke dalam pouch berwarna cream.
Saat keluar ruang ganti, Dee melihat Hendrick berdiri tak jauh dari ruang ganti wanita, dia memakai celana renang sebatas paha dan t-shirt putih polos. Hendrick terlihat sangat tampan dan menarik perhatian. Terlihat ada dua orang cewek yang berusaha mendekatinya, tapi Hendrick seolah tak peduli dan memasang wajah datar.
Dee mendengus kesal, karena cewek yang mendekati Hendrick hanya memakai bikini sexy. Dee berdecih lalu dia dengan sengaja berjalan melewati Hendrick tanpa menegurnya.
Hendrick yang melihat Dee langsung memanggilnya, "Dee, sweety!" panggil Hendrick sambil melangkah meninggalkan kedua cewek sexy tadi.
Dee masih tetap melangkah, pura-pura tidak dengar.
"Dee... Dee... Please.... Dee...." Hendrick berlari mengejar Dee. Hendrick meraih tangan Dee dan menariknya ke dalam rengkuhannya.
"Dee, kenapa sih?"
"Ga apa-apa, lepasin, aku mau berenang" ucap Dee sambil meronta melepaskan diri dari Hendrick.
"Iya, kita kesini mau berenang, tapi kenapa pura-pura ga dengar waktu ku panggil?" tanya Hendrick sambil menatap Dee.
"Kamu manggil aku? Maaf aku ga dengar, kukira kamu lagi sibuk ngobrol sama mba-mba sexy tadi" Dee mengibaskan tangan Hendrick dengan kesal, lalu berjalan meninggalkan Hendrick yang melongo keheranan.
"Lho... Dee... Tunggu, siapa juga yang ngobrol, aku ga nanggapi mereka kok" seru Hendrick membela diri.
"Ya kan bukan urusanku juga, mungkin kamu lagi keasyikan digrepe-grepe sama mba yang pakai bikini merah itu." balas Dee datar, dia merasa kesal sekali melihat Hendrick disentuh sana sini tapi tidak menolak sama sekali. Dasar laki-laki.
"Dee, aku beneran ga nanggapi mereka" seru Hendrick sambil meraih tangan Dee, tapi segera ditepis oleh Dee.
"Don't touch me... itu bekas kepegang sama mereka kan? Dirty!" bentak Dee yang langsung melangkah lebar memasuki area indoor pool.
"What the hell she's talking about? Is she jealous?" gumam Hendrick kebingungan. Buru-buru Hendrick melangkah memasuki indoor swimming pool, matanya meneliti seluruh ruangan untuk mencari Dee. Dan dilihatnya Dee tengah melepas bathrobe-nya. Mata Hendrick membeliak kaget, "Astaga!!!" jerit hatinya, segera Hendrick melangkahkan kakinya. Dia tahu kalau Dee itu ga terlalu memperhatikan penampilannya, tapi entah kenapa, apapun yang dia pakai selalu saja bisa mengundang mata lelaki buat memandang rakus pada Dee. Pakai baju renang warna cream yang nyaris membaur dengan warna kulitnya, is she mad??? batin Hendrick, kalau tak diperhatikan dengan benar orang akan mengira dia telanjang. Ditambah lagi bentuk tubuh Dee sekarang bikin mata cowok ga bisa lepas memandangnya, belum lagi wajahnya yang cantik dan imut-imut.
Hendrick mempercepat langkahnya, tapi belum lagi dia sampai ke tempat Dee berdiri, tiba-tiba ada seorang cowok berbadan tegap dan berwajah oriental menghampiri Dee dan mengulurkan tangannya pada Dee, yang bikin Hendrick naik darah, mata tuh cowok dengan liar menatap Dee dari atas sampai bawah, tapi kemudian terfokus pada dadanya.
"Hai.... Namaku Andy, boleh tau siapa namamu?" tanya cowok berwajah oriental pada Dee.
"...." Dee hanya menatap cowok itu tanpa berniat membalas sapaannya.
"Well... ga apa kalau ga mau sebut nama, boleh temani kamu berenang? Kamu sendiri kan?" tanya cowok itu lagi.
