Tertangkap

1030 Words
Kain yang menutupi kereta ditarik dan terangkat pada bagian belakang. “Siapa itu?!” Lovely menelan ludah. Ia sungguh takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Ya Tuhan ... selamatkan aku ... Bagaimana ini ... bagaimana jika aku tertangkap oleh bapak tua ini ...? Satria ... tolong aku ...," gumannya berharap tanpa sadar. Satria menarik tali yang terikat di leher kuda, agar larinya semakin kencang. Si kuda berteriak nyaring saat langkah kakinya melompat dan berlari. “Tarjo, ayo cepat larinya! Mungkin Kartika mengalami kesulitan, kabur dari istana di malam gelap begini!” Satria berbicara pada kudanya sendiri. Dan seperti mengerti apa yang dikatakan oleh manusia, kuda berwarna putih itu langsung berlari semakin kencang. Di tempat Lovely sendiri. Ia gemetaran ketakutan. Ada perasaan setengah menyesal kabur dari istana. Ia merunduk, berusaha bersembunyi agar si pemilik kereta kuda ini tidak melihatnya. Tapi sayangnya, pemilik kuda tersebut melihat Lovely. Ia memicingkan mata. Memastikan apa yang dilihatnya benar. “Hei kamu yang bersembunyi di belakang keluar!” Lovely takut. Ia tetap diam. “Kamu wanita menyelinap di keretaku! Keluar!” teriaknya lagi. Lovely tetap keras kepala. Ia pura-pura tidak mendengar dan tetap berjongkok bersembunyi. “Keluar atau aku akan menghunus perutmu?!” Lovely mendadak takut. “Astaga, aku bisa mati!” Ia langsung berdiri dan kemudian keluar kereta kuda. Pemilik kereta kuda yang berbadan gempal dan dengan perut yang sedikit membuncit itu terkesiap saat melihatnya Lovely keluar dari keretanya. “Benar ada gadis yang menyelinap di keretaku!” Ia menatap lekat dan tajam dari ujung kaki hingga ujung rambut Lovely. “Dari mana kamu menyelinap di keretaku?!” tanyanya galak. Lovely tidak langsung menjawab. “Dari mana!” teriak si pria itu lagi. Lovely semakin ketakutan. “Dari istana!” “Kamu dayang istana yang kabur?” tanyanya lirih. Lovely kembali diam. Ia menundukkan wajah. Sinar rembulan yang membantu penerangan, menyinari wajahnya. Si pria pemilik kereta kuda memandangi wajah Lovely lagi. “Kamu cantik,” gumannya lirih. “Dayang istana kan memang cantik-cantik ... Kamu aku antarkan ke istana lagi saja!” Lovely menggelengkan kepalanya cepat. “Jangan Pak. Jangan antar aku ke istana!” jawabnya cepat. Pria tadi menarik nafas panjang. Kedua tangannya bertengger di pinggang. “Dayang cantik ... Tidak mau kembali ke istana. Aku butuh uang,” gumannya berpikir. Lalu beberapa menit kemudian senyuman lebar merekah di wajahnya. “Baiklah ... Aku akan jual kamu ke Mbak Darmi. Pasti kamu akan menjadi bunga di rumah bordiilnya! Mbak Darmi sedang membutuhkan b***k sekss tambahan!” ujarnya sambil tertawa. Sepasang mata Lovely mendelik. Mendengar kata ‘b***k sekss’ membuatnya bagai tersambar petir. Pria tadi menarik tangan Lovely untuk kembali naik ke atas kereta kuda. Namun Lovely langsung menolak. Ia melawan. “Jangan! Aku tidak mau!” “Ikut aku! Aku menjualmu ke Mbak Darmi! Pasti hargamu mahal. Aku akan banyak mendapatkan keping emas!” katanya sembari tertawa lepas. Tawa yang melengking itu membuat Lovely semakin bergidik ngeri. “Tidak! Aku tidak mau!” teriaknya amat nyaring. Pria tadi mencengkeram pergelangan tangan Lovely amat keras. Hingga Lovely kesulitan untuk kabur. “Ayo, cepat naik ke kereta!” serunya sembari menyeret dan hendak mendorong tubuh Lovely ke atas kereta kuda. Lovely bergerak melawan. Ia menghentakkan tangannya tak bisa diam. “Jangan! Aku tidak mau!” Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Lovely, membuatnya tidak bisa bergerak. Lovely mulai menangis. Meminta ampun agar dilepaskan. Tiba-tiba ia teringat, kemungkinan jika ia mengakui diri sebagai putri mahkota, pasti pria ini tidak akan berani menyentuhnya. “Pak! Pak! Aku adalah putri istana! Aku putri Kartika! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!” Si pria itu langsung menghentikan gerakan tangannya yang menarik Lovely. Ia terdiam sebentar sembari menatap wajah Lovely. Mengamati dengan seksama. “Kamu Kanjeng Putri Mahkota Kartika?” tanyanya lirih. Lovely menganggukkan kepalanya penuh keyakinan. Wajahnya pun langsung terhias rasa kesombongan yang ada. “Iya, aku ... Putri Kartika. Tolong lepaskan tanganmu ini!” Sejenak hening. Pria itu hanya menatap Lovely dan beberapa menit kemudian suara gelak tawa langsung terdengar nyaring. “Hahahahaha ... Kamu putri Kartika Sari?! Tidak mungkin! Mana mungkin Putri Kartika kelayapan di malam begini?!” Air muka Lovely yang sudah percaya diri dengan apa yang dikatakannya itu akan membuat lawannya tunduk kini kembali ragu. “Iya, aku adalah Putri Kanjeng Kartika. Putri Mahkota kerajaan ... Kerajaan ....” Ia berusaha mengingat nama kerajaan yang dilupakannya. “Nama kerajaan tempat kita tinggal saja kamu lupa! Kok pakai mengaku sebagai putri segala! Dayang tidak tahu diri, lebih baik kamu ikut aku biar kita sama-sama mendapatkan uang! Banyak pendekar dan pengembara yang biasanya senang mendapatkan pelayanan hangat dari wanita cantik sepertimu ini!” Lovely menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Aku tidak mau!” “Ayo!” Tangan Lovely semakin dicengkeram dan ditarik. Namun ia tetap pada pendiriannya. Berdiri mematung. Karena tubuh Lovely sama sekali tidak mau bergerak, akhirnya pria itu membopong Lovely. Ia mengangkat Lovely dan ingin melemparnya ke belakang kereta. “Dasar bapak-bapak mesuum! Menyingkir!” teriaknya histeris. Samar-samar terdengar suara langkah kaki kuda yang memecah kesunyian malam. Lovely langsung menoleh ke arah jalananan yang gelap gulita. Berharap jika Satria lah yang datang untuk menolongnya. Suara langkah kaki kuda yang terdengar samar-samar dari kejauhan, kini terdengar semakin dekat. “Lepaskan aku! Pengawalku akan menghukummu jika kamu tidak melepaskan aku!” teriak Lovely kembali. Namun si pria itu benar-benar tidak mau dengar dengan apa yang dikatakan oleh Lovely. Ia mengangkat tubuh Lovely dan segera melemparnya ke belakang kereta. Brak! Tubuh Lovely tersungkur. Keningnya terbentur alas kereta kuda yang terbuat dari kayu. Lumayan membuat kepalanya terasa pening. “Dayang tidak tahu diuntung! Dari istana malah kabur! Ya sudah lah mending kamu nguntungin aku aja!” ujar pria itu sembari tertawa dan berkacak pinggang. Lovely masih tersungkur dengan posisi membungkuk. Kedua kaki hingga pahanya terlihat, karena kain yang dikenakannya itu sengaja ia sobek saat melompat dari jendela kamar. Sepasang mata bajingaan pria gempal itu mendelik melihat kaki dan paha mulus Lovely. Ia sampai menelan ludah dan tiba-tiba saja benda berharga miliknya yang ada di pangkal pahanya itu mengeras. Hasratnya mendadak muncul, hanya melihat paha Lovely yang mulus. “Hm ... sebelum aku jual pada mbak Darmi, lebih baik aku nikmati saja kamu dulu ...,” gumannya sembari tersenyum tipis. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD