Chapter 10

4809 Words
Lucky, Tony dan Yetnu bergegas masuk ke theater 2 menyusul mereka bertiga. Tony lebih dulu menyusul mereka dan saat dia sudah tepat di belakang Hendrik dan Freddy... PLAK!! PLAK!! Bergantian dia memukul kepala Hendrick dan Freddy. Perbuatannya otomatis mengundang pengunjung lainnya. "Apaan sih Ton?" bentak Freddy sambil mengusap kepalanya, sementara Hendrick hanya melotot menatap Tony. "Siapa suruh kalian cium-cium Dee?" Tony balas membentak Freddy dan itu sukses semakin menarik perhatian para pengunjung yang sudah ada dalam theater. "Cium kepala doang!" gumam Hendrick kesal. "Siapa kasih ijin??? Cari mati???" Tony makin emosi. Dee yang malu jadi pusat perhatian, seolah-olah dia adalah cewek yang gimana gitu, buru-buru membalikkan badan berniat membujuk Tony tapi melihat wajah Tony yang begitu menakutkan, Dee mundur beberapa langkah. Tony yang menyadari kalau Dee ketakutan melihatnya marah buru-buru merubah ekspresinya. "Dee, aku cuma ga suka ada orang yang curi kesempatan di saat kamu lengah" jelas Tony. "Mereka ga ngapa-ngapainaku kok mas, ga perlu marah ke mereka gitu, ya" bujuk Dee masih sedikit takut. "Sorry bro, kita ga ada maksud apa-apa, terlalu excited aja tadi" ucap Freddy. "No more next time!!" ancam Tony, sambil berlalu melewati Freddy dan Hendrick, lalu meraih tangan Dee dan menggandengnya ke bangku yang sudah mereka pesan. Hendrick dan Freddy menyusul mereka diikuti Lucky dan Yetnu yang hanya geleng-geleng kepala melihat kejadian tadi, untung ga sampai berkelahi. "Tony apaan sih, pak Edi aja ga segitunya kali" Freddy ngedumel lirih. "Diam, kamu mau babak belur dihajar sama Tony?" balas Hendrick. "Ck... psycho emang" omel Freddy. Dee sudah duduk di bangku penonton, di samping kirinya sudah ada Tony, lalu Lucky duduk di sebelah kanan Dee, Lucky mengulurkan gelas minuman Tony yang tadi dititipkan padanya. Sementara Yetnu, Hendrick dan Freddy duduk di barisan belakang mereka. "Minunnya Dee" ucap Hendrick sembari meletakkan minuman Dee di cup holder yang ada di bangku Dee dari belakang. "Popcornnya ini ya" sambung Freddy sambil meletakkan popcorn di pangkuan Dee. "Makasih ya" ucap Dee seraya menoleh ke belakang dan tersenyum manis. GLEK!!! Hendrick dan Freddy sama-sama menelan ludah melihat senyuman Dee. "Sama-sama" sahut mereka bersamaan dengan suara serak. Tony menoleh ke belakang dan menatap mereka tajam. Freddy dan Hendrick buru-buru duduk. Tak lama opening music pun terdengar. Dee terlihat sangat excited, karena banyak aktor favoritnya di film ini, Chris Evans, Scarlett Johansson, Chris Hemsworth, Jerremy Renner dan Robert Downy Jr. Saat film sudah dimulai, Dee terlihat fokus menatap layar. Saat Chris Evans atau ScarJo muncul di layar mata Dee tampak berbinar, popcorn di pangkuannya sama sekali tak tersentuh saking fokusnya Dee menatap layar. Tony menghela nafas pendek, diambilnya popcorn di pangkuan Dee, lalu dia mulai menyuapi mulut Dee dengan popcorn. Sedangkan Lucky, dengan tanggap memberi Dee minum setiap 10 suapan popcorn. Hendrick dan Freddy hanya bisa menatap kesal dari belakang, sedangkan Yetnu tertawa geli melihat ekspresi Hendrick dan Freddy. Film sudah mendekati antiklimaks, Dee terlihat tegang, di layar tampak adegan dimana Clint ( Renner ) dan Natasha ( ScarJo ) berkelahi untuk menentukan siapa yang harus mengorbankan diri demi memperoleh Soul Stone, karena mereka berdua sama-sama ingin mengorbankan diri. Dan akhirnya Natasha lah yang mengorbankan dirinya, karena menurutnya Clint lebih pantas hidup karena memiliki keluarga. Saat melihat Natasha menjatuhkan diri ke jurang di planet Vormir, Dee menangis sesenggukan, Yetnu buru-buru memberikan sapu tangannya kepada Dee. Film terus berlanjut sampai pada adegan klimaks di mana IronMan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan penduduk bumi. Sampai film berakhir Dee tak berhenti menangis. Lucky menepuk punggung Dee untuk menenangkannya. Mereka menunggu Dee tenang dan semua pengunjung keluar. Tony menatap