"...." Dee menatap kesal, hati lagi mangkel gini ada aja yang bikin tambah mangkel.
"She's with me!" seru Hendrick yang tiba-tiba datang dan membalut tubuh Dee dengan bathrobe yang Dee letakkan di meja di samping kolam.
"Hend?!" seru Dee kaget.
"Oh, datang sama cowoknya ya?" tanya Andy. "Hati-hati lho ninggalin cewek cantik juga sexy gini di tempat seperti ini, bisa jadi sasaran empuk cowok-cowok single kaya aku" tambah Andy sambil tetap memandangi Dee dengan intens, terutama ke arah dadanya.
"Jaga matamu, apa yang kau lihat?!" bentak Hendrick sambil merapatkan bathrobe di tubuh Dee.
"Hey... Hey.... Easy bro.... Ok... Ok... aku pergi deh, galak amat.... Makanya kalau punya pacar sexy jangan dibawa ke tempat seperti ini, bawa aja ke hotel, buat kau nikmati sendiri" ucap Andy sambil berjalan menjauh.
"What the hell do ypu talking about?!" geram Hendrick, saat hendak maju untul menghajar Andy, Dee menahannya.
"Ga usah ribut!" seru Dee lirih.
"Tapi dia udah melecehkan kamu, Dee!" sahut Hendrick.
"Sudah, yang penting kamu di sini, kamu mau jagain aku kan Hend?" Dee menatap Hendrick dengan penuh harap.
"Hah!" tiba-tiba Hendrick memeluk Dee dan membenamkan wajahnya di leher Dee. "Aku akan selalu jaga kamu Dee, tanpa kamu minta" bisik Hendrick di telinga Dee yang secara aneh mengirim getaran ke dalam hati Dee, nafasnya berubah menjadi tidak teratur, begitupun dengan Hendrick.
"Dee... Would you let me kiss you?" tanya Hendrick sambil mengangkat wajahnya dari leher Dee.
"Hah?" Dee terkejut, jantungnya berdebar kencang, dia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Ah... Ma-maaf, maksudku ga seperti itu, aku cuma ingin ini....CUP!" Hendrick mengecup kening Dee di tengah paniknya.
"Oh!" Dee masih terbengong karena kejadian yang tiba-tiba.
"Ki-kita berenang se-sekarang?" gagap Hendrick sambil melepas t-shirtnya
"Ah... I-iya" Dee pun melepas kembali bathrobenya.
Mereka perlahan memasuki kolam bersama-sama.
"D-Dee, maaf sebelumya, habis ini kita beli baju renang buat kamu yuk, baju renang ini ter-terlalu mengekspose d**a sama... sama.... ehem... pa-pantatmu" ucap Hendrick hati-hati, takut Dee marah.
"Oh... i-iya, ja-jadi dari tadi orang itu lihatin ini?" tanya Dee polos sambil menunjuk dadanya.
"Uhuk .... Uhuk... " Hendrick tersedak air liurnya karena dia melihat d**a Dee yang tampak jelas karena jernihnya air kolam.
"Hend, kamu ga apa-apa?" tanya Dee cemas sambil mengusap punggung Hendrick.
"Iya aku ga apa-apa, aku berenang beberapa putaran dulu ya, ikut?" jawab Hendrick sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Iya deh" Dee memasang kacamata renangnya dan mulai berenang mengikuti Hendrick.
Setelah berenang 4 kali 100 meter, Dee berhenti, dia takut badannya sakit semua dan ga bisa tidur nanti malam. Besok ada mapel olahraga setelah upacara bendera. Sementara Hendrick masih melakukan 4 putaran lagi.
Setelah melakukan putaran 8 kali 100 meter, Hendrick segera naik dan mengambil bathrobe milik Dee.
"Naik, sudah kuambilkan ini!" seru Hendrick.
"Hmmm... Thanks!"
"Anytime" Hendrick membantu Dee naik dan memakaikan bathrobe lalu mengikatnya.
