Jika dilihat dari bulan yang bersinar di atas langit. Saat ini waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Satria duduk termenung di pinggir pendopo istana. Ia memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Paduka Raja tadi sore.
Bagaimana jika Kartika benar akan disucikan dan ditenggelamkan di laut? Walau itu semua hanya sebentar, tapi bagaimana jika Kartika tidak bisa menahan nafas? Apa lagi Kartika tidak bisa berenang, pikirnya.
Satria menjadi menyesal karena telah memberitahu Raden Wijaya Kusuma tentang apa yang terjadi pada Kartika. Andai tadi lidahnya bisa bertahan, tidak usah mengatakan apa pun pada Raja, pasti prosesi pensucian jiwa Kartika tidak akan dilakukan.
“Mas Satria ....” Suara seorang wanita terdengar memanggil. Membuyarkan lamunan Satria yang sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Satria menoleh. “Ada apa?” tanyanya pada Laras. Seorang dayang yang biasanya mengurusi semua tentang Kartika.
Laras melangkah cepat mendekati Satria. Dari wajahnya sudah tampak pucat. “Ada apa?”
Dayang berparas Ayu berusia sekitar enam belas tahun itu terlihat takut. Membuat Satria ikut panik. “Mas Satria...,” panggilnya sekali lagi dan makin gelisah.
“Iya, ada apa? Kenapa kamu berwajah begitu? Katakan dengan jelas. Jangan terbata-bata. Membuatku takut saja ....”
“Memang mas Satria harusnya takut. Karena jika paduka Raja tahu, kita semua akan mendapatkan hukuman. Mas Satria sebagai pengawalnya dan aku sebagai dayangnya. Harusnya tadi aku menemani Kanjeng Kartika. Bukannya malah membantu mbok Darmi memintal kapas. Tugasku kan menemani Kanjeng Kartika. Ya Dewa ... Bagaimana ini?” ujarnya meracau, membuat Satria tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
“Laras, katakan dengan jelas, apa yang terjadi? Apa maksud dari semua yang kamu katakan itu?”
Laras menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia menatap lekat Satria yang terlihat samar karena lampu penerangan di sekitar mereka hanya beberapa obor besar di kanan dan kiri yang menempel pada dinding dengan cantelan bulat berbahan dasar besi berwarna hitam.
Satria menunggu apa yang akan dikatakan oleh Laras.
“Mas ... di kamar, Putri Kartika Sariningtias tidak ada!” seru Laras memberitahu.
Satria tidak langsung sadar dengan apa yang dikatakan oleh Laras. Ia terdiam sejenak. Masih memikirkan apa yang dimaksud oleh Laras.
“Putri Kartika tidak ada di kamarnya, maksudnya ... dia kabur?”
Laras menganggukkan kepalanya mantap. “Iya, mas Satria! Putri Kartika tidak ada di kamarnya! Lalu bagaimana ini? Kita pasti akan terkena murkanya Paduka Raja!”
Sepasang mata Satria mengilat. “Tidak! Jangan sampai!” serunya sembari berlari menuju kamar Kartika yang sebetulnya dijaga oleh dua orang pengawal.
Dua orang yang berdiri di kamar Kartika itu tidak menyadari jika si Tuan Putri telah kabur dari kamarnya.
“Ada apa Mas Satria? Kenapa ke mari? Ini sudah malam,” tegur salah seorang pengawal yang memegang tombak runcing di tangan kanannya.
Dua pengawal ini, orang berbeda dari pada pagi tadi. Sehingga Satria bisa membohonginya. “Sejak siang tadi aku belum bertemu dengan Kanjeng Putri Kartika. Aku ingin mengembalikan barang Kanjeng Putri yang tidak sengaja terbawa olehku,” jawabnya beralasan.
Dua orang pengawal itu saling pandang sebentar dan kemudian mengijinkan Satria untuk masuk ke dalam kamar. Mereka membukakan pintu kamar lebar tersebut tanpa bertanya apa pun lagi.