Freddy, "Lain kali jangan ajak Dee lihat film yang bikin dia nangis" omelnya yang membuat Freddy speechless. "Kok aku yang salah? Dee sudah lama ingin nonton ini, sejak kabar pembuatannya keluar, Dee berulang kali bilang kalau harus nonton begitu rilis di sini, aku cuma berusaha nuruti kemauan Dee, salah?" Freddy membela diri, Tony mendengus kesal dan bersiap adu mulut dengan Freddy. "Mas, Freddy ga salah, ceritanya aja sedih, ngapain kok malah nyalahin Freddy?" tanya Dee yang sudah berhenti menangis. "Makasih banyak ya Fred!" ucap Dee tulus. "Sama-sama Dee, you can ask me for anything you want" balas Freddy yang disambut decihan dan dengusan teman-temannya. "Cih... berlagak!" kata Lucky. "Sok banget nih bocah" gerutu Tony. "Yakin lu bisa?" ejek Yetnu. "Kaya yang paling yes aja lu" runtuk Hendrick. Dee yang mendengar itu terkekeh... "Pokoknya makasih banyak ya Fred" "Yuk keluar, cari makan, aku kelaparan" ajak Lucky. "Mau makan di mana? Jam segini food court sudah banyak yang tutup" sahut Yetnu. "Ayam penyet" usul Dee. "Boleh, kalian duluan, nih kuncinya Nu, nyalain dulu!" ucap Lucky seraya melempar kuncu mobil ke arah Yetnu. "Mau ke mana bro?" tanya Tony. "Toilet sekalian ambil duit" jawab Lucky sambil berlalu pergi. "Ada yang mau ke toilet juga?" tanya Yetnu. "Iya wes mumpung masih di sini" Dee berjalan menyusul Lucky diikuti teman-temannya. Dee masuk ke toilet wanita sedangkan teman-temannya masuk toilet pria. Setelah selesai dengan hajatnya mereka beriringan menuju basement, sedangkan Lucky berjalan menuju mesin ATM untuk mengambil uang. Setibanya di basement, Yetnu segera membuka pintu mobil dan menghidupkan mesinnya, setelah hawa panas dan pengap keluar, barulah mereka masuk mobil. "Kamu nanti ikut aku pulang Dee?" tanya Yetnu. "Enggak, aku tidur di rumah aja, mumpung ga ada ibu sama bapak aku mau bangun siang, hehehehe" jawab Dee. "Minta Lucky temani?" tanya Yetnu lagi. "Ga usah, aku bukan balita yang harus diawasi 24 jam" gerutu Dee. "Atau aku yang temani kamu Dee?" tanya Freddy sambil cengar cengir dan tentu saja auto mendapat jitakan dari Yetnu dan Tony. "Jahat kalian, aku kan cuma menawarkan diri buat temani Dee!" drama Freddy seolah dia adalah orang teraniaya. "c***l, kamu nginep di rumah Dee auto digrebek orang seperumahan, dasar bego!" omel Tony. "Sudah c***l, bego pulak, parah!" ejek Hendrick. Dee yang melihat Freddy dibully teman-temannya tertawa terbahak-bahak. "Dasar kalian penindas!" gerutu Freddy. "Hehehehe... makasih Fred, tapi aku ga apa-apa kok sendiri aja." ucap Dee tulus. "Aku temani via chat deh nanti" balas Freddy sambil melambaikan ponselnya. "Boleh, kaya biasa ya, chat sebelum tidur, hehehehe..." sahut Dee sambil terkekeh. Hendrick langsung menatap Freddy dengan tatapan mengerikan. "What? Sudah lama kali aku sama Dee selalu chat tiap malam sebelum tidur, walau ga tiap hari, tapi sering." ucap Freddy menanggapi tatapan Hendrick, seakan tahu arti tatapan itu. "Masa? Kok aku ga tau?" tanya Tony kepo. "Ya kan ga semua-semua kudu lapor ke kalian, ga ada privasi dong" jawab Dee santai sambil mengutak atik ponselnya. "Memangnya kalian ngomongin apa aja kom pakai rahasia-rahasiaan?" tanya Yetnu menyelidik. "Apa aja yang bisa diobrolin lah, lagian kaya ga tau aja gimana aku sama Freddy kalau ngobrol, kan banyak ga mutunya, ya ga Fred?" tanya Dee minta persetujuan Freddy. "Tul!!" jawab Freddy sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. "Kenapa nggak ngobrol di group chat aja? Kan malah bisa ngobrol rame-rame." tanya Hendrick sedikit ketus. "Kita kan ga tau apa kalian masih melek atau sudah tidur, kan ga pengen ganggu. Kan Fred?" sahut Dee yang langsung diacungi jempol oleh Freddy. Hendrick mendengus kesal. "Ya kalau kamu pengen ngobrol di grup tinggal chat aja to, kalau masih pada bangun kan ya dibalas" balas Hendrick kesal. "Kok sewot sih Hend? Ya udah, mulai hari ini, sebelum tidur aku akan chat kalian deh" ucap Dee. "That's not necessary!" sahut Hendrick seraya memejamkan matanya. "Hend, kok