"Mau duduk dulu atau langsung mandi? Ini baru jam 7:45" tanya Hendrick.
"Langsung mandi yuk, aku pengan makan bubur ayam di Pasar Telo." ajak Dee.
"Boleh, kalau gitu buruan mandi biar ga kehabisan." Hendrick berdiri dan mengulurkan tangannya. Dee segera menyambut tangan Hendrick dan berdiri dari duduknya, lalu mereka melangkah menuju shower room untuk mandi dan berganti pakaian.
Hendrick mandi lebih cepat dari pada Dee, dia segera keluar shower room pria dan menunggu Dee di dekat pintu keluar shower room wanita, dia memakai celana pendek selutut berwarna abu gelap dan polo shirt garis-garis putih abu-abu muda.Seperti tadi, ada beberapa cewek yang mendekatinya untuk sekedar berkenalan atau meminta nomor ponselnya, tapi tak satupun dari mereka yang ditanggapi Hendrick, dia memasang wajah datar dan aura dingin di sekelilingnya, sehingga membuat cewek-cewek yang mencoba menggodanya mundur sendiri.
Setelah menunggu selama 10 menit, akhirnya Dee keluar dengan rambut yang masih agak basah dan memakai haigh waist jeans, long sleeves crop top warna putih dan sleeveless cardigan warna baby blue, tak lupa juga Dee memakai skincare pemberian Yetnu dan sedikit lip tint warna nude.
Hendrick terpana melihat penampilan Dee yang lebih girly. Dee terlihat lebih cantik dan juga imut..
"Wow...." Hendrick hanya mampu mengucap satu kata dari mulutnya.
"Kenapa? Aneh ya?" tanya Dee, "Ini baju yang dibelikan kak Lucky dan Yetnu kemarin." Dee bergumam karena Hendrick menatapnya dengan pandangan yang tak seperti biasanya.
"Cantik... Cantik banget" puji Hendrick tulus, sorot matanya melembut.
"Kamu pakai lipstick?" tanya Hendrick mengamati bibir Dee.
"Ngggg... Lip Tint, Yetnu yang pilihin warna dan merknya, katanya ini merk yang bagus buat cewek seumuranku." jelas Dee, "Ke-kelihatan aneh ya?" Dee mengangkat tangannya untuk menghapus lip tint di bibirnya tapi Hendrick mencegahnya.
"Eits, jangan... Cantik kok, aku suka lihatnya. Nanti sekalian beli baju renang kita beli juga lip tint warna lain ya, kelihatannya merah cocok buat kamu Dee, biar kelihatan bold and sexy" ucap Hendrick, matanya berbinar membayangkan Dee jalan dan berbelanja berdua dengannya.
"Enggak ah, kemarin Yetnu beliin lima warna, belum kupakai semua, lagian beli beli beli... barang ga penting gitu ga usah dibeli, mending habis cari baju renang, kita ke toko buku, komik kesukaanku rilis seri baru, harus beli, hehehehe" tolak Dee.
"Ya deh, kemanapun asal sama kamu sih ayo aja" sahut Hendrick sambil mengambil sport bag di bahu Dee untuk dibawanya sementara ranselnya sudah digendong di punggungnya.
"Aku bisa bawa sendiri ah" ucap Dee sambil mengambil balik tasnya.
"Haish, udah cantik gini masa bawa-bawa ginian? Ini kalau yang lain tau kalau kita jalan berdua pasti pada kebakaran jenggot." ucap Hendrick sambil senyum-senyum.
"Minggu depan jogging rame-rame yuk!" ajak Dee.
"Hmmmm" jawab Hendrick pendek, sejujurnya dia hanya ingin punya kesempatan berdua saja dengan Dee, tapi jika Dee ingin jogging rame-rame, Hendrick hanya bisa mengiyakan, karena Dee bukan miliknya.
"Semalam Freddy telpon dan bilang kalau akhir semester akan ada camping, trus aku sekalian deh usul sesudah camping kita pergi kemana gitu rame-rame sebelum pusing mikirin pelajaran kelas 3" ucap Dee.