Satria langsung masuk ke dalam kamar dan menatap sekeliling. Hening. Bahkan obor besar yang tergantung di besi dinding tidak dinyalakan. “Aduh, jika gelap begini, pasti akan ketahuan jika Kartika tidak ada di kamarnya,” gumannya lirih dan mulai resah.
Dilihatnya dalam kegelapan jendela kamar terbuka. Satria sudah bisa menduga jika Kartika kabur dari jendela tersebut.
Ia berbalik menuju luar kamar. Lalu dengan cepat menutup pintu kamar kembali.
“Kenapa kamar Kanjeng putri gelap?” tanya salah seorang pengawal yang bernama Kliwon.
“Kanjeng Putri Kartika sedang sakit kepala. Dia tidak ingin diganggu! Cahaya dari obor akan membuat kedua matanya silau dan kepalanya akan semakin pusing,” jawab Satria berdalih.
Sipon dan Kliwon pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
“Jadi tolong kalian jangan mengganggu Putri Kartika ya!” Perintah Satria pada dua orang pengawal tersebut.
“Baik Mas Satria!”
Setelah berekspresi muka baik-baik saja akhirnya Satria membalikkan badan dan bergegas pergi menuju halaman belakang. Mengambil kuda dan secepatnya mencari Lovely.
“Semoga saja, Kartika belum jauh! Pasti tadi dia kabur lewat halaman belakang yang tidak pernah dijaga oleh pengawal,” tebaknya yang memang tepat.
***
Suara burung w*****k terdengar jelas. Suasana juga terasa sangat sunyi dan menyeramkan. Lovely, mengintip dari balik kain lebar yang menutupi seluruh kereta. Di luar sangat gelap sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa.
Tidak dipungkiri saat ini Lovely sangat ketakutan setengah mati. Dia tidak tahu akan ke mana dan bagaimana caranya pulang ke jamannya!
Sepertinya keputusanku untuk kabur tadi adalah keputusan yang salah, batin Lovely. Dan sesaat kemudian ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Tidak! Ini adalah keputusan yang tepat! Aku memang harus kabur dari istana! Jika tidak segera kabur, aku pasti akan dinikahkan dengan pangeran Bima yang pendek itu!” Suara Lovely yang awalnya lirih, tanpa sadar tiba-tiba meninggi.
Membuat bapak-bapak berusia tiga puluh delapan tahun yang sedang menjalankan kereta kudanya itu menoleh ke belakang. Ia langsung menghentikan laju kereta kuda dengan menarik tali kusir yang dipegangnya. Suara jerit kuda melengking. Kedua kaki depan kuda berwarna hitam itu naik ke atas dan kemudian menapak tanah dengan keras.
“Siapa di belakang?!” seru bapak-bapak tersebut dengan muka garangnya. Ia langsung mengambil sebuah pedang yang ada di sampingnya. Senjata yang dibawa ke mana-mana olehnya. Alat satu-satunya untuk menjaga diri dari orang yang jahat.
Lovely langsung menutup mulutnya. “Astaga, suaraku tadi mungkin terlalu keras!” Ia masih berusaha bersembunyi, walau tahu tidak ada tempat lagi yang bisa menutupi tubuhnya.
“Hati-hati kamu ya, perampok! Aku akan menghajarmu! Jangan dikira aku hanya kusir pembawa bahan makanan untuk istana!” omel pria tadi sembari berjalan mengintari dan kemudian berhenti di depan bagian belakang kereta.
Jantung Lovely berdegup kencang ketika mendengar suara derap kaki yang semakin mendekat dan berhenti. Lovely menutup muka dengan kedua tangannya. Berharap tidak ditemukan.
Srek!
Kain yang menutupi kereta ditarik dan terangkat pada bagian belakang. “Siapa itu?!”
Lovely menelan ludah. Ia sungguh takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Ya Tuhan ... selamatkan aku ... Bagaimana ini ... bagaimana jika aku tertangkap oleh bapak tua ini ...? Satria ... tolong aku ...," gumannya berharap tanpa sadar.
Bersambung