gitu sih?" tanya Dee kesal. "Biarin aja, lagi PMS dia" sahut Yetnu, "Ga bakalan dia tahan lama ngambek ke kamu, Dee" tambahnya. "Weh, kasihan yang jadi istrinya besok dong kalau dia ga tahan lama, ahahahahaha...." goda Freddy. "Lambemu Fred!" seru Tony dan Yetnu bersamaan, dan mereka pun tergelak, kecuali Dee yang kebingungan, sementara Hendrick langsung menoyor kepala Freddy. "Kok Hendrick ga tahan lama ngambek, istrinya jadi kasihan?" tanya Dee polos seketika menghentikan tawa mereka. Speechless. "Bukan ngambeknya yang ga tahan lama Dee" jawab Yetnu sabar. "Trus?" tanya Dee penasaran. "Ga tahan lama itunya Dee...." sambung Freddy. "Itu apaan?" tanya Dee semakin penasaran. Freedy menggaruk kepalanya frustasi. "Ga usah tanya lagi, malu kamu nanti" sahut Hendrick tiba-tiba, "Lagian omongan itu ga bener!" sambung Hendrick menatap tajam ke arah Freddy. "Mana kau tau bro, bukannya kamu juga belum pernah coba gituan?" sahut Freddy spontan yang disambut gelak tawa Tony dan Yetnu. "Coba gituan apa sih?" tanya Dee kebingungan. "Duh, ni sepupu kenapa polos banget sih!" ucap Yetnu gemas. "Ton, jelasin, jangan diam aja gitu" sambung Yetnu. "Ehem... Gini lho Dee, maksudnya ga tahan lama itu ga tahan lama waktu hubungn suami istri, proses bikin anak, tau?" jelas Tony. "Memangnya Hendrick harus tahan lama ya biar istrinya ga kasihan?" tanya Dee lagi dengan polosnya yang langsung disambut gelak tawa Tony, Freddy dan Yetnu, sedangkan Hendrick melotot kesal ke arah kawan-kawannya. "Kok malah pada ketawa sih?" gerutu Dee kesal. "Aduduh... Sakit perutku" ucap Freddy sambil memegang perutnya yang tegang karena tertawa. "Gini ya Dee, hubungan suami istri untuk proses bikin anak itu sebaiknya harus ada timbal balik, kamu tau kan kalau laki-laki dalam proses pembuahan itu berperan dalam memberikan sel s****a? Nah, saat ngeluarin sel s****a itu, laki-laki akan mengalami ejakulasi, dan ejakulasi biasanya juga dibarengi sama organsme alias kepuasan. Menurut pengetahuan dan penelitian, perempuan itu agak sedikit susah mengalami organsme, jadi kalau Hendrick ga tahan lama 'itu'nya, kan jadi kasihan sama istrinya karena ga bisa mengalami organsme" jelas Yetnu panjang lebar. Wajah Dee memerah seketika, "Oh, jadi Hendrick ga bisa lama-lama ya?" ucap Dee lirih tapi mereka semua mendengarnya dengan jelas, dan sekali lagi mereka tertawa terbahak-bahak, sedangkan Hendrick wajahnya merah menahan malu dan marah. "Mana ada, aku belum pernah gituan Dee, tapi ku jamin, besok kalau menikah kujamin kalau istriku bakal bisa organsme berkali-kali!" seru Hendrick geram, tapi malah menambah gelak tawa Tony, Yetnu dan Freddy, sedangkan wajah Dee semakin merah karena malu dan menyesal dengan rasa penasarannya, dan dia juga membayangkan sesuatu yang seharusnya tidak dia bayangkan. "Jelas sekarang Dee?" goda Freddy. Dee memalingkan wajahnya, malu... "Makanya tadi kubilang lebih baik jangan tanya" ucap Hendrick sambil menatap Dee dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. "Trus kira-kira siapa yang bakal jadi istrimu dan kau buat begitu berkali-kali?" tanya Tony sambil tersenyum penuh arti. "Perempuan lah" jawab Hendrick ketus. "Sudah ada calon di hati?" pancing Yetnu. "Jelas ada" jawab Hendrick cepat sambil melirik Dee. "Jangan macam-macam kau!" ancam Tony yang melihat lirikan Hendrick ke arah Dee. "Siapa memangnya tuh perempuan?" tanya Freddy. "Ada lah, kepo amat, yang jelas dia cantik, imut dan gemesin!" jawab Hendrick lirih. "Idih, ga akan lah secantik dan segemesin Dee... Kalau aku sih jelas, calon istriku ya Dee... Ya ngga Dee?" sahut Freddy dengan percaya diri. Dee yang tau kalau Hendrick menyukai seseorang dan sudah menetapkan kalau orang itu nanti bakal jadi calon istrinya, tertunduk sedih. Saat Freddy mengungkapkan perasaannya Dee hanya menolehkan kepalanya, memandang ke arah Freddy lalu tersenyum manis. "You are the best, Fred!" sahut Dee sambil mengacungkan ibu jarinya. DEG!!! Seketika Hendrick merasa hatinya hancur berkeping-keping. "Ja-jadi, selama ini cowok yang kau suka itu Freddy?" tanya Hendrick dengan suara bergetar, Freddy tertegun mendengarnya. "Enggak... Ga ada cowok yang kusuka tuh" jawab Dee dingin. "Freddy tuh the best of best friend. Walau kami sering ribut ga jelas sih, ya ga Fred?" sambung Dee sambil mengedip genit ke arah Freddy, yang membuat gemas, Freddy langsung melompat dan memeluk Dee dari belakang kursi shot gun yang diduduki Dee. "Aaaaw.... Bidadariku ini memang yang paaaaaaaling cantik dan imut, gemoooooy minta ampun!!!" seru Freddy yang membuat Dee tertawa cekikikan. "Oi... Oi... Lepasin sepupuku!" seru Yetnu sambil menarik Freddy.. "Ck, gangguin aja nih sepupumu Dee" gerutu Freddy, Dee hanya terkekeh dan mengusap kepala Freddy. "Sekali lagi kau peluk-peluk Dee, siap-siap aja kehilangan tanganmu! I mean it!" ancam Tony. "Dasar psychopath!" gumam Freddy. Hendrick menatap Dee dengan tatapan sedih. So, perasaannya tak berbalas walau belum tersampaikan. Dia menghela nafas dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dia tak menyadari kalau diam-diam Dee memandangnya dengan pandangan sedih, hati Dee terasa seperti tersayat sembilu. "Apakah cinta pertama selalu berakhir menyakitkan... I was so in love with him, but.... he love another girl, it's so painful" Batin Dee, buru-buru dia memalingkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca, dia berusaha keras agar air matanya tak menetes tapi gagal, sebutir air mata bergulir di pipinya, buru-buru Dee mengusap air mata itu. Pemandangan tak luput dari mata Tony. "How am I going to comfort her" batin Tony sambil menghela nafas panjang. Tak lama, Lucky muncul dan segera masuk mobil, lalu menjalankan mobil keluar dari basement. "Mau makan geprekan di mana Dee?" tanya Lucky. "Sembarang kak, di mana aja boleh" jawab Dee datar. Lucky menyadari kalau mood Dee ga baik langsung menatap Tony melalui rear view mirror. Tony yang menyadari tatapan Lucky hanya bisa menggelengkan kepala. "Dee pengannya geprekan di mana?: tanya Lucky lagi. "Kan yang lapar kak Kiki, kenapa tanya aku!" jawab Dee ketus. "Oke ... Oke...." sahut Lucky seraya melajukan mobilnya perlahan, walau sudah larut, jalanan Jogja masih ramai karena malam Minggu. "Ke Cak Koting aja Ky" ucap Tony. "Ok!" sahut Lucky pendek. Tak berapa lama, tibalah mereka di warung makan Cak Koting, warung terkenal di Jogja. Mereka memilih duduk di sudut dalam warung makan itu, Dee duduk di sebelah sisi dalam, lalu Hendrick bergegas duduk di sebelahnya disusul Yetnu, sementara Freddy mengambil kursi di depan Dee disusul Tony dan Lucky. Melihat Hendrick dudyk di sampingnya, Dee tanpa sadar sedikit menggeser bangkunya menjauh dari bangku Hendrick, hal itu membuat Hendrick mengernyitkan dahinya. Seorang waitress datang dan memberikan daftar menu kepada mereka. "Mau pesan apa?" tanya Lucky. "Bebek goreng deh, bagian paha" jawab Tony. "Aku juga" sahut Yetnu dan Freddy bersamaan. "Kamu Rick?" tanya Lucky pada Hendrick. " Aku ayam goreng saja" jawab Hendrick. "Bebek goreng bagian paha 4 mba, ayam goreng 1. Kamu apa Dee?" tanya Lucky. "Apa saja yang bisa dimakan" jawab Dee tanpa menoleh, dia hanya bermain dengan ponselnya. "Kamu kenapa sih?" tanya Lucky mulai jengkel. "Kenapa apa? Ga usah tanya-tanya" jawab Dee masih tanpa menoleh sama sekali. "What kind of attitude do you have?" bentak Lucky mengagetkan semua yang ada di sana. Dee menolehkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Lucky. "I'm going back by myself!" Dee beranjak dari duduknya dan berjalan keluar warung makan. Sekilas Tony melihat ponsel Dee yang menyala, dan terlihat kalau Dee sudah memesan taksi online untuk pulang. Ternyata dia pesan taksi pas main ponsel tadi, batin Tony yang buru-buru bangkit mengejar Dee. "Hey... Hey... Dee, what's going on?" tanya Tony sambil meraih tangan Dee. "Mau pulang, capek!" jawab Dee datar. "Are you mad about Hendrick having someone who he loves?" "Nope!" "I told you before, Hendrick masih belum punya pacar, ok?" Dee terdiam. "Kamu marah