"Freddy semalam telpon?" tanya Hendrick.
"Iya, sering sih kita telponan" kata Dee jujur.
"Sering?" tanya Hendrick lagi, tangannya mencengkeram erat tali tas sport milik Dee.
"Ya ga setiap hari, tapi sering lah." jawab Dee.
"Ngobrolin apa?" tanya Hendrick sambil mengetatkan rahangnya.
"Apa aja yang bisa diobrolin lah. Tapi banyakan cerita konyol sih, tau sendiri gimana Freddy kan?" jawab Dee.
Mereka terus berjalan menuju tempat motor Hendrick diparkir.
"Kamu kelihatannya senang kalau ngobrol sama Freddy ya" ujar Hendrick kesal.
"Hah? Kok bisa bilang gitu?" tanya Dee bingung, "Aku senang kok ngobrol sama kalian semua, bisa ngobrol nyambung tentang banyak hal itu kan nyenengin" sambung Dee.
"Jadi kamu juga senang ngobrol sama aku?"
"Jelas lah, kenapa hal yang udah jelas gitu ditanyain?" tanya Dee heran
"Ya mungkin aja kamu keluar sama aku gini terpaksa" jawab Hendrick
"Idih, kan yang ajak aku, mana mungkin aku terpaksa, yang ada kamu kali yang terpaksa harus nemani aku jalan. Kan dari pada temani aku jalan kamu bisa temani gebetan" sahut Dee kesal.
"Aku ga ada gebetan, dan aku malah senang banget bisa temani kamu jalan kaya gini, sering-sering pun aku malah bahagia." balas Hendrick.
"Enggak ah, aku takut baper" sahut Dee.
"Kenapa baper? Tapi baper juga ga apa-apa, aku malah senang" jawab Hendrick.
"Kamu kalau kita jalan berdua gini tuh seolah-olah sayang banget ke aku. Ya aku tau sih, kalau pas kita jalan berdua gini gantiin sepupuku atau mas Tony jagain aku, makanya aku takut baper, nanti aku mikirnya kamu sayang beneran ke aku, hehehehe..." Dee tertawa getir.
"Jadi kamu mikirnya gitu? Padahal aku sama Freddy tu betul-betul sayang kamu lho Dee, equal bahkan bisa dibilang lebih dibandingkan Yetnu, Lucky atau Tony" sahut Hendrick meyakinkan Dee.
"Really? But, I don't think so... Tapi pretending juga ga apa-apa sih, asal kita bisa tetap sama-sama, bisa tetap sahabatan." gumam Dee lirih.
"Dee... Do you really think that we are just pretending?" tanya Hendrick kesal.
"I don't know... Tapi aku hanya bisa memikirkan itu, karena aku takut akan terbawa perasaan dan kalau itu memang benar pretending, that will hurt me badly if I fall in love with one of you." jawab Dee sambil tersenyum pahit, "But at least, I'm happy to be able hanging out with you, that is why I tried hard to dress up like this" sambung Dee sambil meraih lengan Hendrick dan bergelayut manja.
"She dressed up for me?" batin Hendrick, hatinya berbunga-bunga, itu artinya Dee menganggap jalan berdua dengannya adalah istimewa.
"I'm happy to be able with you, I wish we could spend more time together, just two of us" Hendrick menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Dee.
"Shall we?" balas Dee sambil menoleh ke arah Hendrick.
DEG! Mereka terkesirap dan langsung menghentikan langkah mereka. Jarak antara wajah Dee dan Hendrick hanya beberapa centimeter saja, hembusan nafas mereka membaur menjadi satu membuat jantung mereka berdua berdetak sepuluh kali lebih cepat. Aroma tubuh Dee menyeruak masuk ke indra penciuman Hendrick yang semakin membuat Hendrick tak bisa berpikir jernih.
Perlahan Hendrick mendekatkan wajahnya ke arah Dee.