cuma karena Hendrick bilang ada yang dia suka? Kamu tuh unreasonable banget Dee. Cowok kalau disinggung masalah kejantanan pasti jengkel lah, makanya Hendrick bilang gitu, yang lain juga bakal bikin excuse kaya gitu kalau diejek masalah itu." jelas Tony. "Sudah ya, jangan marah, ok? Makan dulu, baru kita pulang sama-sama" bujuk Tony seraya meraih bahu Dee dan merengkuhnya dalam pelukannya. "Aku salah ya mas, kalau aku suka dia?" bisik Dee setengah terisak. "Ga ada yang salah Dee, perasaan manusia kan anugerah, datang tiba-tiba dan ga pernah pilih ke siapa rasa suka itu akan kita tujukan, ga usah sedih. Makanya aku bilang, ungkapin aja, ga baik memendam perasaan terus." Tony menepuk punggung Dee sambil mencoba menenangkan hati Dee. "Sudah, jangan nangis ya" Tony mengusap butiran air mata yang sempat mengalir di pipi Dee. Lalu dengan lembut mengecup keningnya. "Kita tunggu drivernya datang, biar aku yang bayar setelah dicancel, setelah itu kita masuk, makan dulu ya" Tony merengkuh bahu Dee, dan mereka berdua menunggu sampai driver taksi datang. Sementara di dalam warung makan, Hendrick dan Freddy yang melihat jelas Tony memeluk dan mencium Dee, merasa geram. "Ky, kamu ga takut tuh Tony cium-cium dan peluk-peluk Dee begitu?" tanya Freddy sambil mengepalkan tangannya. "Kenapa mesti takut?" Lucky balik bertanya. "Ya kan, pelecehan namanya!" jawab Freddy asal bunyi. Lucky mengangkat sebelah alisnya, lalu mendengus kesal. "Tante aja ga sewot, nape lu sewot?" balas Lucky yang diiyakan Yetnu. "Kalian sepupu ga ada akhlak" gerutu Freddy. "Cemburu bilang aja cemburu, susah amat? Makanya buru-buru bilang ke Dee kalau kau suka dia, biar bisa gantiin aku, Yetnu dan Tony buat jagain Dee. Kamu juga Rick, jangan cuma bisa uring-uringan aja, ga sedep banget lihatnya" balas Lucky. "Sebetulnya Dee kenapa sih? Aku masuk mobil tadi kok moodnya drop banget?" tanya Lucky penasaran "Ga tau, orang kita tadi juga ketawa-ketawa" jawab Yetnu. Freddy melirik Hendrick, sedikitnya dia tahu apa masalahnya, tapi dia tidak mau mempercayai apa yang menjadi pikirannya. Freddy menghela nafas panjang, setidaknya dia harus menyatakan perasaannya pada Dee dulu, walau dia sebetulnya tahu dan sangat paham, siapa yang Dee sukai. Tak berapa lama, setelah driver yang dipesan Dee sampai, dan Dee membatalkan pesanannya serta meminta maaf, Tony membayar driver tersebut sebagai bentuk tanggung jawab mereka karena membatalkan pesanan taksi. Lalu mereka pun masuk lagi ke dalam warung. "Dee, maafin kakak ya" bujuk Lucky. "Kak Kiki ga salah kok, maafin Dee yang marah-marah sendiri." sahut Dee. Hendrick bangkit dari duduknya dan membantu Dee duduk. "Thanks" ucap Dee pendek, setelah Dee duduk, Hendrick pun kembali duduk. Tony berjalan ke kursinya, sebelum duduk dia memanggil waitress lagi. "Dee mau makan apa? Tadi kita pesanin gurami goreng pakai sambal terasi, kata Hendrick kamu suka itu, mau ganti?" tanya Yetnu. "Engga, itu aja" jawab Dee, "Makasih, Hend" ucap Dee. "Hmmm..." jawab Hendrick pendek. Lalu mereka menambahkan pesanan berupa enam botol air mineral. Setelah menunggu selama 15 menit, pesanan mereka pun tiba, mereka pun bergantian mencuci tangan dan mulai makan. Saat Dee bersiap untuk mulai makan, Hendrick meraih piring berisi gurami goreng milik Dee, lalu dengan rapi, Hendrick memisahkan daging gurami dari tulang dan siripnya. Freddy yang melihat itu menjadi kesal, "Show off!" runtuknya. "Makasih, tapi sebetulnya aku bisa sendiri, kan ga banyak duri" ucap Dee sambil menerima piring berisi daging ikan dan sambal. Tony, Yetnu dan Lucky hanya bisa saling berpandangan. Dee mulai makan sesuap demi sesuap, sengaja dia pesan tanpa nasi tapi dia minta tomat, mentimun dan sambal yang banyak. "Enak?" tanya Freddy, sambil membersihkan minyak yang menempel di ujung bibir Dee. "Enak... mau?" Dee balas bertanya pada Freddy sambil menyodorkan irisan tomat yang diberi sambal dan potongan ikan. Tanpa ragu Freddy membuka mulutnya dan melahap makanan di tangan Dee. "Iya enak, apalagi disuapi sama bidadari kesayanganku." ucap Freddy sambil sibuk mengunyah. Hendrick melotot kesal. "Lagi?" tanya Dee sambil menyodorkan lagi makanan ke arah Freddy. Tetapi, sebelum Freddy membuka mulutnya, Hendrick menyambar tangan Dee dan mengarahkannya ke mulutnya dan tanpa sengaja, jari Dee juga masuk ke dalam mulut Hendrick yang secara ajaib membuat seluruh tubuh Dee merinding dan darahnya berdesir hebat. Wajahnya langsung memerah dan buru-buru dia menunduk. Sementara itu, Hendrick merasakan aliran listrik di dalam tubuhnya dan entah kenapa, dia merasakan getaran aneh di d**a dan perutnya, seluruh ototnya nenegang. Hendrick hanya bisa mengerang lirih. Freddy yang melihat hal itu, mengepalkan tangannya untuk menahan rasa cemburu yang membuncah di dadanya. Lalu cepat-cepat dia menghabiskan makanannya dan pamit ke toilet sebentar. Yetnu memandangi punggung Freddy yang melangkah tergesa menuju toiler, dia pun segera menyusulnya. "Bro...." panggil Yetnu. "Eh, Nu... ke toilet juga?" tanya Freddy menutupi kegundahannya. "Sabar ya bro, saranku sih sebaiknya kamu bilang sama Dee secepatnya" Yetnu menepuk bahu Freddy. "Kayanya ga ada harapan Nu, hati Dee bukan untukku" sahut Freddy lesu. "Setidaknya ungkapkan saja, paling ga hatimu jadi lega." saran Yetnu. "Tapi aku takut nanti Dee malah menjauh" gumam Freddy lirih. "She won't, I know that she treat you better than what you'd think" Yetnu meyakinkan Freddy. "Thanks, Nu...." ucap Freddy seraya tersenyum. "Anytime, bro" balas Yetnu. Setelah mereka selesai makan, Lucky bergegas menuju kasir dan membayar makanan yang mereka pesan tadi. Lalu mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan. "Sudah jam 22:30, Dee mau pulang atau aku antar ke rumah Akung?" tanya Lucky. "Pulang" jawab Dee pendek. "Tapi nanti sendirian ga apa-apa? Aku ga bisa temani kalau malam ini, habis antar ke rumah aku harus jemput kak Dika di bandara." tanya Lucky cemas. "Ga papa" sahut Dee lagi. "Kau temani dia Ton!" seru Lucky. "Ga bisa bro, disuruh jaga rumah sama ibu, soalnya ibu lagi balik ke Magetan." jawab Tony. "Aku sendiri ga apa-apa, lagian mau langsung tidur." balas Dee. "Yakin?" tanya Lucky, Yetnu dan Tony bersamaan. "Yakin lah" "Ya wes, kalau takut atau ada apa-apa langsung hubungi Freddy atau Hendrick ya" pinta Yetnu. "Iya iya, aku bukan anak 3 tahun yang selalu butuh dijagain." omel Dee yang bergegas masuj ke dalam mobil. "Haiyah.... ngambek lagi!" gerutu Yetnu seraya memijat keningnya. "Salah kalian juga sih, over protective. Dee sudah besar, sudah bisa dibilang dewasa, tapi kalian terlalu mengukung Dee, ya wajar kalau dia kesal." ucap Freddy sambil melangkah dan memasuki mobil, menyusul Dee. "He's absolutely right." tambah Hendrick yang juga melangkah memasuki mobil. "Jadi kita bertiga nih yang salah?" tanya Lucky yang dijawab gelenga kepala oleh Yetnu dan Tony. Merekapun buru-buru masuk mobil, "Ya wes Dee, nanti kalau ada apa-apa hubungi kita-kita ya" ucap Lucky. "Hmmm" balas Dee pendek. Tiba-tiba ponsel Dee bergetar. Freddy : "Tau ga Dee, persamaan Lucky, Tony, Yetnu sama induk ayam?" Dee : "Ga tau, emang apaan?" Freddy : "Banyak samanya, pertama mereka sama-sama berkaki dua, kedua sama-sama punya mulut yang hobby ribut, yang terakhir suka ngamuk kalau anaknya diganggu" Dee : "Memang mereka ada anak?" Freddy : "Ya kamu lah, kamu kena apa dikit aja mereka bakal ngamuk hebat, ibaratnya kamu dicubit dikit aja, siap-siap aja ada kiamat sugro" "Hehehehehe...." tiba-tiba Dee terkekeh setelah membaca chat dari Freddy. "Kamu ngapain ketawa sendiri?" tanya Yetnu keheranan. "Kepo!" jawab Dee cuek sambil terua memandangi ponselnya, Freedy hanya tersenyum melihatnya. "At least, I still can see her smilling face" batinnya. Hendrick hanya menghela nafas, Freddy selalu bisa membuat Dee tersenyum disaat moodnya sedang buruk, walau tanpa mengeluarkan banyak efforts. Sesampainya di rumah Dee, Lucky segera bergegas mengantar Yetnu pulang dan menuju bandara menjemput Dika, sementara Tony dan Freddy juga