"Dee... May I?" desah Hendrick sesaat sebelum bibirnya menyentuh bibir Dee. Tenggorokan Dee tercekat, dia tak bisa mengeluarkan suaranya, dia merasa jantungnya sudah berada di tenggorokannya. Hendrick mengira Dee mengijinkan dia untuk menciumnya, lalu dengan perlahan Hendrick semakin mendekatkan bibirnya ke arah Dee. Dan saat bibirnya sudah sedikit menempel di bibir Dee, mendadak ponsel Hendrick berdering.
Mereka berdua terlonjak kaget, Dee buru-buru melepaskan tangan Hendrick, mengambil tasnya lalu melangkah meninggalkan Hendrick, sementara Hendrick yang panik menatap ponselnya dan melihat kalau ID penelepon adalah mamanya.
Buru-buru dia mengangkat telponnya dan mengatakan pada mamanya kalau nanti dia akan telepon balik. Setelah menutup telepon, Hendrick bergegas menyusul Dee yang sudah hilang dari pandangannya.
"Damn... Kenapa otakku ketutup nafsu sih... Dimana Dee sekarang?" Hendrick yang panik segera membuka ponselnya untuk menghubungi Dee.
Tapi belum sempat dia menghubungi Dee, dia melihat Dee tengah berdiri di samping motornya. Hendrick menghela nafas lega, ternyata Dee tidak meninggalkannya.
Hendrick segera melangkah lebar mendekati Dee.
"Dee..." panggil Hendrick sambil menyentuh bahu Dee yang membuat Dee terlompat kaget dan mundur selangkah.
"Ah, sudah teleponnya?" tanya Dee sambil menundukkan kepala.
"Sudah... Dee, maaf tadi..."
"That's never happen, right? You don't mean it, we are best friend after all" potong Dee sambil menatap jernih ke arah Hendrick walau hatinya terasa teriris sembilu.
"No! Maaf, itu salahku... Aku terhanyut tadi, maafkan aku..." sahut Hendrick.
"I know, you don't have any feeling towards me after all, so that's absolutely a mistake" jawab Dee sambil tersenyum getir. "Aku lapar, bisa kita jalan sekarang?" tanya Dee mengalihkan pembicaraan.
"Sure... But Dee, bisakah kamu mendengarkan penjelasanku nanti?" sahut Hendrick.
"Hmmmm" jawab Dee pendek.
Hendrick lalu meraihsport bag milik Dee, meletakkannya di bagian depan motornya, mengambil helm dari bagasi dan memakaikannya di kepala Dee, setelah itu barulah dia menaiki motornya disusul Dee, lalu perlahan mereka keluar dari area parkir.
Hendrick mengemudikan motornya dalam diam, karena Dee juga diam seribu bahasa ditambah lagi Dee menjaga jarak duduknya, biasanya Dee akan berpegangan erat pada Hendrick, tapi sekaran Dee duduk di ujung jog motor dan tidak berpegangan sama sekali, jadi Hendrick terpaksa mengemudikan motornya dengan sangat perlahan, takut Dee terjatuh atau terjadi sesuatu.
Sementara itu, Dee memandangi punggung Hendrick, dia masih bisa merasakan sentuhan sesaat bibir Hendrick di bibirnya, badannya bagai tersenyat listrik ribuan volt pada saat itu.
Dee menghela nafas panjang, enfah apa maksud Hendrick melakukan hal itu, Hendrick tak punya perasaan apapun padanya, jadi kenapa Hendrick mau menciumnya? Apakah hanya mau mempermainkan perasaannya?
Tak terasa air mata Dee menetes di pipinya, buru-buru Dee mngusap air matanya, tetapi semakin dia mengusapnya, semakin deras air mata itu mengalir. Hendrick yang melihat Dee menanis dari balik kaca spionnya segera menepikan motornya.
"Dee, kenapa?" tanya Hendrick panik.
"Ga apa-apa, kita pulang aja ya Hend?" pinta Dee di sela tangisannya.
Hendrick menghela nafas panjang.
"Ok, pegangan ya, kita pulang!" ucap Hendrick.
Setelah memastikan Dee berpegangan padanya, Hendrick segera melajukan motornya dengan sangat cepat menuju rumah Dee.
Chapter 11 ~end~