buru-buru pulang dengan motor mereka. Hendrick masih di rumah Dee, dia meminta Dee masuk rumah dulu sebelum dia menjalankan motornya untuk pulang ke kostnya. "Kunci gerbang dan pintunya ya, kalau ada apa-apa hubungi aku ya." pesan Hendrick. "Iya Hend" sahut Dee. "Besok ku jemput habis subuh ya?" tanya Hendrick. "Iya... tapi apa ga apa-apa?" Dee balik bertanya. "Ga apa-apa apanya?" Hendrick yang hendak naik motornya mendadak berbalik dan mendekati Dee yang berdiri di teras. "Kalau kamu pergi sama aku, will your beloved girlfriend misunderstood us?" tanya Dee sambil menatap Hendrick. Entah mengapa Hendrick tiba-tiba memegang bahu Dee, dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Dee. "Dee, listen to me, there's no girlfriend ok, I was just randomly talk at that moment in the car. For me now, you are my everything, not only to me but also Freddy and the others. So, please... don't be like this." pinta Hendrick . "Oh... Tapi sebaiknya kita ga usah terlalu dekat, aku takut kalau ada suka kamu tapi malah...." rambling Dee yang langsung berhenti setelah Hendrick mengeratkan tangannya di bahu Dee. "I don't care with the others feeling towards me, all I need to care is you, only you, understand?" Hendrick melonggarkan tangannya dan dengan lembut mengatakan kata-kata itu pada Dee, jantung Dee berdebar kencang, hembusan nafas Hendrick menyapu wajahnya yang membuat wajahnya terasa panas. "O-Ok... understand" jawab Dee lirih. "Masuk, kunci pintu, biar aku yang kunci gerbangnya. Good night!" ucap Hendrick seraya mengecup lembut pipi Dee lalu berbalik menuju motornya. Dee yang kaget mendapat perlakuan seperti itu hanya diam mematung sampai Hendrick menghilang dari pandangannya, barulah Dee merasa kakinya lemas. "He... He kissed me..."gumam Dee seraya mengusap pipinya yang tadi dicium Hendrick. Lalu dengan gemetar dia memasuki rumah dan mengunci pintunya. "KYAAAAA.... HE KISSED ME" pekik Dee sambil menutupi wajahnya yang memerah. "Ya Allah.... Kenapa...." gumam Dee. Buru-buru Dee berlari ke kamar dan merebahkan diri di kasurnya. "He kissed me.... What should I do?" Dee membenamkan kepalanya di bantal karena malu. Ah.... Hendrick hanya anggap aku temannya, mungkin dia cium aku kaya kak Kiki, Yetnu dan mas Tony gitu kali ya, jadi aku ga perlu kegirangan gini... Batin Dee, sedikit kecewa tapi berusaha menghibur diri. "Ah, mandi... biar pikiran ga aneh-aneh." Dee bergegas membersihkan wajahnya, lalu berjalan keluar menuju kamar mandi. Sementara itu Hendrick merutuki perbuatannya sendiri, bisa-bisanya dia nekad mencium pipi Dee, gimana kalau nantinya Dee bakal menghindarinya. Sesampainya di kost, Hendrick memarkirkan motornya di teras, mengunci gerbang kost lalu masuk ke dalam pavilionnya. Dihempaskannya tubuhnya di kursi panjang. Tampak topi Dee yang dipakai tadi pagi tergeletak di meja. Diambilnya topi iti dan dibelainya, tanpa sadar Hendrick memeluk topi itu dan menghirup wangi Dee yang masih tertinggal di sana. Langsung ingatannya melayang pada peristiwa petang tadi, di saat dia tiba di rumah Dee dan Dee baru selesai mandi, wangi yang sama dengan topi ini, bayangan Dee di pelupuk mata Hendrick menggila, pikiran Hendrick menjadi kacau, diingatnya pula obrolan mereka di mobil selepas menonton tadi. Tubuh Hendrick terasa panas, darahnya berdesir. "DAMN" umpatnya, buru-buru beranjak ke kamar mandi untuk cooling down. "Ah Dee.... You are killing me." desis Hendrick yang segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin. "I need to forget, or else he's going to kill me" gumam Hendrick, dia ingat ancaman Tony petang tadi, dan dia tahu orang seperti apa Tony itu. Tony ga boleh tahu kejadian malam ini, kalau tidak.... Hendrick yakin, kalau Tony bakal menghajarnya habis-habisan. Sementara itu di rumah Dee, sejenak di melupakan kejadian beberapa saat lalu, karena Freddy meneleponnya. Mereka berdua ngobrol dan tertawa-tawa. Freddy : "Dee, belum ada satu jam kita berpisah, kok aku sudag kangen kamu ya" Dee : "Apaan sih Fred, lebay banget" Freddy : "Beneran kok, aku tuh iri sama Tony dan Hendrick tau, mereka bisa sekelas sama kamu, la aku malah sekelas sama Yetnu, sepet ga sih?" Dee : "Sabar aja, tinggal 1,5 bulan gini, kelas 3 besok kelihatannya kita bakal sekelas deh, kita kan ambil IPA semua, kak Kiki juga pasti bakal minta dijadiin satu kelas sama kita." Freddy : "Aku sih pengennya cuma sekelas sama kamu, Dee... kalau ada Yetnu, Tony sama Luck pasti ini itu ga boleh, ini itu dipelototin, masih untung ini nafas ga dilarang sama mereka." Dee : "Hehehehe.... Ga segitunya kali Fred, tapi kan enak kalau kumpul rame-rame kaya waktu kita SMP dulu." Freddy : "Iya juga sih... Kamu sudah ngantuk, Dee? Bobo dulu gih." Deee : "Iya deh, besok sambung lagi ya... setelah ujian kita main yuk, kemana gitu, rame-rame" Freddy : "Wah, boleh tuh... Tapi rencananya akhir semester mau ada camping, kita jalan setelah camping ya?" Dee : "Boleh, kita main sampai puas sebelum pusing mikirin pelajaran kelas 3." Freddy : "Great... Good night my cute little angel." Dee : "Good night my sweet prince" Freddy : "Assalamu'alaikum" Dee : "Wa'alaikumsalam" Setelah sambungan telepon terputus, Dee merebahkan tubuhnya di kasur, lalu mengeset alarm pukul 04:00. Dia harus mandi bersih besok kalau darah haidnya sudah tidak keluar. TRING!! Sebuah notifikasi muncul di ponsel Dee. DEG.... Hendrick.... Hendrick : "Dee, sudah tidur?" Dee : "Belum Hend, kenapa?" Hendrick : "Aku mau minta maaf soal yang tadi di teras, aku kepikiran, kamu ga marah kan?" Dee : "Engga.... Santai aja, lagian kan kamu anggap aku kawan kan?" balas Dee menahan rasa sakit di d**a. Hendrick : "Memangnya boleh kalau aku anggap lebih?" Dee : "Lebih gimana?" Hendrick : "Lebih dari sekedar kawan" Dee : "Ya kan sudah lebih, kita kan sahabat" Hendrick : "Dee, have you ever seen me as a man?" Dee : "I have, but still... You are my best friend." Hendrick : "Is that so? That is fine as long as I still can be by your side." Dee : "You'll always Hend, but I'm afraid there was a time that you can't be by my side." Hendrick : "That'll never happen." Dee : "We'd never know... semisal suatu hari nanti kamu ada pacar, ga mungkin lah kalau kamu lebih doting ke aku timbang ke pacarmu" Hening, tidak ada balasan dari Hendrick. Dee mengira Hendrick tidur, maka dia pun meletakkan ponselnya dan berniat untuk tidur, namun tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan video masuk. Dee menatap layar ponselnya, disana terpampang nama Hendrick dengan jelas. Dee segera menerima panggilan video Hendrick. "Ya Hend, kirain tidur" sapa Dee sambil bangkit dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Why are you wearing so little?" tanya Hendrick dengan suara serak begitu melihat Dee hanya memakai tank top lengan setali warna nude. "Wait!" Dee buru-buru meraih selimut dan membalut tubuhnya memakai selimut itu. "Gerah banget malam ini, hehehe" ucap Dee canggung. "Ada apa Hend, tumben video call?" tanya Dee. "Dee, aku cuma mau bilang, aku ga punya pacar, so please stop saying about me having a girlfriend, ok?" pinta Hendrick. "Tapi Hend, kita ga tau apa yang akan terjadi besok, jadi..." "Dee, please stop, ok?! Buatku itu terdengar seolah kamu sudah tidak ingin aku ada di dekatmu lagi!" balas Hendrick pilu. "That's not what I mean, Hend... Aku malah berharap kalian semua selalu bersamaku, tapi itu kan ga mungkin, suatu saat kalian akan disibukkan dengan kehidulan pribadi kalian" sahut Dee. "I won't... I promise you that I won't leave you alone" "Well... ok..." "I'll pick you up at 5:15 tomorrow morning, you better sleep Dee" "Hmmm... I will, good nigh Hend, sweet dream" "Good night sweety, sleep tight" Merekapun menutup panggilan video itu. Dee termenung, Hendrick bilang kalau he won't leave me alone, is he serious? Cowok seganteng dia pasti banyak yang suka, dan begitu ada pacar pastilah dia bakalan lupa sama sahabat-sahabatnya, terutama aku. Batin Dee pilu. Chapter 10 ~end~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD